NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Guru Biologi

Suara ketukan di pintu kayu Gedung C berhenti secara mendadak, digantikan oleh suara garukan kuku yang tajam pada permukaan pintu. Di saat yang sama, Raka yang melayang di atas ranjang mulai mengeluarkan cairan hijau kental dari telinganya. Asap kelabu dari saluran udara terus berputar di langit-langit, membentuk pusaran yang siap menerjang.

"Arga, kita harus melakukan sesuatu!" Lintang berteriak, mencoba menahan tubuh Raka agar tidak terbentur langit-langit.

Tepat saat pintu itu hampir jebol, sebuah bayangan muncul dari koridor samping yang gelap. Seorang pria jangkung dengan rambut putih berantakan dan kacamata tebal yang retak sebelah berlari mendekat. Ia mengenakan jas laboratorium yang lebih bersih daripada milik Johan, namun tangannya memegang sebuah botol semprotan berisi cairan berwarna kuning keemasan.

"Menunduk!" teriak pria itu.

Ia menyemprotkan cairan itu ke udara. Seketika, asap kelabu di langit-langit menjerit dan menguap, meninggalkan bau seperti belerang yang terbakar. Pria itu kemudian menempelkan sebuah segel kertas dengan simbol matahari pada pintu kayu yang sedang digaruk dari luar. Suara di balik pintu itu langsung menghilang, digantikan oleh raungan frustrasi yang menjauh.

"Kalian... kalian masih hidup," pria itu mengatur napasnya yang tersengal. "Aku Profesor Damar, rekan Johan. Tapi di sekolah ini, kalian mengenalku sebagai Guru Biologi yang 'aneh' di Gedung C."

Arga menatap pria itu dengan curiga. Sisik obsidian di tangannya belum menghilang sama sekali, dan insting monsternya memberikan sinyal waspada. "Johan bilang kau satu-satunya yang bisa membantu. Tapi kenapa kau baru muncul sekarang saat semuanya hampir hancur?"

Damar tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendekati Raka, memeriksa denyut nadi di leher remaja itu dengan sangat teliti. "Aku harus memastikan kalian tidak membawa 'pelacak' dari Sektor 7. Johan mengorbankan dirinya agar aku bisa menyiapkan prosedur ini."

Damar mengeluarkan sebuah alat bedah kecil yang berpendar biru. Dengan gerakan cepat, ia menyayat sedikit kulit di belakang telinga Raka. Sebuah chip kecil berwarna hitam, yang tadinya berdenyut dengan cahaya hijau, melompat keluar dan jatuh ke lantai sebelum akhirnya hancur terbakar oleh cairan kuning tadi.

Seketika, tubuh Raka jatuh kembali ke ranjang. Napasnya menjadi lebih tenang, meski wajahnya masih sangat pucat.

"Itu adalah parasit transmisi," jelas Damar. "Sang Arsitek menggunakannya untuk mengendalikan sirkulasi kimia dalam tubuh Raka. Tanpa itu, Raka aman untuk sementara, tapi dia tetap butuh pembersihan total."

Damar kemudian beralih ke Arga. Matanya yang tajam menatap sisik hitam di leher Arga. "Dan kau... mutasimu jauh lebih maju daripada yang aku duga. Kau bukan hanya mengonsumsi formula, kau menyatukannya dengan frekuensi Indigo-mu. Itu berbahaya, Arga. Kau sedang menjadi bom waktu biologis."

"Aku tahu," geram Arga. "Makanya aku di sini. Profesor Johan bilang kau punya penawarnya."

Damar terdiam sejenak. Ia berjalan ke arah meja panjang yang penuh dengan toples spesimen hewan yang tampak mengerikan. Ia mengambil sebuah tabung berisi cairan perak yang kental.

"Penawar? Tidak ada penawar murni untuk apa yang kau alami, Arga," ujar Damar dengan nada dingin yang mendadak membuat Lintang menggenggam belatinya lebih erat. "Yang ada hanyalah 'penstabil'. Kau tidak bisa kembali menjadi manusia seutuhnya. Kau hanya bisa memilih untuk tetap menjadi monster yang memiliki nurani, atau monster yang patuh pada sekolah."

"Apa maksudmu?" Lintang menyela, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Johan bilang ada cara untuk menyelamatkan mereka!"

