Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 33
Langkah kaki Leo menjauh dari halaman itu, meninggalkan jejak keputusan yang belum sepenuhnya terasa dampaknya, tapi sudah cukup untuk mengubah arah hidup mereka berdua.
Sebelum benar-benar pergi, mereka sempat saling menatap sekali lagi secara singkat, tapi penuh arti untuk sebuah kesepakatan diam bahwa sore nanti, di tempat Niko yang kini menjadi basecamp mereka, semua akan dibuka.
Tidak ada lagi setengah cerita. Tidak ada lagi rahasia yang disimpan sendiri. Ella yang meminta itu. Dan untuk pertama kalinya, Leo tidak menolak.
Begitu pintu pagar tertutup, Ella menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum masuk ke dalam rumah. Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.
Baru saja ia melangkah masuk, “Wah…” Suara itu datang dari dalam, tajam dan penuh sindiran.
Sisil sudah berdiri di sana, bersandar santai di dinding, tangannya terlipat di depan dada, matanya menatap Ella dari ujung kepala sampai kaki dengan penilaian yang jelas tidak bersahabat. “Aku pikir kamu polos,” lanjutnya, senyum tipis terukir di wajahnya, “ternyata pemain.”
Ella berhenti. Tidak langsung membalas.
Sisil mendorong tubuhnya menjauh dari dinding, berjalan pelan mendekat, setiap langkahnya seolah sengaja dibuat untuk menekan. “Tiga laki-laki sekaligus,” katanya lagi, kali ini lebih pelan tapi lebih menusuk. “Maruk juga kamu, ya.” Kalimat itu sengaja dilontarkan untuk melukai. Dan mengenai.
Tapi Ella tidak menunjukkan itu. Ia hanya menatap Sisil, datar. “Kalau kamu sudah selesai menilai,” jawab Ella tenang, “aku mau lewat.”
Sisil tertawa kecil, jelas tidak puas dengan reaksi itu. Ia bergerak cepat, menghalangi jalan Ella. “Jangan buru-buru,” katanya. “Aku lagi penasaran.”
Ella menghela napas pelan, menahan kesabaran yang mulai diuji. “Penasaran apa?” tanyanya singkat.
Sisil memiringkan kepala sedikit, matanya menyipit seperti sedang mengamati sesuatu yang menarik. “Yang mana yang paling kamu suka?” tanyanya. “Si jaksa dingin itu? Atau yang satu lagi… yang jelas-jelas bukan orang baik?” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum lebih lebar. “Atau kamu memang suka semuanya?”
Ella melangkah sedikit lebih dekat, kali ini bukan untuk menghindar tapi untuk menghadapi. “Kamu benar,” katanya pelan.
Sisil sedikit terkejut.
“Dari awal kamu memang salah nilai aku.” Nada suara Ella tetap tenang. Tapi ada sesuatu yang berubah. Lebih dingin. “Aku bukan polos,” lanjutnya. “Dan aku juga bukan orang yang bisa kamu tekan seenaknya.”
Sisil tidak langsung membalas. Ia hanya menatap Ella, mencoba membaca perubahan itu.
Ella tidak memberi celah. “Dan soal siapa yang aku temui, atau dengan siapa aku bicara…” tambah Ella, matanya tidak lepas dari Sisil, “itu bukan urusan kamu.” Kalimat itu sederhana. Tapi jelas.
Untuk pertama kalinya, Sisil tidak langsung punya jawaban cepat. Ia mengangkat alis sedikit, lalu terkekeh pelan, mencoba menutupi sesuatu yang mungkin tidak ia duga. “Berani juga kamu sekarang,” katanya.
Ella tidak tersenyum. Tidak juga mundur. “Belajar,” jawabnya singkat.
Sisil menatapnya beberapa detik lagi, lalu mundur setengah langkah, memberi jalan meski dengan ekspresi yang masih menyimpan sesuatu. “Kita lihat saja,” katanya pelan.
Ella tidak menanggapi lagi. Ia melewati Sisil tanpa menoleh, langkahnya tenang tapi pasti, menuju kamarnya dengan pikiran yang kembali berputar bukan tentang ucapan Sisil, tapi tentang apa yang akan terjadi sore nanti. Karena ia tahu pertemuan itu bukan sekadar berbagi informasi. Itu adalah titik di mana semua orang yang ia percaya akan berada di satu ruangan. Dan di sana tidak semua orang akan keluar dengan posisi yang sama seperti saat mereka masuk.
