Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 22
Mobil putih Dona melaju meninggalkan kompleks rumah dinas dengan suasana tegang. Di dalam kabin, Bu Sri terus meracau, memaki Rumi dengan segala sumpah serapah yang ia tahu, sementara Dona menceng-ke-ram kemudi hingga buku jarinya memutih. Ama-rah dan rasa malu bercampur menjadi satu.
"Kurang ajar! Berani-beraninya dia mengusirku seperti pengemis!" teriak Bu Sri sambil memukul dasbor mobil.
"Dona, kamu lihat tadi? Dia sudah mencuci otak Fathur sampai anakku itu tidak punya harga diri lagi di depan ibunya! Dia adalah menantu yang serakah! Apalagi setelah Fathur naik jabatan seperti ini! Dia semakin menjadi-jadi saja! Pastinya dia ingin mendapatkan semua fasilitas itu sendiri!"
Dona hanya diam dengan tatapan mata yang tajam ke depan. Ia merasa terhina karena gertakannya soal 'jalur lain' justru ditertawakan oleh Rumi. Sesampainya di rumah Bu Sri, Elisa menyambut mereka dengan wajah masam yang masih tersisa dari kejadian pagi tadi.
"Bagaimana, Bu. Pokoknya aku nggak terima perlakuan Kak Fathur tadi. Aku yakin ini semua karena si wanita tak tahu diri itu. Bangga sekali dia bisa belikan aku motor dengan cara nyicil! Makin besar kepala saja sepertinya setelah di bela oleh Mas Fathur! Aku kesal Bu! Dia tertawa lihat aku di perlakuan seperti itu oleh Mas Fathur! Dia itu siluman rubah! Lalu bagaimana?" gerutu Elisa.
Bu Sri memijat pelipisnya "Kamu panggil dua Mas kamu yang lain, bilang malam ini ke rumah ibu sebentar, ada yang harus di bicarakan penting!" pinta Bu Sri, Dona menyeringai.
"Apa Fathur takut kepada kedua kakaknya?" tanya Dona.
"Mas Fathur lebih takut kehilangan ibu, tapi dulu sebelum wanita itu katanya hamil!" celetuk Elisa.
Dona mengetuk-ngetuk jarinya di meja "Berarti inti masalahnya dari kehamilan wanita itu!"
"eh mbak Dona nggak kerja? Kok tiap hari aku lihat Mbak Dona ke sini terus?" tanya Elisa membuat Dona gelagapan.
"Aku izin sampai jam Istirahat. Sebentar lagi aku pergi, sambil mampir ke rumah melihat keadaan Gian yang tadi malam demam,"
"Ya ampun Dona, demi membantu dan menemani ibu sampai membuat kamu meninggalkan Gian yang sakit. Kamu benar-benar calon menantu yang sangat berbakti..." puji Bu Sri, Dona tersenyum lebar.
"Aku hanya tidak tega melihat Tante di perlakukan tidak adil oleh otak licik wanita itu. Dan sejujurnya aku memang masih sangat mencintai Mas Fathan. Dia cinta pertamaku, Tante ..."jawab Dona.
"Kamu tenang saja Dona, ibu juga tahu kalau Fathur masih sangat mencintai kamu. Hanya saja sekarang waktunya kurang tepat, karena ternyata wanita itu malah hamil! Jadinya Fathur lebih membela dia!"
"Iya Tante, tak apa-apa, kalau begitu Dona pulang dulu ya,!" pamit Dona.
Tinggalah dua orang wanita di dalam sana. Lantai rumah yang terlihat masih kotor. Entah berapa hari tak di sapu, bau menyengat dari arah dapur mulai tercium. Namun sepertinya tak menganggu penciuman mereka berdua yang sudah kebal.
"Bu, jadi benar motorku itu di cicil oleh Mas Fathur dari sisa gajinya yang di berikan kepada ibu? Bukan dari mbak Hana dan Mbak Intan?" tanya Elisa sedikit ragu bertanya. Apalagi ibunya sedang memegangi pelipisnya pusing.
