NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Mobil mewah itu berhenti tepat di depan gedung pencakar langit milik Aditama Gold Group. Pintu terbuka, dan Sulthan turun dengan santai tapi tegas. Aura dingin dan serius kembali menyelimuti dirinya. Pikirannya tentang jodoh, tentang pesan nenek, seketika terhapus bersih.

Sekarang, dia adalah Sulthan Aditama yang sesungguhnya, seorang CEO yang memegang kendali atas ribuan karyawan dan aset bernilai triliunan rupiah. Tak ada tempat untuk melamun di sini.

"Selamat siang, Tuan Sulthan," sapa para staf dan resepsionis serempak saat dia melewati lobi.

Sulthan hanya mengangguk singkat tanpa menoleh, lalu langsung menuju lift eksekutif yang membawanya ke lantai paling atas, ruangan kerjanya yang luas dan mewah dengan pemandangan seluruh kota Surabaya.

Sesampainya di ruangan, dia meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu duduk di kursi kebesarannya yang empuk. Dia membuka laptop, memeriksa beberapa dokumen, dan mencoba fokus.

"Jun..." panggil Sulthan lirih tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.

Dalam hitungan detik, pintu ruangan terbuka. Seorang pria dengan penampilan rapi, mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam. Dia adalah Juniarta, asisten pribadi kepercayaan Sulthan.

Juniarta berusia 27 tahun, tiga tahun lebih muda dari bosnya. Jika dilihat sekilas, dia juga memiliki wajah yang tampan dan tubuh yang sangat proporsional. Tingginya sama persis dengan Sulthan, 185 cm, membuat mereka berdua terlihat seimbang saat berdiri berdampingan. Namun, perbedaannya terletak pada postur tubuh. Jika Sulthan berbadan kekar dan atletis karena rajin berolahraga berat, Juniarta lebih terlihat ramping namun tetap tegap dan sigap. Wajahnya lebih kalem dan terlihat lebih santai dibandingkan Sulthan yang selalu terlihat garang.

"Panggil saya, Bos?" tanya Juniarta dengan suara lantang namun sopan, sambil berdiri tegap di hadapan meja kerja.

Sulthan akhirnya mendongak, menatap asistennya itu. "Duduk. Ada yang perlu kita bahas soal rencana ekspansi."

"Siap." Juniarta menarik kursi dan duduk dengan posisi siap, membuka buku catatan kecilnya.

Sulthan menyandarkan punggungnya, lalu mulai bicara dengan tegas dan penuh wibawa. "Kemarin saya sudah bicara dengan Direksi. Kita sepakat, tahun ini kita harus buka cabang baru. Targetnya bukan di Surabaya lagi, pasar di sini sudah terlalu jenuh. Kita perlu merambah ke daerah lain yang potensial."

Juniarta mengangguk paham, jarinya siap mencatat. "Maksud Bos, daerah mana yang dimaksud?"

"Mojokerto," jawab Sulthan singkat. Mata tajamnya menatap Juniarta lekat-lekat. "Kita akan bangun toko perhiasan cabang baru di pusat kota Mojokerto. Lokasinya strategis, dan ekonomi di sana sedang bagus-bagusnya. Banyak pengusaha dan pejabat di sana, target pasar kita jelas."

Juniarta segera menuliskan kata 'Mojokerto' dengan huruf tebal di bukunya.

"Baik, Bos. Detailnya bagaimana? Apakah kita akan bangun gedung baru atau sewa tempat?" tanya Juniarta lagi, matanya tetap fokus.

"Bangun baru. Kita butuh gedung yang representatif, sesuai dengan citra merek Aditama Gold. Harus terlihat megah, mewah, tapi tetap elegan. Saya ingin cabang di sana menjadi salah satu toko emas terbesar dan termewah di sana," perintah Sulthan. "Kamu siapkan tim survei secepatnya. Cek lokasi, negosiasi lahan, dan siapkan rancangan anggarannya. Saya ingin laporan lengkapnya di meja saya paling lambat minggu depan."

"Siap, Bos. Saya akan kerjakan hari ini juga. Nanti sore saya akan berangkat ke sana bersama tim arsitek kalau Bos tidak keberatan," jawab Juniarta sigap. Dia memang dikenal sangat cepat dan teliti dalam bekerja, itulah sebabnya Sulthan sangat mempercayainya.

"Bagus. Lakukan saja. Pastikan semuanya berjalan lancar. Jangan sampai ada kesalahan, karena ini proyek besar pertama kita di luar kota besar," pesan Sulthan lagi.

"Dimengerti, Bos. Insya Allah tidak akan ada kendala. Saya pastikan proyek di Mojokerto akan berjalan sesuai target," jawab Juniarta dengan yakin.

Sulthan mengangguk puas. "Oke, itu saja untuk sekarang. Kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu."

Juniarta segera berdiri, merapikan bajunya sedikit, lalu pamit. "Baik, Bos. Kalau begitu saya izin keluar dulu."

Pintu tertutup kembali, menyisakan Sulthan sendirian di ruangan yang hening itu.

Dia kembali menatap layar komputernya, pikirannya kini penuh dengan angka, desain bangunan, dan strategi bisnis. Saat ini, prioritas utamanya hanyalah pekerjaan dan membesarkan perusahaan warisan orang tuanya.

