Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Tidak akan mudah
Bab 17
“Iya ‘kan pe4, pengen ketemu Bela malem-malem. Apalagi si Bela udah nitip pesen nggak mau ketemu si Anji. Heran gue sama pacaran mereka itu,” tutur Rama sambil menghembuskan asap rokok.
“Definisi bapak kost sebenarnya ada sama elo bukan ke gue lagi,” seru Beni.
Saat ini jam 4 sore, berada di kantin rumah sakit di mana suasana tidak terlalu ramai. Edward pun ada di sana, baru selesai tugas di poli. Sedangkan Beni dan Rama kebetulan shift dua dan sedang rehat bergantian dengan tim yang lain.
“Lo gimana Dok?” tanya Rama.
“Gimana apanya?” pura-pura beg0, tadi sedang bicarakan Anji dan Bela sudah pasti bertanya hubungannya dengan Aya.
“Yaelah, pura-pura pinter. Udah sampe mana sama adiknya Andin?”
“Biasa aja.”
“Masa sih?”
Edward berdeham, Rama tidak percaya karena informasi dari Anji kalau hubungan dokter dan pasien ini sudah semakin dekat. Wajah Edward lempeng saja saat Rama menyindirkan dan Beni ikut tertawa.
Pandangannya tertuju pada gadis yang memasuki area kantin. Dahinya mengernyit, untuk apa Aya kemari. Tadi pagi gadis itu sudah mengabari kalau hari ini sudah mulai lagi di cafe dan ia pun sudah mampir, bertemu dengan alasan memesan cappucino. Ternyata Aya menuju tenant bakso, Edward pun beranjak.
“Lah, mulut bilang biasa aja. Ada orangnya mah langsung nyamperin udah kayak semut lihat gula.” Rama ikut melihat arah tatapan Edward yang langsung beranjak menghampiri.
“Itu adiknya Andin?”
“Iya, bang. Si Anji parah, Edward ped0file macarin Cahaya. Seumuran neng Gita kayaknya.” Pandangan Rama tertuju pada Aya.
“Sebelas dua belas sama elo,” ejek Beni.
Edward berdiri di samping Aya. “Belum makan, ini jam berapa Ay?”
“Eh.” Aya terkejut dengan kehadiran Edward. “Tadi siang udah makan bekal dari mbak. Ini aku pengen yang seger,” Aya meringis lalu tersenyum.
“Jangan kelamaan di sini, smoking area.”
Aya mengangguk. “Om baru istirahat?”
“Nggak, kebetulan lagi ngobrol sama temen.” Menunjuk meja di mana masih ada Rama dan Beni.
“Makasih ya mas,” ucap Aya setelah membayar dan membawa mangkuk bakso menuju meja yang ditunjuk Edward. “Om mau nggak?”
“Nggak, kamu aja.” Edward bahkan inisiatif memesankan minum. Menemani Aya makan sambil berbincang.
Melirik jam tangannya, jam kerja Aya kurang lebih satu jam lagi. Sepertinya ia akan menunda pulang dan menunggu Aya.
“Mbakmu nanti jemput?”
Aya menggeleng.
“Ya udah, nanti bareng aku.”
Sempat terbatuk karena kuah yang pedas dan usul Edward ingin mengantar pulang.
“Pelan-pelan.” Edward yang duduk di samping Aya mendorong gelas berisi es jeruk dan mengusap punggung gadis itu. “Itu pedas Ay,”
“Nggak Om, biasa aja pedesnya.”
“Biasa, gimana? Kuahnya merah gitu. Perut kamu gimana jadinya diisi kayak gituan.”
“Yang pasti enak om. Apalagi kalau bakso isi keju meleleh, pas dibelah isinya muncr4t. Hm, yummy.” Aya bercerita sambil menjil4t bibirnya seolah ia memang menikmati makanan itu.
Edward menghela nafas lalu mengalihkan pandangan sejenak. Mendadak tubuhnya meneg4ng, membayangkan sesuatu karena ulah Aya.
“si4l,” ucapnya begitu lirih.
“Dok, duluan ya,” pamit Rama sambil berteriak. Edward mengangguk, Aya pun tersenyum dan mengangguk karena pria itu ikut menatapnya. “Anterin ke rumah, temui orang tuanya dong, jangan ketemu di luar mulu,” ejek Rama lalu terkekeh dan Edward berdecak.
Edward mengantar Aya dan menunggu di koridor. Mengeluarkan ponsel yang sejak tadi tadi bergetar.
...Geng Pria Terkutuk...
Anji nggak pake ng : Foto (Edward dan Aya di kantin) Asyik bener, definisi kerja sambil kencan
Rendi oye : Sambil tenggelam minum su-su 🫣
Asoka Harsa : Udah sehat dia? Kirain nggak bakal balik ke SM
Anji nggak pake ng : Langsung gil4 temen gue kalau Aya nggak balik lagi. Udah sih, cepet halalin. Datangi si Andin terus orang tuanya
Dokter vampir : Sama, lo juga cepet halalin si Bela. Banyak drama kalian berdua
@Asoka Harsa udah sehat, makin sehat kalau dapat resep dan terapi dari gue
Rendi Oye : Terapi apaan, terapi mesum 🤣
Anji nggak pake ng : Dede Cahaya masih polos ketemu vampir udah suhu, bahaya dah
Dokter Vampire : 😀
Edward menghela nafas, mengingat penjelasan Aya mengenai orang tuanya terutama Romo Wira. Sepertinya tidak akan mudah usahanya nanti untuk bisa bersama. Keluarga Aya dari generasi priyayi begitu selektif dengan memilih pasangan. Karena alasan itulah Andin dan Aya protes, menolak dan akhirnya memilih hengkang dari rumah.
Namun, ia sudah yakin dengan Aya. Sebelum menemui orang tua Aya, ia akan bicarakan dulu dengan Andin dan suaminya.
“Tidak akan mudah, tapi aku sudah yakin denganmu.” Pandangan Edward tertuju pada foto Aya di layar ponselnya.
lhah2 langsung ijab Sah Pak Dudeeee😂😂😂
tapi bagus juga harus sombong di depan orang sombong 🤭
duh dah kaya mau demo aja🤭