"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
"Ibu, namanya adalah Luis ... "
Sebelum bisa menyelesaikan ucapannya, Arina sudah dipanggil oleh Johan.
Johan terus berteriak tanpa aturan.
Arina berkata pada Emma, "sayang terimakasih banyak. Uangnya akan ibu buat belanja makanan sehari-hari. Ayahmu memanggil, ibu pergi dulu!"
Emma menjawab dengan anggukan, melihat wajah takut Arina, gadis itu sangat bahagia.
Karena ekspresi Arina menunjukkan jika dirinya begitu mencintai Johan, sampai takut kalau Johan marah kepadanya.
Akhirnya ayahnya mendapatkan cinta yang tulus sari seseorang.
Malam hari dirumah sakit.
Luis melangkah gontai menuju kamar rumah sakit dengan rantang makanan di tangan.
Wajahnya cemberut, bibirnya terkunci rapat, menahan amarah yang sulit dijelaskan.
Ayahnya sudah berangkat ke luar negeri secara mendadak, meninggalkannya sebagai pengawas untuk memastikan Laura terurus.
Namun saat pintu kamar terbuka, pemandangan yang ia lihat justru menusuk hatinya—Laura tengah duduk di ranjang, tersenyum manis sambil disuapi oleh Nigel, lelaki yang selama ini selalu membuat darah Luis mendidih.
Rantang makanan itu terlepas dari genggamannya, jatuh dengan dentuman keras di lantai, isinya berhamburan.
Luis menatap Nigel dengan mata yang berkilat, nadanya dingin namun penuh kemarahan, "Nigel, jam besuk sudah berakhir. Silahkan pergi!" Suaranya bergetar, tapi ada ketegasan yang sulit untuk diabaikan.
Nigel justru menolak, berdiri tegap dan menatap balik Luis dengan tenang.
Ada ketegaran di matanya yang seolah berkata bahwa ia tidak takut pada kemarahan Luis.
Sementara itu, Laura menunduk pelan, wajahnya campur aduk antara rasa takut, bersalah dan ketidakberdayaan.
Luis menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun berat, berusaha menahan gelombang cemburu dan amarah yang membakar.
Ia merasa seakan kehilangan kendali, di antara perasaan benci pada Laura dan kegelisahan melihat pria lain begitu dekat dengannya.
Tangan kanan Luis terkepal erat di samping tubuhnya, sementara matanya tak lepas menatap Nigel, siap untuk mempertahankan ‘posisinya’ yang selama ini dianggapnya sebagai satu-satunya yang pantas dekat dengan Laura.
Luis masuk terus melangkah masuk ke dalam kamar.
Laura yang masih trauma, akan kekerasan dan pelecehan yang selama ini dilakukan oleh Luis.
Nampak gemetar, Nigel melirik ke arah tubuh pacarnya.
Tangannya memegang punggung Laura dan mengusapnya dengan lembut. "Laura jangan takut!" Ujar Nigel.
Luis langsung menjauhkan tangan Nigel dengan kasar.
"Laura, sepertinya pelajaran yang aku berikan padamu itu masih kurang?!" Ujar Luis dengan nada mengancam.
Laura semakin ketakutan, bahkan air mata keluar dari pelupuk matanya.
Saat Nigel ingin kembali menguatkan Laura, tiba-tiba Laura berkata pada Nigel dengan suara dingin. "Kak Nigel, kamu pergi dulu dari sini! Bagaimana pun juga, aku dan kak Luis saudara, aku harap kamu bisa memakluminya."
"Setelah ibu meninggal, hanya kak Luis dan ayah Wilson yang aku punya."
Nigel terdiam, ia memejamkan matanya sebentar. Lalu tatapannya menatap ke arah wajah Laura yang sekarang ini menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.
Laura terlihat begitu kasihan, seperti seekor kucing yang sangat malang.
Sungguh Nigel dibuat tidak tega, ia tidak punya pilihan lain selain menyetujui keinginan Laura.
Sementara Laura sendiri memilih untuk tidak membuat masalah dengan Luis, dulu pernah ada teman kelas lain yang menyukainya.
Ia sudah diperingatkan Luis agar menjauh, memang Laura menuruti Luis dan menjauh dari temannya laki-lakinya itu.
Tapi teman laki-lakinya masih terus mengejar cintanya, akhirnya teman laki-laki bernama Julian pun kecelakaan dan kabarnya langsung pindah sekolah diluar negeri.
Ntah kenapa Laura merasa, jika hal yang terjadi pada Julian. Ada campur tangan Luis didalamnya.