NovelToon NovelToon
Hot Policeman

Hot Policeman

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Tamat
Popularitas:375.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Desau

Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.

Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 - Penemuan Mayat

Seorang lelaki tua sedang sibuk memulung sampah di tempat sampah. Sejak pagi buta dia sudah berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Karung lusuh yang dibawanya tampak setengah penuh. Di tempat yang bau itu, dia mengambil beberapa barang yang menurutnya masih memiliki nilai jual. Botol plastik, kaleng bekas minuman, kardus yang belum terlalu rusak, hingga beberapa potongan logam dimasukkan ke dalam karungnya.

Udara di sekitar tempat pembuangan sampah itu begitu menyengat. Bau busuk dari sampah yang membusuk bercampur dengan aroma limbah rumah tangga membuat siapa pun enggan berlama-lama berada di sana. Namun lelaki tua itu sudah terbiasa. Baginya, tempat seperti itu adalah sumber penghasilan.

Saat dirinya fokus mencari barang-barang yang masih bisa dijual, sebuah koper besar menarik perhatiannya. Koper itu tidak terlalu mencolok karena berwarna hitam, berbaur dengan tumpukan plastik yang kebanyakan juga berwarna hitam. Jika tidak diperhatikan dengan saksama, mungkin koper itu akan dianggap hanya bagian dari tumpukan sampah biasa.

Lelaki tua itu mengerutkan dahi saat melihat koper besar hitam tersebut. Koper itu tampak masih dalam kondisi bagus. Tidak ada bagian yang rusak parah. Rodanya masih terpasang lengkap. Pegangannya juga terlihat utuh. Dia tiba-tiba memiliki firasat buruk.

Bukan hal yang wajar sebuah koper yang masih bagus berada di tempat sampah. Orang biasanya akan menjualnya atau memberikannya kepada orang lain jika sudah tidak digunakan. Apalagi ketika dia mendekati koper tersebut, bau busuk yang sangat menyengat langsung menyeruak ke hidungnya.

Bau itu berbeda dengan bau sampah biasa. Jauh lebih menusuk. Lelaki tua itu menutup hidungnya menggunakan lengan baju. Matanya menyipit. Dia memperhatikan koper itu lebih lama.

Lalat-lalat terlihat mengerumuni bagian atas koper. Jumlahnya tidak sedikit. Serangga-serangga itu beterbangan di sekitar koper sebelum kembali hinggap di permukaannya.

Jantung lelaki tua itu mulai berdebar. Perasaan tidak enak semakin kuat. Namun rasa penasaran mendorongnya untuk mencari tahu isi koper tersebut. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memberanikan diri mendekat. Perlahan dia memegang pegangan koper. Bau busuk itu semakin kuat. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Setelah menarik napas panjang, dia mencoba membuka koper tersebut. Resleting yang menutup koper berhasil dibuka. Sesaat kemudian, lelaki tua itu melihat isi koper.

Betapa terkejutnya dia. Matanya membelalak lebar. Tubuhnya langsung kaku. Di dalam koper terdapat potongan tubuh manusia yang berlumuran darah dan kulitnya pucat.

"Astagfirullah!"

Lelaki tua itu kaget sampai terduduk ke tanah. Karung yang dibawanya terjatuh begitu saja. Dia mundur beberapa langkah dengan kedua tangan menopang tubuhnya. Wajahnya dipenuhi ketakutan.

"Tolong!" pekiknya sambil berdiri. Suara teriakannya menggema di sekitar jalan yang tidak terlalu ramai.

Kebetulan ada seorang pengendara motor yang melintas tidak jauh dari lokasi. Lelaki tua itu segera melambaikan tangan dengan panik.

Pemotor tersebut menghentikan kendaraannya. "Ada apa, Pak?" tanyanya heran.

"Dekat tempat sampah itu... ada mayat!" kata lelaki tua tersebut dengan napas terengah-engah.

Pemotor itu tampak ragu..Namun ketika melihat wajah lelaki tua yang sangat ketakutan, dia memutuskan untuk mendekat.

Tak lama kemudian, dia juga melihat isi koper tersebut. Wajahnya langsung berubah pucat. Tanpa pikir panjang, pemotor itu segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon polisi.

Informasi mengenai ditemukannya mayat dalam koper langsung tersebar. Kabar itu dengan cepat sampai ke polsek terdekat.

