NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

Satu minggu berlalu dengan sangat cepat, membawa perputaran takdir yang begitu drastis bagi kehidupan seorang Ningsih.

Pagi ini, di dalam ruang sidang Pengadilan Agama, palu hakim telah diketuk dengan keras. Hendra sama sekali tidak hadir dalam persidangan, entah karena malu atau karena terlalu frustrasi dengan keadaannya yang terlunta-lunta. Ketidakhadiran Hendra, ditambah dengan pengaruh serta jaringan kekuasaan hukum yang dimiliki oleh PT Adiwangsa, membuat proses perceraian itu berjalan dengan sangat mudah dan cepat.

Kini, Ningsih telah resmi menyandang status sebagai seorang janda kaya raya yang independen.

Bukan hanya urusan rumah tangga, nasib PT Buana milik Hendra pun telah mencapai titik akhir. Karena Hendra tidak mampu membayar uang ganti rugi sebesar sepuluh miliar rupiah hingga batas waktu yang ditentukan, pengadilan secara resmi memutuskan bahwa PT Buana diambil alih sepenuhnya oleh PT Adiwangsa. Seluruh aset kepemilikan, gedung kantor, hingga proyek yang tersisa kini telah berpindah tangan menjadi milik Ningsih.

Untuk urusan hukuman penjara, Ningsih akhirnya memilih untuk menarik tuntutan pidananya atas kasus pengoplosan material. Ia sengaja tidak memenjarakan Hendra, bukan karena masih cinta, melainkan karena ia tidak tega jika suatu hari nanti Luna tahu bahwa ibunyalah yang telah memasukkan ayah kandungnya sendiri ke dalam jeruji besi.

Di dalam ruang kerja barunya di PT Buana yang kini sudah berganti papan nama, Pak Roni melangkah masuk dengan senyuman lebar, membawa beberapa dokumen penting.

"Selamat, Nyonya Ningsih," ucap Pak Roni sembari membungkuk hormat. "Mulai hari ini, anda sudah resmi bercerai secara hukum juga agama. Dan ini adalah dokumen pengalihan aset PT Buana yang sekarang sudah seratus persen menjadi anak perusahaan PT Adiwangsa."

Ningsih menerima dokumen itu dengan tenang, lalu menandatanganinya tanpa ragu sedikit pun. "Terima kasih, Pak Roni. Perjuangan kita tidak sia-sia."

Ningsih kemudian menggeser sebuah dokumen lain yang sudah ia persiapkan sejak subuh ke hadapan Pak Roni.

"Dan untuk dokumen yang ini, saya minta tolong segera diproses. Saya resmi menyerahkan seluruh hak ahli waris atas aset eks-PT Buana ini dan sebagian saham Adiwangsa atas nama putri saya, Luna. Aku ingin masa depan anakku terjamin sepenuhnya tanpa gangguan dari siapa pun."

Pak Roni mengangguk takjub. "Keputusan yang sangat bijaksana, Nyonya. Nona Luna sangat beruntung memiliki ibu sehebat anda."

Saat Pak Roni hendak merapikan berkas-berkas tersebut, ia teringat sesuatu dan menatap Ningsih dengan ragu.

"Oh ya, Nyonya... ada satu hal lagi. Di luar ruangan, sejak dua jam yang lalu, ada pak Hendra. Kondisinya sangat memprihatinkan. Dia terus memohon kepada sekretaris anda agar diizinkan masuk untuk bertemu dengan anda."

Ningsih terdiam sejenak. Ia melirik pintu ruangannya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ketegasan.

"Biarkan dia masuk, Pak Roni. Aku juga ingin menyelesaikan semua urusan dengannya hari ini agar tidak ada lagi hutang masa lalu."

"Baik, Nyonya," jawab Pak Roni, lalu melangkah keluar untuk memanggil Hendra.

Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Sosok Hendra melangkah masuk dengan sangat lambat. Penampilannya benar-benar hancur, kemejanya kusam, wajahnya tirus, matanya sembap, dan aroma tubuhnya tidak lagi wangi parfum mahal seperti dulu. Begitu pintu tertutup dan ia melihat Ningsih duduk anggun di kursi direktur, pertahanan Hendra runtuh seketika.

