Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jodoh 500 Juta?
Sera melihat jam yang ada di tangannya, sudah pukul 2 siang dan belum juga mendapatkan hasil yang memuaskan, semuanya masih penuh dengan tinta merah yang artinya masih harus di perbaiki.
"Kurang detail, lebih di perpaduan isinya, dan tolong di gunakan otaknya" gumam Sera membaca ulang perintah yang tertulis di dokumen yang di revisinya.
"Ya Tuhan, Graven!!" teriaknya kesal bercampur lelah pikiran.
Mega sampai terkejut, segera mengambil coklat hangat yang sudah disediakan untuk mengantisipasi hal terburuk yang akan terjadi.
Sera menerimanya dengan lirikan tajam, lalu meminum perlahan.
"Saya akan bantu Nona, jangan khawatir dan jangan menyerah, tinggal sedikit lagi, pasti selesai" Mega tak patah semangat.
"Ini sudah tiga kali aku revisi Mega, dan masih tetap ada saja yang harus aku ubah, sebenarnya apa sih maunya?"
"Kesempurnaan Nona, anggap saja begitu, pengalaman Tuan Graven jauh di atas kita, dan tidak ada salahnya kita menyerap semua ilmunya, iya kan?"
"Ilmu apa, aku lebih merasa dia mempermainkan kita!"
"Tidak, ini akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa nanti, ayo kita kerjakan Nona Sera, biar selesai sebelum jam pulang, tidak ingin lembur kan?"
"Ck, aku akan tetap pulang walau dia pengen aku revisi seratus kali, bodo amat!"
Mega menarik nafas dalam sekali, dan mungkin hampir tak bisa kembali, seandainya ada Harry di sini, mungkin dia sudah melampiaskan padanya dengan menghajarnya untuk memberitahu Tuannya agar tidak keterlaluan.
Waktu berlalu, nyatanya hasilnya masih tetap sama, Sera semakin mendapat banyak kritikan dan juga saran untuk melakukan pembenahan yang gila-gilaan.
"Brengsek!, ini sudah jam 5 sore, semua sudah pulang dan kita_?!" teriak Sera.
Kali ini, Mega tak lagi bersuara, dia juga begitu lelah dan tak ada tenaga untuk berdebat apapun lagi.
"Kita pulang!" teriak Sera.
Mega pun mengangguk pelan, lalu membereskan tas, dan tak peduli lagi dengan visi misi yang di janjikan pada Oma, ini sudah sangat di luar batas kemampuannya.
Keduanya berjalan keluar gedung, menuju mobil masing-masing yang kebetulan bersanding, Sera berhenti sejenak setelah membuka pintu mobilnya.
"Aku tidak peduli, besok aku CUTI!"
Blam
Pintu mobil tertutup cukup keras, Mega hanya menghela nafas.
"Mati aku" batinnya melas.
Mobil melaju begitu saja, dan Mega hanya bisa menatapnya, tak ada suara dan bahkan tubuhnya terasa lemas saat duduk di jok mobilnya.
Sesaat teringat, lalu membuka skedul kegiatan besok untuk Atasannya.
"Gusti_, besok ada rapat PENTING!, dua kegiatan darurat, dengan Investor asing dan Graven Rudolf" Mega langsung melorot, shock dan tak atau lagi apa yang bisa di lakukan kini.
*
*
Sera memarkir mobilnya dengan kasar, tak peduli akan posisi mobilnya yang malang melintang sembarangan, penjaga yang ada di Mansion hanya menggelengkan kepala.
Oma, melihat dari balik kaca, tidak ada wajah yang kesal atau marah sedikit pun, justru ada senyuman lembut penuh dengan maksud.
Menutup pintu mobil dengan kasar, Sera bahkan sempat sedikit mengumpat.
"Graven Brengsek!, jika posisimu sudah tidak lagi bekerja sama dengan perusahaan ku, aku akan membuat perhitungan dengan mu!, aku pastikan kau akan menyesal pernah berurusan dengan ku, sialan!"
Tanpa sadar Sera bahkan melemparkan sepatunya sendiri saat akan memasuki Mansion, beruntung dia sadar saat akan membuang tas nya yang hampir seharga mobilnya.
Berusaha untuk mengatur nafasnya yang memburu sesaat tadi, Sera kini membuka perlahan pintu dengan mengucapkan salam.
