Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7--Ketertarikan si Gadis Kembang Desa
Pagi hari itu, desa Sukacita menjadi heboh. Baru saja mereka hendak melakukan gotong royong rutin untuk membalas kebaikan sang pemuda yang berhasil menendang pantat para antek preman penjajah yang selama ini berbuat seenaknya di sini, mereka malah disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah.
Lahan yang sebelumnya penuh sampah kini berubah asri.
Mereka semua membeku.
“L-Lho...?”
“Ini... tempat yang kemarin?”
“Lahan milik Aris yang kita kerja bakti dua hari lalu itu?!”
“Mustahil...” Wak Darmo sampai menjatuhkan rokok lintingnya ke tanah.
Di hadapan mereka, lahan yang sebelumnya dipenuhi gunungan sampah hitam kini berubah drastis. Tanah cokelat gelap yang subur terbentang luas sejauh mata memandang. Rumput-rumput hijau muda tumbuh segar di beberapa bagian, sementara kabut tipis pagi membuat seluruh area terlihat seperti ladang pegunungan.
Ini sudah kembali seperti kondisi semula. Mustahil... kok bisa?!
Yang paling membuat mereka merinding adalah hilangnya bau busuk. Tidak ada lagi aroma limbah kimia, tidak ada lagi bau plastik dan botol. Udara pagi ini terasa begitu segar setelah bertahun-tahun mereka hidup dalam polusi.
“Ya Allah...” lirih seorang ibu desa.
“Kemarin masih kayak neraka...”
“Ini pasti kerja alat berat pemerintah, ya?”
“Mana mungkin! Aku ronda sampai jam dua malam, nggak ada suara truk sama sekali!”
Bisik-bisik mulai menyebar.
Di tengah lahan, Aris sedang duduk santai di atas bekas drum sambil meminum teh hangat buatan Emi. Matanya tampak sedikit merah karena begadang semalaman, tetapi ekspresinya jelas puas.
Emi sendiri sampai beberapa kali mengucek matanya.
“Kak... Emi masih nggak percaya...” gadis itu menatap hamparan tanah subur di depan rumah mereka dengan wajah linglung. “Ini beneran tanah kita?”
Aris tertawa kecil. “Kalau bukan tanah kita, terus punya siapa? Kamu lupa, waktu kecil kita sering lari-larian di sini bareng Sari? Dari dulu memang begini.”
“Tapi itu sebelum jadi sarang mafia... semalam masih penuh sampah!”
“Itu namanya keajaiban kerja keras,” jawab Aris santai sambil menyeruput tehnya. “Anggap saja mukjizat dari Tuhan. Simpel, kan? Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Sudah kubilang, serahkan saja ke kakak.”
Padahal dalam hati, bahkan dia sendiri masih sulit percaya dengan kemampuan sistem. Satu hektar lahan bisa berubah dalam beberapa hari saja... kalau dia bertani di tanah seperti ini, hasilnya pasti berkali-kali lipat.
Cuan besar!
Dan satu lagi—kalau kemampuan ini sampai diketahui dunia luar, perusahaan pertanian, mafia limbah, bahkan pemerintah, mungkin dia bakal langsung diburu.
Tiba-tiba—
“ARISSS!!”
Sebuah suara panik terdengar dari kejauhan.
Dua orang preman yang kemarin menjaga lahan itu berlari terbirit-birit menuju area bekas tempat pembuangan limbah. Wajah mereka pucat seperti melihat hantu.
Begitu melihat kondisi lahan—
“ANJING?!”
“Ke mana semua sampahnya?!”
“Ini nggak masuk akal!”
Keduanya langsung panik. Mereka memeriksa tanah, menginjak-injak rumput, lalu melihat ke sekitar dengan mata melotot.
Gunungan sampah yang biasanya setinggi rumah kini benar-benar hilang.
Yang tersisa hanya sebagian kecil limbah di pinggir area.
Aris tersenyum tipis. Masih belum kapok juga setelah dihajar habis-habisan kemarin.
“Cari sesuatu, Bang?”
Kedua preman itu langsung menoleh. Ekspresi mereka berubah jelek saat melihat Aris duduk santai seperti tuan tanah.
“K-Kamu...” salah satu dari mereka menelan ludah. “Kamu ngapain semalam?!”
