NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Tim Makcomblang dan Siasat Tuan Muda

Setelah sesi makan siang yang menguras adrenalin (dan harga diri dompet) itu berakhir, Aiswa dan Elena segera memisahkan diri dari Devan untuk bergabung dengan sisa personel "Sembilan Nyawa" di sebuah kafe biasa.

Begitu mereka duduk, Aiswa langsung disambut tatapan interogasi layaknya tersangka utama kasus internasional.

"Serius? Kalian beneran makan di restoran itu?" Shena bertanya dengan nada menggebu, matanya hampir keluar.

"Gila, ya! Itu kan tempatnya para sultan. Biasanya yang makan di situ kalau nggak pejabat, ya artis papan atas!"

Elena, yang sejak tadi sudah gatal ingin pamer, langsung mengambil alih panggung.

"Kalian nggak tahu, Guys, makan tadi habis berapa?"

"Berapa?" tanya Mikha penasaran, sambil mencondongkan badan.

"Empat juta!" jawab Elena mantap.

"Empat juta?!" Mikha memekik.

"Gila! Itu biaya hidup gue sebulan plus biaya cicilan motor!"

Aiswa hanya bisa menyandarkan kepala ke meja, masih mencoba mencerna kenyataan bahwa ia baru saja menelan makanan yang harganya setara dengan gaji satu bulannya.

"Empat juta sekali makan. Kalau sehari tiga kali makan sudah dua belas juta. Seminggu bisa buat beli dua motor matic itu!" Ilana ikut heboh sambil menghitung dengan kalkulator bayangan.

"Makanya, Guys," Elena menepuk bahu Aiswa dengan semangat kompor.

"Mending gas saja si Aiswa sama si Papa Ganteng ini. Mana masih muda, tajir melintir, wangi uangnya sampai radius satu kilometer lagi. Daripada nungguin si Aditya yang progresnya lambat kayak siput."

Elena memang tipe teman yang protektif. Meskipun Aditya terlihat baik, Elena selalu merasa ada yang kurang pas. Baginya, Aiswa pantas mendapatkan "takhta" yang lebih tinggi. Sejak keluar dari mall tadi, mulut Elena tidak berhenti merayu Aiswa agar memepet Devan lewat jalur Zianna.

"Tapi Ai, kalau nikah sama dia, lo langsung jadi Ibu tiri," Bella mengingatkan.

"Ya nggak apa-apa! Judulnya keren, Istri CEO plus Ibu Sambung Hot!" balas Elena tanpa dosa.

Aiswa menutup telinganya dengan kedua tangan.

"Sudah, stop! Kalian ini benar-benar ya, nggak ada saringannya!"

Sementara itu, di dalam mobil mewah yang melaju tenang, suasana sangat berbeda. Zianna duduk dengan wajah berseri-seri di samping Devan.

"Papa, aku seneng banget bisa makan bareng Tante Guru. Aku pengen sering-sering ketemu dia," ujar Zianna penuh semangat.

Devan menatap binar bahagia di mata putrinya. Biasanya, Zianna memang suka menjodoh-jodohkannya dengan wanita mana saja hanya supaya Devan tidak terus-terusan bekerja.

Namun dengan Aiswa, Devan bisa merasakan ketulusan putrinya. Dan jujur saja, Devan sendiri memang merasa tertarik. Bayangan wajah Aiswa yang hampir mengomelinya namun tertahan dengan ekspresi lucu itu terus berputar di kepalanya.

"Papa, kita jadi liburan, kan?" celetuk Zianna mengingatkan.

"Tentu saja jadi," sahut Devan lembut.

"Hmm... andai saja bisa ajak Tante Guru liburan bersama, pasti seru banget!" Zianna menangkupkan tangan di pipinya, berkhayal seolah-olah mereka adalah keluarga utuh.

Lucas yang sedang menyetir melirik dari spion tengah, terkekeh kecil melihat imajinasi bocah empat tahun itu. Devan pun ikut menyunggingkan senyum tipis.

"Kalau Zianna mau, ajak saja Tante Guru kamu," ucap Devan ringan.

"Benar, Pa?!" Mata Zianna berbinar.

Tanpa menunggu instruksi kedua, ia langsung meminjam ponsel papanya. Dengan jari mungilnya, ia mencari nomor yang tadi baru saja disimpan dan melakukan panggilan video.

Kembali ke kafe, Aiswa masih berusaha membela diri.

