NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Uap hangat dari soto ayam kuah bening di depan Humairah perlahan mengepul, menghantarkan aroma kaldu yang segar ke indra penciumannya.

Setelah berminggu-minggu lidahnya terasa pahit dan terbiasa dengan hantaran rasa lapar di pojok dapur pesantren, suapan demi suapan soto hangat itu terasa begitu nikmat di tenggorokannya.

Humairah mulai menikmati makanannya dengan tenang. Namun, di sela-sela kunyahannya, sesekali ia melirik ke arah suaminya yang duduk tepat di hadapannya.

Fathan sendiri hampir tidak menyentuh makanannya.

Pria itu justru sibuk memastikan mangkuk soto Humairah tetap dekat, sesekali menggeser gelas air hangat agar mudah dijangkau, dan menatapnya dengan binar mata yang sarat akan rasa syukur.

Perubahan drastis ini membuat dada Humairah berdenyut aneh—ada rasa tidak percaya yang masih membentengi tipis di hatinya.

Setelah beberapa saat keheningan yang cukup nyaman itu merayap, Fathan perlahan meletakkan sendoknya.

Ia menatap lekat wajah istrinya yang mulai kembali merona karena kehangatan makanan.

"Setelah selesai makan, kita pulang ke pondok," ucap Fathan dengan nada suara yang rendah.

Deg!

Mendengar kata 'pondok', gerakan tangan Humairah yang hendak menyendok kuah seketika terhenti.

Humairah menarik napas panjang, bahunya merosot lambat seolah-olah ia sama sekali tidak mau pulang ke sana.

Bayangan wajah sinis Nyai Latifah, bungkusan ayam basi, dan bentakan malam itu seketika berputar bagai mimpi buruk yang siap menerkamnya kembali.

Rasa damai yang baru beberapa menit ia rasakan langsung menguap, digantikan ketakutan yang membuat jemarinya mendadak dingin.

Melihat perubahan raut wajah istrinya yang mendadak tegang, Fathan segera memajukan tubuhnya. Ia mengerti ketakutan mendalam yang kini menghimpit dada makmumnya itu.

"Humairah, kita pulang ke pondok hanya untuk berpamitan dengan Abah," sela Fathan dengan cepat, mencoba menenangkan badai di kepala Humairah.

Humairah mengernyitkan alisnya, menatap Fathan dengan pandangan bingung sekaligus curiga.

"Maksud Ustadz?" tanya Humairah, suaranya terdengar kaku.

Fathan tidak langsung menjawab lewat kata-kata. Ia merogoh saku kemeja kokonya, lalu mengeluarkan sebuah benda dari sana.

Sebuah anak kunci kuningan dengan gantungan kulit kecil diletakkan di atas meja, lalu digesernya perlahan hingga berhenti tepat di dekat jemari Humairah.

Fathan memberikan kunci rumah yang sebenarnya sudah ia siapkan dari dulu, jauh sebelum badai rumah tangga ini pecah berkeping-keping.

"Ini rumah kita, dan kita akan pindah ke sana hari ini juga," ucap Fathan, sepasang matanya menatap Humairah dengan keteguhan yang belum pernah wanita itu lihat sebelumnya.

"Aku ingin memulai semuanya dari nol, Humairah. Hanya ada aku dan kamu. Tanpa ada Umi, dan tanpa ada Abraham yang mengganggu ketenanganmu lagi."

Humairah tertegun menatap anak kunci di depannya.

Jantungnya berdegup kencang. Rencana ini terdengar seperti oase di tengah gurun pasir, namun logika wanita alimah itu segera mengambil alih. Ia tahu betul bagaimana watak mertuanya.

"Tapi, apa Umi menerimanya?" tanya Humairah dengan nada ragu yang amat jelas.

"Umi pasti menolaknya, Ustadz. Beliau tidak akan pernah membiarkan putra kesayangannya pergi dari pesantren hanya demi wanita seperti aku."

Fathan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak lagi menyiratkan keraguan, melainkan ketegasan seorang pria yang akhirnya berani berdiri tegak sebagai pelindung istrinya.

Ia menjangkau punggung tangan Humairah, meremasnya lembut tanpa ada paksaan.

"Aku tidak membutuhkan persetujuan Umi lagi, Humairah. Kewajibanku sebagai suami adalah menjamin keamanan dan kebahagiaan lahir batinmu, bukan menuruti ego Umi yang merusak pernikahan kita. Yang penting sekarang, istriku mau hidup bersamaku atau tidak?"

