Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ailen: Gadis dengan Otak di Luar Nalar
Pagi hari di kediaman Vancort biasanya diawali dengan aroma kopi espresso yang mahal dan suara gemerisik koran bisnis. Namun, sejak Ailen Gavril resmi menjadi "penghuni tetap sekaligus pengawal tak terduga", rutinitas itu berubah menjadi medan perang mental bagi siapa pun yang memiliki IQ di atas rata-rata.
Leon Vancort berdiri di balkon kamarnya, memandangi halaman luas yang tertata rapi. Matanya menyipit saat melihat sesuatu yang tidak beres di dekat pancuran air kristal Italia miliknya. Di sana, Ailen sedang jongkok dengan sangat serius, mengenakan topi caping petani yang entah didapat dari mana, dan membawa sebuah kuas cat kecil serta ember berisi air sabun.
"Ailen! Apa lagi yang kau lakukan pada propertiku?" teriak Leon dari balkon.
Ailen mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang berbusa. "Eh, Mas Van Houten! Sini turun, Mas! Saya lagi ngelakuin eksperimen sosial sama semut-semut di sini!"
Leon menghela napas panjang—sebuah kebiasaan baru yang ia kembangkan sejak bertemu Ailen—dan memutuskan untuk turun. Ia harus memastikan bahwa gadis itu tidak sedang mencoba mengecat semut-semutnya menjadi warna pelangi.
Sesampainya di bawah, Leon mendapati Ailen sedang sibuk menggosok jalur semen di antara rumput. "Eksperimen sosial apa yang membutuhkan air sabun dan kuas?"
"Mas, coba liat deh," Ailen menunjuk barisan semut yang sedang kocar-kacir karena jalurnya licin terkena sabun. "Saya lagi bikin wahana waterboom buat mereka. Kasihan Mas, mereka kerjanya angkut-angkut remah roti mulu, pasti stres. Jadi saya kasih sabun supaya mereka bisa seluncuran. Liat tuh, si Joni—semut yang paling gede—tadi asik banget seluncurannya sampai kepental ke daun kamboja!"
Leon mematung. Ia menatap semut-semut yang malang itu, lalu menatap Ailen yang tampak sangat bangga dengan "amal kebaikannya".
"Kau menamai semut itu Joni?" tanya Leon datar.
"Iya, yang itu Joni, yang agak kecilan namanya Bambang, terus yang jalannya zig-zag itu Susi, kayaknya dia lagi galau," jawab Ailen tanpa keraguan sedikit pun. "Otak manusia itu harus kreatif, Mas. Jangan cuma mikirin taktik perang. Kadang kita harus peduli sama rakyat kecil, termasuk rakyat semut."
Leon memijat keningnya. Otak di luar nalar, batinnya. Benar-benar di luar galaksi bima sakti. "Ailen, kita punya jadwal latihan menembak hari ini. Berhenti menyiksa serangga dan segera ke ruang bawah tanah."
"Siap, komandan! Bentar, saya pamit dulu sama Bambang," Ailen melambaikan tangan ke arah tanah sebelum berlari kecil mengikuti Leon.
Ruang bawah tanah kediaman Vancort adalah fasilitas berteknologi tinggi. Di sana berjajar berbagai jenis senjata, mulai dari pistol ringan hingga senapan runduk yang bisa menembus baja. Leon ingin menguji sejauh mana kemampuan Ailen dengan senjata api, karena selama ini gadis itu hanya menggunakan tangan kosong, bawang merah, atau sandal jepit.
"Pilih satu," perintah Leon sambil menunjuk ke arah rak senjata.
Ailen berjalan mendekat, matanya berbinar melihat benda-benda logam yang berkilau itu. Ia melewati Glock 17, mengabaikan Sig Sauer, dan matanya tertuju pada sebuah benda di sudut rak.
"Wah! Mas, saya mau yang ini!" Ailen mengambil sebuah... pistol peluncur suar (flare gun) berwarna oranye terang.
"Itu pistol suar, Ailen. Itu untuk memberi sinyal darurat, bukan untuk bertempur," kata Leon jengkel.
"Tapi warnanya cantik, Mas! Oranye, kayak jeruk sankist. Kalau saya bawa ini, musuh pasti mikir saya lagi mau ngerayain ulang tahun, jadi mereka nggak bakal waspada. Itu namanya strategi manipulasi psikologis tingkat RT!"