Bruk!

Tanpa memikirkan harga dirinya lagi, Hendra langsung menjatuhkan lututnya ke atas lantai marmer. Ia merangkak mendekati meja kerja Ningsih, lalu menangis tersedu-sedu di hadapan mantan istrinya.

"Ningsih, Ningsih, maafkan aku, Mas mohon," ratap Hendra dengan suara yang bergetar hebat karena tangis. Kedua tangannya mencoba menggapai ujung sepatu Ningsih, namun Ningsih dengan cepat menarik kakinya menjauh.

"Aku mengaku salah, Ningsih! Aku khilaf! Aku bodoh karena sudah mengkhianatimu dan membiarkan wanita ular seperti Arumi merusak keluarga kita!"

Ningsih menatap pria yang dulu sangat ia hormati itu dari atas kursi kebesarannya dengan tatapan yang teramat dingin, seolah sedang melihat orang asing.

"Berdirilah, Mas. Jangan membuat dirimu terlihat semakin menjijikkan di ruang kerja saya."

"Tidak, Ningsih! Aku tidak akan berdiri sebelum kamu memaafkanku!" paksa Hendra, mendongak dengan air mata dan ingus yang bercucuran di wajahnya. "Arumi... Arumi ternyata wanita busuk! Setelah tahu aku bangkrut, dia dan ibunya mengunci pintu kontrakan dan mengusirku ke jalanan! Aku menggelandang semalaman, Ningsih... Aku lapar, aku tidak punya tempat tinggal. Aku merindukanmu... Aku merindukan masakanmu, merindukan kehangatan rumah kita. Tolong, Ningsih... ayo kita rujuk. Kita bangun lagi semuanya dari awal demi Luna, demi anak kita!"

Mendengar kata rujuk dan nama Luna disebut oleh bibir kotor Hendra, raut wajah Ningsih seketika berubah mengeras. Kilat kemarahan yang sangat besar tampak jelas di kedua matanya.

Ningsih menggebrak meja kerjanya dengan keras.

"Cukup, Mas!" bentak Ningsih, suaranya menggelegar dingin membuat Hendra tersentak ketakutan. Ningsih bangkit dari kursinya, menatap Hendra dari atas dengan penuh keangkuhan.

"Demi Luna, kamu bilang? Di mana pikiranmu saat kamu membawa wanita gatal itu ke dalam kamar tidurku, hah?! Di mana perasaanmu sebagai seorang ayah saat kamu menelantarkan aku dan Luna tanpa uang sepeser pun demi membelikan Arumi tas-tas mewah?!"

"Aku khilaf, Ningsih... tolong beri aku kesempatan kedua," rintih Hendra memelas, mencoba meraih tangan Ningsih kembali.

"Kesempatan kedua?" Ningsih terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat mematikan. "Ningsih yang bodoh, yang bisa kamu tipu dan kamu manfaatkan di dapur dulu, sudah mati hari ini di pengadilan agama! Aku tidak akan pernah mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya dalam hidupku!"

Ningsih melangkah mendekati Hendra, lalu membungkukkan sedikit tubuhnya, berbisik tepat di depan wajah pria yang telah menghancurkan hatinya itu.

"Asal kamu tahu, aku tidak memenjarakanmu semata-mata hanya karena aku tidak mau nama baik Luna tercemar karena punya ayah seorang narapidana. Jadi, nikmati sisa hidupmu di jalanan sebagai gembel, Mas. Dan jangan pernah sekali-kali kamu berani menampakkan wajahmu lagi di depan aku atau Luna!"

Ningsih kembali menegakkan tubuhnya, berbalik memunggungi Hendra.

"Pak Roni! Keamanan! Seret pria ini keluar dari gedung saya sekarang juga!"

"Ningsih! Jangan lakukan ini, Ningsih! Aku suamimu! Ningsih!" teriak Hendra histeris saat dua petugas keamanan berbadan besar mendobrak pintu dan langsung menjinjing tubuhnya yang lemas keluar dari ruangan.