Mendengar untaian kalimat itu, dinding batu yang dibangun Humairah selama berbulan-bulan di dalam hatinya seolah retak untuk pertama kali.

Di depan matanya kini, Fathan tidak lagi berbicara sebagai anak sholeh yang patuh buta pada ibunya, melainkan sebagai seorang imam yang siap menjadi perisai dari segala bentuk kezaliman.

Mendengar ketegasan suaminya yang siap memasang badan dan melepaskan segala kenyamanan pesantren demi melindunginya, pertahanan Humairah benar-benar runtuh.

Ketakutan yang sempat membayangi benaknya perlahan menguap, digantikan seberkas rasa aman yang baru pertama kali ia rasakan sejak menyandang status sebagai seorang istri.

Humairah menatap anak kunci di atas meja, lalu perlahan mendongak, membalas tatapan hangat Fathan.

Di bawah temaram lampu rumah makan, Humairah menganggukkan kepalanya dengan mantap.

"Aku mau, Ustadz," ucap Humairah lirih namun sarat akan keyakinan.

Air matanya hampir saja menetes, bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang membuncah setelah sekian lama terjebak di dalam neraka yang dingin.

Melihat anggukan itu, Fathan merasa seolah separuh dari beban berat yang menghimpit dadanya selama berhari-hari ini sirna seketika.

Senyumnya mengembang lebih lebar dan tulus. Namun, sebelum Humairah kembali menarik tangannya, Fathan menahan jemari istrinya dengan usapan lembut ibu jarinya.

"Humairah, satu lagi..." ucap Fathan, nadanya merendah, dipenuhi dengan permohonan yang terdengar sangat intim.

"Panggil aku 'Mas' lagi, jangan 'Ustadz'. Aku ingin kita kembali seperti sebelum badai ini datang. Aku adalah suamimu, bukan orang asing."

Mendengar permintaan itu, rona merah muda tipis seketika menjalar di kedua pipi pucat Humairah.

Panggilan yang sempat ia kubur dalam-dalam karena rasa kecewa itu kini diminta kembali oleh pemiliknya dengan cara yang begitu manis.

Humairah memberikan anggukan kecil sebagai tanda setuju, meski bibirnya masih terlalu kelu untuk melafalkan kata itu sekarang.

Ia menarik tangannya pelan, lalu menunduk untuk kembali menikmati makanannya yang sempat tertunda.

Suapan soto hangat yang masuk ke dalam mulutnya kali ini terasa jauh lebih bermakna.

Di hadapannya, Fathan terus memandangi istrinya dengan binar mata yang dipenuhi tekad baru.

Keputusan sudah bulat; setelah ini mereka akan kembali ke pesantren untuk berpamitan pada Kyai Umar, menghadapi apa pun reaksi Nyai Latifah, lalu melangkah pergi menuju rumah baru mereka untuk merajut kembali cinta yang sempat koyak dari titik nol.

Setelah selesai makan, Fathan dan Humairah melanjutkan perjalanan mereka kembali menuju Pondok Pesantren.

Suasana di dalam mobil kini terasa jauh lebih tenang.

Tidak ada lagi ketegangan yang mencekik; yang ada hanyalah desau angin dari pendingin mobil dan harapan baru yang mulai tumbuh di hati masing-masing.

Tidak sampai satu jam, mobil putih itu akhirnya berbelok memasuki gerbang kokoh pesantren dan berhenti tepat di halaman depan kediaman utama.

Kyai Umar yang kebetulan sedang duduk di teras depan sambil memegang tasbih, langsung bangkit berdiri.

Wajah sepuhnya yang sempat dilingkupi kesedihan beberapa hari lalu, kini tampak cerah.

Kyai Umar tersenyum menyambut kedatangan mereka, melangkah mendekat saat melihat Fathan membukakan pintu dan membantu Humairah turun dari mobil.

"Alhamdulillah, Humairah. Kamu sudah sehat, Nak?" tanya Kyai Umar dengan nada suara yang sangat lembut dan bapak prigel.

Humairah mencium punggung tangan mertuanya dengan takzim, memberikan senyuman terbaiknya.

Di saat yang sama, pintu rumah utama terbuka. Abraham masuk ke dalam teras setelah mendengar suara mobil.

Ia mematung di ambang pintu, menatap kedatangan kakaknya bersama Humairah dengan pandangan yang sulit diartikan.

Ada sisa rasa bersalah sekaligus kecanggungan yang amat pekat di antara mereka.

"Fathan, lekas bawa istrimu ke kamar agar dia bisa istirahat," ucap Kyai Umar, memberikan perintah karena melihat wajah menantunya yang masih tampak sedikit letih.

