NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Baru

Pagi ini, lobi gedung SCBD tidak lagi tampak seperti labirin yang menyesakkan. Bagiku, gedung ini telah berubah menjadi medan pembuktian. Aku melangkah keluar dari lift di lantai lima belas, mengenakan setelan power suit berwarna charcoal yang dipadukan dengan kemeja sutra berwarna putih gading. Tidak ada lagi keraguan dalam langkahku. Suara ketukan hak sepatuku di atas marmer adalah pernyataan bahwa sang pemilik otoritas telah tiba.

​Aku melewati meja resepsionis, mengangguk pada staf yang kini menatapku dengan binar penuh hormat—binar yang dulu hanya mereka berikan pada Kaivan. Saat aku berjalan melewati kubikel divisi riset menuju kantor privatku, aku melihat meja lama Kaivan. Meja itu kini sudah ditempati oleh seorang analis junior baru. Tidak ada lagi sisa-sisa tumpukan berkas yang berantakan, tidak ada lagi aroma kopi basi, dan yang paling penting, tidak ada lagi bayang-bayang pria yang selama tujuh tahun menghisap cahayaku.

​Aku masuk ke ruanganku. Di atas meja, sebuah folder tebal sudah menunggu. Ini adalah daftar kandidat untuk tim riset khusus yang akan kupimpin langsung di bawah bendera kemitraan dengan Adhitama Group.

​Ketukan di pintu membuyarkan fokusku. Maya melangkah masuk dengan senyum lebar, membawa sebuah map biru.

​"Sudah siap memilih 'pasukan' baru, Bu Lead?" goda Maya sambil meletakkan map tersebut.

​Aku terkekeh. "Berhenti memanggilku seperti itu, May. Kita masih di level yang sama."

​"Oh, tentu tidak," Maya duduk di depannya, wajahnya berubah serius. "Rel, lu harus tahu kalau kehadiran lu di posisi ini sudah mengubah standar di divisi ini. Anak-anak junior sekarang berebut ingin masuk tim lu. Mereka melihat lu bukan cuma sebagai pimpinan, tapi sebagai bukti kalau kerja keras dan kejujuran data itu punya harga."

​"Aku ingin kamu jadi tangan kananku, May," kataku tanpa basa-basi. "Aku butuh orang yang berani mengoreksiku kalau aku salah, bukan orang yang cuma bilang 'ya' demi cari muka."

​Mata Maya berbinar. "Lu serius? Lu tahu gue orangnya blak-blakan, kan?"

​"Justru itu yang kubutuhkan. Kita akan membangun tim yang bergerak berdasarkan validitas, bukan berdasarkan ego. Aku sudah cukup lama bekerja di bawah bayang-bayang ego seseorang, dan aku tidak ingin mengulanginya."

​Kami menghabiskan dua jam berikutnya menyeleksi kandidat. Aku memilih orang-orang yang selama ini terpinggirkan karena mereka tidak "sepandai" Kaivan dalam berdiplomasi, namun memiliki ketajaman analisis yang luar biasa. Aku sedang membangun fondasi baru, sebuah struktur yang tidak akan runtuh hanya karena satu orang pergi.

​Pukul satu siang, sebuah notifikasi muncul di layar ponselku. Bukan dari nomor kantor, melainkan dari nomor pribadi Bastian.

​Bastian: "Selamat atas tim barumu. Saya dengar dari Pak Dimas, kamu memilih orang-orang yang sangat kompeten. Ingin merayakannya dengan makan siang yang tidak formal? Saya sudah di parkiran basement."

​Aku tersenyum. Bastian selalu tahu kapan harus memberikan apresiasi tanpa terasa berlebihan. Aku menyambar tasku dan berjalan menuju lift. Saat aku keluar dari lobi, mobil sedan hitam milik Bastian sudah menunggu.

​"Kamu terlihat sangat sibuk hari ini," sapa Bastian saat aku masuk ke dalam mobil. Ia mengenakan kemeja biru muda yang lengannya digulung, terlihat jauh lebih santai namun tetap memancarkan karisma yang sama.

​"Membangun sesuatu yang baru butuh energi lebih besar daripada memperbaiki yang lama, Bastian," jawabku.

​Bastian membawaku ke sebuah restoran kecil namun sangat eksklusif di daerah Kebayoran Baru. Tempatnya tersembunyi di balik pepohonan besar, memberikan privasi yang jarang didapatkan di tengah Jakarta yang bising.

​"Jadi, bagaimana rasanya?" tanya Bastian setelah kami memesan makanan.

​"Rasanya? Seperti baru pertama kali bernapas setelah tenggelam selama tujuh tahun."

​Bastian menatapku lekat. "Dunia luar mungkin akan mencoba menarikmu kembali, Arelia. Saya dengar Kaivan mencoba menghubungi beberapa kolega saya untuk mendapatkan pekerjaan baru menggunakan referensimu."

​Aku terhenti sejenak saat hendak meminum air. "Lalu?"

​"Saya mematikan semua aksesnya," Bastian berkata dengan nada yang sangat tenang, seolah ia sedang membicarakan cuaca. "Saya tidak ingin seseorang yang pernah mencoba mencuri data strategis perusahaan saya berkeliaran di lingkungan profesional kolega saya. Dan saya juga ingin memastikan dia tahu bahwa pintu-pintu yang dulu terbuka karena namamu, sekarang sudah terkunci rapat."

​Aku menunduk, menatap pantulan diriku di dalam gelas. "Terkadang aku merasa bersalah, Bastian. Bagaimanapun, kami pernah bersama selama tujuh tahun."

