Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Turbulensi dan Zona Asing
Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul enam pagi adalah sebuah ekosistem raksasa yang bernapas melalui ketergesaan. Ribuan manusia bergerak bagai koloni semut pekerja, menyeret koper beroda di atas lantai granit mengilap, berlomba melawan jadwal penerbangan yang tidak pernah mengenal kata kompromi.
Kanaya Larasati berdiri di tengah arus manusia itu, merasa seperti sepotong kayu apung yang terseret arus sungai deras.
Tidur kurang dari empat jam semalam sama sekali tidak membantu memulihkan sistem kognitifnya. Otaknya terasa seperti dilapisi kapas basah. Naya mengeratkan pegangannya pada tuas koper kabinnya—sebuah koper kanvas berwarna biru tua yang warnanya sudah memudar di bagian sudut, dan salah satu rodanya akan mengeluarkan bunyi decit menyebalkan jika ditarik terlalu cepat. Koper itu adalah saksi bisu perjuangannya sejak masa kuliah, sangat kontras dengan koper-koper berbahan polikarbonat mulus milik para penumpang di sekitarnya.
Naya menunduk, menatap penampilannya sendiri. Ia mengenakan kemeja katun putih lengan panjang yang digulung hingga ke siku, celana bahan berwarna hitam matte, dan sepasang sepatu pantofel datar yang mengutamakan fungsi di atas estetika. Sebuah ransel laptop hitam yang berat menggantung di bahu kanannya. Penampilannya adalah definisi mutlak dari seorang pekerja lapangan fungsional. Sangat praktis. Sangat tidak menarik.
Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara bandara yang dipenuhi aroma kopi murah dan disinfektan lantai, sebelum akhirnya melangkah menuju eskalator yang mengarah ke Garuda Executive Lounge.
Begitu Naya melangkah melewati pintu kaca buram otomatis yang menjadi gerbang masuk ruang tunggu eksklusif tersebut, atmosfer di sekitarnya berubah drastis dalam radius satu detik.
Suara bising pengumuman bandara dan derap langkah kaki terputus seketika, digantikan oleh alunan musik jazz instrumen yang mengalun sangat lembut dari pengeras suara tersembunyi. Karpet tebal bermotif etnik di bawah pijakannya meredam segala jenis suara. Udara di dalam ruangan ini terasa lebih sejuk, disaring dengan sempurna, dan membawa aroma kopi Arabika panggang premium yang bercampur dengan wangi mentega dari rak pastri.
Naya menelan ludah. Rasa salah tempat (imposter syndrome) seketika merayap naik dari ujung kakinya, mencekik pangkal tenggorokannya.
Orang-orang yang duduk di sofa-sofa kulit berlengan lebar di ruangan ini memancarkan aura uang lama (old money) atau setidaknya aura kesuksesan korporat tingkat tinggi. Para eksekutif berjas tailor-made, pengusaha dengan jam tangan yang harganya bisa untuk membeli apartemen Naya, dan beberapa selebritas yang menyembunyikan wajah di balik kacamata hitam desainer.
Mata Naya menyapu penjuru ruangan eksklusif yang luas itu. Instingnya dengan cepat menemukan sosok yang secara gravitasi selalu menarik seluruh fokusnya.
Arjuna Dirgantara duduk di sebuah sofa kulit berwarna burgundy di sudut paling privat di ruangan itu, terisolasi dengan sempurna dari keramaian penumpang lain.
Pria itu sudah menanggalkan jas formalnya. Ia kini hanya mengenakan kemeja navy gelap yang lengan panjangnya telah digulung rapi hingga ke batas siku, mengekspos otot lengan bawahnya yang kokoh dan sebuah jam tangan Vacheron Constantin berdesain minimalis namun luar biasa mahal. Juna sedang mengetik sesuatu di layar laptop tipisnya dengan kecepatan konstan yang mematikan. Matanya yang tajam terkunci pada deretan angka di layar, sama sekali tidak memedulikan sekitarnya.
Di sofa seberangnya, Riko sedang berbicara di telepon dengan nada tertahan, sesekali mencatat sesuatu di atas tabletnya.
'Lihatlah dia,' batin Naya, menyipitkan matanya dari kejauhan. 'Duduk di sana seolah dia adalah penguasa absolut dari bandara ini. Posturnya bahkan tidak sedikit pun mengendur meski ini masih pukul enam pagi. Apakah pria ini tidak pernah merasakan pegal linu seperti manusia normal?'
