Peringatan Misi Kematian! Sisa waktu: 10 menit.
Tugas: Hadapi Dewi Kuno, atau jantungmu meledak.
Sebagai murid buangan yang tertindas, Lin Huang mendadak memiliki kekuasaan instan berkat "Tanda Batas Batil" di pergelangan tangannya. Tidak butuh waktu ratusan tahun, kultivasinya meningkat eksponensial dalam hitungan detik—tetapi harganya adalah risiko nyawa yang mengerikan!
Setiap detik adalah pertarungan. Setiap misi adalah perjudian.
Fast-Paced Xianxia | Kultivasi Ekstrem | Romansa Paksaan Dewi
Rasakan adrenalin tanpa jeda di setiap bab!
"Ini bukan tentang menjadi abadi, ini tentang bertahan hidup di detik berikutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan Sang Dewi dan Tugas Kamar Istana
Malam hari di Ibu Kota Kekaisaran Awan Merah membawa atmosfer yang sangat berbeda. Jika siang hari dipenuhi oleh kemegahan ziarah emas dan formasi pelacak, maka malam hari mengubah kota raksasa ini menjadi hamparan lampu lampion merah yang memantulkan bayangan di atas sungai-sungai buatan istana.
Sebagai salah satu pengawal pribadi dalam yang baru terpilih, Lin Huang mendapatkan hak istimewa untuk menempati sebuah paviliun mewah di sayap barat Istana Phoenix, area yang diperuntukkan khusus bagi lingkaran terdalam Putri Zhao Linger. Ye Qingyue, yang masih mengenakan cadar sutra putihnya, ikut masuk dengan identitas pelayan pribadi bawaan—sebuah status yang membuatnya harus terus berada di dekat Lin Huang sepanjang waktu.
Brak.
Pintu kayu cendana paviliun tertutup rapat. Begitu mereka berdua berada di dalam ruangan yang sunyi, hawa hangat malam itu seketika turun drastis hingga mendekati titik beku.
KREK... KREK...
Lantai kayu di bawah sepatu Lin Huang perlahan-lahan dilapisi oleh lapisan es tipis berwarna biru pucat. Lin Huang berbalik dan mendapati Ye Qingyue telah melepaskan cadarnya. Wajah surgawinya yang seputih porselen kini dipenuhi oleh rona dingin yang teramat tajam. Sepasang mata periknya menyala dengan kilau yang sanggup mengintimidasi seorang tetua ranah tinggi sekalipun.
"Kultivasi Fondasi Jiwa Tingkat 1 ternyata membuat nyalimu semakin besar, Lin Huang," Ye Qingyue membuka suara. Nadanya terdengar sangat datar, namun ada getaran tajam yang tidak bisa disembunyikan. "Menatap mata putri rubah itu dari jarak satu jengkal... Apakah aroma parfum mawarnya begitu memikat hingga kau lupa tujuan utamamu datang ke tempat ini?"
Lin Huang tercengang sejenak, namun sebagai seorang anti-hero bermuka tebal, dia justru melebarkan seringai nakalnya. Dia melangkah maju tanpa memedulikan hawa es yang menggigit telapak kakinya, mendekati Ye Qingyue hingga jarak mereka hanya tersisa setengah langkah.
"Dewi Ye, apakah aroma es di tubuhmu ini sedang memancarkan sesuatu yang disebut... cemburu?" Lin Huang terkekeh pelan, menatap langsung ke dalam mata perak sang Dewi dengan binar mata merah keemasannya yang liar.
"Cemburu?!" Ye Qingyue mendengus sangat dingin, memalingkan wajahnya yang anggun dengan cepat untuk menyembunyikan semburat merah muda samar yang mendadak muncul di pangkal lehernya. "Manusia fana yang lancang! Aku adalah penguasa tertinggi Alam Atas. Alasan aku mengawasimu adalah karena ikatan Simbiosis Jiwa kita. Jika kau kehilangan fokus karena godaan wanita duniawi itu dan membiarkan tato di tanganmu meledak, aku juga akan terkena dampaknya!"
"Ah, jadi ini semua demi keamanan jiwa bersama?" Lin Huang tertawa lepas, melangkah lebih dekat hingga aroma es murni yang familier kembali menenangkan meridian jiwanya. "Tenang saja, Yue'er-ku yang manis. Putri Zhao Linger itu mungkin memiliki mata rubah yang memikat seluruh pria di kekaisaran, tapi di mataku... pesonanya tidak ada seujung kuku dari keanggunan sejati istriku dari Alam Atas."
"Kau—"
Sebelum Ye Qingyue sempat membalas kelancangan kata 'istriku' dengan beling esnya seperti biasa, suara ketukan pintu yang teratur mendadak memecah ketegangan di dalam paviliun.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan Muda Lin, apakah Anda sudah beristirahat?"
Suara di balik pintu terdengar sangat lembut dan merdu, khas seorang pelayan wanita senior dari Istana Dalam.
Lin Huang menyipitkan matanya, memberi isyarat pada Ye Qingyue dengan pandangan mata. Ye Qingyue dengan cepat menarik kembali energi esnya dan mengenakan kembali cadar sutranya, berdiri dengan anggun di sudut bayangan ruangan seperti seorang pelayan sejati.
Lin Huang membuka pintu. Seorang pelayan wanita paruh baya berpakaian sutra ungu membungkuk hormat di depannya. "Tuan Muda Lin, Yang Mulia Putri Zhao Linger memanggil Anda sendirian untuk menghadap ke Kamar Tidur Utama Istana Phoenix sekarang. Beliau mengatakan ada... tugas malam rahasia yang harus segera diserahkan kepada Anda."