"Sudahlah, Guys. Aiswa itu sudah cinta mati sama Aditya. Nggak mungkin berpaling meskipun ada yang lebih glowing, tajir, dan spek Oppa Korea lewat!" kali ini Shena yang berubah haluan, mencoba membela Aiswa.

"Tuh, dengerin Shena! Kami ini tim setia pada pasangan, ya kan, Shen?" Aiswa meminta dukungan, merasa lega ada yang membelanya.

Namun, di tengah momen pembelaan itu, ponsel Aiswa berdering keras. Sebuah panggilan video dari nomor baru masuk. Profilnya tidak asing, Foto Devan sedang menggendong Zianna.

"Eh, Guys! Yang diomongin telepon!" Mikha berseru heboh, membuat satu meja itu langsung riuh.

"Angkat, Ai! Loudspeaker cepat!" Bella memaksa dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

Aiswa pun menurut dengan tangan gemetar. Begitu tersambung, suara melengking Zianna langsung memenuhi kafe.

"Haloo, Tante Guruuu!"

"Halo, Zianna sayang. Ada apa, ya?" sahut Aiswa ramah, mencoba mengabaikan tatapan liar sahabat-sahabatnya yang kini sudah membungkam mulut agar tidak bersuara.

"Maaf ya Tante Guru kalau Zianna ganggu. Zianna cuma mau ajak Tante Guru ikut liburan lusa. Mau ikut nggak?"

Seketika, seluruh anggota "Sembilan Nyawa" memberikan reaksi heboh tanpa suara. Ada yang bertepuk tangan, ada yang melompat-lompat kecil, membuat Aiswa ingin mematikan ponselnya saat itu juga.

"Wah, seru banget pasti ya... tapi, maaf ya Sayang. Tante Guru belum bisa ikut karena besok bukan hari libur sekolah. Tante kan harus mengajar. Kasihan anak-anak murid Tante nanti kalau ditinggal," ucap Aiswa menolak secara halus.

Itu adalah alasan paling logis. Sebagai guru, Aiswa tidak mungkin bolos begitu saja, apalagi libur semester masih jauh.

"Oh... iya ya, Tante Guru. Ya sudah deh, nggak apa-apa," ucap Zianna.

Nada suaranya terdengar sangat kecewa, membuat hati Aiswa sedikit mencelos.

"Lain waktu ya, Sayang. Maaf banget," tambah Aiswa merasa tidak enak.

"Iya Tante Guru, nggak apa-apa. Zianna tutup ya teleponnya. Bye bye, see you!"

Panggilan terputus. Aiswa menghela napas panjang, sementara teman-temannya langsung memberikan komentar pedas.

"Sayang banget, Ai! Harusnya lo ikut saja, bisa liburan gratis spek sultan!" ujar Lalita menyayangkan.

"Kalau cuma sama Zianna sih gue mau banget. Tapi bapaknya itu, lho... auranya bikin merinding. Kalau ngelihatin kayak mau makan orang, mukanya dingin banget!" keluh Aiswa.

"Eh tapi Ai, sumpah, di foto profilnya ini dia ganteng banget!" Bella merebut ponsel Aiswa, memandangi foto Devan. "Tajam, maskulin, gila sih... ini mah idaman!"

Aiswa hanya bisa menghela napas jengah. Ganteng sih iya, tapi kalau mukanya galak kayak singa kelaparan begitu, siapa yang mau? batin Aiswa.

Di dalam mobil, Zianna mendadak jadi pendiam. Bibirnya mengerucut, ia sangat kecewa meskipun ia paham Tante Gurunya harus bekerja. Ia menatap ke luar jendela dengan tatapan sedih.

Devan yang melihat perubahan drastis putrinya mulai memutar otak. Ia tidak suka melihat Zianna sedih, dan ia juga tidak suka tawarannya ditolak begitu saja.

Tatapan Devan kembali menjadi dingin dan penuh perhitungan. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. Sesuatu yang melibatkan kekuasaan dan pengaruhnya.

"Lucas," panggil Devan pelan.

"Ya, Tuan?"

"Cari tahu siapa pemilik yayasan tempat Aiswa mengajar. Dan hubungi mereka. Aku ingin memastikan sekolah itu 'libur' mendadak minggu depan."

Lucas tersedak ludahnya sendiri.

Gila, ini bos gue mau beli sekolahnya atau gimana? batin Lucas, namun ia tetap menjawab mantap.

"Baik, Tuan. Segera saya urus."

Devan menyeringai tipis. Jika Aiswa tidak bisa datang karena pekerjaan, maka ia akan menyingkirkan hambatan itu. Sesederhana itu bagi seorang Devan Argian.

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!