NovelToon NovelToon
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Anak Genius / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
​Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
​Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
​Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
​Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
​Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Tamu dari Negeri Salju

"Sejak kapan pintu rumahku menjadi tempat penampungan bagi orang-orang asing yang membawa dokumen usang dari benua lain, Pak Haris?"

Suara Liam menggelegar di ruang tamu utama, memecah kesunyian pagi yang seharusnya tenang. Ia berdiri di puncak tangga, masih mengenakan jubah mandi sutra hitamnya, namun auranya sudah memancarkan otoritas penuh seorang penguasa Alexander. Tangannya mencengkeram pagar tangga hingga urat-uratnya menonjol.

Di bawah sana, Pak Haris berdiri dengan wajah pucat, sementara seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu aristokrat duduk dengan tenang di sofa beludru. Pria itu menyesap kopi hitamnya seolah-olah dia adalah pemilik rumah, dengan sebuah map kulit hitam berlogo burung gagak perak tergeletak di meja marmer.

"Mohon maaf, Tuan Besar," ucap Pak Haris dengan suara bergetar. "Pria ini memiliki mandat diplomatik dan kunci segel dari almarhum Tuan Besar William Alexander. Saya tidak punya wewenang untuk menolaknya."

Aku melangkah keluar dari kamar, menyampirkan cardigan tipis di bahuku. Aku menatap pria asing itu dari kejauhan. Wajahnya tegas, dengan mata biru pucat yang dingin seperti es pegunungan Swiss.

[Siapa dia? Kenapa Mama tidak pernah menceritakan soal ini? Raven Trust... kakek... ada sesuatu yang disembunyikan dariku selama puluhan tahun. Blair, jangan turun dulu. Aku tidak ingin pria ini menatapmu dengan pandangan menilai seperti itu. Kau bukan barang dagangan yang bisa dia audit!]

"Liam, tenanglah," bisikku sambil menyentuh lengannya. "Mari kita hadapi dia bersama."

Kami turun bersama-sama. Setiap langkahku di anak tangga terasa seperti hitungan mundur menuju konflik baru. Begitu kami sampai di bawah, pria itu berdiri dan membungkuk dengan sangat formal—gestur bangsawan Eropa yang terasa sangat kaku di tengah modernitas Jakarta.

"Selamat pagi, Tuan Ralph Liam Alexander. Dan... Nyonya Charlotte Blair Alexander," ucap pria itu dengan aksen Inggris yang sangat kental. "Perkenalkan, saya Maximilian Von Raven, eksekutor utama dari The Raven Trust."

"Aku tidak peduli siapa namamu," sahut Liam dingin sambil duduk di hadapannya, menarikku untuk duduk di sampingnya. "Katakan apa maumu dan kenapa kau mengganggu waktu sarapan keluargaku."

Maximilian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Saya di sini untuk menjalankan wasiat terakhir Tuan William Alexander yang baru saja terbuka secara otomatis pada ulang tahun pernikahan Anda yang ke-16. Sebuah wasiat yang menyatakan bahwa seluruh aset luar negeri Alexander Group akan dibekukan jika garis keturunan utama tidak memenuhi syarat 'Kesucian Aliansi'."

Aku mengernyitkan dahi. "Kesucian Aliansi? Apa maksudmu?"

"Maksudnya adalah..." Maximilian membuka map hitamnya, mengeluarkan sebuah dokumen tua dengan segel lilin merah. "Pernikahan Anda dan Tuan Liam haruslah didasari oleh cinta dan kesetiaan mutlak. Jika ada indikasi perselingkuhan, ketidakharmonisan, atau... rencana perceraian yang sempat tercium sepuluh tahun lalu, maka seluruh aset itu akan dialihkan kepada cabang keluarga Alexander di Zurich."

Liam tertawa hambar, namun tangannya di bawah meja menggenggam jemariku dengan sangat erat—hampir menyakitkan.

[Bajingan ini... dia tahu soal draf surat cerai itu! Dia tahu soal Andreas! Jadi ini alasan Mama kembali? Untuk memastikan aku tidak kehilangan warisan kakek? Tapi Mama justru membawa Adeline dan hampir merusak segalanya! Sial, jika Raven Trust membekukan aset luar negeri, ekspansi teknologi Alexander Group di Eropa akan hancur dalam semalam.]

"Pernikahan kami sangat harmonis, Tuan Maximilian. Kau bisa melihatnya sendiri," ucap Liam dengan nada menantang.

"Benarkah?" Maximilian melirik ke arah tangga, di mana Axelle berdiri dengan wajah kaku. "Lalu bagaimana dengan laporan bahwa putra Anda lebih sering menghabiskan waktu di ruang IT daripada bersama kedua orang tuanya? Dan laporan bahwa Anda, Nyonya Blair, baru saja 'kembali' menjadi istri yang baik dalam hitungan minggu?"

Aku merasakan darahku mendidih. Pria ini tidak hanya membawa dokumen; dia membawa laporan spionase.