Polsek Batu Wangi yang bertugas menangani penyelidikan kasus tersebut. Meskipun begitu, keadaan di polsek tampak tenang.

Kebetulan sekali saat itu sedang jam makan siang. Beberapa anggota polisi tampak duduk santai Sambil menikmati makanan mereka. Ada yang bercanda, ada yang sibuk menonton video di ponsel, dan ada pula yang sedang menyeruput kopi hangat.

Di tengah suasana santai itu, Rangga mendengar laporan mengenai penemuan mayat. Rangga merupakan salah satu polisi yang bertugas sebagai Kanit Reskrim. Tugasnya adalah menyelidiki kasus serta mengumpulkan bukti-bukti yang berkaitan dengan tindak kejahatan.

Begitu mendengar laporan tersebut, dia langsung menghentikan makan siangnya. Raut wajahnya berubah serius. Kasus penemuan mayat dalam koper bukanlah perkara biasa.

Tanpa membuang waktu, Rangga segera berdiri dari kursinya. Dia mengambil jaket lalu bergegas keluar kantor. Buru-buru dia pergi tanpa memikirkan rekan-rekannya yang masih asyik makan. Rangga segera menuju motornya.

"Rangga! Tunggu!"

Suara rekannya memanggil dari belakang. Beben berlari mendekat. Dia merupakan teman dekat Rangga di Polsek Batu Wangi. "Aku ikut kau!" katanya.

Rangga mengangguk. "Naik!"

Tanpa banyak bicara, Beben langsung naik ke motor Rangga. Mesin motor dinyalakan. Beberapa detik kemudian mereka melaju meninggalkan halaman polsek menuju lokasi kejadian. Angin menerpa wajah mereka selama perjalanan.

"Yang lain pada nggak ikut?" tanya Beben.

"Kau nggak lihat? Mereka lagi makan. Biar kita yang duluan ke sana," jawab Rangga.

Beben hanya mengangguk. Dia sudah terbiasa melihat sikap sebagian anggota yang kurang bersemangat menangani kasus.

Sementara itu, di dalam kantor polsek, beberapa rekan mereka melihat kepergian Rangga dan Beben melalui jendela.

"Tuh anak, sok ganteng banget. Sok suci!" cibir Bowo. Ucapan itu langsung disambut tawa kecil.

"Dia pikir polisi kayak di film-film kali ya. Pembela kebenaran terus super keren," sahut Adi sembari terkekeh lalu mengunyah nasi padangnya.

"Iya, makanya. Setiap ada orang yang mau kasih uang, dia selalu nolak. Padahal kan itu nggak salah," keluh Bowo.

"Biarkan saja. Nanti juga semakin tua dia pasti seperti kita. Baru juga lima tahun dia jadi polisi," kata Bakti yang menjabat sebagai wakil kapolsek. Saat tertawa, perut buncitnya ikut bergerak.

"Terus kalau dia nggak berubah?" timpal Adi.

"Ya pasti bakal dapat resikonya. Kau lihat sendiri tahun lalu pangkat Pak Alun diturunkan gara-gara dia mengungkap kasus korupsi. Pimpinan marah besar kan saat itu, karena katanya udah nerima uang suapnya. Eh Pak Alun malah dapat bukti kuat," balas Bakti.

"Iya juga."

"Kita tunggu saja tanggal mainnya. Rangga pasti bakalan kena batunya kalau jadi polisi terlalu jujur begitu," kata Bowo.

Mereka kembali melanjutkan makan siang seolah tidak ada kejadian penting yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, Rangga dan Beben akhirnya sampai di lokasi kejadian. Beberapa warga sudah berkumpul di sekitar area tempat sampah. Mereka saling berbisik sambil mencoba menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.

Rangga segera turun dari motor. "Semua mundur!" serunya.

Beben langsung membantu mengamankan lokasi. Mereka membentangkan garis polisi agar warga tidak masuk ke area yang bisa merusak barang bukti.

Setelah area dianggap aman, barulah mereka mulai melakukan penyelidikan. Koper hitam itu masih berada di tempat semula. Bau busuk yang keluar dari dalamnya masih sangat menyengat.

Rangga mengenakan sarung tangan. Dia memperhatikan kondisi koper dengan saksama.

Tak lama kemudian, Usay yang bertugas di bagian forensik datang membawa perlengkapannya. Dia segera mulai bekerja. Kamera dikeluarkan. Satu per satu bagian penting di lokasi kejadian dipotret.

