"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Bayang-Bayang Masa Lalu
Napas Elena tersengal-sengal di dalam rongga dadanya, berpacu liar dengan detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar. Punggungnya melekat erat pada tepian meja kaca yang dingin, sementara di depannya, tubuh tinggi tegap Adrian mengurung setiap celah udara yang tersisa. Cengkeraman tangan Adrian pada meja di kedua sisi tubuhnya begitu kencang hingga buku-buku jari pria itu memutih. Elena bisa merasakan amarah, frustrasi, dan sesuatu yang menyerupai kecemasan mendalam terpancar dari sepasang mata gelap di hadapannya. Namun, Elena menolak untuk menciut. Darah Alexander mengalir di dalam nadinya; ia menegakkan dagunya, menantang balik tatapan mengintimidasi sang suami dengan binar tekad yang menyala-nyala.
"Aku bukan wanita lemah yang butuh kamu sembunyikan di balik punggungmu, Adrian!" seru Elena, suaranya naik satu oktav, memecah keheningan ruang kerja yang temaram. "Selama sepuluh tahun, aku dipaksa menelan kebohongan yang dibuat oleh dewan komisaris dan pamanku. Mereka bilang ayahku pergi karena depresi bisnis, karena kecerobohan finansial yang memalukan. Tapi papan di belakangmu itu... semua garis merah itu membuktikan bahwa ayahku adalah korban! Katakan padaku yang sebenarnya, Adrian. Jangan biarkan aku hidup sebagai orang bodoh di dalam rumah ini!"
Adrian menatap lekat-lekat sepasang mata indah Elena yang kini mulai berkaca-kaca namun tetap memancarkan kekerasan kepala yang luar biasa. Selama beberapa detik yang terasa berjalan begitu lambat, keheningan yang mencekam kembali menguasai ruangan. Adrian memejamkan matanya sejenak, mengembuskan napas panjang yang terdengar teramat berat seolah ia baru saja kalah dalam sebuah perdebatan batin yang melelahkan. Perlahan, ia menegakkan tubuhnya, melepaskan kungkungannya pada meja, lalu berbalik memunggungi Elena.
Adrian berjalan mendekati dinding kaca besar yang menampilkan lanskap metropolitan di balik kegelapan malam. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap kosong ke arah luar sebelum akhirnya mulai berbicara dengan suara baritonnya yang terdengar sangat jujur, dingin, dan sarat akan kepahitan masa lalu.
"Ayahmu tidak pernah menderita depresi bisnis, Elena. Alexander adalah salah satu pria paling jenius dan jujur yang pernah berjalan di dunia yang kotor ini," ucap Adrian, suaranya mengalun rendah namun bergema kuat di ruangan yang kedap suara itu. "Sepuluh tahun yang lalu, Arsa Food Group sedang berada di puncak ekspansi untuk menguasai jalur pasokan bahan pokok dan logistik pangan global. Di saat yang sama, sebuah organisasi bayangan yang bergerak di balik selubung hukum bernama Syndicate mencoba menyusup. Mereka ingin memonitor dan memanipulasi pasokan pangan dunia demi keuntungan politik dan finansial ribuan triliun dolar. Mereka menggunakan cara-cara kotor: pemerasan, sabotase, hingga pembunuhan kerah putih."
Elena mendengarkan setiap suku kata dengan tubuh yang gemetar. Ia melangkah perlahan mendekati punggung Adrian, mendesak pria itu untuk terus berbicara. "Lalu... apa hubungannya dengan ayahku?"
Adrian berbalik lambat, menatap Elena dengan sorot mata yang teramat dalam. "Ayahmu adalah orang pertama yang menyadari pergerakan ilegal mereka di sektor manufaktur dan distribusi. Sebagai pemilik Luminous Beauty yang saat itu memiliki jaringan pasokan bahan kimia dan logistik yang luas, Alexander menolak keras untuk tunduk ketika Syndicate mencoba membeli saham mayoritas perusahaannya secara paksa untuk dijadikan alat pencucian uang. Suatu malam, sepuluh tahun lalu, ayahmu datang menemui ayahku di mansion ini dalam kondisi ketakutan yang luar biasa. Dia membawa sebuah berkas rahasia dan mengatakan bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi. Dia tahu dia sedang diburu oleh para pembunuh bayaran mereka."