"Iya! Biar dia yang bertanggung jawab atas semuanya! termasuk kuliah dan kebutuhan kamu. Biar si Rumi itu nggak boros! Dia anak dari keluarga miskin yang nggak jelas siapa kedua orang tuanya. Bahkan neneknya meninggal saja dia tak punya warisan!" kesal Bu Sri antara marah dan juga malu karena .rahasia yang dia sembunyikan terbongkar.
"jadi gaji yang di terima mas Fathur selama ini setengah untuk ibu dan setengah untuk bayar cicilan motor, bayar kuliah dan kebutuhan dia di rumah bersama dengan Rumi? Belum bayar kontrakan? Apa cukup Bu?" tanya Elisa setelah mencoba menghitung-hitung.
Bu Sri mendelik.
"Ya mana ibu tahu lah! Itu urusan mereka, yang penting mas mu memberikan kewajibannya kepada kita!" ketus Bu Sri.
"Kalau di hitung, setiap bulan Rumi dan Mas Fathur harus nombok lebih dari satu juta! Uang dari mana mereka?" tanya Elisa bingung.
Tangannya kembali mencoba menekan-nekan angka di kalkulator dan menghitung sisa gaji kakaknya yang di pegang Rumi. Tak cukup bahkan nombok hampir dua juta per bulan. Elisa menunjukkan kepada Bu Sri.
"Paling ngutang!" jawabnya singkat tak peduli.
Elisa seperti berfikir dan mencoba mengingat sesuatu.
"Bu, apa benar Rumi nggak punya warisan sama sekali?" tanya Elisa membuat mata Bu Sri yang baru saja meren terbuka.
"Mana ibu tahu! Kan waktu neneknya ma-ti kita nggak kesana. Lagian rumah di kampungnya juga jelek sekali! pastinya dia tak punya warisan apa-apa!" ketus Bu Sri.
"Tapi, ya g aku bingung itu yang dari mana dia menutupi kekurangan tiap bulan! Sedangakan kalau ambil pinjaman nggak mungkin rasanya. tiap bulan ambil pinjaman nggak akan bisa bayar karena bunga juga lumayan kalau ambil dua juta! Dia juga kerja baru beberapa bulan terakhir kan? Gaji di toko roti juga nggak besar!" Elisa masih penasaran.
"ck! Nggak usah kamu mikirin hal itu! Bikin pusing aja!"
"Tapi aku penasaran Bu! Dari mana dia punya banyak uang untuk menutup semua kekurangannya. Aku akan tanya Mas Fathur nanti!"
"Terserah kamu!"
Bu Sri masuk ke dalam kamar yang sama-sama berantakan seperti di ruang tengah. Pakaian kotor dan bersih bersatu padu saling ketempelan satu sama lain. Entahlah mereka malas sekali untuk hanya sekedar menyapu lantai rumahnya. Jorok. Ba Bu gratisannya sudah insyaf dan tak mau lagi memberikan rumah karena selalu di hi-na dan di perlakukan tidak adil.
"Rumah dinas Fathur besar dan nyaman. Mana ada di dalam kompleks bagus lagi. Aku harus bisa tinggal di sana! Kalau aku tinggal di sana aku akan hidup enak dan tinggal ongkang kaki seperti dulu. karena ada si kampungan itu yang mengerjakan semuanya. Aku akan tinggal di sana bagaimanapun caranya!" seru Bu Sri sambil memandang tumpukan pakaian di atas tempat tidurnya.
Tak terbayangkan berapa ratus pasangan keluarga nyamuk yang tinggal di rumah Bu Sri. mereka pasti sangat betah tinggal di tempat sperti itu. Hingga di antara mereka tak ada yang memilki niatan untuk menggi-git racun deman berdarah kepada Bu Sri dan Elisa.
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/