Riski seorang Fans Sepak bola fanatic saat pulang nonton pertandingan di tabrak mobil dan akhirnya terlempar Ke Dunia Lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Debu Jakarta dan Harapan La Masia
Pagi itu, udara di Bau-Bau terasa lebih berat dari biasanya. Riski berdiri di depan gerbang kayu rumah pengasuhan yang telah menjadi pelindungnya selama enam tahun terakhir. Di tangannya, ia memegang sebuah tas ransel kecil berisi beberapa potong pakaian dan bola kulit kesayangannya. Di hadapannya, Ibu Pengasuh menatapnya dengan mata berkaca-kaca, masih sulit mempercayai bahwa anak sekecil Riski akan pergi jauh menyeberangi lautan.
"Kamu yakin, Ris? Jakarta itu jauh sekali, Nak," suara Ibu Pengasuh bergetar.
Riski mengangguk mantap, mencoba memberikan senyum terbaiknya agar tidak terlihat seperti anak yang ketakutan. "Ibu tidak perlu khawatir. Ini adalah hadiah dari panitia Lomba HUT RI kemarin. Mereka bilang, karena Riski jadi pemain terbaik, mereka membelikan tiket pesawat untuk ikut seleksi nasional di Jakarta. Semua biaya sudah ditanggung mereka," bohong Riski dengan lancar. Ia harus memberikan alasan yang masuk akal karena tidak mungkin ia menjelaskan tentang sistem ajaib di kepalanya.
Dengan restu yang diberikan melalui pelukan hangat, Riski melangkah pergi. Ia menumpang angkot menuju Bandara Betoambari. Di dalam pesawat Lion Air yang menderu, ia menatap pulau Buton yang semakin mengecil dari jendela. Di dalam hatinya, ia berjanji akan kembali sebagai seseorang yang dibanggakan oleh seluruh kota.
Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Riski langsung disambut oleh udara Jakarta yang panas, lembap, dan penuh polusi. Bagi bocah seusianya, Jakarta adalah rimba beton yang mengintimidasi. Uang di Inventory-nya memang cukup untuk menyewa penginapan murah, namun Riski memilih untuk sangat hemat. Ia tidak tahu berapa lama ia harus bertahan di kota ini sebelum benar-benar direkrut.
Malam itu, Riski tidur di emperan sebuah toko yang sudah tutup di dekat kawasan Senayan. Dengan beralaskan kardus bekas dan menjadikan ranselnya sebagai bantal, ia meringkuk di tengah bisingnya klakson kendaraan yang tak pernah berhenti. Meski tubuh kecilnya terasa dingin dan perutnya hanya terisi roti murahan, matanya tetap menatap tajam ke arah Stadion Gelora Bung Karno yang lampunya terlihat di kejauhan.
"Hanya beberapa hari lagi," bisiknya pada diri sendiri. "Setelah ini, aku tidak akan pernah tidur di jalanan lagi."
5 Januari 2007 – Lapangan Latihan Senayan.
Ratusan anak dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul. Suasananya riuh, penuh dengan ambisi dan keringat. Di pinggir lapangan, terlihat beberapa pria asing berpakaian kasual namun dengan tatapan mata yang sangat analitis. Salah satu dari mereka mengenakan polo shirt dengan logo kecil yang sangat dikenal Riski: FCB.
[Ding! Misi Seleksi Utama Aktif!]
[Nama Misi: Mata Sang Elang Catalunya]
[Tujuan: Cetak minimal 1 Gol dan 1 Assist dalam pertandingan seleksi]
[Hadiah Misi:]
Seluruh Stats meningkat +1 Poin
Uang Cash Rp 300.000 (Otomatis masuk ke Inventory)
Riski menarik napas dalam-dalam. Ia melihat anak-anak lain yang rata-rata berusia 8 hingga 10 tahun. Di turnamen ini, Riski adalah peserta paling muda. Anak-anak lain menatapnya dengan remeh karena tubuhnya yang mungil dan penampilannya yang agak kusam setelah beberapa hari tidur di jalan.
"Anak kecil, jangan sampai terinjak ya!" ejek seorang anak bertubuh bongsor dari tim lawan saat mereka mulai memasuki lapangan untuk pertandingan simulasi 11 lawan 11.
Riski tidak membalas. Ia justru merasa sangat tenang. Dengan statistik Dri: 20 dan Sho: 20, ia tahu bahwa secara teknis, ia berada di level yang berbeda.
Pertandingan dimulai. Riski ditempatkan di posisi Second Striker. Menit-menit awal, ia tidak banyak membawa bola. Ia hanya bergerak mencari ruang, mempelajari pola permainan rekan setimnya yang cenderung individualistis karena ingin pamer di depan pemandu bakat.
Memasuki menit ke-15, Riski melihat celah. Ia menjemput bola hingga ke lini tengah. Begitu bola sampai di kakinya, ia melakukan pola permainan satu-dua yang cepat. Seorang bek lawan mencoba menerjangnya, namun dengan statistik Dribbling maksimal, Riski melakukan gerakan La Croqueta—gerakan khas Iniesta—dengan sangat mulus. Bek itu terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
Riski terus merangsek ke depan. Ia melihat striker timnya berlari di sisi buta lawan. Tanpa menoleh, Riski melepaskan operan terobosan (Pas: 17) yang sangat akurat, membelah garis pertahanan lawan tepat di tengah.
Striker tersebut hanya perlu menyentuh bola sedikit untuk mencetak gol. 1 Assist terkunci.
"Umpan yang luar biasa!" teriak salah satu pelatih pemandu bakat sambil mencatat sesuatu di bukunya. Pria dari Barcelona itu mulai memajukan posisi duduknya, matanya kini terkunci pada bocah bernomor punggung 10 yang paling mungil di lapangan.
Namun misi belum selesai. Riski membutuhkan satu gol.
Di babak kedua, tim lawan mulai bermain kasar. Riski beberapa kali dijatuhkan, namun statistik fisik (Phy: 18) yang telah ia latih selama empat bulan membuatnya mampu segera bangkit. Menjelang akhir pertandingan, Riski mendapatkan bola di luar kotak penalti.
Tiga pemain lawan mengepungnya. Riski melakukan gerak tipu ke arah kanan, lalu dengan cepat menarik bola ke kiri. Menggunakan teknik Step-over yang cepat, ia melewati dua pemain sekaligus. Ruang tembak terbuka sempit. Riski tidak menyia-nyiakannya. Menggunakan kekuatan Shooting: 20, ia melepaskan tembakan Placing yang melengkung indah menuju pojok atas gawang.
Jaring gawang bergetar. Gol!
[Ding! Misi Berhasil!]
[Seluruh Statistik Meningkat +1 Poin!]
[Hadiah Rp 300.000 telah ditambahkan ke Inventory!]
Peluit panjang ditiup. Riski berdiri di tengah lapangan sambil mengatur napasnya. Rekan-rekan setim yang tadinya meremehkan kini berlari menghampirinya untuk merayakan gol tersebut. Namun, perhatian Riski tertuju pada pinggir lapangan. Pria dari Barcelona itu sedang berbicara serius dengan penerjemahnya sambil menunjuk ke arah Riski.
Riski tersenyum tipis. Ia tahu, tiket ke Jakarta itu kini akan segera berubah menjadi tiket menuju Spanyol.