Naya menarik napas dalam-dalam, menegakkan tulang punggungnya, memasang wajah sedatar dan seprofesional mungkin, lalu mulai menyeret koper tuanya yang berdecit pelan menghampiri meja mereka. Setiap langkahnya terasa berat, seolah gravitasi di sekitar Juna memiliki massa jenis yang lebih padat.
"Selamat pagi, Pak Arjuna, Mas Riko," sapa Naya saat ia tiba di batas area tempat duduk mereka. Suaranya dijaga agar tidak bergetar.
Riko menoleh, menutup mikrofon ponselnya sejenak dan memberikan senyum sopan. "Selamat pagi, Mbak Naya. Silakan duduk, penerbangan kita masih empat puluh lima menit lagi."
Berbeda dengan asistennya, Juna sama sekali tidak menghentikan ritme ketukan jarinya di papan ketik. Pria itu hanya mengangkat wajahnya sekilas—sebuah gerakan mikro yang nyaris tak terlihat.
Mata hitam kelam Juna memindai penampilan Naya dari ujung sepatu pantofel datarnya, merambat naik ke celana bahan hitamnya, kemeja putihnya yang sedikit kebesaran, hingga ke wajah Naya yang dilapisi riasan sangat tipis. Proses pemindaian itu memakan waktu kurang dari dua detik, namun di bawah tatapan Juna, Naya merasa seolah seluruh lapisan perlindungannya baru saja dikuliti dengan pisau bedah.
"Duduklah. Jangan berdiri mematung seperti satpam bank di depan saya," ucap Juna, suaranya sedatar dan sedingin lantai marmer. Ia kembali memfokuskan pandangannya ke layar laptop. "Dan pastikan roda koper Anda yang berisik itu tidak merusak konsentrasi saya."
Naya menggigit bagian dalam bibirnya keras-keras. Rasa panas seketika menjalar ke telinganya.
'Pria ini benar-benar tidak memiliki filter empati di otaknya,' rutuk Naya dalam hati. Ia menjejalkan koper birunya ke sudut sofa dengan gerakan sedikit kasar, memastikan rodanya tidak lagi bersentuhan dengan lantai.
Naya mengambil tempat duduk di sofa single di seberang Juna, meletakkan ransel laptopnya di pangkuan, dan memeluknya erat-erat seolah benda itu adalah tameng pelindung dada. Keheningan canggung seketika menyelimuti segitiga meja tersebut. Hanya terdengar suara ketukan keyboard Juna yang ritmis.
'Ya Tuhan, ini baru di ruang tunggu bandara,' batin Naya di ambang keputusasaan. 'Bagaimana aku bisa bertahan berhari-hari di Bali bersamanya? Bagaimana aku bisa menjaga kewarasanku jika dia terus-menerus menatapku seolah aku adalah bakteri yang menempel di ujung sepatunya?'
Pikiran Naya tanpa sadar kembali terlempar pada memori memalukan malam sebelumnya. Memori di dalam kabin mobil Maybach yang hangat. Memori tentang bagaimana kepalanya tersandar dengan begitu nyaman di atas telapak tangan kanan pria yang kini duduk dengan arogan di hadapannya itu.
Naya refleks membuang pandangannya ke arah jendela raksasa yang menampilkan deretan pesawat di landasan pacu. Ia menelan ludah berkali-kali, berusaha mengusir imajinasi tentang aroma vetiver yang tiba-tiba seolah kembali tercium oleh hidungnya. Ia menolak menatap tangan kanan Juna yang sedang menari di atas keyboard.
Setengah jam kemudian, panggilan untuk boarding berkumandang dari pengeras suara.
Juna menutup laptopnya dengan satu gerakan presisi. Ia berdiri, mengambil jas navy-nya yang tersampir di sandaran kursi, lalu menyampirkannya di lengan kiri. Tanpa memberikan instruksi apa pun, ia melangkah maju menuju pintu keluar lounge. Riko bergegas menyusul di belakangnya.
Naya kalang kabut menyeret ransel dan kopernya untuk menyusul langkah panjang kedua pria itu.
Saat mereka tiba di gate keberangkatan, antrean penumpang kelas ekonomi sudah mengular panjang. Naya secara refleks mengarahkan langkahnya menuju antrean panjang tersebut, menyadari posisinya sebagai karyawan level staf.
Namun, sebelum ia mengambil langkah kedua, Riko menahan sikunya pelan.
"Mbak Naya," panggil Riko dengan suara rendah, menunjuk ke arah jalur karpet biru yang kosong melompong. "Jalur kita di sebelah sini. SkyPriority."
Naya tertegun. Ia menatap tiket digital yang dikirimkan oleh HRD ke emailnya semalam. Matanya baru menyadari ada cetakan huruf kapital berwarna emas di sana: BUSINESS CLASS - SEAT 2A.
