Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar Layu di Balik Gang Sempit
Waktu seolah membeku dalam siklus neraka bagi Larasati. Enam hari telah berlalu sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jakarta. Namun bagi Laras, setiap detik terasa seperti satu abad penderitaan. Di dalam kontrakan kecil yang pengap dan berbau lembap itu. Matahari pagi bukan lagi membawa harapan, melainkan lonceng kematian bagi harga dirinya.
Setiap pagi, saat embun masih tersisa di dedaunan kusam di luar jendela. Pintu kontrakan itu akan diketuk dengan kasar. Tamu-tamu Bagas, para juragan rentenir dengan wajah beringas dan aroma tubuh yang memuakkan.
Datang silih berganti, mereka tidak datang untuk menagih uang. Karena Bagas telah memberikan "alat bayar" yang jauh lebih murah bagi kantongnya namun sangat mahal bagi jiwa Laras. Namun sangat mahal bagi harga diri yang terus terkoyak, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Larasati harus bermandikan peluh dan air mata yang kering di bawah tekanan nafsu-nafsu bejat itu. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk berontak. Setiap kali ia mencoba melawan, bayangan video dan foto-foto dirinya yang direkam secara sembunyi-sembunyi oleh para juragan atas perintah Bagas, menghantuinya.
Bagas menggunakan rekaman itu sebagai rantai yang mengikat lehernya. Sebuah ancaman bahwa jika Laras lari atau melapor. Harga diri keluarganya di Sukamulya akan hancur menjadi debu dalam hitungan detik. Bisa saja Ayahnya akan gila atau mati karena malu sat melihat video-video itu.
"Kalau kau kabur, video ini akan sampai ke tangan Bapakmu di desa pagi harinya. Kau ingin melihat orang tuamu mati terkena serangan jantung karena ulahmu, hah?!" Kalimat Bagas itu terus berdenting di kepalanya setiap kali ia merasa ingin mengakhiri hidup.
Hidup dalam Bayang-Bayang Ketakutan
Sore ini, udara Jakarta terasa sangat menyesakkan. Larasati berdiri lemas di dapur kecilnya. Ia baru saja menanak nasi dari beras sisa santunan kecamatan yang ia dapatkan dengan memelas. Bagas tidak pernah memberinya uang sepeser pun. Semua uang pemberian Pak Tarno dan hasil "kerjanya" melayani para juragan, habis di tangan Bagas dan Maya untuk bersenang-senang di luar sana.
Laras hanya mengenakan daster lusuh bermotif bunga yang warnanya sudah memudar. Itu adalah satu-satunya pakaian yang tersisa yang masih layak pakai. Tumpukan baju lainnya, termasuk kebaya pengantinnya yang kini ternoda, menumpuk di pojok kamar mandi.
Ia tidak memiliki energi lagi untuk mencuci. Seluruh tenaganya telah terkuras habis untuk melayani nafsu-nafsu yang menjijikkan setiap pagi. Tubuhnya terasa remuk, tulang-tulangnya seolah ingin tanggal dari sendinya.
Namun, ketakutan akan cambukkan ikat pinggang Bagas jauh lebih besar daripada rasa lelahnya. Dengan langkah gontai, ia membawa keranjang berisi pakaian Bagas dan Maya yang baru saja ia cuci dengan sisa sabun batang yang tinggal seujung kuku.
Laras melangkah ke teras kecil di samping rumah yang menghadap ke sebuah gang sempit. Gang itu jarang dilalui mobil, hanya motor-motor tua dan pejalan kaki sesekali. Di sana, Laras mulai mengangkat jemuran yang sudah kering milik Bagas dan Maya. Jemari tangannya yang halus kini tampak kasar dan bergetar.
Ia menatap kosong ke arah aspal gang yang retak-retak. Pikirannya melayang pada sawah hijau di desa, pada tawa Bapaknya dan pada doa-doa Ibunya yang mungkin saat ini sedang merindukannya. Ibu... Laras di sini bukan jadi nyonya besar. Laras di sini jadi budak, rintihnya dalam hati. Air matanya tidak lagi keluar, ia sudah terlalu kering untuk menangis.
