Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Digigit semut
Setelah pintu terkunci dan tirai tertutup, Bara mendekati Kiara. Suasana mendadak hening dan mencekam. Kiara ketakutan, ia tak sengaja menelan permen karetnya.
“Kamu ingat hukuman yang saya janjikan jika kamu membuat kesalahan lagi?” Bara melepas dasinya, melipat lengan kemejanya dengan seringai tipis. Aura maskulinnya memenuhi ruangan, membuat Kiara teringat adegan film mafia.
“Om... mau apa?” Kiara merinding. Bara mendekapnya dari belakang, menghirup aroma rambut Kiara dalam-dalam.
“Saya belum keramas, Om. Rambut saya bau matahari.” bisik Kiara jujur.
“Kamu selalu membuat masalah, Kiara. Belajarlah untuk dewasa, kamu sudah menjadi seorang istri.” Bara menyibakkan rambut Kiara, mendaratkan kecupan di leher jenjangnya. Lama-kelamaan, kecupan itu berubah menjadi tanda kemerahan yang membuat Kiara tersentak kesakitan.
Gadis itu mendorong Bara dan lari ke dalam toilet karena panik. Tak lama, ia berteriak kencang, membuat Bara mendobrak pintu toilet. Kiara mencoba membuka jendela toilet, hendak melompat karena ketakutan yang tidak masuk akal.
“Kenapa, Kiara?”
“ Om…liat leher saya. Jadi biru ungukan. Ini semua gara-gara bibir om. Isttt” kesal Kiara.
Bara hanya terkekeh melihat satu mahakaryanya di leher Kiara.
“ Ini bagaimana menutupinya? Nanti orang-orang pada liat.”
“ Nggak usah kamu tutupi. Itu bagus kok.”
“ Bagus dari Hongkong. Om menyebalkan.” Kiara duduk di sofa dengan wajah merengut.
**
Keesokan paginya di SMA Pertiwi, Sean sudah menunggu di depan kelas. Melihat wajah Sean, Kiara kembali dihantui rasa bersalah. Ia hanya punya waktu lima hari lagi untuk memutuskan hubungan sesuai perintah Bara.
“Sedang menghitung apa?” tanya Sean dengan suara lembut dan senyuman yang selalu berhasil membuat Kiara terpaku.
“Kamu ingat hari ini tanggal berapa?”
“Empat belas.” jawab Kiara cepat.
“Ada apa dengan tanggal ini?” Sean memancing.
“Seharusnya hari ini Rima datang bulan. Dia menyuruhku mengingatkan...”
Sean terdiam, mencoba menahan rasa kecewanya. “Hari ini Anniversary kita, Kiara.”
Kiara tersentak. Rasa sedih menyelimuti hatinya. Sean menggandengnya ke halaman belakang sekolah dan memberikan coklat berbentuk hati yang besar.
“Happy Anniversary, sweetheart. Aku harap kita bisa selamanya.” ucap Sean tulus. Kiara terdiam, tahu bahwa hubungan ini akan berakhir tragis dalam hitungan hari.
“Tutup matamu. Aku punya sesuatu yang spesial.”
Kiara memejamkan mata, berharap ada hadiah manis lainnya. Sean mendekatkan wajahnya, hendak mencium bibir Kiara, namun ia terhenti saat melihat tanda keunguan di leher gadis itu.
“Kiara, ini kenapa?”
Kiara membuka mata, refleks menutupi lehernya. “Oh, ini... kemarin digigit sama semut.” Kata Kiara gugup. Dia tidak mungkin mengatakan cupang yang dilehernay itu karena ulah suaminya sendiri.
“Hah? Semut?” Sean terbelalak. Pikiran buruk mulai meracuni otaknya. Mana mungkin gigitan semut sebesar itu.
“Iya, digigit semut. Hehehe. Soalnya aku makan dikasur. Jadi semut pada datang deh. “ Kata Kiara menambah kebohongannya.
Sean semakin curiga dan kesal. Ia tau jelas tanda itu bukanlah bekas gigitan semut, melainkan bekas seseorang. Ia teringat kepada sosok 'Om' yang tiba-tiba muncul di hidup Kiara. Setelah Kiara kembali ke kelas, Sean segera menghubungi sebuah nomor.
“Halo, Om Bara. Saya Sean. Bisa kita bertemu? Saya ingin bicara sebagai sesama laki-laki.”
