NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Saudaramu

Bab 14 – Bukan Saudaramu

Ruangan bawah tanah itu membeku dalam keheningan yang mematikan.

“Gadis yang kau obsesi itu mungkin darah keluargamu sendiri.”

Kalimat Darius terus berputar-putar di kepala Alya seperti guntur yang menggelegar tanpa henti.

Tubuh Alya lemas seketika. Lututnya gemetar hebat seakan tak sanggup lagi menopang berat badannya.

“Apa…?” bisiknya nyaris tak terdengar.

Ia menatap Kael.

Pria itu berdiri kaku seperti patung batu. Pistol masih tergenggam erat di tangannya, namun sorot matanya berubah drastis. Tajam, gelap, dan tak terbaca.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu… Kael Lorenzo terlihat benar-benar terguncang.

Alya mundur satu langkah kecil, air mata mulai menggenang di pelupuk mata.

“Tidak… ini semua bohong kan? Dia orang gila kan?”

Tak ada yang menjawab. Hening yang menjawab.

Darius tertawa pelan, suaranya serak dan penuh darah, namun terdengar sangat puas melihat reaksi mereka.

“Lihat wajah kalian berdua. Sangat menarik untuk disaksikan.”

Kael berjalan mendekat perlahan. Setiap langkah kakinya menghentak lantai beton, membawa aura ancaman yang sangat pekat.

“Kalau kau berani berbohong soal ini…” desis Kael rendah.

“Kalau aku bohong,” potong Darius cepat, “kenapa ayahmu panik setengah mati saat tahu Alya muncul kembali? Kenapa nama gadis itu ada dalam daftar rahasia lama?”

Kael tidak tahan lagi. Dengan gerakan kilat, ia mencengkeram kerah baju Darius dan mengangkat tubuh pria itu hingga kaki mereka tak menyentuh lantai.

“SIAPA AYAHNYA?! SEBUT NAMANYA!” teriak Kael kehilangan kendali.

Darius tersengal-sengal tapi tetap menyeringai.

“Ha… itu pertanyaan yang sangat mahal harganya, Kael.”

BRAAKK!!!

Kael membanting tubuh Darius kembali ke kursi besi dengan sangat kasar.

“BERHENTI!!!” jerit Alya tak kuat melihat itu semua.

Kael menoleh cepat ke arahnya.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sesaat, tak ada suara lain di ruangan itu selain napas berat dan tidak teratur dari keduanya.

Alya menelan ludah dengan susah payah, dadanya sesak sekali.

“Katakan sesuatu, Kael… Katakan itu tidak benar…”

Kael menatap wajah gadis itu lama sekali. Perlahan, ia meletakkan pistolnya di atas meja besi di sampingnya.

“Aku akan cari kebenarannya. Aku akan pastikan apa yang sebenarnya terjadi.”

“Dan kalau itu benar?!” suara Alya pecah, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. “Kalau itu benar adanya?!”

Kael mendekat satu langkah.

“Kalau benar… aku tetap akan melindungimu. Itu tidak berubah.”

Jawaban itu justru membuat dada Alya terasa makin sesak dan sakit.

“BUKAN ITU YANG KU TANYA!” teriaknya frustrasi.

Ia mundur lagi, menjaga jarak sekuat tenaga.

“Kalau benar aku darah daging keluargamu… berarti semua perasaan ini, semua niatmu… itu SALAH! Itu dosa!”

Rahang Kael mengeras. Ia tak bisa menjawab dengan cepat.

“Belum tentu itu benar. Kita belum tahu pasti.”

“KAU MASIH MENYANGKAL?!” Darius kembali berteriak. “Hitung saja umur gadis itu! Dua puluh dua tahun! Persis sama dengan tahun di mana wanita bernama Mira kabur dari rumah ayahmu!”

Mira.

Itu nama ibunya.

Alya merasa dunia seakan berputar cepat. Kepalanya pusing, kakinya lemas, dan ia hampir jatuh tersungkur ke lantai.

Kael langsung bergerak refleks ingin menangkap lengan gadis itu.

Namun…

BYUR!

Alya menepis tangan itu dengan kasar dan kuat.

“JANGAN SENTUH AKU!”

Ruangan mendadak hening total.

Kael membeku di tempatnya. Tangan yang tadi ingin menolong masih tergantung di udara.

Alya menatapnya dengan mata yang merah dan basah oleh air mata. Tatapannya penuh luka.

“Kamu bilang aku milikmu… kamu bilang akan menikahiku… kamu bilang kamu mau aku…”

Napasnya terputus-putus dan bergetar hebat.

“Bagaimana kalau ternyata aku keluargamu sendiri?! Bagaimana kalau aku adikmu?! Apa kamu tidak merasa jijik?!”

Rahang Kael menegang keras. Urat-urat di lehernya terlihat menonjol.

Ia tak punya jawaban instan.

Dan kebisuan itu… cukup untuk menghancurkan hati Alya berkeping-keping.

Tanpa menunggu lagi, Alya berbalik badan dan berlari sekencang-kencangnya keluar dari ruang bawah tanah yang mengerikan itu.

“ALYA!!!” teriak Kael memanggil namanya.

Namun gadis itu sudah hilang ditelan kegelapan lorong.

