Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.
Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.
Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.
Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.
Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.
Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.
~~~~~~
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Jauh dari kemegahan mansion neoklasik milik keluarga Riccardo yang sedang dilingkupi kehangatan asmara baru, atmosfer yang teramat kontras dan dingin justru mencengkeram sebuah griya tawang mewah di pusat distrik bisnis Los Angeles.
Di balik dinding kaca raksasa setinggi langit-langit yang menampilkan panorama metropolitan yang bising dan berpolusi, seorang pria sedang berdiri tegak dengan kedua tangan yang terbenam dalam saku celana bahan premiumnya.
Aldridge. Mantan kekasih yang pernah menorehkan luka trauma teramat pekat di lubuk hati Alceena Riccardo.
Pria itu menatap lurus ke luar, memandang jauh pemandangan Los Angeles yang terhampar di bawah kakinya laksana miniatur mainan.
Wajah tampannya yang biasa dipuja di karpet merah kini tampak mengeras, dengan rahang yang mengatup rapat menahan gejolak amarah yang membakar egonya sejak berita sampah mengenai Alceena dan seorang pria asing beredar pagi ini.
Langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan ruangan luas bernuansa minimalis tersebut.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi—asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Aldridge—berjalan mendekat sambil membawa sebuah tablet digital yang masih menyala, menampilkan berkas-berkas informasi rahasia.
"Tuan Aldridge," panggil sang asisten dengan nada suara yang teramat serius dan sarat akan kecemasan.
Dia berhenti tepat dua langkah di belakang punggung tegap majikannya. "Saya sudah mendapatkan seluruh data mengenai pria misterius yang tertangkap kamera bersama Nona Alceena di apartemen dan lokasi syuting kemarin siang."
Aldridge tidak membalikkan tubuhnya. Dia hanya mendengus dingin, matanya masih mengunci pendar cahaya dari gedung-gedung pencakar langit di kejauhan.
"Katakan. Siapa bajingan yang berani menggantikan posisiku di samping wanita sombong itu?"
"Namanya Xander Hayes-Stone, Tuan. Dia berasal dari Chicago," jawab sang asisten dengan intonasi yang mendadak melambat, seolah nama itu memiliki bobot yang teramat berat untuk diucapkan di udara bebas.
Mendengar nama belakang yang teramat asing di telinganya, Aldridge perlahan memutar tubuhnya.
Dia menatap sang asisten dengan sebelah alis yang terangkat, memamerkan senyuman miring yang penuh penghinaan. "Seorang Stone? Dari Chicago? Keluarga macam apa itu? Mengapa aku baru pertama kali mendengarnya di lingkaran elit kita?"
Aldridge melangkah mendekati meja bar marmer, menuangkan cairan amber dari botol wiski mahal ke dalam gelas kristal dengan gerakan yang teramat santai.
"Keluarganya bergerak di bagian apa? Apakah mereka hanya sekadar pengusaha gandum atau tuan tanah pinggiran yang mencoba mengadu nasib di industri hiburan pesisir barat?"
Sang asisten menelan ludahnya dengan berat, wajahnya memucat mendengar nada meremehkan dari Aldridge.
Dia melangkah maju, meletakkan tablet digital itu di atas meja bar agar Aldridge bisa melihat simbol lingkaran dalam klan Stone yang tertera di sana.
"Kekuasaan mereka jauh di atas itu, Tuan Aldridge," ucap sang asisten, suaranya merendah hingga menyerupai bisikan yang teramat tegang.
"Empat puluh persen kekuasaan mutlak di seluruh wilayah Chicago adalah milik mereka. Klan Stone bukan sekadar pengusaha... mereka adalah dinasti berdarah dingin. Mereka masuk ke dalam jajaran nomor satu yang paling wajib dihindari oleh bisnis legal maupun ilegal di belahan bumi utara."
Aldridge yang baru saja hendak menyesap wiski nya, seketika menghentikan gerakannya. Matanya menyipit menatap sang asisten.
"Dermaga logistik internasional dan seluruh pelabuhan utama di Chicago berada sepenuhnya di bawah kendali cengkeraman klan mereka, Tuan," lanjut sang asisten tanpa jeda, mencoba memberikan gambaran kengerian yang nyata pada majikannya.
"Bukan hanya itu, mereka memiliki kekuasaan dan pengaruh yang teramat masif dalam semua bidang—mulai dari perbankan, jalur hukum, hingga pasokan persenjataan resmi. Di Chicago, hukum tertulis tidak berlaku jika bertentangan dengan kehendak Stone. Dan dari data lapangan, Xander Hayes-Stone adalah salah satu eksekutor lapangan paling kejam yang pernah mereka miliki sebelum konflik internal melanda keluarga mereka beberapa Minggu lalu."
Sang asisten menatap mata Aldridge dengan pandangan memohon yang teramat serius.
