NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Di kejauhan, suara Mila terdengar memanggil. “Sea! Ayo pulang!”

Sea menoleh ke arah suara itu, lalu kembali melihat Sekar. Ada jeda. Jeda kecil yang penuh kemungkinan. Sekar berharap, sangat berharap, anak itu akan berlari ke arahnya. memeluknya. memilihnya. Tapi tidak. Sea hanya melangkah mundur pelan.

“Dadah, Bu…” ucapnya kecil.

Bukan “Ibu”.

“Bu.”

Seperti jarak itu kini punya nama. Sekar tidak bergerak. Tidak memanggil. Tidak menahan. Ia hanya berdiri di sana, menyaksikan anaknya berjalan menjauh perlahan, pasti tanpa menoleh lagi. Dan untuk pertama kalinya Sekar benar-benar merasa kehilangan. Bukan karena dipisahkan. Tapi karena… mulai dilupakan.

Padahal kemarin, beberapa hari lalu, ia merasa sangat bahagia sebab akhirnya bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Sea. Tapi ternyata, Mila benar-benar membalasnya. Balasan yang menusuk hati Sekar.

***

Ruang praktik itu selalu terasa tenang, terlalu tenang, justru. Aroma terapi yang lembut, suara jam dinding yang berdetak pelan, dan cahaya hangat yang biasanya membuat orang merasa aman… hari itu tidak mampu menenangkan Sekar sama sekali. Ia duduk di sofa, tubuhnya condong ke depan, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuannya seolah sedang menahan sesuatu agar tidak pecah.

Lita tidak langsung bertanya. Ia sudah mengenal Sekar terlalu lama untuk tahu kalau sahabatnya itu datang dengan wajah seperti ini, berarti ada sesuatu yang baru saja hancur.

“Aku… ketemu Sea lagi,” ucap Sekar akhirnya, suaranya pelan, hampir seperti berbisik.

Lita mengangguk kecil, memberi ruang. “Terus?”

Sekar tertawa kecil. Tapi tawanya tidak memiliki suara bahagia hanya getir yang dipaksakan keluar. “Dia manggil aku ‘Bu’…” Kalimat itu menggantung di udara.

Lita mengernyit pelan, belum langsung memahami. Tapi Sekar melanjutkan, kali ini dengan suara yang lebih pecah.

“Bukan ‘Ibu’…” napasnya mulai tidak stabil. “Dia bilang… dia sama Mama Mila aja sekarang…”

Sunyi. Untuk beberapa detik, hanya ada suara napas Sekar yang mulai berat.

“Aku nggak ngerti, Lit…” lanjutnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Dia anak kecil… dia nggak mungkin tiba-tiba mikir kayak gitu sendiri… itu bukan kata-katanya…” Tangannya bergetar halus. “Dia bilang aku sibuk… katanya aku punya hidup sendiri… itu… itu bukan cara dia ngomong…” Air mata akhirnya jatuh. Satu, lalu banyak. Sekar menunduk, bahunya mulai bergetar. “Dia nungguin aku, Lit… dia bilang dia nungguin aku…” suaranya hancur. “Padahal aku datang… aku selalu datang… aku cuma nggak bisa muncul di depan mereka…”

Lita menarik napas pelan, matanya tidak lepas dari Sekar. Ia membiarkan semua itu keluar dulu, tidak dipotong, tidak dihentikan.

“Aku kehilangan dia, Lit…” bisik Sekar, hampir tidak terdengar. “Bukan cuma secara fisik… tapi… dia mulai menjauh… dari dalam…” Itu kalimat yang paling jujur. Dan paling menyakitkan.

Lita akhirnya bergerak. Ia duduk lebih dekat, suaranya tetap tenang, tapi kali ini lebih tegas. “Sekar… dengar aku baik-baik.”

Sekar mengangkat wajahnya perlahan, matanya merah dan basah.

“Apa yang kamu alami ini… bukan kebetulan. Dan bukan juga karena kamu kurang berusaha.”

Sekar terdiam, menatap Lita.

“Ini pola,” lanjut Lita. “Dan ini serius.” Jeda sebentar. Lita menatapnya lebih dalam. “Ini sudah masuk ranah manipulasi anak.” Kata-kata itu jatuh dengan berat.

Sekar membeku. “Manipulasi…?”

Lita mengangguk. “Iya. Ketika seorang anak mulai mengulang narasi orang dewasa, terutama yang memojokkan salah satu orang tuanya… itu bukan lagi sekadar pengaruh. Itu pembentukan persepsi.”