Leon merebut pistol suar itu dan menggantinya dengan sebuah Beretta 92FS yang sudah terisi peluru kosong untuk latihan. "Gunakan ini. Fokus pada sasaran di depanmu."
Ailen memegang pistol itu dengan kikuk. "Mas, ini berat bener. Kayak beban hidup."
"Pegang dengan kedua tangan. Kaki dibuka selebar bahu. Fokus pada titik merah di dada manekin itu," instruksi Leon. Ia berdiri tepat di belakang Ailen, memperbaiki posisi tangan gadis itu.
Sentuhan Leon di lengan Ailen membuat gadis itu sedikit merinding. Wangi parfum kayu cendana milik Leon menyerbu indranya. "Mas... jangan deket-deket dong. Nanti kalau saya deg-degan terus salah tembak kena hidung Mas gimana?"
"Fokus, Ailen," bisik Leon di dekat telinganya.
Ailen menarik napas dalam-dalam. Matanya menyipit. Tiba-tiba, aura konyolnya menghilang. Ia menarik pelatuknya.
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan tepat sasaran. Semuanya mengenai titik merah kecil di tengah dada manekin tanpa meleset satu milimeter pun. Leon tertegun. Akurasi itu bukan hasil keberuntungan; itu adalah insting pembunuh alami.
"Gimana, Mas? Hebat kan?" Ailen kembali ke mode semprulnya, memutar-mutar pistol di jarinya seperti koboi di film-film tua. "Tapi jujur ya, suara dor-dorannya kurang merdu. Coba kalau suaranya bunyi 'telolet', pasti lebih asik."
Leon mengambil kembali pistol itu dari tangan Ailen. "Kau punya bakat, tapi caramu berpikir benar-benar membuatku pusing. Kenapa kau tidak pernah menggunakan senjata api sebelumnya?"
Ailen terdiam sejenak. Ia meletakkan tangannya di atas meja senjata, jemarinya mengelus permukaan logam dingin itu. "Dulu... kakek saya bilang, senjata itu cuma buat orang yang nggak bisa ngomong baik-baik atau nggak bisa lari cepet. Lagian, Mas, kalau saya pake pistol, nanti baju saya bisa kena percikan oli atau bau mesiu. Susah ilangnya, deterjen mahal sekarang."
Leon menatap Ailen dengan intens. Ada lapisan kesedihan yang tersembunyi di balik tawa gadis itu. Ia sadar bahwa Ailen adalah seorang penyintas. Dia tertawa bukan karena hidupnya mudah, tapi karena itu adalah satu-satunya cara agar dia tidak hancur oleh kerasnya dunia.
"Ikut aku," kata Leon lembut. "Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan."
Mereka menuju ke sebuah ruangan rahasia di balik perpustakaan. Di sana, terdapat sebuah meja besar yang penuh dengan monitor dan peta digital. Ini adalah pusat saraf operasi Vancort.
"Minggu depan, akan ada pelelangan berlian 'Blue Blood' di kapal pesiar," Leon memulai penjelasannya. "Ini bukan sekadar lelang. Ini adalah tempat berkumpulnya para raja mafia untuk membagi rute perdagangan manusia dan narkoba di Asia Tenggara. Aku ingin mengacaukannya."
Ailen melihat peta digital itu. "Kapal pesiar? Berarti ada prasmanan sepuasnya dong?"
"Ailen, fokus," tegur Leon. "Musuh utamaku, klan kobra hitam dan Moretti, akan ada di sana. Aku butuh kau menyamar sebagai... tunanganku."
Ailen tersedak air liurnya sendiri. "Apa?! Jadi tunangan Mas Leon? Waduh, Mas... kita kan belum jadian. Masa langsung tunangan? Mas belum nembak saya pake bunga, baru nembak pake pistol kosong tadi!"
Leon merasa urat di pelipisnya kembali berdenyut. "Ini penyamaran, Ailen. Penyamaran! Mereka tidak akan curiga jika aku membawa seorang wanita. Tapi karena kau adalah... kau, mereka akan berpikir kau hanyalah gadis cantik yang tidak berotak. Itu akan membuat mereka lengah."
"Ooh... jadi saya akting jadi cewek bego gitu? Gampang itu mah! Itu kan makanan sehari-hari saya," Ailen nyengir lebar. "Tapi Mas, kalau saya jadi tunangan Mas, saya harus pake baju bagus dong? Yang berkilau-kilau kayak lampu taman?"
"Aku sudah memesankan gaun khusus untukmu. Tapi ada satu syarat: selama di kapal, kau tidak boleh membawa bawang, tidak boleh bicara tentang semut bernama Joni, dan kau harus bersikap... anggun."