"Saran saya... kita tidak usah mengusik mereka, Tuan. Mencari masalah dengan seorang Stone sama saja dengan memesan tiket peti mati untuk diri kita sendiri, bahkan sebelum kita sempat menyadarinya."
Hening sejenak mencengkeram ruangan itu. Informasi mengenai latar belakang Xander yang begitu mengerikan seharusnya mampu membuat nyali pria mana pun menciut.
Namun bagi Aldridge, pria yang sudah terlalu lama dimanjakan oleh kemewahan, popularitas, dan ego yang setinggi langit di Hollywood, penjelasan itu justru terdengar laksana sebuah penghinaan bagi harga dirinya.
Egonya terluka parah menyadari bahwa Alceena—wanita yang dulu bertekuk lutut menangis di depannya karena diselingkuhi—kini justru dilindungi oleh sosok pria yang memiliki kekuasaan laksana raja di dunia bawah.
Rasa cemburu yang beracun dan ambisi buta seketika membutakan akal sehat Aldridge.
Aldridge mendengus keras, lalu meneguk habis wiski di dalam gelasnya hingga tandas.
Dia meletakkan gelas kristal itu ke atas meja marmer dengan dentuman yang teramat keras, memamerkan senyuman sinis yang dipenuhi oleh keangkuhan yang luar biasa gila.
"Empat puluh persen kekuasaan di Chicago?" cetus Aldridge, suaranya bergaung sombong di dalam griya tawangnya.
Dia terkekeh meremehkan, menggelengkan kepalanya perlahan. "Itu di Chicago, sialan! Tapi di Los Angeles... pria bernama Xander itu tidak ada apa-apanya! Ini adalah wilayahku, ini adalah Hollywood! Di kota ini, opini publik dan kekuatan media adalah tuhan yang sesungguhnya. Seorang pria asing dari kota industri tidak akan bisa berbuat banyak jika reputasinya sudah dihancurkan hingga ke dasar bumi!"
Aldridge melangkah mendekati asistennya, menatap pria paruh baya itu dengan kilatan mata yang dipenuhi oleh kegelapan dan rencana busuk yang teramat matang.
Rasa hormatnya pada nama besar Riccardo sudah lama hilang sejak Alceena menolak untuk kembali ke pelukannya beberapa hari lalu.
"Jangan biarkan ketakutanmu merusak rencana besar kita," desis Aldridge, suaranya terdengar teramat dingin dan kejam.
"Aku tidak peduli seberapa banyak darah yang pernah dia tumpahkan di Chicago. Di sini, dia hanya seonggok daging raksasa yang mencoba bermain-main dengan milikku. Dan aku akan memastikan dia menyesal karena telah menginjakkan kakinya di kota ini."
Aldridge mencengkeram bahu asistennya dengan kuat, memberikan penekanan mutlak pada perintah berikutnya. "Lakukan rencana awal kita sekarang juga. Jangan menundanya lagi karena penyelidikan sampah."
Sang asisten menahan napasnya. "Rencana... yang mana, Tuan?"
Sebuah senyuman iblis yang teramat puas terukir di bibir tampan Aldridge. "Katakan pada seluruh jaringan media gosip terbesar yang kita kendalikan... buat artikel eksklusif tanpa nama sumber. Katakan pada dunia bahwa Alceena Riccardo yang suci dan terhormat itu... pernah hamil anakku di masa lalu, dan dia dengan tega menggugurkan kandungan itu demi menyelamatkan kariernya sebagai seorang diva papan atas."
Deg.
Sang asisten membelalak horor mendengar instruksi gila tersebut.
Menyerang reputasi seorang Alceena dengan isu aborsi adalah sebuah tindakan bunuh diri massal yang akan memicu kemarahan besar dari keluarga Von-Riccardo.
"Tuan... jika keluarga Riccardo mengetahui kita yang berada di balik skandal ini, mereka akan—"
"Mereka tidak akan bisa membuktikannya jika kau bekerja dengan rapi, Bodoh!" potong Aldridge dengan bentakan kasar, melepaskan cengkeramannya hingga sang asisten mundur selangkah.
"Begitu isu itu naik, publik akan menghancurkan citranya. Dan pria Stone itu... dia tidak akan sudi mempertahankan seorang wanita yang memiliki sejarah membunuh darah dagingnya sendiri. Aku akan menghancurkan ketenangan mereka berdua sekaligus!"
Aldridge kembali berbalik, menatap ke luar jendela dengan napas yang memburu puas, membayangkan bagaimana dunia Alceena akan runtuh dalam beberapa jam ke depan.
"Pergi dan eksekusi sekarang juga."
Sang asisten menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan rasa cemas yang teramat sangat pekat di dalam hatinya.
"Baik, Tuan." Pria itu berbalik dengan cepat, melangkah meninggalkan ruangan untuk melepaskan bom waktu yang siap membakar seluruh Los Angeles dengan fitnah yang teramat kejam.