NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 bisik bisik nyelekit

...

Dekapan kedua buah hatinya terasa begitu nyata dan hangat di dada Pamela. Isak tangis Ryan dan Riana yang meresap ke dalam serat sweter rajutnya seolah meluruhkan sebagian beban berat yang berhari-hari ini menyumbat relung hatinya. Di atas lantai marmer rumah sakit yang dingin, Pamela memejamkan mata erat-erat, meresapi aroma bedak bayi yang bercampur keringat dari tubuh mungil anak-anaknya.

"Mama di sini, Sayang... Mama di sini," bisik Pamela berulang kali. Suaranya serak, bergetar hebat menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.

Namun, Pamela tahu dia tidak boleh larut. Jiwanya yang kini telah ditempa oleh dinginnya penderitaan menuntutnya untuk segera menegakkan punggung. Dia harus tegar. Dia datang ke tempat ini bukan untuk menunjukkan kelemahannya, bukan pula untuk membiarkan dirinya kembali diinjak-injak oleh keadaan. Dengan perlahan dan penuh kelembutan, Pamela mengurai pelukan kedua anaknya, mengusap sisa air mata di pipi sembap mereka, lalu menuntun mereka untuk berdiri di sisi ranjang Papa mertua.

Saat Pamela bangkit berdiri, suasana di dalam kamar rawat VIP itu mendadak terasa begitu hening, menyisakan deru halus dari mesin pendeteksi jantung yang terpasang di samping ranjang.

Di ambang pintu, Zidan masih berdiri mematung. Tatapan matanya yang kuyu melekat lekat pada sosok Pamela. Ada rasa bersalah yang teramat pekat menyergap dada pria narsis itu saat melihat bagaimana anak-anaknya begitu histeris memeluk ibunya sebuah pemandangan yang menyadarkannya betapa kejamnya dia selama ini karena telah menjauhkan anak-anak dari pelukan wanita itu.

Sementara itu, di sudut ruangan dekat meja saji, Mama mertuanya dan Keysha berdiri berdampingan. Kehadiran Pamela yang tiba-tiba dengan rambut panjang yang tergerai bebas dan pakaian yang teramat sederhana seketika memicu gejolak aneh di dalam diri kedua wanita itu. Sifat angkuh yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun membuat mereka secara refleks merasa terancam, meskipun di saat yang sama mereka sedang didera ketakutan akan kondisi Papa mertua yang kritis.

Pamela melangkah mendekati ranjang, mengabaikan keberadaan orang-orang di sekitarnya. Dia memfokuskan seluruh perhatiannya pada sosok pria tua yang terbaring lemah di hadapannya.

Namun, di tengah kesunyian itu, telinga Pamela yang tajam menangkap suara bisikan-bisikan halus yang datang dari arah belakang punggungnya. Suara yang sangat dia kenali, suara yang selama tujuh tahun ini selalu menjadi latar belakang dari setiap air mata yang dia teteskan di dapur rumah besar mereka.

"Lihat itu, Ma... datang-datang penampilannya berantakan begitu," bisik Keysha dengan nada suara yang sangat rendah, hampir seperti desisan ular, namun sarat akan cemoohan yang dipaksakan. "Pakai sweter longgar murahan begitu ke rumah sakit VIP. Sengaja banget pengen kelihatan menderita biar dikasihani Papa."

Mama mertua yang berdiri di samping Keysha mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada sambil memicingkan mata. "Benar, Key. Paling-paling itu cuma taktik dia saja karena tahu Papa lagi kritis dan memegang keputusan soal sisa saham keluarga. Sengaja jual mahal di kampung pantai kemarin, ujung-ujungnya langsung lari ke sini begitu Zidan datang menjemput. Wanita dari keluarga miskin memang gak bakal jauh-jauh dari urusan mencari keuntungan."

Bisikan-bisikan penuh racun itu mengalir di udara kamar rawat, begitu dingin dan menusuk.

