NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Bad Boy / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.

​Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?

​Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.

​Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

​"Kalian semua keluar dari sini, atau aku akan bertindak kejam padanya. Kalian sudah lihat sendiri kekuatanku dan tahu bahwa aku bisa mematahkan lehernya dalam sekejap. Kalau tidak percaya, silakan coba."

​Melihat Gerry dijadikan sandera, polisi itu mengerutkan kening dalam-dalam. Dengan penuh amarah, ia membentak, "Apa kamu sadar konsekuensi dari tindakanmu ini, hah?!"

​"Bagaimana menurutmu? Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi dengan aparat seperti kalian yang menyalahgunakan wewenang demi kepentingan pribadi," cetus Yudha sambil tetap mencengkeram leher Gerry.

​Tepat saat petugas polisi Bernama Lutfi itu hendak memerintahkan anak buahnya untuk meringkus Yudha di tempat, suara derap langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari pintu masuk kantor polisi. Suaranya riuh, menandakan ada rombongan besar yang datang.

​Mendengar kegaduhan itu, bukan hanya Yudha, tapi polisi yang sedang menodongkan pistol pun ikut tertegun. Mereka serentak menoleh ke arah sumber suara. Sosok pria paruh baya dengan raut wajah mendung, mengenakan seragam dinas lengkap dengan tanda pangkat yang mentereng, melangkah masuk dengan aura yang mengintimidasi.

​Para polisi di ruangan itu tersentak. Mereka sangat mengenali siapa pria ini. "Pak Imam! Bapak... kenapa Bapak sampai datang ke sini?" Polisi Bernama Lutfi itu mendadak gemetar, buru-buru menurunkan pistolnya dan bertanya dengan nada sangat hormat.

​"Kalau aku tidak datang, apa tempat ini akan terbalik?" tanya Imam dengan tatapan sedingin es. Jika tatapan mata bisa membunuh, polisi di depannya itu pasti sudah hancur berkeping-keping sekarang.

​"Pak Imam, maksud Bapak apa?" Polisi itu mulai panik melihat nada bicara atasannya yang sangat berbeda dari biasanya. Ia tahu jika sang atasan sudah murka, kariernya tamat.

​Namun, Imam sama sekali tidak menggubrisnya. Matanya langsung menyapu ruangan dan tertuju pada Yudha. Melihat pemuda yang usianya belum genap dua puluh tahun itu, jantung Imam berdegup kencang. Ia teringat betapa tingginya Pak Sutrisno menaruh perhatian pada pemuda ini. Imam memaksakan sebuah senyum ramah, melangkah mendekati Yudha, dan bertanya dengan nada selembut mungkin, "Boleh saya tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

​Imam datang begitu tergesa-gesa sampai ia sendiri belum sempat mempelajari detail kasusnya. Pertanyaannya pun terdengar agak kikuk di tengah situasi tegang itu.

​Yudha segera menyadari bahwa pria ini adalah pimpinan tertinggi di sini. Menduga bahwa pria ini kemungkinan besar digerakkan oleh koneksi Bang Januar, Yudha pun mengendurkan cengkeramannya pada Gerry dan menjawab dengan nada ketus, "Apa Bapak tidak bisa melihat sendiri? Saya harap Bapak bisa bertanya pada anak buah Bapak tentang apa yang sudah dia perbuat. Sudah jelas pria ini adalah penculik, tapi saat saya menyelamatkan korban, saya malah dituduh merampok. Polisi bahkan tidak bertanya apa-apa dan langsung membela dia. Benar-benar pemutarbalikan fakta yang menjijikkan! Saya menuntut penjelasan yang masuk akal dari Bapak."

​Yudha sedang dalam mode sangat gusar, jadi meski ia tahu pria di depannya ini adalah pejabat tinggi setingkat perwira menengah, nadanya tetap kaku dan tanpa rasa hormat sedikit pun.

​"Komandan, tolong jangan dengar bicaranya! Dia cuma memfitnah kami! Dia ini pencuri, kami punya laporan dari korban untuk membuktikannya!" Polisi Bernama Lutfi itu panik melihat Yudha mengadu langsung pada pimpinannya.

​"Diam kamu!" Imam membentak polisi itu hingga nyalinya menciut.