"Johan adalah seorang idealis yang naif," Damar berbalik, dan untuk pertama kalinya, Arga menyadari sesuatu yang ganjil. Di balik saku jas laboratorium Damar, terdapat sebuah lencana kecil berlogo Osis Malam, namun lencana itu disilang dengan goresan dalam. "Aku adalah seorang realis. Aku telah melihat apa yang terjadi pada subjek-subjek sebelum kalian. Jika aku memberikan cairan ini padamu, Arga, kau akan memiliki kekuatan untuk melawan Sang Arsitek, tapi kau akan terikat selamanya dengan dimensi Sisi Lain."

Damar meletakkan tabung perak itu di depan Arga. "Pilihannya ada padamu. Gunakan ini dan jadilah pelindung Raka sebagai entitas yang berbeda, atau biarkan mutasi ini memakan otakmu dalam satu jam ke depan."

Arga menatap cairan perak itu. Ia bisa merasakan tarikan magnetis dari tabung tersebut. Namun, di saat yang sama, ia melihat sebuah foto di dinding laboratorium Damar. Foto itu menunjukkan Damar muda sedang berjabat tangan dengan Sang Arsitek di depan Menara Jam yang baru dibangun.

"Kau... kau salah satu pendiri tempat ini," bisik Arga.

Damar menghela napas panjang, wajahnya tampak menua sepuluh tahun dalam sekejap. "Ya. Aku yang merancang aspek biologisnya. Aku yang menciptakan formula hijau itu. Itulah sebabnya aku tahu tidak ada jalan kembali. Aku mencoba menebus dosaku dengan membantu kalian, tapi jangan harap ada akhir yang bahagia dan normal di tempat ini."

Tiba-tiba, suara alarm dari Sektor 7 terdengar hingga ke Gedung C. Getaran hebat kembali mengguncang lantai.

"Mereka tahu chip Raka sudah lepas," ujar Damar tenang, seolah-olah kematian bukan lagi hal yang menakutkan baginya. "Unit Pembersihan tingkat tinggi, The Silent Executioners, akan sampai di sini dalam hitungan menit. Mereka bukan siswa mutan biasa. Mereka adalah mesin tanpa jiwa."

Arga melihat ke arah Raka yang masih lemah, lalu ke arah Lintang yang tampak siap mati demi mereka. Ia mengambil tabung perak itu.

"Apa yang harus kulakukan dengan ini?" tanya Arga.

"Minum setengahnya, dan oleskan sisanya pada cakarmu," jawab Damar. "Itu akan mengeraskan sisikmu dan memberikan frekuensi 'anti-materi' pada seranganmu. Kau akan bisa menyentuh hantu dan menghancurkan mesin secara bersamaan."

Arga membuka tutup tabung itu. Baunya seperti logam panas dan mawar yang membusuk. Ia meminumnya. Rasa dingin yang luar biasa menjalar dari kerongkongannya ke seluruh ujung sarafnya. Sisik obsidian di tubuhnya mulai berkilat perak, dan sayap saraf di punggungnya berubah menjadi sayap yang lebih kokoh, menyerupai sayap malaikat yang terbuat dari logam hitam.

"Bagus," Damar mengangguk. "Sekarang, bawa saudaramu dan gadis itu lewat jalur belakang. Aku akan menahan mereka di sini."

"Kau akan mati," ujar Arga.

"Aku sudah mati sejak hari aku menandatangani kontrak dengan Sang Arsitek," Damar mengambil sebuah tuas kontrol di bawah mejanya. "Pergilah ke Sektor 6. Cari Ruang Musik. Ada partitur di sana yang bisa membuka gerbang ke dunia nyata secara permanen. Tapi ingat, Arga... jangan pernah menoleh ke belakang saat kau melewati pintu itu."

Saat Arga menggendong Raka dan menarik tangan Lintang untuk lari, ia menoleh sejenak. Ia melihat Damar berdiri dengan tenang di tengah laboratoriumnya yang mulai dikepung oleh asap hitam. Guru Biologi itu meledakkan seluruh botol spesimen di ruangannya, menciptakan badai kimia yang menelan sosoknya dan para pengejarnya.

Arga berlari menembus kegelapan koridor Gedung C. Investigasinya telah mengungkap satu hal pahit lagi: bahwa bantuan pun bisa datang dari tangan-tangan yang berdarah. Dengan kekuatan perak yang kini mengalir di nadinya, Arga merasa siap untuk menghadapi apa pun, namun bayangan Damar yang mencurigakan tetap menghantui pikirannya.

Apakah Guru Biologi itu benar-benar menolongnya, ataukah cairan perak ini adalah tahap selanjutnya dari eksperimen yang lebih besar?

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!