Kekerasan emosional yang biasa mereka lakukan di rumah mewah dulu ternyata tidak serta merta lenyap hanya karena status Pamela sudah berubah menjadi mantan istri. Penyesalan keluarga yang sempat mereka rasakan kemarin malam tampaknya tertutup kembali oleh tembok kesombongan dan gengsi yang menolak runtuh. Di mata mereka, Pamela tetaplah wanita kelas bawah yang tidak setara, yang kehadirannya hari ini dianggap sebagai sebuah bentuk kepura-puraan.

Zidan yang mendengar bisikan ibu dan adiknya langsung menoleh dengan rahang yang mengeras. "Keysha! Mama! Diam!" desis Zidan dengan suara bariton yang rendah namun penuh dengan ancaman dingin. Sifatnya kini terusik bukan karena membela Pamela, melainkan karena dia sadar betul ucapan bodoh dari keluarganya itu bisa menghancurkan satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan nyawa ayahnya.

Namun, Pamela tidak berbalik. Dia bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia terganggu oleh kata-kata kasar tersebut. Pertahanan es di dalam hatinya membuat tubuhnya tetap tegak, kokoh bagai karang yang dihantam ombak malam.

Dulu, mendengar sindiran seperti itu akan langsung membuat air mata Pamela menetes, membuatnya menundukkan kepala sedalam-dalamnya sambil meminta maaf atas kesalahan yang bahkan tidak dia lakukan. Tapi hari ini, jiwa Pamela yang merdeka menatap kata-kata itu sebagai angin lalu yang tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menggores harganya dirinya lagi.

Pamela mengulurkan tangannya yang sedikit kasar karena sering bekerja di dapur kedai, perlahan menyentuh jemari tangan Papa mertuanya yang terasa begitu dingin dan kaku.

"Papa..." panggil Pamela dengan suara yang sangat lembut, begitu tulus hingga rasanya mampu menggetarkan udara di dalam ruangan yang mencekam itu. "Ini Pamela, Pa. Pamela sudah datang."

Mendengar suara lembut yang akrab di telinganya, kelopak mata Papa mertua yang terpejam rapat tampak bergerak-gerak kecil. Perlahan, dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, pria tua itu membuka matanya yang keruh dan dipenuhi kabut kelelahan yang amat sangat.

Begitu bayangan wajah manis Pamela tertangkap oleh matanya, sebaris binar kelegaan yang luar biasa mencuat dari balik wajah pucatnya. Masker oksigen yang menutup mulutnya tampak berembun tebal seiring dengan napasnya yang mendadak menjadi lebih teratur.

"Pa... Pa-pamela..." bisik Papa mertua dari balik masker oksigen, suaranya teramat lemah dan putus-putus. Jemari tangannya yang kaku mencoba bergerak, berusaha membalas genggaman tangan mantan menantunya itu. "Kamu... kamu datang, Nak..."

"Iya, Pa. Pamela di sini. Pamela tidak akan pergi sebelum Papa mau makan dan dipasang kembali selang infusnya," ucap Pamela manis, seulas senyuman tulus terukir di bibirnya yang tanpa riasan.

Air mata Papa mertua perlahan lolos dari sudut matanya yang berkerut, mengalir membasahi bantal putih rumah sakit. Rasa bersalah yang teramat besar sebagai seorang kepala keluarga besar Arkatama menghantam batin pria tua itu. Dia tahu, anak dan istrinya telah membuang sebutir berlian demi mengejar batu kaca yang berkilau semu, dan kini, berlian yang telah mereka lukai itu justru datang membawa setitik kehidupan di saat dia sedang melangkah menuju pintu maut.

Di belakang Pamela, Zidan menyaksikan interaksi itu dengan dada yang terasa begitu sesak dan perih. Dia melihat bagaimana Pamela dengan telaten mengusap air mata ayahnya, melihat bagaimana ketulusan yang sesungguhnya memancar dari setiap gerakan tangan wanita itu sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia beli dengan seluruh miliaran aset yang dia miliki di dalam rekening banknya.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!