Pintu kembali tertutup rapat. Ningsih mengembuskan napas panjang, merapikan blazernya, lalu kembali duduk di kursi kebesarannya dengan perasaan yang terasa sangat lega dan merdeka.

"Harusnya kamu menyesal sejak dulu, bukan saat kamu di posisi sekarang mas!" Ningsih memijat pelipisnya yang nulai berdenyut nyeri.

Drrt! Drrt!

Ponsel di atas meja bergetar. sebuah pesan masuk dari rumah utama.

"Ayah sakit?" gumamnya.

1
Sri Rahayu
Luna ga tau aja kl papa mu uda ditendang oleh si tante genit Arumi /Facepalm//Facepalm//Facepalm/...tp skrg papa mu uda dpt tante genit baru adik tiri mu🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
Yeni..Nawang...ketemu Hendra kyknya bakal seru nih...lanjut Thorr 😘😘😘
Sri Rahayu
kamu mau memanfaatkan Hendra 😇😇😇...yg ada kamu yg akan dimanfaatkan Hendra🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ hei sawang sinawang lu gak tahu ajj kelakuan Hendra .... bukan nya cek latar belakang dulu
Nice1808
🤣🤣🤣luna pinter ya bilng arumi tante genit kyk ulat bulu menempel pd papanya👍👍👍
Nice1808
nawang sat set bbgt mau menikah dgn hendra demi aset dr adiwangsa🤣
Nice1808
parah yudha melihara ular juga😃bego bngt😃😃😃
Nice1808
nawang milih hendra kyk apa ntar anknya bersaudara dgn luna kandung🤣🤣
Susma Wati
hendra dan nawang sama-sama ular, yang akan saling mematuk dan akan hancur bersama
tinie
hendraq jangan sombong dulu
ingat ya Luna sangat cerdas ,,

ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
tinie
intinya sama sama memanfaatkan
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
tinie
makanya kalo gak bisa cari harta sendiri ya jangan mancing emosi orang
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
tinie
bener sebentar lgi akan dikuras sama hendra
tinie
eeh kamu salah
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut
Susma Wati
nawang kalau memilih hendra bakalan nyesel gak yah, soalnya hendra tuh sampah yang di buang ningsih, Kalau hendra menikahi nawang dan dia merasa sudah kaya lagi pasti dia buat ulah lagi, ehh tuh si pelakor tahu hendra kaya lagi pasti dia rayu si hendra, kalau hendra kena rayu lagi sama sia arumi, memang hendra goblok, masuk ke ĺbang yang sama, mungkin nawang sebenarnya baik, tapi kena pengaruh ibunya yang gila kuasa, jadi kalau nawang salah dengan pilihan nya mungkin dia menendang hendra ke jalanan, kalau belum terlambat, tapi tetap kalah kalau sudah berhadapan dengan ningsih pasti dibikin busuk di penjara kalau dia menguasai kekayaan pak yudha, ningsih pasti rebutan lagi, walau mungkin yeni dan nawang juga merasakan sengsara, tapi itu buah yang di petik mereka karena serakah 🤣🤣
Senja: Hehehe kita lihat coba nanti kak🤭
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sampah di buang Ningsih mau di pungut Nawang ???gi dah ambil sana 🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
lah amsyong🤣
Susma Wati
nawang anaknya yeni, ketemu hendra, bersatu melawan ningsih, kata kebetulan orang 2 yang membuat ningsih sakit hati bersatu, dan ningsih menghadapi mereka dan kehancuran yang mereka dapatkan karena ningsih benar-benar membalas semua sakit hatinya pada orang-orang ang pantas mendapatkan kehancuran
vj'z tri
eh dodo eeee kirain mah dah insaf 🤣🤣🤣🤣🤣
Nice1808
yeni manusia gila harta dia lupa ningsih ank yudha yg skrg kaya hidup sendiri 🤣🤣harta yudha juga akn di wariskn ke ningsih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!