Ailen tampak berpikir keras, dahinya berkerut-kerut sampai menyerupai kue lapis. "Anggun itu yang kayak gimana sih, Mas? Yang kalau jalan pantatnya digoyang-goyang terus kalau ngomong suaranya desah-desah kayak orang asma?"
Leon memejamkan mata, membayangkan bencana yang akan terjadi di kapal pesiar nanti. "Bukan! Anggun itu tenang, sopan, dan berwibawa."
"Oke, oke. Saya coba ya," Ailen berdeham, lalu mencoba berjalan perlahan menuju Leon dengan dagu terangkat. Ia mencoba memasang wajah serius, tapi di tengah jalan ia tersandung kakinya sendiri dan hampir jatuh menimpa meja kontrol jika Leon tidak segera menangkap pinggangnya.
Posisi mereka kembali sangat dekat. Wajah Ailen berada di dada Leon, dan tangan Leon mendekap erat pinggang ramping gadis itu.
"Tuh kan, Mas... saya emang nggak ditakdirkan buat jadi anggun. Saya ditakdirkan buat jadi beban hidup Mas Leon," bisik Ailen sambil mendongak, menatap Leon dengan mata jenakanya.
Leon menatap mata itu cukup lama. Ada dorongan aneh dalam dirinya untuk tidak melepaskan dekapan itu. Untuk pertama kalinya, sang Raja Mafia merasa bahwa "beban" ini adalah satu-satunya hal yang ingin ia pikul selamanya.
"Kau bukan beban," ucap Leon dengan suara rendah yang menggetarkan. "Kau adalah kekacauan yang paling kubutuhkan."
Ailen terdiam. Pipinya memerah. "Waduh... Mas Leon kalau ngomong gitu, kadar gula darah saya langsung naik nih. Jangan-jangan Mas mau jadiin saya tumbal proyek kapal pesiar ya?"
Leon melepaskan dekapannya, berdeham untuk menutupi kecanggungannya. "Kembali ke kamarmu. Pelajari daftar tamu yang kuberikan. Jika kau salah menyebut nama orang, rencana kita bisa hancur."
Ailen memberikan hormat ala tentara lagi. "Siap, Mas Tunangan! Eh, Mas... nanti di kapal pesiar ada kolam renangnya kan? Boleh saya bawa ban bebek kuning saya? Buat penyamaran juga, biar mereka pikir saya ini kolektor bebek karet internasional."
"TIDAK, AILEN!"
"Pelit amat sih..." Ailen menggerutu sambil berjalan keluar ruangan.
Setelah Ailen pergi, Leon duduk di kursinya dan menatap layar monitor yang menampilkan wajah Ailen dari kamera CCTV koridor. Gadis itu tampak sedang mencoba melakukan gerakan moonwalk sambil membawa tumpukan dokumen yang baru saja diberikan Leon.
Marco masuk ke ruangan dengan wajah prihatin. "Tuan... Anda yakin membawa Nona Ailen ke kapal pesiar? Ini misi hidup dan mati."
Leon tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan misteri. "Marco, musuh-musuh kita sudah terbiasa dengan kematian. Mereka sudah siap menghadapi peluru dan bom. Tapi mereka tidak akan pernah siap menghadapi seorang gadis yang mengajak semutnya berbicara."
"Otak Ailen mungkin berada di luar nalar kita semua, Marco. Tapi justru itulah senjata terkuat yang kita miliki sekarang. Dia adalah anomali yang tidak bisa dihitung oleh algoritma apa pun."
Leon kembali menatap layar monitor. Di sana, Ailen baru saja menabrak vas bunga besar karena asyik berjoget, lalu ia malah meminta maaf pada vas tersebut seolah-olah vas itu adalah manusia.
"Yah," gumam Leon sambil menyandarkan punggungnya. "Anomali yang sangat, sangat cantik."
Malam itu, Leon tidur dengan perasaan yang lebih ringan. Migrainnya tidak kembali. Namun, di dalam mimpinya, ia melihat dirinya sedang berdansa di atas kapal pesiar dengan seorang gadis yang mengenakan gaun mewah, membawa sepiring martabak, dan berteriak, "Ayo Mas Leon, goyang jempol!"
Dunia mafia mungkin akan segera meledak, tapi Leon Vancort tidak peduli. Selama ia memiliki Ailen di sampingnya, setidaknya ia akan mati sambil tertawa.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