**
Pertemuan itu tidak terjadi di tempat sembarangan. Sean memilih sebuah lounge eksklusif di hotel berbintang demi berhadapan dengan Abraham Wijaya. Sean bahkan rela membolos, sebuah tindakan yang berisiko bagi reputasinya, demi menemui pria yang ia anggap sebagai ancaman.
Awalnya, Bara mengira remaja itu akan mengajaknya bicara di kedai kopi kasual atau restoran cepat saji. Ia tak menyangka jika ambisi Sean cukup besar untuk memesan tempat se-eksklusif ini.
"Halo, Om..."
Sean menyambut kedatangan Bara dengan sikap yang berusaha ia buat seformal mungkin, mencoba membangun wibawa di depan pria dewasa itu. Namun, pemandangan di atas meja justru mengkhianati usahanya. Di sana, tersaji segelas susu cokelat dingin dengan sedikit es dan sepiring fried cassava bumbu, camilan yang lebih dikenal sebagai tela-tela. Pilihan yang sangat mencerminkan selera remaja SMA.
"One Mocktail, please." ucap Bara tenang kepada pramusaji.
Pesanan itu seketika membuat Sean merasa insecure. Perbedaan kelas dan usia di antara mereka terasa kian nyata melalui pilihan minuman yang mendarat di meja.
"Maaf, kalau boleh tahu, dulu Om Bara kuliah di mana?" tanya Sean, mencoba menggali latar belakang pria yang kini menjadi pemilik perusahaan starship ternama di Jakarta itu.
"S1 saya di Inggris, dan S2 di Kanada." jawab Bara datar.
Glek.
Sean menelan ludah. Angka-angka tahun di sekolah terasa begitu jauh jika harus menyaingi profil pria di depannya. Ia masih duduk di kelas XI SMA Pertiwi, sementara Bara sudah menggenggam dunia bisnis. Namun, darah muda Sean menolak untuk terlihat kalah.
"One Cocktail, please!" seru Sean kepada pramusaji, mencoba menyamai level Bara.
Bara mengangkat alis, sedikit terkejut dengan keberanian atau lebih tepatnya kebodohan remaja itu. "Sean, apa remaja seumuranmu sudah diizinkan memesan minuman beralkohol? Sebaiknya kau minta izin pada ayahmu lebih dulu."
Sean tertegun. Ia hanya membaca menu sekilas dan mengira Cocktail adalah versi lebih keren dari Mocktail. Panik, ia segera merogoh ponselnya, mencari perbedaan kedua minuman itu di mesin pencari. Wajahnya memerah saat menyadari kesalahannya.
"Eh, Mbak, tidak jadi. Saya pesan cappucino saja.” ucapnya sambil menyengir canggung.
"Jadi, Sean... apa yang ingin kau bicarakan?" Bara langsung masuk ke inti persoalan. Wajahnya yang tegas, khas seorang duda muda berusia 27 tahun yang telah kenyang dengan asam garam kehidupan, kini menatap Sean tajam.
"Om Bara, saya tahu orang tua Kiara memberikan tanggung jawab kepada Om untuk menjaganya. Tapi Kiara bilang kalau Om bukan paman kandungnya. Tidak ada hubungan darah sama sekali. Jadi saya mohon, jaga jarak dengan pacar saya!"
Sudut bibir Bara terangkat membentuk senyum sinis. Jika ini situasi biasa, mungkin ia sudah memberi pelajaran keras pada pemuda ini. Namun, demi menjaga rahasia pernikahannya dengan Kiara, Bara menahan diri.
"Sean, jangan mengajariku soal hubungan darah. Kiara adalah tanggung jawabku. Dan tidak ada seorang pun yang berhak mengatur cara saya menjaganya, terutama kau."
"Om, Kiara itu polos dan terlalu lugu. Jangan manfaatkan keadaan itu untuk berbuat tidak senonoh padanya. Apa Om punya kelainan?"
Genggaman tangan Bara mengeras di bawah meja. "Kelainan apa yang kau maksud?" tantangnya dengan suara rendah yang mengintimidasi.
"Saya tahu apa yang Om lakukan kemarin pada Kiara. Dilehernya ada tanda dan saya tau itu pasti ulah Om. Meski pun Kiara berbohong kalau itu digigit semut!"
Bara memejamkan mata sejenak. Rasanya ia ingin sekali berteriak bahwa Kiara adalah istrinya yang sah, namun masa depan pendidikan gadis itu masih menjadi pertimbangan utamanya.
semangat💪 crazyup