NovelToon NovelToon
Dunia Terlalu Kejam Untuk Aku Yang Sendirian

Dunia Terlalu Kejam Untuk Aku Yang Sendirian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kehidupan di Kantor / Penyesalan Suami
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Agnura

karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEY MENJALANI HARI SEPERTI BIASANYA,BERANGKAT KERJA

Pagi itu, Key bangun seperti hari-hari biasanya. Alarm di ponselnya berbunyi tepat pukul enam, nyaring memecah kesunyian kamar yang dingin. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit tanpa ekspresi, seolah tubuhnya bergerak karena kebiasaan, bukan keinginan. Tak ada yang berbeda dari rutinitasnya—atau setidaknya, itulah yang ia coba yakinkan pada dirinya sendiri.

Ia bangkit dari tempat tidur, merapikan selimut dengan gerakan otomatis, lalu berjalan menuju kamar mandi. Air dingin yang menyentuh wajahnya tidak lagi terasa menyegarkan seperti dulu. Semuanya terasa hambar. Bahkan bayangan dirinya di cermin tampak asing—mata yang dulunya penuh kehidupan kini terlihat kosong, menyimpan terlalu banyak hal yang tak pernah ia ucapkan.

Setelah selesai bersiap, Key mengenakan pakaian kerjanya yang rapi. Ia memilih warna-warna netral, seperti biasanya—tak mencolok, tak menarik perhatian. Rambutnya disisir sederhana, wajahnya tanpa riasan berlebih. Ia ingin terlihat biasa saja. Tidak ada yang perlu tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.

Saat keluar dari kamar, suasana rumah masih sama. Dingin. Sepi. Meskipun ada orang lain di dalamnya, Key merasa seperti orang asing di tempat yang seharusnya ia sebut rumah. Ia tidak berhenti di ruang makan, tidak menyapa siapa pun. Ia hanya mengambil tasnya dan melangkah keluar tanpa suara.

Perjalanan menuju tempat kerja berjalan seperti biasa. Jalanan mulai ramai, suara kendaraan bersahutan, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing. Key berjalan di antara mereka, tapi pikirannya terasa jauh. Ia menatap lurus ke depan, berusaha fokus pada langkahnya sendiri, menahan semua kenangan yang berusaha menyeruak.

Sampai di tempat kerja, Key langsung menjalani aktivitasnya. Ia menyapa rekan kerja dengan senyum tipis, cukup untuk terlihat sopan. Tidak lebih. Tidak kurang. Ia duduk di mejanya, membuka laptop, dan mulai bekerja.

Hari itu dipenuhi dengan tugas-tugas yang sebenarnya sudah ia kuasai di luar kepala. Mengetik laporan, menjawab email, menghadiri rapat kecil—semuanya berjalan lancar. Dari luar, Key terlihat baik-baik saja. Profesional. Tenang. Tidak ada yang menyadari bahwa di dalam dirinya, ada sesuatu yang perlahan runtuh.

Sesekali, ia terdiam. Jarinya berhenti di atas keyboard, pikirannya melayang. Bayangan tentang masa lalu muncul tanpa diundang—tentang seseorang yang dulu begitu berarti, tentang kepercayaan yang dihancurkan, tentang luka yang belum sempat sembuh tapi sudah dipaksa untuk dilupakan.

Namun Key cepat-cepat mengusir semua itu. Ia menarik napas dalam, lalu kembali mengetik, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia sudah terlalu terbiasa menekan perasaannya sendiri.

Saat jam istirahat tiba, rekan-rekannya mengajaknya makan bersama. Key tersenyum kecil dan mengangguk. Ia tidak ingin terlihat berbeda. Di meja makan, mereka berbicara tentang hal-hal ringan—film, makanan, rencana akhir pekan. Key ikut tertawa, sesekali menanggapi, tapi hatinya tidak benar-benar ada di sana.

Di balik senyumnya, ada kelelahan yang tak terlihat. Bukan lelah fisik, tapi lelah karena harus terus berpura-pura kuat.

Hari kerja berlanjut. Waktu berjalan perlahan, tapi pasti. Key menyelesaikan semua tugasnya tanpa kesalahan. Bahkan atasannya sempat memujinya karena kinerjanya yang konsisten. Key hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Ia sudah terbiasa mendapatkan pengakuan seperti itu—tapi anehnya, tidak pernah benar-benar merasa bangga.

Sore hari akhirnya tiba. Key merapikan mejanya, mematikan laptop, lalu bersiap pulang. Saat berjalan keluar dari gedung toko langit sudah mulai berubah warna, jingga keemasan menyelimuti kota.

Ia berhenti sejenak di depan pintu, menatap langit itu. Dulu, pemandangan seperti ini selalu membuatnya tersenyum. Tapi sekarang, rasanya kosong.

Key menghela napas panjang, lalu melanjutkan langkahnya. Besok, ia akan bangun lagi, melakukan hal yang sama, menjalani hidup seperti tidak terjadi apa-apa.

Karena bagi Key, berpura-pura baik-baik saja adalah satu-satunya cara untuk bertahan.

1
EvhaLynn
Saya Sangat Menyukai Cerita Novel Mu, Semangat Ya Berkarya.
😉🤍
Agnura Lestari 🍑
siap say otw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!