'Kelas Bisnis?' batin Naya, perutnya mendadak melilit. 'Kenapa HRD memesankan tiket Kelas Bisnis untuk staf desainer junior sepertiku? Ini pasti kesalahan sistem.'
Namun Naya tidak memiliki waktu untuk berdebat. Juna sudah melangkah melewati petugas pemeriksaan tiket tanpa hambatan. Naya terpaksa menyeret kopernya mengikuti langkah Riko melintasi jalur karpet biru tersebut, menerima tatapan penasaran dari puluhan penumpang di antrean ekonomi.
Saat Naya melangkah masuk ke dalam kabin pesawat, perbedaan kasta sosial itu kembali menampar wajahnya dengan brutal.
Kabin Kelas Bisnis didominasi oleh warna cokelat kayu yang hangat, aksen emas, dan kursi-kursi kulit berukuran masif yang lebih menyerupai singgasana pribadi daripada kursi transportasi umum. Jarak antar baris begitu luas, memberikan privasi absolut bagi penumpangnya.
Namun, privasi itu menjadi sebuah ironi yang menyiksa bagi Kanaya Larasati.
Riko mengambil tempat duduk di baris ketiga, kursi tunggal di sudut kanan. Sementara nomor kursi Naya—2A—berada tepat di baris kedua. Bersebelahan langsung tanpa sekat pemisah lorong dengan kursi 2B.
Kursi yang saat ini sudah diduduki oleh Arjuna Dirgantara.
Naya menelan ludah yang terasa sepahit obat. Ia berdiri di lorong kabin, menatap kursi kosong di sebelah bosnya itu seolah benda itu adalah kursi listrik. Juna sudah duduk bersandar, membuka kembali laptopnya di atas meja lipat, sama sekali tidak menoleh ke arah Naya yang mematung di lorong.
'Maju, Naya. Kau tidak bisa berdiri di sini selamanya seperti orang bodoh,' Naya memarahi dirinya sendiri.
Ia melangkah masuk ke celah kursi, mencoba mengabaikan lututnya yang gemetar. Masalah berikutnya langsung menghadang: kompartemen kabin di atas kepalanya.
Koper kanvas biru milik Naya mungkin terlihat kecil, namun isinya dijejali oleh buku referensi material, katalog marmer tebal, dan perangkat keras penyimpanan data. Bebannya jauh lebih berat daripada tampilannya. Naya berjinjit, mengangkat koper itu dengan kedua tangan, dan berusaha menjejalkannya ke dalam kompartemen atas.
Otot lengannya bergetar menahan beban. Koper itu tersangkut di bibir kompartemen.
Naya mendengus pelan, mengubah posisi tumpuan kakinya, dan mendorong lebih keras. Keringat dingin mulai merembes di tengkuknya. Ia benci terlihat lemah. Ia sangat benci harus meminta bantuan, terutama di depan pria yang duduk hanya berjarak beberapa belas sentimeter dari pinggulnya saat ini.
Di kursinya, Juna diam-diam menghentikan ketukan jarinya di keyboard.
Melalui sudut matanya, Juna mengamati pergerakan gadis di sebelahnya. Ia melihat bagaimana kemeja putih Naya tertarik tegang di bagian punggung saat gadis itu memaksakan diri mendorong beban yang melebihi kapasitas otot lengan atasnya. Juna juga melihat bagaimana buku jari Naya memutih karena cengkeraman yang terlalu kuat.
'Dia tidak akan meminta bantuan,' batin Juna, sebuah kesimpulan yang ditarik dari observasinya selama ini. 'Gengsinya lebih besar daripada ototnya. Gadis bodoh. Dia bisa mencederai bahunya sendiri sebelum pesawat ini bahkan lepas landas.'
Juna menghela napas panjang—sebuah hembusan napas yang nyaris tak terdengar, namun sarat akan rasa frustrasi yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia menutup layar laptopnya, melepaskan sabuk pengaman yang baru saja ia pasang, dan berdiri. Gerakannya begitu cepat, senyap, dan presisi.
Sebelum Naya menyadari apa yang terjadi, sebuah dada bidang berbalut kemeja navy telah berada tepat di belakang bahu kirinya. Sangat dekat hingga Naya bisa merasakan radiasi kehangatan tubuh pria itu menembus kain kemejanya. Aroma vetiver dan lada hitam seketika menyergap seluruh sistem sensoriknya, membuat paru-paru Naya berhenti bekerja secara otomatis.