"Tuan Maximilian," aku memotong dengan nada bicara yang paling profesional yang pernah kugunakan saat menghadapi nasabah nakal di bank. "Keharmonisan rumah tangga tidak diukur dari berapa jam kami duduk bersama, tapi dari bagaimana kami saling melindungi saat ada serangan dari luar. Seperti saat ini. Kedatangan Anda tanpa janji adalah sebuah penghinaan bagi protokol keluarga kami."

Maximilian menaikkan alisnya, tampak sedikit terkesan. "Ketajaman bicara yang menarik, Nyonya. Tapi Raven Trust bekerja dengan bukti, bukan kata-kata. Oleh karena itu, saya akan tinggal di mansion ini selama satu bulan ke depan untuk melakukan audit gaya hidup."

"Apa?!" Liam berdiri, matanya berkilat penuh kemarahan. "Kau ingin tinggal di sini? Di rumah pribadiku?!"

"Itu adalah syarat dalam wasiat, Tuan Liam. Atau Anda lebih memilih menyerahkan lima puluh persen saham internasional Anda kepada sepupu jauh Anda di Swiss besok pagi?"

Liam membeku. Ia menatapku, mencari jawaban. Aku tahu, ini adalah jebakan baru yang jauh lebih besar dari Elodie. Jika Elodie menyerang perasaanku, Raven Trust menyerang fondasi ekonomi keluarga kami.

"Biarkan dia tinggal, Liam," ucapku tenang, membuat Liam dan Axelle terperanjat.

[Apa? Blair, apa kau gila? Dia akan memata-matai setiap gerak-gerik kita! Dia akan melihat kalau kita... kalau aku sering tidur di sofa jika kau sedang marah! Dia akan menghancurkan kita!]

Aku memberikan remasan menenangkan pada tangan Liam. "Kita tidak punya sesuatu yang disembunyikan, bukan? Biarkan Tuan Maximilian melihat betapa 'sempurnanya' keluarga Alexander. Lagipula, kita sudah terbiasa menghadapi tamu yang tidak tahu malu."

Maximilian tertawa pelan. "Luar biasa. Saya rasa sebulan ini akan menjadi bab yang sangat menarik."

Saat Maximilian dibawa menuju kamar tamu oleh Pak Haris, Axelle mendekat dan berbisik di telingaku. "Ma, aku akan memasang penyadap di seluruh sudut kamar tamu itu. Pria itu punya aura penjahat kelas kakap."

"Lakukan, Axelle. Tapi jangan sampai ketahuan," balasku lirih.

Liam menarikku ke dalam pelukannya begitu ruangan itu kosong. Ia menyembunyikan wajahnya di leherku, tubuhnya tegang.

[Satu bulan... aku harus berpura-pura menjadi suami sempurna selama satu bulan penuh di depan auditor itu. Tapi Blair... aku tidak mau berpura-pura. Aku ingin ini menjadi nyata. Aku ingin kau benar-benar mencintaiku, bukan hanya untuk menyelamatkan sahamku.]

Aku mengusap punggungnya. "Tenanglah, Liam. Kita adalah tim sekarang. Ingat?"

Malam itu, mansion Alexander kembali kedatangan penghuni baru. Namun kali ini, musuhnya bukan lagi seorang penulis yang emosional, melainkan sistem korporat yang dingin dan tanpa ampun. Sebulan ke depan akan menjadi ajang akting paling melelahkan seumur hidupku.

1
umie chaby_ba
jadi mau Lo apa heh maxim??? kudu nya si Blair Sama Liam gituan didepan mata Lo?
Ariska Kamisa: oopsss.. 🤭🤭🤭🤭
sabar kak.. maxim lagi menguji kesabaran Blair dan Liam 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kan ga jadi cerai iiihh... Maxim ngeselin!
Ariska Kamisa: iyah Maxim ini resek yaa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
ceritanya ini tentang transmigrasi gitu yaa...
semoga bisa menghibur semuanya...
umie chaby_ba
waduh... ada LG aja nih musuhnya /Shy/
umie chaby_ba
kasian banget nasib penulis 🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
good job Axelle👍👍👍👍👍
umie chaby_ba
Elodie pengen banget si Blair mati kayanya 🫣
umie chaby_ba
Axelle lucu nih pembela mama nya banget
umie chaby_ba
ngeselin Liam /Panic/
umie chaby_ba
sweet banget🤭🤭🤭
umie chaby_ba
bagus Blair....
umie chaby_ba
bagus Axelle 👍👍👍
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/
umie chaby_ba
Adeline pelakor
umie chaby_ba
dih bimbang sih Liam /Sleep/
umie chaby_ba
penulis emang seenaknya sih 🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: aku dong....🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
wow ada karakter baru nih
umie chaby_ba
sang penulis dibuat ketar-ketir 🫣
Ariska Kamisa: iyah hehehe
total 1 replies
umie chaby_ba
so sweet😍
umie chaby_ba
penulisnya kewalahan
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
wwiihh keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!