Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Sentuhan Pertama di Balik Laboratorium
Malam kembali melarut. Jam digital di dinding laboratorium pribadi Narendra Cosmetics
menunjukkan pukul sepuluh malam. Setelah keriuhan konferensi pers yang melelahkan dan
lonjakan saham yang menggila, di sinilah mereka kembali berakhir. Tempat di mana segalanya
dimulai.
Kiara baru saja selesai membersihkan sisa riasan tipis di wajahnya. Langkah kakinya
mendekati meja lab panjang, tempat beberapa cawan petri dan botol ukur berserakan. Ia
melepas anting-antingnya, menarik napas panjang, mencoba mengusir ketegangan yang
seharian ini menumpuk di pundaknya. Balas dendam babak pertama memang sukses besar, tapi
dia tahu ini baru permulaan.
Suara langkah kaki yang berat dan ritmis membuat Kiara menoleh. Arkan masuk. Pria itu
sudah melepas jas formalnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke
siku, menampilkan lengan bawahnya yang kokoh dan berurat tegap. Dua kancing teratas
kemejanya dibiarkan terbuka, memancarkan aura kasual namun tetap sangat intimidatif.
"Saham kita ditutup naik lima persen sore ini," Arkan membuka suara, memecah kesunyian
lab. Ia berjalan mendekat, menyandarkan pinggulnya pada tepian meja lab, tepat di sebelah
Kiara. "Madam Amalia baru saja menelepon. Dia mengirimkan tim desainer interior untuk
merenovasi salah satu paviliun di kediaman utama. Dia ingin kita segera tinggal bersama
setelah pendaftaran pernikahan kontrak ini selesai minggu depan."
Kiara sedikit tertegun, namun dengan cepat menguasai ekspresinya. "Baguslah kalau begitu.
Itu artinya rencana kita berjalan sesuai jadwal, Tuan Arkan."
"Apakah kamu sama sekali tidak merasa gugup, Kiara?" Arkan membalikkan tubuhnya
menghadap Kiara, menatap lekat-lekat wajah gadis itu yang kini polos tanpa *makeup* namun
tetap memancarkan kilau sehat yang alami. "Tinggal satu atap denganku. Berpura-pura
menjadi sepasang suami istri yang saling mencintai di depan publik, sementara di balik pintu
kita hanya dua orang asing yang terikat kertas legal."
"Gugup?" Kiara terkekeh pelan, melangkah satu senti lebih dekat untuk menantang tatapan
Arkan. "Saya rasa ego Anda terlalu tinggi jika mengira saya akan gemetar hanya karena hal itu.
Ini murni transaksi bisnis. Saya menyelamatkan kulit dan saham Anda, Anda menghancurkan
musuh saya. Adil, kan?"
Arkan menyipitkan mata. Sial, pertahanan gadis ini terlalu tebal. Tarik-ulur emosi di antara
mereka selalu membuat Arkan merasa tertantang untuk mendobraknya. Namun, tepat saat Arkan hendak membalas ucapan Kiara, sebuah kerutan halus muncul di dahi pria itu. Jari
tangannya refleks bergerak menyentuh kembali area rahangnya.
Kiara yang memiliki mata jeli seorang formulator langsung menyadari perubahan itu.
Langkah kakinya yang tadinya penuh kalkulasi taktik, mendadak berubah menjadi langkah
sigap seorang profesional. Ia maju tanpa permisi, meraih dagu Arkan dengan jemarinya yang
halus.
"Jangan disentuh," perintah Kiara tegas. Ia sedikit mendongak, memeriksa kulit rahang
Arkan di bawah lampu neon lab yang terang. "Efek stres pasca konferensi pers memicu sedikit
inflamasi sekunder. Kulit Anda ini benar-benar sensitif terhadap tekanan emosional, Tuan."