Sebuah tangan yang besar dan kokoh dengan urat-urat menonjol terjulur dari arah belakang, melewati sisi wajah Naya. Tangan itu mencengkeram gagang koper biru milik Naya.
"Lepas," suara bariton Juna bergema rendah tepat di dekat telinga kiri Naya. Getaran suara itu merambat masuk melalui udara, menyentuh gendang telinga Naya dengan cara yang sangat invasif.
Tubuh Naya menegang kaku. Otaknya mengalami korsleting sesaat. Ia secara refleks melepaskan pegangannya pada koper tersebut dan mundur setengah langkah, nyaris menabrak sandaran kursi.
Hanya dengan satu dorongan mulus yang tidak terlihat membutuhkan usaha berarti, Juna mengangkat koper berat itu dan menjejalkannya masuk ke dalam kompartemen. Ia menutup pintu kompartemen dengan bunyi klik yang tegas.
Juna menunduk, memutar kepalanya sedikit untuk menatap Naya yang kini berdiri mematung di bawah lengannya yang masih terangkat. Jarak wajah mereka tidak lebih dari sepuluh sentimeter.
Untuk sepersekian detik, waktu di dalam kabin pesawat itu seolah membeku. Naya bisa melihat bayangan dirinya sendiri memantul di kedalaman pupil mata Juna yang hitam kelam. Ia bisa melihat rahang Juna yang mengeras, dan ujung hidung pria itu yang nyaris bersentuhan dengan helai rambutnya.
'Mundur, Naya. Berhenti menatapnya seperti orang idiot,' batin Naya berteriak panik, namun kakinya seolah dipaku ke lantai kabin berlapis karpet itu. Jantungnya bergemuruh liar, memukul-mukul tulang rusuknya meminta jalan keluar.
Juna adalah orang pertama yang memutuskan kontak mata itu. Ia menurunkan lengannya, memutar tubuhnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan kembali duduk di kursinya seolah tidak ada satu pun insiden yang baru saja terjadi. Ia kembali membuka laptopnya.
"Duduk dan pasang sabuk pengaman Anda, Kanaya," instruksi Juna datar, matanya sudah kembali terkunci pada deretan grafik saham. "Anda menghalangi jalan pramugari."
Naya mengerjap cepat, menarik oksigen ke dalam paru-parunya dengan rakus. Wajahnya memanas hebat. Ia segera menjatuhkan tubuhnya ke kursi besar yang luar biasa empuk itu, memasang sabuk pengaman dengan tangan yang sedikit gemetar, dan memalingkan wajahnya menatap jendela oval di sebelah kirinya.
'Dia hanya menyingkirkan koperku karena aku menghalangi pandangannya. Itu saja. Jangan membuat interpretasi konyol, Naya,' Naya merapal dogma pertahanan di dalam otaknya berulang kali. 'Dia tidak peduli. Dia hanya tidak sabaran. Mesin korporat tidak memiliki emosi.'
Namun, terlepas dari segala sugesti logis yang ia ciptakan, Naya tidak bisa mengabaikan fakta bahwa sisa aroma tubuh Juna masih tertinggal pekat di udara sekitarnya, menolak untuk menghilang.
Dua puluh menit kemudian, pesawat Airbus A330-300 itu mulai bergerak meluncur menuju landasan pacu. Suara pramugari yang memberikan instruksi keselamatan mengudara di kabin melalui pengeras suara.
Naya menegakkan punggungnya. Tangannya secara otomatis meraba sandaran tangan di kedua sisi kursinya dan mencengkeramnya erat-erat.
Naya tidak memiliki fobia akut terhadap penerbangan (aviasi). Ia tidak takut pada ketinggian. Namun, ia memiliki masalah psikologis yang sangat mendasar: ia sangat membenci sensasi kehilangan kendali. Saat tubuhnya berada di dalam sebuah tabung logam raksasa berbobot ratusan ton yang melesat melawan gravitasi, Naya tidak memiliki kontrol atas apa pun. Hidupnya berada di tangan instrumen mesin dan dua pilot yang bahkan tidak ia kenal. Sensasi ketidakberdayaan itulah yang memicu adrenalin paniknya.
Pesawat berbelok memasuki landasan pacu utama. Mesin jet Rolls-Royce Trent 700 menderu dengan kekuatan maksimal. Pesawat melesat ke depan dengan akselerasi yang memekakkan telinga.
Gaya dorong (G-force) menghantam tubuh Naya, menekannya ke sandaran kursi. Naya memejamkan matanya rapat-rapat. Buku-buku jarinya memutih karena cengkeramannya yang terlalu kuat pada sandaran tangan berbahan kulit itu. Ia menahan napas hingga roda pesawat akhirnya terangkat dari aspal dan hidung pesawat menukik tajam membelah awan tebal Jakarta.