Ada suara yang menjawab, pelan dan tentu saja sangat di hafal oleh Sera.
"Aku pulang Oma" ucap Sera saat terlihat senyum wanita yang kini berjalan perlahan ke arahnya.
"Wah, cucu Oma sepertinya sangat lelah, senang melihatmu seperti ini untuk sesuatu yang bermanfaat sayang, bagaimana Megatan Company Hem?"
"Megatan Company baik-baik saja, tapi CEO nya yang menderita"
Oma tertawa lirih, lalu membelai wajahnya.
"Ada orang-orang hebat di sekitarmu, bahkan Mega 24 jam ada untuk mu, ditambah dengan seorang Rudolf muda, kamu pasti tidak terlalu kesulitan"
Rudolf muda?, ya Tuhan, justru dia yang membuat hidupnya bagai di neraka, dasar setan muda yang tak berperasaan dan suka sekali bekerja tak kenal batas waktunya, batin Sera.
"Sudahlah Oma, aku ingin mandi dan relaksasi" Sera memeluk Oma, lalu segera menuju ke lantai berikutnya, saat ini hanya ingin mandi dan berendam lebih lama.
Nyatanya, hanya sekejap saja Sera merasakan ketenangan, sekarang saat berada di meja makan, dia di hadapkan kembali dengan sesuatu yang lebih memusingkan lagi.
"Ada satu kandidat yang sampai di tangan Oma"
"Perjodohan lagi?"
"Apalagi, tentu saja hal itu sayang, bukankah itu sangat penting?" tanya Oma Alena.
"Bagi Oma"
"Bukan hanya Oma, tapi klan Nugraha"
"Oh my God" Sera hanya menghela nafas, heran, kenapa urusan melanjutkan keturunan menjadi begitu penting di usianya yang dirasa masih muda.
"Oma tidak capek?" tanya Sera.
"Tentu saja tidak, sejak kamu dan Alen memutuskan untuk ikut Oma, soal jodoh sangat Oma perhitungkan, jangan sampai kalian tidak mendapat bagian, ini tidak bisa Oma terima tentunya"
"My God Oma, laki-laki di dunia ini masih belum punah, kenapa se khawatir itu."
"Kita memang tidak kekurangan mereka, tapi Oma kekurangan niat dari mu dan juga adik sepupu mu"
"Aku masih muda Oma, jangan khawatir soal jodoh, bahkan di luaran sana banyak yang menginginkan kita"
"Tapi buktinya?, kamu bahkan tidak pernah pacaran atau hanya sekedar dekat dengan yang namanya laki-laki"
"Sudah ada Alen yang merepotkan ku Oma, untuk apa ada mereka yang menambah pusing kepala"
"Nah itu yang Oma khawatirkan, kalian terlalu nyaman dengan diri sendiri, tak menyadari jika pasangan itu juga sangat penting untuk masa depan nanti"
"Okey, Oma adalah sang penguasa, kami ikut saja"
"Oh sungguh manis cucu Oma" senyuman semanis madu satu kontainer langsung terlihat oleh Sera, tapi tidak semudah itu tentunya, batin Sera.
Ibarat buah jatuh se pohon-pohonnya, Sera pun kini sudah memikirkan siasat yang akan menguntungkan dirinya, tentunya bukan hanya Oma saja yang bahagia dong, Sera juga.
"Okey, jadi aku harus menemui nya kan Oma?, kapan?" tanya Sera dengan sorot mata yang berbinar penuh makna.
Oma tertawa, benar-benar klan keturunan Nugraha, cantik dan cerdas, untuk itu Oma semakin penasaran apalagi yang akan di perbuat.
"Besok malam?"
"Emm, okey, jangan sampai aku berpenampilan yang mengecewakan bukan, jadi tolong,_" Sera tersenyum lebar.
"Berapa?" tanya Oma Alena paham akan maksud cucunya.
"Aku rasa aku harus mengganti tas ku, gaun baru, sepatu dan parfum limited edition, jadi_"
"Lima ratus juta, cukup?"
Sera terkejut, dia sampai melongo, harapannya adalah Oma akan keberatan dengan permintaan konyolnya, setidaknya dia akan minta 200 juta, tapi kok malah ini di beri 500 juta dengan ter senyum manis pula, Oma sepertinya mulai terganggu mentalnya, batin Sera.
Bersambung, jangan lupa KOMEN ya
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