Arkan membeku. Sentuhan jemari Kiara di dagunya terasa begitu hangat dan lembut, sangat
kontras dengan dinginnya peralatan kaca di sekitar mereka. Dari jarak sedekat ini, Arkan bisa
mencium aroma murni dari minyak esensial yang melekat di kulit Kiara—perpaduan antara teh
hijau dan sedikit madu.
Bukannya mundur seperti biasanya, Arkan justru menaruh tangan besarnya di atas
punggung tangan Kiara yang tengah memegangi dagunya, mengunci jemari gadis itu di sana.
"Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Kepala Formulatorku untuk meredakannya?" bisik
Arkan, suaranya mendadak berubah menjadi lebih dalam dan serak. Tatapan matanya turun ke
bibir Kiara sebelum kembali mengunci manik mata gadis itu.
Jantung Kiara berdegup kencang secara abnormal. Ini bukan bagian dari rencana. Sentuhan
telapak tangan Arkan yang besar dan hangat di punggung tangannya mengirimkan sengatan
listrik halus yang membuat pertahanan logikanya sedikit goyah. Ia mencoba menarik tangannya,
namun cengkeraman Arkan kokoh, tidak menyakitki, tapi mutlak.
"S-saya perlu mengambil gel penenang di dalam lemari pendingin," ujar Kiara, suaranya
sedikit tertahan, tanda bahwa gertakan fisik Arkan kali ini berhasil menembus celah egonya.
"Ambil nanti saja," balas Arkan dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan—senyuman
yang terlihat sangat menawan namun berbahaya. Pria itu maju selangkah lagi, mengikis habis
jarak yang tersisa hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. "Katanya ini hanya transaksi
bisnis, Kiara. Mengapa napasmu mendadak tidak teratur?"
Kiara menahan napasnya, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatannya untuk
menyerang balik dalam permainan tarik-ulur ini. Ia menatap lurus ke dalam mata hitam Arkan
yang intens.
"Napas saya tidak teratur karena saya sedang memikirkan berapa banyak biaya tambahan
yang harus saya tagih untuk pelayanan ekstra ini, Tuan Narendra," balas Kiara dengan senyum menantang yang dipaksakan, meski rona merah muda di pipinya tidak bisa berbohong di bawah
lampu lab.
Arkan terkekeh rendah, sebuah tawa tulus yang jarang sekali terdengar dari bibir sang CEO
dingin. Perlahan, ia melepaskan cengkeraman tangannya, memberikan Kiara ruang untuk
bernapas.
"Kamu benar-benar tidak mau kalah, ya," ujar Arkan, matanya masih memancarkan binar
ketertarikan yang pekat. "Pergilah ambil gel itu sebelum wajahku benar-benar rusak karena
menahan diri."
Kiara berbalik dengan cepat, berpura-pura sibuk di depan lemari pendingin lab untuk
menyembunyikan wajahnya yang terasa sangat panas. Sambil mengambil botol gel, ia
memegangi dadanya yang masih bergemuruh. Sial. Pernikahan kontrak ini bahkan belum resmi
dimulai, tapi batas antara sandiwara dan perasaan asli sudah mulai mengabur.
Di sudut lain ruangan, ponsel Arkan di atas meja lab tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah pesan
singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal, menampilkan sebuah foto rahasia: foto Kiara yang
sedang berbicara dengan seorang pria misterius di luar gedung hotel semalam.
"Arkan Narendra, tanyakan pada calon istrimu... siapa orang yang menemuinya di bayang-
bayang semalam? Dia bukan penyelamatmu, dia adalah bom waktu untuk menghancurkanmu."
Mata Arkan seketika menggelap membaca pesan itu. Ia melirik Kiara yang sedang berjalan
kembali ke arahnya dengan botol gel di tangan, masih dengan senyum manisnya. Sebuah
keraguan baru menyusup ke dalam hati sang CEO. Siapa sebenarnya Kiara Sabitha di balik
formula rahasianya?