 

Alya berlari menaiki tangga secepat mungkin, air mata terus mengalir membutakan pandangannya.

Lorong-lorong panjang di mansion itu terasa kabur dan asing baginya sekarang.

Ia sampai di kamar, mendorong pintu masuk, lalu menguncinya keras-keras dari dalam.

KLIK.

Begitu pintu terkunci, tubuhnya langsung lemas dan jatuh terduduk di lantai dingin.

“Tidak… tidak mungkin… Tuhan, tolong katakan ini semua mimpi buruk…” isaknya pelan.

Tangannya mengacak-acak rambutnya sendiri frustrasi.

Semua memori beberapa hari terakhir berputar kacau di kepalanya:

Kael yang menculiknya dengan kasar.

Kael yang tiba-tiba memeluknya saat dia takut.

Kael yang bilang ingin menikahinya dalam tiga hari.

Kael yang menatapnya dengan tatapan ingin memiliki…

Dan hampir saja… Kael menciumnya.

HUAAAAA!!!

Alya menutup mulutnya dengan kedua tangan, menangis semakin keras membayangkan betapa salahnya semua itu kalau mereka benar-benar saudara.

Tiba-tiba…

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu terdengar pelan namun pasti.

“Alya.”

Suara itu. Suara berat dan dalam yang sudah sangat dikenalnya. Itu Kael.

Alya segera menutup mulutnya, berusaha diam tak bersuara.

Ketukan terdengar lagi, kali ini sedikit lebih keras.

“Alya, buka pintunya. Aku tahu kau di dalam.”

“PERGI!!!” teriak Alya di balik pintu. “AKU TIDAK MAU LIHAT WAJAHMU!”

Hening sesaat.

Lalu suara Kael terdengar lagi, kali ini lebih rendah dan lembut, namun tetap memaksa.

“Aku tidak akan menyentuhmu. Aku janji. Aku hanya ingin bicara sebentar.”

“PERGI!!!” tangis Alya makin pecah. “TINGGALKAN AKU SENDIRI!”

Tak ada jawaban.

Namun beberapa detik kemudian…

KREK.

Suara pintu terbuka.

Kael masuk menggunakan kunci cadangan.

Alya menoleh kaget, matanya membelalak.

“Kamu gila?! Itu namanya melanggar privasi!”

Kael masuk dan menutup pintu kembali perlahan tapi pasti. Wajahnya tampak lebih gelap dan muram dari biasanya.

“Aku benci pintu tertutup di antara kita.”

“AKU BENCI KAMU!!!”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Alya.

Kalimat itu membuat ruangan kembali hening.

Kael berdiri diam mematung selama beberapa detik. Lalu perlahan, ia mulai berjalan mendekat.

Alya mundur ketakutan dan bingung, sampai punggungnya menabrak ranjang dan tak bisa ke mana-mana lagi.

“Jangan dekat-dekat! Jangan sentuh aku!”

Kael berhenti tepat di depannya, jarak mereka hanya beberapa jengkal.

“Aku belum tahu apakah omongan Darius itu benar atau tidak, Alya. Belum ada bukti.”

“TAPI MUNGKIN SAJA ITU BENAR!” pekik Alya tak terima.

“DAN MUNGKIN SAJA ITU BOHOONG BESAR!” balas Kael tak kalah keras.

Alya menatapnya dengan mata yang bengkak dan merah.

“Kalau ternyata benar… apa kamu akan berhenti? Apa kamu akan menjauhiku?”

Kael tak langsung menjawab.

Tatapannya menelusuri wajah gadis di depannya yang basah oleh air mata. Melihat pipi itu, melihat bibir itu…

Lalu ia berkata pelan, tegas, dan sangat mengejutkan:

“Tidak.”

Alya membelalakkan mata tak percaya.

“Kamu… kamu sakit jiwa!”

“Mungkin.”

“KALAU AKU SAUDARA KANDUNGMU?!” teriak Alya putus asa.

Kael mendekat satu langkah lagi, membuat jarak mereka hilang.

“Kalau kau ternyata saudara kandungku… aku akan hancurkan semesta ini karena telah menyembunyikan kebenaran sekejam ini.”

Jantung Alya berdetak kacau tak karuan.

“Dan kalau kau ternyata BUKAN…”

Kael mengangkat dagu Alya perlahan dengan ibu jarinya, memaksa gadis itu menatap matanya.

Mata gelap itu kini tampak penuh dengan obsesi, cinta, dan posesif yang luar biasa dalam.

“Aku akan tetap menjadikanmu istriku. Dan tak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa menghentikanku.”

Napas Alya tercekat di tenggorokan. Dunianya seakan berhenti berputar.

Belum sempat Alya bisa memproses kalimat indah sekaligus menakutkan itu, ponsel di saku jas Kael tiba-tiba berdering keras memecah suasana.

Kael mengangkatnya dengan wajah datar, namun matanya masih tak lepas dari wajah Alya.

“Apa?”

Wajah tenang itu seketika berubah menjadi es membeku.

“Kapan?”

Hening beberapa detik.

Lalu Kael menutup telepon perlahan. Ia menatap Alya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Ibumu… hilang dari safe house.”

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!