Lima belas menit pertama penerbangan berjalan mulus. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman dimatikan. Pramugari mulai berjalan membagikan minuman selamat datang. Naya mulai bisa mengendurkan cengkeramannya dan mengatur napasnya.
Namun, kedamaian itu hanya ilusi sesaat.
Saat pesawat menembus formasi awan cumulonimbus tebal di atas Laut Jawa, kabin mendadak berguncang keras. Sebuah turbulensi awal yang cukup kasar.
Guncangan itu membuat minuman di dalam gelas kaca milik Juna tumpah beberapa tetes ke meja lipat. Pesawat terasa seperti anjlok beberapa meter ke bawah sebelum mesin kembali meraung menstabilkan daya dorong.
Naya tersentak. Seluruh otot di tubuhnya menegang seketika. Tangannya kembali mencengkeram sandaran tangan, kali ini dengan kekuatan yang jauh lebih putus asa. Kuku-kukunya menancap ke material kulit kursi. Matanya terpejam sangat rapat hingga menimbulkan kerutan dalam di sudut kelopaknya.
Guncangan kedua terjadi, lebih brutal dari yang pertama. Kali ini diiringi suara derit mengerikan dari sambungan kompartemen atas dan guncangan troli makanan di lorong belakang. Lampu tanda sabuk pengaman kembali berdenting nyaring dengan warna merah yang mengancam. Suara kapten pesawat memerintahkan awak kabin untuk duduk segera berkumandang.
Pesawat kembali anjlok secara vertikal, membuat perut Naya terasa tertinggal di udara.
Naya menahan napasnya secara refleks. Otaknya memproyeksikan skenario terburuk yang bisa diciptakan oleh seorang arsitek yang terlalu paham tentang kegagalan struktur. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk mencegah suara rintihan ketakutan keluar dari mulutnya. Ia sangat benci menunjukkan kelemahan. Apalagi di depan pria di sebelahnya ini.
Di kursinya, Juna diam-diam telah menghentikan seluruh aktivitasnya sejak guncangan pertama.
Melalui sudut matanya, Juna mengamati reaksi Naya dengan intensitas penuh. Ia melihat tangan gadis itu yang bergetar kecil di sandaran kursi yang membatasi wilayah mereka. Ia melihat rahang Naya yang mengeras hingga otot lehernya menonjol. Ia melihat bibir pucat yang digigit terlalu kuat hingga nyaris berdarah. Ia bahkan bisa mendengar napas gadis itu yang tertahan dan bergetar.
'Dia panik parah,' batin Juna, sebuah konklusi logis yang segera direspons oleh anomali di dadanya.
Ada dorongan instingtif, sebuah impuls liar yang tiba-tiba menyusup ke otak Juna—keinginan untuk mengulurkan tangannya, menumpuk tangannya di atas tangan Naya yang bergetar, dan mengatakan kalimat-kalimat penenang yang klise.
Namun, Juna segera membunuh impuls itu di dalam kepalanya. Otot rahang Juna mengeras. Ia tidak tahu bagaimana cara melakukan itu. Ia tidak pernah diajari bagaimana cara menenangkan orang lain.
Di dalam kamus keluarga Dirgantara, kepanikan adalah sebuah cacat mental. Sebuah kelemahan logika yang harus disingkirkan, bukan ditenangkan. Ayahnya tidak pernah memeluknya saat ia bermimpi buruk di masa kecil; ayahnya menyuruhnya membaca buku anatomi agar ia tahu bahwa mimpi hanyalah proyeksi sisa memori di korteks otak.
Guncangan ketiga menghantam pesawat, membuat sayap pesawat di luar jendela terlihat melengkung naik turun dengan sudut yang mengerikan.
Naya menarik napas pendek yang terdengar seperti isakan tertahan. Tubuhnya semakin meringkuk kaku.
Juna tidak bisa menahannya lagi. Ia mematikan layar laptopnya, menutupnya, dan meletakkannya dengan kasar ke laci di samping kursi. Ia memutar sedikit tubuhnya menghadap Naya.
"Tegangan lentur dinamis," suara bariton Juna tiba-tiba memecah suara deru bising mesin jet dan guncangan kabin.
Naya tidak membuka matanya, namun dahinya berkerut samar mendengar istilah fisika acak yang tiba-tiba diucapkan oleh bosnya di tengah situasi hidup dan mati ini.