Air mata yang sejak tadi ditahan Elena akhirnya menetes melewati pipinya. "Kenapa... kenapa dia tidak melapor ke pihak hukum?"
"Karena hukum di tingkat atas pun sudah berada di bawah kendali mereka, Elena," desis Adrian kejam, rahangnya mengeras mengingat memori kelam tersebut. "Malam itu, Alexander membuat sebuah perjanjian rahasia dengan ayahku. Dia menitipkan seluruh bukti enkripsi mengenai kepemilikan aset asli Luminous Beauty di dalam serat alami batu safir kalung ibumu. Kalung yang kuperebutkan di lelang semalam. Dan dia memohon satu hal pada keluargaku: 'Jika suatu hari aku tidak pernah kembali pulang, jaga 'Putri Kecilku' saat dia sudah cukup dewasa untuk merebut kembali haknya.' Dua hari setelah pertemuan malam itu, mobil ayahmu ditemukan hancur di dasar jurang perbatasan tanpa ada jasad di dalamnya. Dia dilenyapkan, Elena. Dilenyapkan karena dia menolak untuk menjadi budak mereka."
Elena merasa sekujur tubuhnya mendadak lemas, seolah seluruh persendiannya lolos dari tempatnya. Ia terhuyung mundur hingga harus berpegangan pada sandaran kursi kulit besar milik Adrian agar tidak jatuh terduduk di atas lantai marmer. Kebenaran yang selama ini ia cari ternyata jauh lebih mengerikan dan berdarah daripada yang pernah ia bayangkan dalam mimpi buruknya.
"Lalu... Paman Bram..." suara Elena tercekat di tenggorokan, nyaris menyerupai bisikan yang patah.
"Bramantyo," nama itu diucapkan Adrian dengan nada penuh penghinaan yang teramat pekat. Pria itu berjalan mendekati Elena, memperkecil jarak di antara mereka dan menatap istrinya dengan pandangan yang kini melembut secara tidak biasa. "Pamanku sendiri adalah seekor kecoa kecil yang haus akan kekuasaan. Dia iri pada kejayaan Alexander. Ketika Syndicate mencari akses masuk untuk menghancurkan ayahmu dari dalam, Bramantyo dengan sukarela membuka pintu gerbangnya. Dia menjual informasi rahasia, memalsukan dokumen pengunduran diri Alexander, dan membantu organisasi itu menyontek aset perusahaan. Sebagai imbalannya, mereka memberikan takhta CEO sementara kepada Bramantyo sebelum akhirnya kamu berhasil merebutnya kembali bulan lalu berdasarkan surat wasiat hukum yang sah."
Adrian mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya meletakkan jemari besarnya yang hangat di atas bahu Elena yang bergetar karena tangis yang tertahan. Ia meremas bahu wanita itu dengan lembut, sebuah gestur perlindungan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun seumur hidupnya.
"Sekarang kamu mengerti kenapa aku memaksamu masuk ke dalam pernikahan kontrak ini, Elena?" bisik Adrian, wajahnya menunduk mendekati pelipis Elena. "Begitu kamu menduduki kursi CEO, Bramantyo dan faksi Syndicate di dalam dewan komisaris langsung menyusun rencana untuk melenyapkanmu demi menghapus jejak masa lalu Alexander. Pernikahan ini bukan sekadar transaksi bisnis kosong di atas kertas. Ini adalah satu-satunya dinding pelindung yang sah agar aku memiliki hak hukum mutlak untuk mengerahkan seluruh tim keamanan bersenjata Arsa Group di sekelilingmu, mendampingimu di setiap rapat, dan menghancurkan siapa pun yang berani menatapmu dengan pandangan mengancam. Kamu tidak lagi sendirian di medan perang ini, Elena. Kita akan menghancurkan mereka bersama-sama."
Elena mendongak, menatap wajah tegas suaminya dari jarak yang begitu dekat melalui sisa air matanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari Adrian Arsa, bukan hanya seorang predator bursa saham yang berdarah dingin, melainkan seorang pria yang sedang memegang teguh sumpah masa lalu demi melindunginya. Aliansi mereka malam ini tidak lagi hanya terikat oleh tinta di atas lembaran kertas kontrak, melainkan telah melebur bersama bayang-bayang masa lalu yang menuntut sebuah pembalasan dendam yang tuntas.
......BERSAMBUNG......