Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Seratus Pedang Bintang Jatuh
Di dalam Paviliun Pedang Ilahi, ruang angkasa buatan yang dipenuhi bintang dan pedang melayang tampak tenang. Namun, ketenangan itu seketika pecah saat Su Yue melangkah masuk, dituntun oleh energi spiritual Lin Chen dari belakang.
"Lepaskan persepsimu, Su Yue," suara Lin Chen menggema di ruang hampa tersebut. "Jangan gunakan mata fisikmu. Gunakan Mata Pedang Bintang Jatuh untuk 'melihat' benang-benang energi pedang di sekitarmu. Kau tidak datang ke sini untuk menundukkan satu raja pedang seperti kakak seperguruanmu. Kau datang ke sini untuk menjadi ratu dari seratus pasukan."
Su Yue mengangguk pelan. Ia duduk bersila di tengah kekosongan, meletakkan gulungan batu giok Seni Pedang Bintang Jatuh di pangkuannya.
Perlahan, aura perak mulai memancar dari balik kain penutup matanya. Di alam persepsinya, dunia tidak lagi gelap. Ia melihat jutaan titik cahaya yang melambangkan nyawa setiap pedang di dalam paviliun ini.
Sesuai instruksi Seni Pedang Bintang Jatuh, Su Yue memecah kesadarannya. Alih-alih menarik pedang tingkat tinggi yang arogan, ia memancarkan niat yang hangat dan merangkul ke arah pedang-pedang terbang berukuran kecil di tingkat Fana dan Bumi tingkat rendah.
Trang! Trang! Trang!
Sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya muncul. Jika Ye Fan menundukkan pedang dengan tirani dan tekad membunuh, Su Yue memanggil mereka dengan resonansi alami.
Satu per satu, pedang-pedang perak setipis daun dedalu terlepas dari orbitnya. Sepuluh, tiga puluh, lima puluh... hingga tepat seratus bilah pedang kecil berputar mengelilingi tubuh mungil Su Yue seperti badai perak yang mematikan.
Lin Chen tersenyum tipis. "Luar biasa. Mengendalikan seratus pedang di tahap Kondensasi Qi Lapis ke-5 tanpa menghabiskan energi spiritual secara instan. Fisik Mata Pedang benar-benar mesin tempur jarak jauh yang curang."
Su Yue membuka matanya (di balik kain), dan dengan satu jentikan jarinya, seratus pedang itu melesat menembus udara, menari membentuk formasi jaring yang begitu rapat hingga lalat pun akan terpotong menjadi ratusan bagian jika melewatinya.
"Guru... murid berhasil mengikat seratus Pedang Dedalu Perak," ucap Su Yue dengan napas sedikit terengah-engah, namun senyum bahagia mekar di wajahnya.
"Kerja bagus. Teruslah berlatih di dalam sini hingga formasi pedangmu menyatu dengan instingmu."
Lin Chen berbalik dan melangkah keluar dari Paviliun. Di luar, Ye Fan baru saja selesai membersihkan pelataran dari sisa-sisa pertarungan.
"Guru," Ye Fan mendekat dengan hormat. "Apakah kita akan langsung menyerang markas Sekte Api Biru hari ini? Murid bersedia menjadi barisan terdepan!"
Lin Chen menatap ke arah utara, tempat Sekte Api Biru berkuasa. Jika ia hanya memikirkan kepuasan sesaat, ia bisa saja terbang ke sana sekarang dan meratakan gunung mereka dengan kekuatan Inti Emasnya.
Namun, membangun Sekte nomor satu di alam semesta bukanlah lari sprint, melainkan lari maraton yang sangat, sangat panjang. Benua Langit Bela Diri ini sangat luas, dan Sekte Bintang Dua pasti memiliki jaringan, tambang sumber daya, dan rahasia yang mengakar. Menghancurkan markasnya saja hanya akan menyisakan puing-puing tanpa manfaat maksimal.
"Tidak terburu-buru, Ye Fan," ucap Lin Chen sambil duduk di kursi batu. "Menghancurkan bangunan mereka itu mudah, tapi memotong akar mereka adalah seni yang berbeda. Seekor ular berbisa harus dipotong pasokan makanannya terlebih dahulu."
"Maksud Guru?"
"Sekte Api Biru bisa menyokong ribuan murid karena mereka memiliki Tambang Batu Roh tingkat menengah di Lembah Kabut Merah, sekitar dua ratus mil dari sini. Kita akan mengambil tambang itu terlebih dahulu." Lin Chen mengetukkan jarinya di meja. "Selain itu, kudengar tambang itu dijaga ketat dan menggunakan pekerja paksa. Ini adalah kesempatan bagus untuk menguji formasi pedang Su Yue besok, sekaligus... melihat apakah ada bakat yang tersembunyi di antara para tahanan itu."
Sementara itu, di Tambang Roh Lembah Kabut Merah.
Udara di dalam tambang sangat panas dan mencekik. Ratusan pria berpakaian compang-camping mengayunkan beliung ke dinding batu giok yang keras. Punggung mereka dipenuhi bekas cambukan berdarah.
Di antara para budak tambang itu, di sudut terdalam dan tergelap, seorang pemuda berusia belasan tahun sedang mengayunkan beliungnya tanpa henti. Tubuhnya sangat kurus, dipenuhi luka, kotor oleh debu dan darah kering.
Namun, jika seseorang menatap matanya, mereka akan terkejut. Tidak ada keputusasaan atau kekosongan seperti budak lainnya. Mata pemuda itu membara dengan tekad yang mengerikan, sedingin serigala yang sedang mengintai mangsanya.
Trang! Beliungnya menghantam batu giok.
"Hei, Lin Tian! Jangan lambat!" teriak seorang pengawas dari Sekte Api Biru sambil melecutkan cambuk api ke punggung pemuda itu.
CTAR!
Kulit punggung pemuda bernama Lin Tian itu robek, namun ia tidak mengeluarkan suara rintihan sedikit pun. Ia hanya menelan darah yang naik ke tenggorokannya dan terus menambang.
"Maaf, Tuan. Saya akan lebih cepat," ucap Lin Tian dengan nada datar yang menipu.
Pengawas itu mendengus jijik dan berjalan pergi. "Anak haram yang keras kepala. Jika bukan karena kau bisa menambang dua kali lipat lebih banyak dari yang lain, aku sudah melemparmu ke tungku peleburan."
Sepeninggal pengawas itu, Lin Tian menyeka keringat di dahinya. Saat tangannya menyentuh dadanya yang kotor, sebuah liontin batu hitam misterius yang tersembunyi di balik bajunya berdenyut pelan, memancarkan hawa dingin yang menyembuhkan luka cambuknya secara diam-diam.
Sekte Api Biru... batin Lin Tian, matanya menyipit penuh kebencian. Kalian membantai klanku hanya karena mencurigai kami menyembunyikan pusaka kuno ini. Tiga tahun aku berpura-pura menjadi budak di sini untuk menyerap energi Batu Roh demi membuka segel liontin ini.
Lin Tian merasakan pusaran Qi di Dantian-nya yang selama ini tersumbat mulai melonggar. Berkat energi murni yang ia curi dari tambang setiap malam, ia selangkah lagi menembus tahap Pembangunan Yayasan, sebuah pencapaian monster untuk usianya yang bahkan melampaui kejeniusan Ye Fan di masa lalu.
Hanya butuh beberapa hari lagi. Setelah segelnya terbuka, aku akan membantai setiap anjing Sekte Api Biru di tambang ini, sumpah Lin Tian dalam hati.