"Sayap pesawat Airbus A330 ini dirancang menggunakan campuran material komposit karbon polimer dan paduan aluminium tingkat tinggi," lanjut Juna. Suaranya sengaja diturunkan satu oktaf, menjadi sangat pelan, sangat datar, namun luar biasa jernih. Frekuensi suaranya memotong kepanikan Naya seperti pisau panas memotong mentega. "Dalam uji stres aerodinamika di lorong angin, sayap ini dirancang untuk bisa melengkung hingga nyaris sembilan puluh derajat ke atas tanpa mengalami patah fraktur."
Naya masih memejamkan mata, namun ia tanpa sadar mulai memfokuskan pendengarannya pada suara Juna, mengabaikan suara derit kabin di sekitarnya.
"Guncangan turbulensi clear-air yang sedang kita alami saat ini bahkan tidak mencapai tiga persen dari batas toleransi struktural maksimal sayap tersebut," Juna terus berbicara, seolah ia sedang membacakan spesifikasi material beton di ruang rapat direksi.
"Sayap itu dirancang fleksibel justru untuk menyerap energi kinetik dari angin yang menghantamnya, Kanaya. Sayap itu berdansa dengan turbulensi, bukan melawannya. Prinsip kerjanya persis sama dengan fondasi elastomeric bearing pad pada bangunan pencakar langit tahan gempa... yang Anda tulis secara ekstensif di bab tiga tesis Anda saat melamar pekerjaan di perusahaan saya."
Perhatian Naya seketika terenggut sepenuhnya. Rasa mual akibat gravitasi yang mengaduk perutnya sejenak menguap, digantikan oleh gelombang keterkejutan yang luar biasa masif.
'Dia... dia mengingat detail tesis teknisku?' batin Naya tak percaya, otaknya mengalami stagnasi sesaat. Tesis itu ia tulis lebih dari dua tahun yang lalu dan hanya terlampir sebagai pelengkap di halaman paling belakang portofolionya. Mengapa seorang CEO sibuk mengingat detail spesifik seperti itu?
"Ini murni hukum fisika fluida, Naya. Tidak ada yang magis, tidak ada yang tidak bisa dikalkulasi, dan tentu saja tidak ada yang mematikan dari turbulensi ini. Otak reptilian primitif Anda hanya sedang mengalami disorientasi akibat perubahan tekanan gravitasi mendadak," Juna menyelesaikan penjelasan teknisnya dengan tanpa belas kasihan.
Juna perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka. "Lepaskan cengkeraman putus asa Anda pada kursi saya. Anda merusak tekstur kulit Nappa-nya, dan Anda menyumbat aliran darah di jari Anda sendiri."
Perlahan, sangat perlahan, Naya membuka sebelah matanya. Lensa matanya langsung bertabrakan dengan sepasang mata hitam pekat yang sedang menatapnya lekat-lekat dari jarak kurang dari setengah meter.
Tatapan Juna tidak memancarkan simpati. Tidak ada kelembutan atau rasa kasihan di sana. Tatapan itu murni rasional, dingin, dan memerintah.
Namun, entah bagaimana, penjelasan teknis yang kaku, menyebalkan, dan tidak berperasaan itu bekerja secara ajaib pada struktur otak Naya. Logika fisika yang Juna sodorkan berhasil mengembalikan pijakan akal sehat yang sempat hilang ditelan kepanikan. Fakta bahwa Juna menganggap situasi ini begitu remeh hingga ia lebih peduli pada kulit kursi pesawat, membuat Naya merasa kebodohannya tidak berdasar.
Perlahan, Naya mengendurkan cengkeramannya dari sandaran tangan. Otot-otot lengannya yang kram mulai terasa perih saat darah kembali mengalir. Napasnya mulai menemukan ritme yang teratur seiring dengan guncangan pesawat yang perlahan mulai mereda saat kapten berhasil membawa pesawat keluar dari formasi awan badai.
"Terima kasih atas kuliah umum teknik penerbangannya yang sangat... komprehensif, Pak Arjuna," balas Naya, nadanya sengaja dibuat defensif dan sedikit sarkastis untuk menutupi rasa malunya karena tertangkap basah sedang ketakutan. "Saya hanya tidak menyukai sensasi kehilangan kendali atas orientasi spasial saya. Itu saja."
Juna tidak tersenyum. Namun, untuk sepersekian detik, ujung luar matanya sedikit berkerut—sebuah perubahan mikro yang menandakan bahwa ketegangan di wajahnya telah mengendur.
"Di dunia nyata, kehilangan kendali terkadang bukanlah sebuah cacat yang fatal, Naya. Hanya sebuah ketidaknyamanan operasional yang harus dikelola," respons Juna pelan, suaranya terdengar lebih seperti sedang berdebat dengan dirinya sendiri di dalam batinnya.