​Mendengar penjelasan Yudha, wajah Imam berubah menjadi sangat buruk. Ketika matanya melirik ke arah pemuda yang terduduk lemas di samping Yudha, ekspresinya makin berubah. Pemuda itu tidak lain adalah Gerry, putra dari Mardika , tokoh berpengaruh di Bandung, yang memang terkenal sebagai biang kerok.

​Meskipun banyak anak pejabat yang berperilaku baik, Gerry adalah pengecualian. Ayahnya mungkin memiliki kuasa besar di panggung politik Jawa Barat, namun ia gagal total dalam mendidik anaknya. Sejak muda, Gerry sudah akrab dengan dunia malam, judi, dan pergaulan bebas. Mengandalkan kekuasaan ayahnya, tak ada yang berani menyentuhnya. Selama ini Imam berusaha menjaga perasaan ayah Gerry, namun ia tidak menyangka kali ini si tuan muda akan menyenggol "sarang lebah" yang salah.

​"Apa yang terjadi dengannya? Dia bilang dia dirampok? Gerry, coba kamu bicara?" Imam menatap Gerry dengan wajah gelap. Berdasarkan pengalamannya, ia sudah bisa menebak siapa yang sebenarnya bermain api di sini.

​"Pak Imam, dia... dia yang mendobrak rumah saya dan merampok saya! Bapak harus bantu saya!" Gerry yang sudah bertahun-tahun merasa kebal hukum kembali menemukan keberaniannya begitu melihat Imam. Di otaknya, posisi ayahnya adalah segalanya; Imam pasti akan memberinya muka.

​Imam benar-benar geram melihat Gerry masih saja berbohong. Gara-gara urusan konyol anak ini, ia nyaris kehilangan muka di depan Pak Sutrisno. Hubungan politiknya dengan Walikota bisa terancam hancur total hanya karena ulah pemuda tidak berguna ini.

​"Ada yang merampokmu... Gerry, kamu sedang bercanda, ya? Kamu sudah untung tidak sedang merampok orang lain!" Imam menatap tajam wajah Gerry dengan suara yang menusuk. Imam tahu, jika masalah ini tidak selesai dengan bersih, bukan hanya peluang kenaikan pangkatnya yang sirna, tapi jabatannya saat ini pun bisa melayang.

​"Lutfi! Jadi ini laporan yang kamu maksud?" Imam berbalik ke arah polisi Bernama Lutfi itu dengan nada mengancam. "Sepertinya kamu sudah bosan dengan seragam ini. Jangan kira aku tidak tahu main belakangmu; sebaliknya, aku tahu semuanya."

​Ia kemudian berseru kepada petugas polisi lainnya di ruangan itu, "Apa lagi yang kalian tunggu? Bawa Gerry dan kunci dia di sel sekarang juga! Kalau sampai dia lepas, kalian semua yang akan aku tuntut. Polisi itu pelayan rakyat, bukan pelindung penjahat! Jangan lupa sumpah kalian di bawah lambang Garuda saat pertama kali mengenakan seragam ini!"

Petugas polisi lain yang berdiri di dekat sana mendadak pucat pasi di bawah tatapan tajam sang atasan. Meskipun bukan pelaku utama, mereka sadar bahwa mereka adalah kaki tangan yang membiarkan ketidakadilan ini terjadi. Jika Pak Imam meluapkan kemarahannya pada mereka, masa depan karier mereka bisa dipastikan akan suram.

​Atas perintah tegas Imam, para polisi muda yang sebenarnya sudah lama memendam rasa muak terhadap tingkah polah Gerry segera merangsek maju. Mereka meringkus dan memborgol Gerry yang masih terduduk lemas di lantai.

​Saat melihat polisi-polisi yang biasanya bersikap sangat hormat dan tunduk padanya kini justru menangkapnya, wajah Gerry memutih seperti kertas. Ia berteriak histeris, suaranya bergetar hebat karena ketakutan yang luar biasa.

​"Apa yang kalian lakukan?! Kalian tidak boleh menangkapku! Aku tidak melanggar hukum! Aku mau ketemu ayahku! Aku mau bicara dengan ayah sekarang juga!"

​Namun, para petugas itu tidak peduli. Mereka justru berlomba-lomba menunjukkan ketegasan di depan sang komandan. Dengan paksa, mereka menyeret Gerry keluar dari ruangan itu menuju sel tahanan.

1
Tri Rahayu Amoorea
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!