Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Mahkota Raja Naga
Dua bulan setelah kemenangan besar di Pulau Hitam, Paviliun Naga Emas telah berubah menjadi kekuatan dominan di Nusantara. Markas utama di Jakarta Selatan kini diperluas menjadi kompleks luas seluas 10 hektar, dilengkapi formasi pertahanan tingkat tinggi, menara kultivasi, dan gudang pil yang selalu penuh. Jumlah anggota aktif mencapai 850 orang, dengan cabang kuat di Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar.
Arkan Wijaya berdiri di balkon menara tertinggi kompleks tersebut. Tubuh kekarnya semakin berwibawa, Foundation Establishment Tingkat 6 akhir-nya memancarkan aura Raja Naga yang membuat siapa pun yang mendekat merasa segan. Angin malam meniup jaket hitamnya, matanya menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berkilau di bawah.
Sela Juanda mendekat dari belakang, memeluk pinggangnya erat. Gaun sutra tipis berwarna emas yang dikenakannya menempel sempurna di tubuh seksi dan cantiknya. “Kamu sudah memikirkan mahkota itu sejak tadi?” tanya Sela lembut.
Arkan berbalik dan menarik Sela ke pelukannya. “Ya. Besok adalah hari penobatan. Aku akan dinobatkan sebagai Raja Naga pertama di Nusantara. Tapi gelar itu tidak berarti apa-apa kalau kamu tidak di sampingku.”
Sela tersenyum polos, pipinya merona. “Aku selalu di sampingmu. Sebagai Ratu Naga.”
Mereka berciuman lama di balkon, penuh gairah dan cinta yang sudah teruji dalam banyak pertempuran. Tangan Arkan merayap di punggung Sela, membuat gadis itu mendesah pelan. Malam itu, seperti biasa, mereka menghabiskan waktu di kamar pribadi dengan penuh hasrat. Naga Qi mereka bercampur semakin dalam, memperkuat ikatan jiwa hingga terasa seperti satu kesatuan.
Keesokan paginya, upacara penobatan digelar di lapangan utama kompleks Paviliun. Ribuan anggota Paviliun dan perwakilan sekte sekutu hadir. Bendera Naga Emas berkibar gagah di mana-mana.
Arkan berjalan di karpet merah menuju panggung utama. Ia mengenakan jubah hitam keemasan yang megah, Pedang Raja Naga tergantung di pinggang. Sela berjalan di sampingnya dengan gaun ratu berwarna emas, cantik dan tegas sekaligus.
Ayah Arkan, yang kini menjadi tetua senior, memimpin upacara. “Hari ini, Arkan Wijaya, Pewaris Naga Emas, dinobatkan sebagai Raja Naga Nusantara. Semoga kekuatannya melindungi yang lemah dan menghancurkan kegelapan.”
Arkan berlutut di depan altar. Ayahnya meletakkan Mahkota Naga Emas di kepalanya — mahkota yang dibuat dari emas murni dan batu spiritual langka, dengan patung naga kecil di tengahnya yang berkilau.
Saat mahkota menyentuh kepala Arkan, seluruh Qi di kompleks Paviliun bergetar. Aura Raja Naga-nya meledak, membentuk bayangan naga emas raksasa di langit yang terlihat hingga puluhan kilometer jauhnya. Semua orang berlutut hormat.
“Raja Naga! Raja Naga!” sorak sorai membahana.
Setelah upacara, Arkan duduk di singgasana utama di aula besar. Sela duduk di singgasana lebih kecil di sampingnya sebagai Ratu. Para sekutu dan perwakilan datang memberi ucapan selamat.
Namun di tengah pesta, seorang utusan dari Sekte Naga Hitam yang tersisa datang dengan bendera putih. Ia berlutut di depan Arkan.
“Lord Void sudah mati. Sisa pasukan Naga Hitam menyerah. Kami memohon ampun dan ingin bergabung di bawah Paviliun Naga Emas.”
Arkan menatap utusan itu lama. “Kalian boleh bergabung. Tapi ingat, pengkhianatan akan dihukum mati.”
Dengan demikian, sisa kekuatan Naga Hitam resmi dibubarkan dan anggotanya bergabung ke Paviliun.
Malam penobatan, Arkan dan Sela merayakan secara pribadi di kamar kerajaan mereka. Arkan mengangkat Sela ke ranjang besar, mencium setiap inci tubuh istrinya dengan penuh cinta dan dominasi.
“Kamu Ratu yang sempurna,” bisik Arkan di telinga Sela sambil menyatukan tubuh mereka.
Sela mendesah penuh kenikmatan. “Dan kamu Raja yang aku cintai selamanya.”
Mereka menghabiskan malam dengan penuh gairah. Di akhir, Arkan breakthrough ke Foundation Establishment Tingkat 7, sementara Sela naik ke Tingkat 5.
Pagi harinya, Arkan mengadakan rapat besar dengan para tetua.
“Kita sudah kuat di Jawa. Sekarang saatnya ekspansi ke seluruh Nusantara. Kita akan bangun aliansi dengan sekte putih dan membersihkan sisa-sisa kegelapan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.”
Semua tetua setuju. Paviliun Naga Emas mulai merencanakan ekspansi besar-besaran.
Beberapa hari kemudian, Arkan dan Sela pergi ke sebuah gunung suci di Jawa Barat untuk kultivasi pribadi. Di puncak gunung, mereka duduk bersila berhadapan di bawah air terjun suci.
“Terima kasih sudah selalu mendampingiku,” kata Arkan sambil memegang tangan Sela.
Sela tersenyum lembut. “Kita ditakdirkan bersama sejak malam itu di gang sempit dulu.”
Mereka kultivasi bersama selama tujuh hari tujuh malam. Qi gunung suci sangat murni. Arkan naik ke Foundation Establishment Tingkat 8, Sela ke Tingkat 6.
Saat turun gunung, berita gembira datang. Ibu Arkan mengumumkan bahwa ia hamil adik bagi Arkan. Keluarga semakin lengkap.
Arkan memeluk Sela di balkon markas sambil memandang kota yang semakin damai.
“Masih ada banyak musuh di luar sana,” kata Arkan. “Tapi aku yakin kita bisa hadapi semuanya.”
Sela menyandarkan kepala di bahunya. “Selama bersama, tidak ada yang mustahil.”
Mahkota Raja Naga sudah berada di kepala Arkan. Paviliun Naga Emas menjadi kekuatan nomor satu di Nusantara. Tapi perjalanan mereka masih panjang — menuju alam yang lebih tinggi, rahasia cincin yang lebih dalam, dan musuh-musuh yang lebih kuat.
Raja dan Ratu Naga berdiri bersama, siap menghadapi apapun yang datang.
cerita bagus dan menarik, kak.
semangat🐳