Dari posisi koper, kondisi tanah, hingga area sekitar tempat sampah. Kilatan kamera beberapa kali terlihat.

"Bagian kepala sama dua tangannya nggak ada," imbuh Beben setelah mengamati isi koper.

Usay mengangguk. "Benar."

"Pelakunya pasti membuangnya ke tempat jauh. Agar identitas mayat ini sulit diidentifikasi," sahut Rangga. Dia menatap isi koper dengan ekspresi serius.

"Tapi dipastikan dia lelaki. Mungkin berusia sekitar empat puluh tahunan," jelas Usay.

"Aneh," komentar Beben.

"Menurutmu kenapa pelaku melakukan ini pada lelaki paruh baya begini?" cetus Usay.

Beben mengangkat bahu.

Namun Rangga sudah lebih dulu menjawab. "Hal paling memungkinkan karena dendam. Itu adalah alasan paling klise dalam pembunuhan seperti ini."

Meski begitu, dia sadar bahwa kesimpulan tersebut masih terlalu awal. Mereka membutuhkan bukti. Bukan dugaan.

Rangga kemudian mulai menyisir area di sekitar tempat sampah. Matanya bergerak dari satu titik ke titik lain. Dia memperhatikan tanah, semak-semak kecil, tumpukan sampah, hingga benda-benda yang tampak tidak biasa.

Langkahnya pelan dan hati-hati. Tidak boleh ada barang bukti yang terlewat.

Beberapa menit berlalu. Kemudian sebuah benda yang tergeletak di tanah menarik perhatiannya. Rangga berhenti melangkah. Dia menatap benda tersebut beberapa saat. Sebuah pulpen hitam. Pulpen itu tampak berbeda dibanding benda-benda lain di sekitar lokasi. Bentuknya elegan. Materialnya terlihat berkualitas. Jelas bukan pulpen murah yang biasa ditemukan di sembarang tempat.

Rangga berjongkok. Matanya menyipit. Dengan hati-hati dia mengamati pulpen hitam mahal tersebut tanpa langsung menyentuhnya. Naluri penyelidiknya mengatakan bahwa benda kecil itu mungkin memiliki kaitan penting dengan kasus pembunuhan yang sedang mereka tangani.

1
Rommy Wasini Khumaidi
hadir thor,aku selalu mendukungmu
Desau: makasih kak🥰
total 1 replies
Helvara Purnomo
meskipun astrid sering menggatal tp dia selalu jujur dan tidak plin plan..
Moch Moch Suhaeri
astrid jujur ga bohong
Adinda Azka
kok malah aq yg dag dig dug
M Supi
💪
Subandi Agam
wach jadi sedih dan haru,setelah mereka menikah,kirain.masih ada kelanjutannya 🙏👍😁
Subandi Agam
kurang semangat bacanya, sekarang ngk ada adegan mesumnya,belanjut makan bersama bukannya tidur bersama kapan nich biar mata ngk ngantuk bacanya 🤣🤣
Desau: novel kedua ini fokusnya emang gk kesana kak. Kalau mau genre yg sejenis. baca novelku yg lain judulnya simpanan nona muda 😅
total 1 replies
Subandi Agam
sekarang ceritanya ngk ada tegng'y Yach padahal Rangga sama Dita baru ketemu ngk ada adegan mesra-mesraan gitu😁😁
Subandi Agam
kaya'y sulit buat Dita meninggal kan Rangga, soalnya dia sudah hampir5 tahun ngk ketemu karena Dita meninggalkan'y secara diam-diam.
Subandi Agam
bagus jalan ceritanya saya suka
Subandi Agam
dari awal Rangga itu suka'y sama Dita , walaupun Astrid juga suka sama Rangga.
saat ini Rangga lagi dilema dia lagi cari teman curhat,jadi astirdlah yang jadi pelarian buat rangga.karena di hati Rangga cuma ada Dita.👍
Subandi Agam
pasti istrinya yang membunuh👆
ririn roichana
Alhamdulillaah..... terimakasih Thor
ririn roichana
ceroboh.....
Ahmad Rasito
istri
Bintang fc
akibat perselingkuhan... pasangan selingkuh ni membunuh pak danu
Hgr. BD.
Siiip....
Ilham Roni
suka banget ceritanya
Ilham Roni
suka banget ceritanya
uhuuuyyy
lhoo gak jadi nikah sama pak Tejo thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!