Sekar menelan ludah. Dadanya kembali terasa sesak.

“Sea tidak membenci kamu,” lanjut Lita dengan lembut, tapi tegas. “Dia sedang diarahkan untuk memahami situasi dengan cara tertentu. Dan karena dia masih kecil… dia percaya.”

Air mata Sekar kembali jatuh, tapi kali ini bukan hanya karena sakit, ada sesuatu yang lain. Pemahaman yang pelan-pelan terbentuk. “Terus aku harus apa…?” suaranya lemah, nyaris putus asa.

Lita tidak langsung menjawab. Ia memastikan Sekar benar-benar mendengarkan. “Kamu tidak bisa melawan ini dengan emosi,” katanya pelan. “Kalau kamu panik, kalau kamu memaksa, itu justru akan memperkuat narasi mereka.”

Sekar menggigit bibirnya, mencoba menahan diri.

“Tapi…” suara Lita berubah sedikit lebih tajam, “ini juga tidak bisa kamu diamkan.”

Sekar menatapnya lagi.

“Kamu harus mulai bertindak. Dengan cara yang benar. Dengan strategi.”

“Strategi…?”

Lita mengangguk. “Dokumentasikan semua. Perubahan sikap Sea. Kata-kata yang dia ucapkan. Pola pertemuan yang dipersulit. Semua.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Dan kita mulai bicara serius dengan pengacaramu.”

Jantung Sekar berdegup lebih kencang. Ada rasa takut yang langsung muncul. “Aku takut, Lit…”

“Aku tahu.”

“Kalau aku salah langkah… mereka bisa makin menjauhkan Sea dari aku…”

Lita menatapnya dalam-dalam. “Sekar… mereka sudah mulai melakukannya.”

Sunyi. Kalimat itu tidak keras, tapi menghantam tepat di tempat yang paling rapuh. Sekar menutup matanya sejenak. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini ia tidak terisak. Tidak runtuh seperti sebelumnya. Perlahan, ia menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak ia mulai bercerita tatapannya berubah. Masih ada luka. Masih ada takut. Tapi di balik itu… mulai muncul sesuatu yang lain. Kesadaran. Dan mungkin… keberanian yang selama ini tertahan.

***

Suasana toko buku di dalam mal itu ramai, tapi bagi Sekar, dunia terasa seperti bergerak lebih lambat dari biasanya. Map berisi kontrak buku keduanya masih ada di tangannya rapi, resmi, dan… menakutkan. Sekuel dari “Cinta yang Mendua”. Sesuatu yang dulu hanya pelampiasan luka, kini berkembang menjadi sesuatu yang dinanti banyak orang.

Tapi justru itu yang membuat dadanya sesak. “Kalau… nggak sebagus yang pertama gimana, Lit?” suara Sekar pelan, nyaris tenggelam oleh suara pengunjung lain di sekitar mereka. “Kalau orang-orang cuma suka karena itu cerita nyata… bukan karena tulisannya?”

Lita yang duduk di depannya hanya tersenyum kecil, seolah pertanyaan itu sudah ia duga sejak awal. “Sekar,” ujarnya tenang, “orang bisa tertarik karena cerita nyata, iya. Tapi mereka bertahan karena cara kamu menuliskannya.”

Sekar menunduk, jemarinya meremas pelan ujung map itu.

“Kamu nggak sedang meniru kesuksesan yang pertama,” lanjut Lita. “Kamu sedang melanjutkan proses sembuhmu. Itu yang orang rasakan.”

Sekar menghela napas panjang. Ia ingin percaya. Sungguh ingin. Tapi bayangan kegagalan masih menghantuinya, seolah semua yang sudah ia bangun bisa runtuh kapan saja.

“Dan kalau pun nanti nggak sesukses yang pertama,” tambah Lita santai, “kamu tetap nggak kembali ke titik nol. Kamu sudah jauh melangkah.”

Sekar menatap sahabatnya itu. Lama. Lalu perlahan, ia mengangguk. Tidak sepenuhnya yakin, tapi cukup untuk melangkah.

Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari toko buku tempat Sekar baru saja menandatangani kontrak keduanya. Dunia terasa sedikit lebih ringan, meski ketakutan itu belum benar-benar hilang. Setelah urusan kontrak selesai, Sekar dan Lita menuju kafe lain yang masih berada di mall ini. Ada janji kedua yang lebih penting, janji dengan tetangga lama Sekar yang rumahnya berada persis di sebelah rumah Aji.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!