Pertemuan yang Tak Disadari
Beberapa puluh meter dari kontrakan itu di seberang jalan raya yang memisahkan area elite dengan pemukiman padat. Sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti di depan sebuah warung kelontong kecil. Rizki Pratama keluar dari mobil itu. Ia baru saja kembali dari sebuah pertemuan bisnis di area tersebut dan merasa haus yang luar biasa. sebuah kebetulan yang seolah direncanakan oleh semesta.
Rizki berdiri di depan warung, memegang sebotol air mineral dingin. Namun, saat ia hendak meminumnya. Matanya tanpa sengaja melirik ke arah gang sempit di seberang jalan. Di sana, di sebuah teras rumah petak yang kusam, ia melihat sesosok wanita. Rizki terpaku. Air mineral di tangannya nyaris terjatuh.
Dari kejauhan, meski wanita itu hanya mengenakan daster lusuh dan rambutnya terikat acak-acakan, ada sesuatu yang sangat familier. Sesuatu yang membuat jantung Rizki berdenyut dengan frekuensi yang menyakitkan.
Siapa gadis itu? batin Rizki.
Ia menajamkan pandangannya. Dari jarak itu, ia bisa melihat profil wajah wanita yang sedang mengangkat jemuran tersebut. Wajah itu sangat cantik, dengan garis rahang yang lembut dan hidung yang mancung.
Rizki bergumam dalam hati, "Seharusnya ia secantik artis nasional. Dengan wajah seperti itu, ia pantas berada di atas panggung atau di dalam istana mewah."
Namun, yang membuat hati Rizki terasa seperti disayat sembilu adalah ekspresi wanita itu. Mata wanita itu kosong tidak ada cahaya, tidak ada harapan. Postur tubuhnya membungkuk seolah memikul beban seluruh dunia di bahunya. Kecantikannya yang luar biasa itu tampak terkubur di bawah lapisan derita yang sangat tebal.
Rizki merasakan sensasi panas menjalar di dadanya. Ia merasa seolah-olah ia mengenal setiap lekuk kesedihan di wajah wanita itu. Ia ingin melangkah maju, ingin menyeberangi jalan raya yang bising itu untuk memastikan siapa dia sebenarnya. Namun, suara klakson motor yang keras di depannya membuyarkan lamunannya.
Di teras sana, Larasati telah selesai mengangkat jemuran. Ia masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah yang sangat berat. Menutup pintu kayu yang sudah lapuk itu tanpa pernah menyadari bahwa pria yang selalu ia panggil dalam doanya baru saja menatapnya dari kejauhan.
Rizki berdiri diam di depan warung. Matanya tetap terpaku pada pintu kontrakan yang tertutup itu. Ia merasa ada sebuah magnet yang menarik jiwanya ke sana.
"Tuan Muda, kita harus segera kembali. Nyonya Nana sudah menelepon beberapa kali," suara ajudannya dari dalam mobil memecah lamunan Rizki.
Rizki menghela napas panjang, ia kembali ke dalam mobil dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja melihat "titipan" ibundanya yang kini telah menjadi barang gadaian suaminya sendiri. Namun, satu hal yang Rizki tahu, a tidak akan bisa tidur tenang malam ini sebelum tahu siapa penghuni rumah petak itu sebenarnya.
"Yudha," ucap Rizki pelan begitu ia duduk di kursi belakang mobil.
"Ya, Tuan Muda?" Jawab Yudha penuh hormat pada atasannya.
"Cari tahu siapa yang tinggal di kontrakan biru di gang sebelah sana. Aku ingin laporannya besok pagi."
Takdir telah melemparkan dadu terakhirnya. Rizki Pratama telah melihat mawar yang layu itu, dan kali ini, ia tidak akan membiarkan kata "bukan jodoh" menghentikan langkahnya untuk menebus kesalahan masa lalunya. Di balik pintu kontrakan yang terkunci, Larasati meringkuk di pojok kamar, meratapi hari ketujuh yang akan segera datang, tanpa menyadari bahwa sang penyelamat kini telah berada di jarak pandang.