Juna menarik kembali tubuhnya, menjauh dari Naya. Ia kembali meraih laptopnya dari dalam laci. "Tidurlah. Kita masih memiliki waktu tempuh lima puluh menit sebelum mendarat di Ngurah Rai. Jadwal inspeksi pabrik siang ini akan sangat menguras stamina fisik Anda, dan saya pastikan saya tidak akan memberikan kelonggaran tenggat waktu hanya karena Anda mengeluh jetlag."
Naya mendengus pelan, memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela yang kini menampilkan hamparan awan putih bersih di bawah mereka.
'Tentu saja. Dia hanya peduli pada jadwal inspeksi pabrik marmernya. Dia menenangkanku karena dia takut aku akan hiperventilasi, pingsan, dan merusak efisiensi waktu proyeknya,' Naya menyimpulkan dalam sanubarinya, membangun kembali tembok batu bata pertahanannya tinggi-tinggi. 'Jangan tertipu oleh kuliah fisikanya, Kanaya. Dia tidak peduli padamu sebagai manusia.'
Namun, terlepas dari seluruh pertahanan batinnya, sisa penerbangan itu dihabiskan Naya tanpa bisa memejamkan mata walau sedetik pun. Otaknya terlalu sibuk, terlalu bising mencerna fakta kontradiktif yang baru saja terjadi.
Fakta bahwa Arjuna Dirgantara, sang tiran tak berhati, baru saja menggunakan satu-satunya bahasa yang ia pahami—logika sains yang dingin—hanya untuk menenangkan kepanikan seorang bawahan.
Udara panas tropis yang pekat dan lembap langsung menyergap pori-pori kulit begitu mereka melangkah keluar dari area kedatangan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Hembusan angin laut membawa aroma khas Bali yang menenangkan; perpaduan antara bunga kamboja, garam laut, dan dupa sesajen canang sari.
Sebuah mobil SUV bongsor berwarna hitam mengilap telah menanti mereka di jalur penjemputan VIP.
Begitu tiba di samping mobil, Naya langsung melepaskan kardigan abu-abunya. Ia hanya mengenakan kemeja katun tipis, tak kuasa menahan serangan kelembapan udara yang membuat punggungnya seketika berkeringat.
Di sebelahnya, Juna juga melakukan penyesuaian fisik yang membuat pergerakan mata Naya terhenti selama tiga detik penuh.
Pria itu melepaskan jas navy-nya dan menyerahkannya kepada Riko. Tanpa memedulikan sekitarnya, Juna melonggarkan ikatan dasinya dengan satu tarikan kasar dan melepasnya. Ia kemudian membuka dua kancing teratas kemejanya secara paksa, mengekspos garis leher dan tulang selangkanya yang tegas. Juna menggulung lengan kemejanya lebih tinggi hingga melewati siku, memperlihatkan urat-urat kokoh yang membelah kulit kecokelatannya. Sebagai sentuhan akhir, ia mengambil kacamata hitam model aviator dari saku kemejanya dan memakainya, menyembunyikan mata elangnya di balik lensa gelap.
Tiba-tiba, aura CEO korporat yang kaku, steril, dan selalu terbungkus aturan yang selama ini mengelilingi Juna di gedung kaca Jakarta menguap tanpa sisa. Di bawah terik matahari Bali, ia terlihat berbeda. Ia terlihat liar, dominan, dan entah bagaimana... jauh lebih berbahaya dalam artian yang sangat maskulin.
'Fokus pada pekerjaanmu, Kanaya Larasati. Berhenti memperhatikan garis rahang dan jakun atasanmu seperti remaja puber yang kekurangan hormon,' Naya mengutuk dirinya sendiri di dalam hati dengan kejam. Ia segera memalingkan wajahnya dan buru-buru masuk ke dalam kursi penumpang SUV tersebut.
Juna menyusul masuk, duduk di sebelah Naya di kursi baris tengah yang lega. Udara dingin dari AC mobil seketika mendinginkan suhu tubuh mereka. Riko mengambil tempat di kursi depan di sebelah supir lokal.
"Kita akan langsung menuju fasilitas pabrik pemotongan di kawasan industri Gianyar," Juna memberi instruksi dengan suara baritonnya, matanya tertuju pada supir melalui kaca spion tengah.
Juna kemudian memutar kepalanya, menatap Naya yang sedang sibuk mengeluarkan iPad dari dalam ranselnya.
"Persiapkan seluruh catatan kalkulasi matematis Anda, Kanaya," suara Juna kembali menajam, menghilangkan seluruh jejak "pria penenang" di pesawat tadi. Ia kembali menjadi sang CEO.