"Tugas malam rahasia? Di kamar tidur?" Lin Huang mengangkat sebelah alisnya, senyuman flamboyannya kembali menghiasi wajah penyamarannya. Dia bisa merasakan hawa dingin di belakang punggungnya mendadak melonjak kembali ke titik ekstrem saat pelayan itu menyebut kata 'kamar tidur'.
"Baiklah, pimpin jalannya," Lin Huang menyanggupi.
Sebelum melangkah keluar, Lin Huang menoleh sejenak ke arah Ye Qingyue yang berdiri statis di dalam kegelapan bayangan paviliun. Mata perak sang Dewi menatapnya dengan tatapan yang sanggup membunuh seekor naga fana. Lin Huang hanya memberikan sebelah kedipan mata yang penuh arti sebelum menutup pintu.
Dipandu oleh pelayan berbaju ungu, Lin Huang melintasi koridor-koridor panjang istana yang dijaga ketat oleh formasi rahasia. Setelah berjalan selama sepuluh menit, mereka tiba di depan sebuah gerbang kayu besar berukir burung phoenix emas yang memancarkan aroma dupa gaharu dan mawar yang sangat pekat.
"Yang Mulia Putri, Tuan Muda Lin telah tiba," pelayan itu melapor pelan, lalu membukakan pintu dan memberi isyarat agar Lin Huang masuk sendirian.
Krieeek...
Lin Huang melangkah masuk ke dalam Kamar Tidur Utama. Ruangan itu luar biasa luas dan mewah. Lantainya dilapisi oleh karpet bulu binatang buas tingkat tinggi yang teramat lembut. Di bagian tengah ruangan, sebuah ranjang raksasa berselimut kain sutra tipis berwarna merah marun dikelilingi oleh tirai-tirai transparan yang berkibar pelan tertiup angin malam.
Di atas ranjang tersebut, Putri Zhao Linger sedang berbaring miring dengan posisi yang teramat provokatif. Dia telah menanggalkan zirah emas turnamennya, kini hanya mengenakan sehelai gaun tidur sutra tipis transparan berwarna putih yang mengekspos lekuk tubuhnya yang sensual dengan sangat jelas. Rambut hitamnya terurai acak di atas bantal, dan mata rubahnya menatap Lin Huang dengan binar yang dipenuhi oleh permainan ketertarikan.
Namun, begitu Lin Huang melintasi ambang pintu, Kesadaran Ilahi dari Ranah Fondasi Jiwa-nya yang tajam seketika mendeteksi sesuatu yang aneh. Di balik tirai-tirai sutra besar di sudut ruangan, setidaknya ada dua puluh aura napas tersembunyi dari para pengawal tingkat tinggi Ranah Fondasi Jiwa Puncak yang sedang menahan napas mereka dengan senjata terhunus.
Ini bukan sekadar panggilan intim seorang putri; ini adalah sebuah jebakan dan ujian kesetiaan yang mematikan.
"Tuan Muda Lin... kau datang lebih cepat dari yang kukira," Zhao Linger membuka suara, suaranya terdengar malas dan serak yang seksi, bangkit berdiri dari ranjangnya dan berjalan perlahan mendekati Lin Huang. Setiap langkah kakinya yang telanjang di atas karpet memancarkan pesona alami yang berbahaya.
"Panggilan dari seorang Putri yang cantik adalah dekret tertinggi bagi pengawal fana sepertiku, Yang Mulia," Lin Huang menjura hormat dengan gaya flamboyan, matanya menatap lurus ke arah Zhao Linger tanpa ada sedikit pun riak kegugupan atau nafsu duniawi di dalamnya—sebuah ketenangan murni yang berasal dari jiwa yang telah ditempa oleh Api Suci.
Zhao Linger menghentikan langkahnya tepat di depan Lin Huang, aroma mawarnya menyengat indra penciuman Lin Huang. Dia mengulurkan jari telunjuknya yang lentik, perlahan merayap naik dari dada bidang Lin Huang menuju dagunya.
"Kau tahu, Lin Huang... banyak pria di istana ini yang rela mati hanya untuk berada di posisi ini," Zhao Linger berbisik di dekat wajah Lin Huang, mata rubahnya menyipit tajam. "Tapi aku bisa merasakan... kau tidak takut padaku. Dan kau tidak menginginkanku seperti pria-pria bodoh itu. Katakan padaku... apa sebenarnya yang dicari oleh seorang ahli fisik sepertimu dengan menyusup ke dalam istanaku?"
BZZZZT—!!!
Sebelum Lin Huang sempat menjawab, tato jam pasir hitam di pergelangan tangan kirinya meledak dalam denyutan panas yang luar biasa ekstrem, memuntahkan teks digital merah di dalam kesadarannya.
[00:03:00]
[00:02:59]
[Misi Darurat Diaktifkan!]
[Deskripsi: Target berada dalam jarak kontak dekat. Pusaka Langit Kedua: 'Cermin Giok Batil' tersimpan di dalam Kotak Giok Hitam di bawah bantal ranjang Putri Zhao Linger!]
[Tugas: Sentuh Kotak Giok Hitam tersebut dalam waktu 3 menit untuk memicu asimilasi awal sistem, tanpa memicu amukan para pengawal tersembunyi!]
[Hukuman: Gagal \= Struktur tugas berantai hancur, identitas penyamaran Anda diekspos secara global ke seluruh Kekaisaran!]
Lin Huang menyipitkan matanya yang menyala merah keemasan di balik ilusi wajahnya. Tiga menit. Dan dia harus menjangkau area ranjang yang dijaga ketat oleh puluhan mata tersembunyi serta sang Putri Rubah yang cerdik di depannya. Kegilaan seorang anti-hero di jam-jam maut kembali bergejolak di dalam darahnya.