NovelToon NovelToon
Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Prince Aurora

Sial! .

Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.

Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.

"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.

Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.

Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?

"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.


D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 — Berlutut

Sial.

Kata itu terus berputar di kepala Dominic Hega Oliver, seperti kutukan yang tak pernah selesai.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selalu berdiri tegak dengan harga diri setinggi langit itu… berlutut.

Di hadapan seorang wanita.

Di hadapan istrinya sendiri.

“Bella…”

Suaranya serak. Berat. Seolah setiap huruf yang keluar dari bibirnya harus dipaksa melewati rasa sakit yang menyesakkan dada.

Wanita di depannya tidak menjawab.

Bella hanya berdiri diam.

Tubuhnya tegak. Wajahnya tenang. Namun kedua matanya—yang dulu selalu penuh cinta saat menatap Dominic—kini hanya menyisakan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Hampa.

“Aku sudah minta maaf,” lanjut Dominic, lebih pelan. Tangannya mengepal di atas lantai marmer yang dingin. “Aku sudah menjelaskan semuanya. Apa… masih belum cukup?”

Bella tersenyum tipis.

Senyum yang tidak pernah Dominic lihat sebelumnya.

Bukan senyum manis.

Bukan senyum bahagia.

Tapi senyum yang terasa seperti pisau.

“Cukup?” ulang Bella pelan.

Ia menggeleng.

“Lucu sekali kamu, Uncle Dom.”

Panggilan itu biasanya terdengar manja di telinga Dominic. Panggilan khas yang selalu membuatnya merasa memiliki Bella sepenuhnya.

Tapi kali ini…

Nada itu dingin.

Menusuk.

Dominic menelan ludah. Dadanya terasa semakin sesak.

“Bella, dengarkan aku—”

“Tidak,” potong Bella tegas.

Satu kata.

Namun cukup untuk membuat Dominic terdiam.

Untuk pertama kalinya, pria itu tidak tahu harus berkata apa.

Bella melangkah satu langkah mendekat.

Sepatu heels-nya berbunyi pelan, namun di telinga Dominic terdengar seperti dentuman keras yang menghancurkan harga dirinya satu per satu.

“Kamu ingin aku dengar apa lagi?” tanya Bella lirih. “Alasan? Pembelaan? Atau mungkin… kebohongan yang kamu ulang-ulang sampai kamu sendiri percaya itu benar?”

“Tidak seperti itu—”

“Aku melihatnya sendiri, Dom.”

Kalimat itu membuat udara seolah berhenti.

Dominic terdiam.

Wajahnya menegang.

Bella menatapnya lurus.

“Aku tidak buta,” lanjutnya. “Dan aku juga tidak sebodoh itu.”

Sunyi.

Hanya suara napas Dominic yang terdengar berat.

Wanita itu tidak menangis.

Tidak berteriak.

Tidak histeris.

Dan justru itu yang membuat Dominic merasa lebih takut.

Karena Bella yang diam… jauh lebih berbahaya daripada Bella yang menangis.

“Aku salah,” akhirnya Dominic berkata, suaranya hampir tak terdengar. “Aku mengaku salah. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji.”

Janji.

Kata yang begitu mudah diucapkan.

Namun terlalu mahal untuk dipercaya kembali.

Bella tertawa kecil.

Pelan.

Sinis.

“Kamu tahu apa yang paling menyedihkan dari semua ini, Dom?”

Dominic mengangkat kepalanya.

Menatap wanita yang kini terasa begitu jauh, meski jarak mereka hanya beberapa langkah.

“Aku percaya sama kamu,” ucap Bella. “Sepenuhnya.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Dominic… itu seperti hukuman.

“Aku bahkan tidak pernah mencurigaimu,” lanjut Bella. “Saat kamu pulang larut. Saat kamu mulai dingin. Saat kamu menjauh tanpa alasan.”

Setiap kata yang keluar dari bibir Bella terasa seperti pukulan.

Telak.

Tanpa ampun.

“Aku membela kamu… bahkan saat semua orang bilang kamu berubah.”

Napas Bella sedikit bergetar.

Namun ia tetap berdiri tegak.

Tidak runtuh.

Tidak juga lemah.

“Tapi ternyata…” Bella berhenti sejenak. “Aku yang bodoh.”

“Bella, jangan bilang begitu—”

“Lalu aku harus bilang apa?”

Tatapan mereka bertabrakan.

Dominic membeku.

Untuk pertama kalinya… ia merasa kalah.

Bukan dalam bisnis.

Bukan dalam kekuasaan.

Tapi dalam sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Cinta.

“Aku mencintaimu, Dom,” bisik Bella.

Dan untuk sepersekian detik… harapan itu muncul lagi di mata Dominic.

Namun harapan itu hancur di detik berikutnya.

“Dulu.”

Satu kata.

Cukup untuk meruntuhkan segalanya.

Dominic menggeleng cepat.