​"Jangan tertukar antara rasa bersalah dan rasa kasihan, Arelia," Bastian mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah. "Kasihan adalah racun jika diberikan pada orang yang tidak mau berusaha. Kaivan bukan hancur karena kamu, dia hancur karena dia menganggap duniamu adalah miliknya. Sekarang, saat kamu mengambil kembali duniamu, dia baru sadar kalau dia sebenarnya tidak punya apa-apa."

​Percakapan kami berlanjut jauh lebih dalam. Bastian mulai bercerita tentang masa lalunya, tentang bagaimana ia pernah dikhianati oleh orang kepercayaannya sendiri saat ia baru mulai membangun Adhitama Group. Di balik sosoknya yang tampak sempurna dan keras, ternyata ada luka yang membuatnya menjadi sekuat sekarang.

​"Itulah sebabnya aku sangat menghargaimu, Arelia," ucap Bastian, kali ini ia meraih tanganku yang ada di atas meja. Genggamannya hangat dan memberikan rasa aman yang belum pernah kurasakan sebelumnya. "Karena di matamu, aku melihat kegigihan yang sama. Kamu tidak butuh diselamatkan. Kamu hanya butuh teman untuk berjalan bersama."

​Sore harinya, saat aku kembali ke kantor, Jakarta diguyur hujan lebat. Aku duduk di ruangan privatku, menatap rintik hujan yang membasahi jendela besar. Pemandangan ini selalu membuatku melankolis, namun kali ini, melankoli itu tidak terasa pahit.

​Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor asing.

​Unknown: "Rel, aku di depan gerbang kantormu. Satpam nggak kasih aku masuk. Nadine makin parah, dia beneran mau nyakitin diri sendiri kalau aku nggak bisa kasih kepastian soal uang kontrakan. Tolong, pinjamkan aku sedikit saja. Aku akan ganti setelah dapet kerjaan baru. Aku mohon, Rel. Demi masa lalu kita."

​Aku menatap pesan itu cukup lama. Dulu, aku akan langsung panik. Aku akan mentransfer uang yang ia butuhkan, bahkan mungkin aku yang akan menemui Nadine untuk menenangkannya. Aku akan menjadi pahlawan yang sebenarnya adalah budak emosi.

​Hari ini, aku melakukan sesuatu yang berbeda. Aku memblokir nomor tersebut.

​Aku tidak lagi bertanggung jawab atas "masa lalu". Masa lalu adalah pelajaran, bukan beban yang harus dibawa selamanya. Jika Kaivan tidak bisa membayar kontrakan, itu adalah masalahnya. Jika Nadine melakukan ancaman, itu adalah urusan medis dan keamanan. Bukan urusanku.

​Aku menutup ponselku dan kembali fokus pada layar laptop. Aku mulai menyusun strategi untuk presentasi besar bulan depan di hadapan dewan komisaris internasional.

​Tiba-tiba, Maya masuk dengan wajah sedikit tegang.

​"Rel, ada kiriman lagi di depan. Tapi ini bukan bunga."

​Aku mengernyitkan kening. Aku melangkah keluar dari ruanganku menuju meja resepsionis. Di sana, sebuah kotak kayu kecil tergeletak. Ada catatan di atasnya: "Untuk Arelia, yang lupa siapa yang membesarkannya."

​Aku membuka kotak itu di depan Maya. Di dalamnya ada sebuah plakat kecil—penghargaan pertama yang kami dapatkan sebagai tim tujuh tahun lalu. Plakat itu sudah retak, sengaja dirusak.

​"Pengecut," desis Maya. "Dia beneran mau main kotor lewat cara psikologis begini?"

​Aku menatap plakat retak itu. Jika ini terjadi sebulan lalu, aku mungkin akan menangis. Tapi sekarang, aku hanya melihat sebuah benda mati yang tidak memiliki kekuatan apa-apa.

​"May, tolong buang ini ke tempat sampah di lobi bawah. Pastikan masuk ke mesin penghancur," kataku tenang.

​"Lu nggak mau simpan buat bukti?"

​"Tidak perlu. Kenangan yang sudah dirusak bukan lagi kenangan, itu sampah. Aku tidak punya ruang untuk sampah di kantor baruku."

​Aku berbalik dan kembali ke ruanganku. Aku merasa sebuah kekuatan baru mengalir di nadiku. Aku baru saja memenangkan pertempuran batin yang paling sulit.

​Malam harinya, saat aku bersiap pulang, Bastian menelepon.

​"Saya dengar ada paket tidak menyenangkan sore ini. Kamu oke?"

​"Aku sangat oke, Bastian. Malah aku merasa sangat ringan. Ternyata melepaskan sisa-sisa terakhir itu rasanya melegakan sekali."

​"Bagus. Karena besok, kita punya perjalanan panjang. Saya ingin mengajakmu meninjau proyek di Bali minggu depan. Kita butuh perspektif baru, jauh dari hiruk pikuk drama Jakarta ini."

​"Bali?"

​"Ya. Dan kali ini, perjalanannya akan berbeda. Kita akan bicara tentang masa depan... yang nyata."

​Aku tersenyum, menatap refleksi diriku di jendela kaca kantor. Di balik kaca itu, lampu-lampu Jakarta tampak seperti harapan yang tidak lagi menyilaukan, melainkan menuntun.

​Nyaris jadi kita?

​Tidak. Kalimat itu sudah tamat. Kini, ceritanya adalah tentang "Aku" yang sedang belajar untuk menjadi "Kita" yang sehat bersama seseorang yang benar-benar tahu cara menghargai cahaya.

​Aku mematikan lampu kantorku, menguncinya, dan melangkah menuju lift. Di luar, hujan sudah berhenti, meninggalkan aroma tanah yang segar. Sama seperti hidupku yang baru saja selesai dibasuh badai, dan kini siap untuk menyambut matahari.

​Jakarta, aku siap untuk babak berikutnya.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!