***
Sore itu udara di dalam basecamp terasa lebih tegang dari biasanya, bahkan sebelum pintu benar-benar terbuka. Niko sudah ada di sana lebih dulu, duduk di depan laptop dengan ekspresi yang terlalu fokus atau mungkin sengaja dibuat fokus, sementara Tante Rosa berdiri di dekat jendela, seperti seseorang yang sudah terbiasa membaca situasi sebelum situasi itu datang. Mereka berdua tahu Ella akan datang. Tapi mereka tidak tahu Ella tidak datang sendiri.
Pintu terbuka. Langkah Ella masuk lebih dulu. Di belakangnya Leo. Sunyi. Bukan sunyi biasa, tapi jenis keheningan yang langsung mengubah suhu ruangan.
Niko berhenti mengetik. Tangannya masih di atas keyboard, tapi tidak bergerak. Tatapannya perlahan naik dan langsung mengunci pada Leo. Tidak perlu kata-kata untuk menunjukkan apa yang ia rasakan. Tidak suka. Curiga. Dan sesuatu yang lebih personal dari itu.
Tante Rosa tidak langsung bereaksi keras, tapi sorot matanya berubah tajam, mengamati Leo dari ujung kepala sampai kaki seperti seorang pengacara yang sedang menilai saksi yang tidak ia undang. “Kamu bawa dia?” tanya Tante Rosa akhirnya, tenang tapi jelas tidak santai.
Ella menarik napas pelan. “Aku yang minta.”
Niko tertawa kecil bukan karena lucu, tapi karena tidak percaya. Ia bersandar ke kursinya, matanya masih pada Leo. “Cepat juga kamu percaya orang,” katanya dingin.
Leo tidak terpancing. Ia berdiri tenang, tidak defensif, tapi juga tidak mencoba mengambil alih situasi. “Aku tidak datang untuk dipercaya,” katanya. “Aku datang karena aku yang mau.”
Kalimat itu sederhana. Tapi justru itu yang membuat Niko semakin tidak suka. “Dan kamu langsung nurut?” balas Niko.
Leo menatapnya sebentar. “Tidak semua orang butuh waktu lama untuk memutuskan.” Nada itu halus. Tapi cukup tajam.
Ella langsung melangkah ke depan, memotong sebelum ketegangan itu melebar. “Cukup,” katanya tegas. “Kita nggak punya waktu buat ini.” Ia menatap Niko, lalu Tante Rosa. “Aku sudah bilang, ini lebih besar dari kita semua. Dan dia…” Ella melirik Leo sebentar, “…sudah tahu cukup banyak.”
Tante Rosa mengernyit. “Seberapa banyak?”
Ella terdiam sejenak. Lalu menjawab, “Cukup untuk tahu ini bisa mengguncang negara.”
Kalimat itu jatuh seperti beban yang tidak bisa diabaikan.
Niko mengalihkan pandangannya, rahangnya mengeras. Ia tidak menyukai arah ini, bukan hanya karena Leo ada di sini, tapi karena ia tahu… ini membuat Ella semakin jauh dari kendali yang selama ini ia jaga. “Kalau dia salah langkah?” tanya Niko akhirnya. “Kalau dia bocor?”
Leo langsung menjawab, tanpa ragu. “Kalau aku mau bocor, aku nggak akan datang ke sini.”
Tante Rosa menatapnya lebih dalam sekarang, mencoba membaca ketulusan di balik kalimat itu. “Semua orang bilang begitu di awal,” katanya.
Leo tidak tersenyum. “Saya bukan semua orang.”
Ella bisa merasakan garis tipis di antara percaya dan tidak percaya itu mulai terbentuk. Dan ia tahu ia harus mendorongnya. “Aku yang tanggung jawab,” katanya.
Niko langsung menoleh. “Kamu nggak bisa tanggung jawab atas dia.”
“Aku bisa,” balas Ella. Nada suaranya tidak tinggi. Tapi tidak memberi ruang bantahan. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.