“Tidak, Bella. Tidak seperti itu. Aku juga mencintaimu. Aku—”

“Cinta?”

Bella tersenyum lagi.

Namun kali ini lebih tajam.

“Kalau itu yang kamu sebut cinta…” ucapnya pelan, “aku tidak ingin memilikinya lagi.”

Jantung Dominic seperti diremas.

Ia bangkit sedikit dari posisi berlututnya, berusaha mendekat.

Tapi Bella mundur.

Satu langkah.

Dan jarak itu terasa seperti jurang yang tak bisa ia lewati.

“Jangan mendekat,” kata Bella dingin.

Dominic terhenti.

Tangannya menggantung di udara.

Tak berani menyentuh.

Tak mampu memaksa.

“Bella… tolong,” suaranya kini benar-benar hancur. “Kasih aku satu kesempatan lagi. Satu saja. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan jadi suami yang kamu mau.”

Sunyi.

Bella menatapnya lama.

Seolah menimbang sesuatu.

Seolah mengingat sesuatu.

Atau mungkin… sedang mengubur sesuatu.

Kemudian…

Ia menggeleng.

Pelan.

Tapi pasti.

“Kesempatan kedua?” ulang Bella.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Namun air mata itu tidak jatuh.

Tidak lagi.

“Kamu sudah mendapatkannya, Dom.”

Dominic terdiam.

Tidak mengerti.

Bella tersenyum pahit.

“Setiap kali aku memilih diam… itu adalah kesempatan kedua untukmu.”

Deg.

“Kamu hanya tidak pernah menyadarinya.”

Kalimat itu seperti petir.

Menghantam tanpa ampun.

Dominic membeku.

Tubuhnya terasa dingin.

Sementara Bella…

Akhirnya berbalik.

“Bella!”

Dominic refleks berdiri.

Langkahnya maju cepat.

Namun lagi-lagi… wanita itu berhenti tanpa menoleh.

“Jangan kejar aku,” ucap Bella.

Suaranya pelan.

Namun tegas.

“Karena kali ini… aku tidak akan berhenti.”

Dominic menelan ludah.

“Pergi ke mana?” tanyanya dengan suara yang hampir putus.

Bella tidak menjawab.

Hanya diam beberapa detik.

Lalu…

Dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, ia berkata:

“Ke tempat… di mana aku tidak perlu mencintai pria yang sama dua kali.”

Langkahnya kembali berjalan.

Meninggalkan Dominic.

Meninggalkan rumah itu.

Meninggalkan segalanya.

Pintu terbuka.

Lalu tertutup.

Dan dalam satu detik…

Dunia Dominic runtuh.

Pria itu berdiri di tempatnya.

Membeku.

Kosong.

Seolah jiwanya ikut pergi bersama wanita itu.

Namun ada satu hal yang tidak ia tahu.

Satu rahasia…

Yang Bella bawa pergi bersamanya.

Tangannya perlahan menyentuh perutnya.

Senyumnya pahit.

Matanya akhirnya basah.

“Aku tidak akan kembali, Dom…”

Bisiknya pelan.

“Bahkan untuk anak kita.”

END BAB 1 🔥

1
mimief
ini orang ga kerja kerja apa yaaa🙄
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
mimief
jadi...luluh kah?.
tapi siapa yg ga yaaa🫣
mimief
aku juga kalau jadi dia... bakalan goyah
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
Soraya
lanjut
mimief
kadang ga ngerti ya
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
aku bacanya ga nafas thor
mimief
jangan lemah...
ayo semangat bella
mimief
aku juga setuju lah Thor
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
mimief
hami yaa🥹🥹🥹
mimief
itu dia..
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mimief
yah begitulah semua lelaki
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
mimief
hiks....hiks.
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
mimief
kau berharap apa dom...
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
ya...tidak perlu mempertahankan yg ga mau bertahan buat kita🥹🥹
mimief: jujurly,aku si mau nya pisah
kita liat aja si dom ini
bener bener mau berubah atau tidak.
tapi Thor.... perselingkuhan itu seperti sakit kangker yg diam diam menyakiti kita dr dalam.
tak terlihat tapi sakitnya nyata.
walaupun mereka kembali lagi.
rasa itu ga akan sama...
ketidakpercayaan , curiga akan memberikan rasa sakit yg lebih🥹
total 2 replies
mimief
nyesek nya Ampe nembus layar Thor 🥹🥹
mimief
ya ampun aku Ampe ga nafas bacanya thor
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹
mimief: 🥹🥹🥹🥹🥹
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Isn't Aurora!!💫: tetep stay yaaa🤭😍
total 1 replies
Soraya
knp dobel thor
Isn't Aurora!!💫: iyaa maaf aku salah upload, makasi udah diingetin 😊
total 1 replies
Soraya
lebih baik kmu pergi Bella
Isn't Aurora!!💫: setuju bella pergi? 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!