Namun, belum sempat Fathan melangkah memandu Humairah, ketenangan itu seketika pecah oleh kedatangan Nyai Latifah dari arah dalam rumah.

Wanita paruh baya itu berjalan dengan tergesa-gesa, melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang kembali ketus dan sinis.

"Tidak bisa! Dia tidak boleh langsung istirahat!" potong Nyai Latifah dengan suara yang melengking egois.

"Enak saja baru pulang sudah mau santai-santai. Dia harus membantuku di dapur sekarang membuat kue pastel untuk acara pengajian ibu-ibu nanti sore!"

Mendengar tuntutan yang tidak manusiawi itu, tubuh Humairah seketika menegang.

Jemarinya mendadak dingin, teringat kembali bagaimana tubuhnya yang demam tinggi dulu dipaksa bekerja tanpa henti di dapur itu.

Fathan menarik napas panjang, mencoba meredam amarah yang nyaris membakar ubun-ubunnya.

Ia teringat janjinya pada Abi Sasongko untuk menjadi tameng bagi istrinya.

Fathan menatap lurus ke arah ayahnya, mengabaikan racikan kata-kata ibunya.

"Abah, mari masuk. Ada hal penting yang ingin Fathan katakan kepada Abah," ucap Fathan dengan nada suara yang dalam dan tegas.

Kyai Umar yang menangkap gelagat serius dari putranya langsung mengangguk.

"Baik, mari masuk ke ruang tengah."

Mereka semua melangkah masuk ke dalam rumah.

Di ruang tengah yang beralaskan karpet hijau tebal, Fathan duduk berdampingan dengan Humairah.

Fathan menggenggam erat tangan istrinya di atas pangkuan dan sama sekali tidak melepaskannya, seolah ingin menegaskan kepada dunia bahwa wanita ini berada di bawah perlindungan mutlaknya.

Kyai Umar menatap genggaman tangan putranya, lalu beralih menatap wajah Fathan yang kaku.

"Ada apa, putraku? Apa ada masalah lagi?" tanya sang Kyai dengan nada khawatir.

"Bukan, Abah," jawab Fathan tenang namun sarat akan ketetapan hati.

"Hari ini, kami datang ke sini hanya untuk meminta izin dan restu dari Abah. Fathan dan Humairah memutuskan untuk pindah ke rumah baru yang sudah Fathan beli dari dulu, rumah yang letaknya dekat pasar kota. Fathan ingin memulainya lagi dari nol bersama Humairah, sebagai pasangan suami istri yang mandiri."

Mendengar keputusan mendadak itu, ruangan seketika gempar.

Abraham tertegun di sudut ruangan, sementara Nyai Latifah langsung bangkit berdiri dengan wajah merah padam karena murka.

Wanita itu menunjuk-nunjuk wajah Humairah dengan penuh kebencian.

"Kurang ajar! Tidak boleh! Kamu tidak boleh pergi dari pesantren ini, Fathan!" jerit Nyai Latifah histeris.

Beliau menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Wanita iblis ini pasti sudah mencuci otakmu! Dia sengaja ingin menjauhkanmu dari ibumu sendiri! Dia pembawa sial di keluarga kita!"

"UMI!! JIKA KAMU BICARA SEPERTI ITU LAGI, AKU SEBAGAI SUAMIMU LANGSUNG MENJATUHKAN TALAK MAIDAH KEPADAMU!!"

Suara menggelegar bagai petir di siang bolong itu bukan keluar dari mulut Fathan, melainkan dari Kyai Umar.

Sang Kyai berdiri dari duduknya dengan mata yang melotot sempurna dan dada yang naik turun karena amarah yang memuncak. .

Wibawa kelembutan yang biasanya melekat pada diri Kyai Umar runtuh total, digantikan oleh murka seorang suami dan seorang ulama yang sudah tidak tahan lagi melihat kezaliman istrinya sendiri. Perkataan Kyai tidak main-main; ancaman talak itu bergaung keras, meruntuhkan keangkuhan yang selama ini diagungkan oleh Nyai Latifah.

Seketika itu juga, Nyai Latifah langsung terdiam dan ketakutan.

Wajahnya yang tadi garang mendadak pucat pasi bagai mayat, tubuhnya gemetar hebat, dan ia langsung terduduk lemas di sofa tanpa berani mengeluarkan satu patah kata pun lagi.

Ruang tengah pesantren itu mendadak hening mencekam, menyisakan napas memburu dari Kyai Umar dan genggaman tangan Fathan pada Humairah yang kian mengerat.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!