"Pabrik fabrikasi ini tidak dikelola oleh manajer biasa. Kepala pabriknya adalah Pak Nyoman, seorang insinyur senior yang merupakan mitra lama ayah saya. Beliau adalah seorang tradisionalis ekstrem yang tidak mentolerir desainer muda yang hanya tahu cara menggambar di atas kertas."
Juna mencondongkan tubuhnya, auranya mengintimidasi. "Jika Pak Nyoman melihat satu saja kesalahan kalkulasi derajat lengkungan dalam cetak biru Anda, beliau akan menganggap desain Anda tidak layak direalisasikan dan akan menolak memotong marmer kita. Dan jika itu terjadi, jadwal konstruksi Grand Azure akan mundur satu bulan. Sebuah kerugian yang akan langsung saya bebankan pada divisi Anda."
Naya merapatkan rahangnya. Ujung jarinya menekan layar iPad hingga layarnya memutih. Ancaman itu nyata dan sangat mematikan bagi kariernya.
"Saya tidak melakukan kesalahan kalkulasi pada lekukan pilar maupun lantai transisi itu, Pak. Saya sudah merekayasa ulang perhitungannya secara manual dan digital sebanyak lima kali semalam," jawab Naya tegas, menatap lurus ke arah kacamata hitam Juna, menolak terintimidasi.
"Bagus," sahut Juna singkat, senyum sinis yang sangat tipis kembali menghiasi sudut bibirnya. "Karena saya pastikan, saya tidak akan mengucapkan satu kata pun untuk membantu Anda jika Anda harus berdebat mempertahankan karya Anda di depan Pak Nyoman siang ini. Ini adalah desain idealis Anda. Anda yang harus membuktikan bahwa inovasi Anda tidak akan meruntuhkan atap gedung saya."
Mobil SUV itu melaju membelah jalanan Tol Bali Mandara yang memanjang membelah teluk. Di luar kaca jendela, hamparan laut biru memantulkan cahaya matahari terik yang menyilaukan.
Namun, di dalam kabin mobil yang melaju kencang itu, medan perang baru bagi Kanaya dan Arjuna baru saja dimulai. Di zona asing ini, tidak ada kubikel kantor yang bisa Naya jadikan tempat bersembunyi untuk mengatur napas, dan tidak ada meja direktur raksasa yang bisa Juna jadikan benteng pertahanan egonya.
Mereka dipaksa untuk bekerja, berdebat, dan saling menantang dalam jarak yang luar biasa mematikan bagi kewarasan mereka berdua.
[KILAS BALIK ]
Kamera bergerak pelan menembus guyuran hujan lebat di sebuah gang sempit yang becek di pinggiran kota Jakarta. Suara gemuruh petir menyambar di langit gelap.
Dua belas tahun yang lalu.
Kanaya kecil, baru berusia tiga belas tahun, berdiri mematung dengan seragam putih-biru yang basah kuyup. Tangan mungilnya mencengkeram erat payung yang sudah patah satu jari-jarinya. Matanya membelalak lebar, menatap horor ke arah sebuah bangunan semi-permanen di ujung gang.
Itu adalah bengkel mebel kayu milik ayahnya. Satu-satunya sumber penghidupan keluarganya.
Angin badai yang mengamuk di luar kendali perlahan merobek atap seng bengkel tersebut. Struktur penyangga kayu lapuk yang sudah dimakan usia tak mampu menahan beban curah hujan ekstrem. Di depan mata Naya, dengan suara derit patahan kayu yang memekakkan telinga, seluruh struktur atap bengkel itu runtuh, menimpa seluruh mesin bubut dan pesanan lemari kayu yang belum selesai.
Hancur berantakan. Tidak tersisa.
Naya kecil tidak menjerit. Ia hanya berdiri membeku di tengah hujan. Payungnya terlepas dari genggaman, jatuh ke dalam genangan lumpur.
Kamera memperbesar (zoom in) ke wajah Naya kecil yang basah oleh air hujan dan air mata yang mengalir tanpa suara. Di detik itu, saat ia melihat kerja keras ayahnya hancur oleh kekuatan alam yang tak bisa ia lawan, sebuah trauma terpatri abadi di struktur otaknya.
Ia membenci ketidakberdayaan. Ia membenci kehilangan kendali atas lingkungannya. Ia bersumpah akan merancang bangunan dari baja dan beton terkuat, agar tidak ada satu pun badai atau guncangan yang bisa meruntuhkan dunia yang ia bangun dengan tangannya sendiri.