NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06.Menguping

Motor matic hitam memasuki pekarangan rumah yang cukup besar. Halaman luas dan muat untuk beberapa mobil dan sepeda motor.

Bu Rahmi turun dari motor dengan wajah di tekuk. Sepanjang perjalanan pun nenek dan cucu tidak terlibat obrolan sama sekali. Bu Rahmi sepertinya masih jengkel dengan teguran dari cucunya, Dirga.

Sebenarnya Dirga sudah melupakan kejadian tadi. Tapi sepertinya sang nenek masih kesal dan enggan untuk memulai obrolan.

Dirga menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. Lantas dia pun melangkah mengikuti neneknya.

" Ibu dari mana?" tanya Pram yang saat itu sedang duduk di teras rumah.

" Dari rumahmu." jawab Bu Rahmi sambil melangkah masuk ke dalam.

" Ibu ngapain ke sana, jangan bilang ibu nengokin anak itu." tanya Pram penuh penekanan.

"Nggak...siapa bilang ibu ke sana nengokin anak itu."

"Terus ada perlu apa ibu ke sana?".

"Mmm...anu..ibu cuma minta tambahan uang belanja sama istrimu.Karena kamu di sini otomatis pengeluaran ibu jadi nambah, kan? Nah..karena kamu di sini otomatis uang jatah makanmu utuh."

" Aku nggak paham, Bu. Tapi kalau memang ibu minta tambahan uang belanja kenapa nggak bilang, kenapa harus ke sana?."

" Jadi kamu mau ngasih uang tambahan buat ibu." tanya Bu Rahmi dengan mata berbinar.

Dari anak orok sampai nenek-nenek peot kalau dengar soal uang, di matanya langsung terbayang uang dolar.

"Terus sampai kapan kamu akan berada di sini. Ibu capek harus masak banyak tiap hari. Adikmu itu nggak bisa di andalin, seharian cuma main hp terus."

" Kalau anak itu masih ada di rumah, aku belum mau pulang, Bu. Rasanya telinga ini mau pecah dengar suara tangisnya. Tahu sendiri anak laki-laki kalau nangis suaranya kenceng. Coba kalau lahir perempuan aku pasti betah tinggal di rumah."

"Terus mau kamu gimana? Nggak mungkin kan, kamu selamanya tinggal di sini. Anak itu anakmu otomatis tetap di rumahmu. Aneh kamu ini." ujar Bu Rahmi tak tahu arah pembicaraan anaknya.

" Kalau memang Arista masih mau bersamaku, satu-satunya jalan anak itu harus keluar dari rumah itu. Kalau dia masih mempertahankan anaknya, aku tetap tinggal di sini. Kecuali dia mau hamil lagi dan melahirkan anak perempuan, barulah aku balik ke rumah itu lagi. Ibu tenang aja, nanti uang jatah buat ibu aku tambah lagi."

Bu Rahmi tersenyum di kulum. Baginya tak masalah yang penting jatah buatnya tak berkurang.

" Jadi kamu benar-benar nggak mau mengakui dia anakmu, cuma gara-gara lahir anak cowok. Kalau Arista hamil lagi dan yang lahir cowok lagi bagaimana. Ada-ada aja kamu."

" Yaahh...terpaksa aku nikah lagi biar punya anak perempuan." jawab Pramono enteng.

Tanpa mereka sadari di teras ada sepasang mata yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Mendengan obrolan nenek dan ayahnya rahang Dirga mengeras, ke dua tangannya mengepal, badannya gemetar bukan karena takut. Tapi menahan amarah.

Sebenarnya tadi Dirga mau langsung masuk ke dalam mengikuti neneknya.Tapi dia balik lagi ke arah motornya untuk menaruh jaket.Dia sebenarnya tidak tahu kalau ayahnya ada di sana. Dia mengira kalau ayahnya masih kerja.

Dia lantas duduk di kursi teras karena ingin melepas sepatunya. Tanpa sengaja dia mendengar semua pembicaraan ayah dan neneknya.

Karena kesal, Dirga bangun sampe kursi yang di duduki terdorong ke belakang.

Brraakkk

Ibu dan anak yang sedang serius ngobrol, kaget mendengar suara benturan di teras. Mereka bergegas ke depan melihat apa yang terjadi.

Suara motor terdengar meninggalkan halaman rumah itu. Pengemudi motor sengaja menarik gasnya kuat-kuat.

"Ibu tadi ke sini di antar siapa?."

"Astaga. Kenapa ibu sampai lupa. Tadi ibu di antar sama Dirga." kata Bu Rahmi.

"Kenapa dia nggak masuk , malah langsung pergi dan nggak pamit. Dasar anak nggak ada sopan santunnya." Pramono terlihat kesal.

"Tapi kenapa dia seperti marah ya? Apa jangan-jangan dia dengar semua obrolan kita?." kata Bu Rahmi sambil memandang ke arah anaknya.

Pramono tertegun. Dia seperti baru menyadari kalau ucapan ibunya itu benar.

Wajah Pramono terlihat cemas , dia tidak ingin ke tiga anaknya tahu permasalahan yang sedang di hadapi ke dua orang tuanya.

(Ini semua gara-gara Arista, coba kalau dia bisa melahirkan bayi perempuan, sekarang pasti aku sedang bahagia menimang dan bermain dengan ke tiga putraku).

Pramono tidak sadar hati bisa di bolak balikkan dengan mudah oleh Sang Kholik. Manusia ketika sedang bahagia selalu lupa dan ingkar dengan apa yang dia ucapkan oleh mulutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!