Aris mengangkat bahu.
“Ngopi, Bang...” ujarnya santai. “Ya bersih-bersih lah. Dikira ngapain?”
“Bersih-bersih pala bapak lo peyang!” bentak mereka panik. “Mana mungkin sampah segini hilang dalam semalam?! Kemarin masih setengah hektar, sekarang ludes semua?!”
Warga desa yang berdiri di belakang Aris mulai mendekat. Jumlah mereka makin banyak. Puluhan orang.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, para preman itu menyadari sesuatu.
Tatapan warga mulai berubah.
“Cukup!”
“Berhenti datang ke tanah kami lagi, dasar pembuat onar!”
Wak Darmo melangkah maju. Dadanya membusung, seolah beban yang menghimpitnya selama bertahun-tahun menguap bersama kabut pagi.
“Dengar kalian! Ini tanah kakeknya Aris, bukan tempat pembuangan sampah nenek moyang kalian! Pergi, atau kami seret kalian ke balai desa!”
“Iya! Pergi!” seru warga bersahutan.
Semangat gotong royong yang kemarin hanya berupa bisikan kini meledak menjadi keberanian kolektif.
Kedua preman itu—Gito dan Dullah—mundur selangkah. Biasanya mereka hanya perlu menggertak dengan parang untuk membuat warga ketakutan, tapi hari ini, melihat ratusan mata menatap dengan amarah, nyali mereka ciut.
“K-kalian jangan sombong!” teriak Gito, suaranya sedikit melengking. “Ini bukan cuma soal sampah! Bos Malik punya kontrak resmi dengan dinas kebersihan! Menghilangkan limbah itu sama saja mencuri aset perusahaan!”
Aris meletakkan gelas tehnya perlahan di atas drum.
Ting.
Suara kecil itu terasa menekan di tengah keheningan.
Ia berdiri, lalu berjalan mendekat.
“Properti perusahaan?” Aris menyeringai. “Maksud lo, kotoran yang kalian buang ke tanah orang tanpa izin itu properti?”
Ia berhenti tepat di depan mereka.
“Kalau gitu, ambil kembali ‘properti’ kalian dari sini. Kalau nggak bisa... gue yang bakal ‘kembalikan’ ke wajah Bos Malik.”
Kedua preman itu langsung pucat.
“K-kami akan lapor! Bos Malik nggak bakal tinggal diam!” teriak Dullah sambil menarik Gito pergi.
Mereka lari terbirit-birit menuju mobil jeep, meninggalkan debu dan tawa warga.
“Lapor aja!” teriak seseorang.
“Pihak berwajib aja belum tentu bela rakyat kecil!”
Setelah suasana kembali tenang, Aris menoleh ke hamparan tanahnya.
Ia melihat Sari berdiri di antara warga, menatapnya dengan mata berbinar—tak percaya sekaligus bangga.
“Ris...” Sari mendekat pelan. “Kamu... benar-benar melakukannya. Aku nggak tahu gimana caranya, tapi... bau tanah ini... aku kangen banget. Makasih.”
Aris tersenyum tipis.
“Ini baru permulaan, Sari. Besok, tempat ini bukan cuma bersih—tapi jadi sumber rezeki buat satu desa. Gue bakal tanam, panen besar, dan kalau lebih... gue bagi ke kalian semua.”
Sari menatap wajah Aris lekat-lekat.
Entah kenapa, pemuda itu terasa sangat berbeda.
Dulu, dia hanya pemuda ambisius yang ingin kuliah tapi gagal karena biaya.
Sekarang...
Tatapannya tenang. Tegas. Kuat.
Sangat... pria.
Wajah Sari memerah saat sadar dirinya menatap terlalu lama.
Jantungnya berdegup aneh.
“Eh... kenapa natap gitu?” tanya Aris, sedikit gugup.
Sari langsung memalingkan wajah.
"G-gak! Oh iya... Wak Darmo nyuruh kamu mampir nanti. Katanya ada lalapan sama makanan...”
Saat Sari berbicara dengan wajah merah—
Dan saat sari menjelaskan dengan wajah merah, sebuah notifikasi muncul.
[Ding!]
[Mendeteksi tingkat ketertarikan Sari]
[60% (ketertarikan awal]
“Ha?”