Suasana di ruangan itu kembali hening. Namun tak lama kemudian, Sulthan kembali menekan tombol interkom di mejanya.

"Putri, masuk sini," ucapnya singkat melalui perangkat itu.

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka kembali. Dia adalah Putri, sekretaris pribadi Sulthan. Wanita muda dengan penampilan yang sangat rapi dan profesional.

Putri berusia 23 tahun, masih sangat muda namun sudah memegang posisi penting. Dengan tinggi badan 167 cm, postur tubuhnya sangat ideal dan proporsional. Wajahnya cantik dengan mata yang tajam namun ramah, dan penampilannya selalu terlihat modis tapi sopan. Berbeda dengan wanita-wanita lain yang sering berusaha menarik perhatian Sulthan, Putri sama sekali tidak pernah bersikap genit atau menggoda. Dia bekerja dengan sangat serius, tegas, dan selalu menjaga batas profesionalisme. Sikapnya yang dingin terhadap urusan pribadi inilah yang membuat Sulthan nyaman dan percaya penuh padanya.

"Selamat siang, Pak Sulthan," sapa Putri dengan suara jelas dan tegas sambil berjalan mendekat meja kerja, membawa beberapa berkas tebal di tangannya.

"Siang. Duduk," jawab Sulthan singkat.

Putri duduk di kursi tamu yang ada di hadapan meja bosnya, lalu meletakkan berkas-berkas itu dengan rapi.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Putri siap sedia.

"Saya mau lihat data penjualan bulan ini. Bagaimana perkembangannya? Apakah ada penurunan yang signifikan seperti prediksi ekonomi beberapa waktu lalu?" tanya Sulthan langsung pada intinya, matanya menatap lekat ke arah sekretarisnya itu.

Putri mengangguk, lalu segera membuka salah satu file berwarna biru yang menjadi laporan utama.

"Baik, Pak. Ini laporan lengkap penjualan Aditama Gold Group untuk bulan ini," jawab Putri tenang. Dia mulai menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti namun tetap detail.

"Secara keseluruhan, total omzet kita bulan ini mencapai angka 18,5 Miliar Rupiah, Pak. Jika dibandingkan dengan bulan lalu yang berada di angka 17,2 Miliar, justru terjadi kenaikan sekitar 7,5 persen."

Sulthan mengangkat sebelah alisnya, tampak antusias mendengar angka itu. "Oh? Naik ya? Saya kira akan stagnan atau turun."

"Awalnya kami juga memperkirakan akan ada penurunan, Pak, karena ada isu kenaikan harga dolar dan harga emas dunia yang fluktuatif," jelas Putri lagi sambil menunjuk grafik di kertas. "Ternyata permintaan masyarakat justru tinggi. Terutama untuk jenis perhiasan model terbaru dan emas investasi batangan. Cabang-cabang di luar kota juga mencatatkan penjualan yang sangat bagus."

Putri membalik halaman laporan itu. "Untuk detailnya, penjualan terbesar masih didominasi oleh kalangan pengusaha dan pernikahan, sekitar 60 persen. Sisanya dari pembelian ritel harian. Tidak ada cabang yang mencatatkan kerugian atau penurunan drastis, Pak. Semua masih dalam jalur hijau dan aman."

Sulthan mengambil laporan itu dari tangan Putri, lalu membaca sekilas angka-angka yang tertulis di sana. Jarinya menelusuri baris data dengan teliti. Wajahnya yang biasanya datar dan dingin kini terlihat sedikit lebih cerah.

"Hmm... Bagus. Kerja bagus," puji Sulthan tulus. Dia menutup kembali berkas itu dan meletakkannya di atas meja. "Saya suka dengan cara kamu menyajikan data. Jelas, ringkas, dan akurat. Tidak ada yang ditutup-tutupi."

"Terima kasih, Pak. Itu memang tugas saya untuk memastikan Bapak mendapatkan informasi yang valid dan cepat," jawab Putri sopan, senyum tipis terukir di bibirnya. Tidak ada senyum manja, hanya senyum kepuasan karena pekerjaannya dihargai.

"Pertahankan ya, Putri. Laporan ini akan saya bawa untuk rapat dengan pemegang saham besok. Kamu sudah membantu meringankan pekerjaan saya," kata Sulthan lagi.

"Siap, Pak. Ada lagi yang perlu disiapkan?" tanya Putri sigap.

"Tidak ada. Kamu boleh kembali bekerja," perintah Sulthan.

Putri segera berdiri, merapikan rok dan bajunya, lalu mengangguk hormat. "Baik, Pak. Kalau begitu saya izin keluar dulu."

Putri berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah anggun namun cepat. Pintu tertutup kembali, menyisakan Sulthan yang kini tersenyum puas.

"Bagus... penjualan naik, rencana buka cabang baru juga berjalan. Semuanya berjalan sesuai rencana," gumamnya.

Pikirannya sekarang penuh dengan angka keuntungan dan strategi bisnis. Dia benar-benar lupa dengan segala hal yang bukan urusan pekerjaan.

1
Hagia Sophia
kapan BAB pacarannya, lamaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!