NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6: Eh Kamu Yakin Ai?

^^^Kamis, 16 Agustus^^^

Pagi itu langit masih menyisakan semburat jingga ketika Elang menyalakan mesin motor bututnya. Suara knalpot berderak kasar—seperti batuk orang tua—memecah keheningan kompleks perumahan sederhana tempat ia dan Aini tinggal.

Aini keluar dari rumah dengan seragam rapi, dasi abu-abu panjang terpasang sempurna, rambut sebahu disisir licin ke belakang. Ia membawa tas selempang cokelat dan satu map tebal berisi dokumen OSIS yang selalu ia bawa ke mana-mana. Kakaknya sudah menunggu di atas motor, satu tangan memegang stang, satunya lagi merogoh saku mencari sesuatu.

"Helm," Elang berkata singkat, menyodorkan helm abu-abu yang sudah penuh goresan.

Aini menerimanya tanpa banyak bicara. Sejak Elang keluar dari Geng Bhayangkara, hubungan mereka memang lebih baik dari sebelumnya—tapi tetap saja ada jarak. Bukan karena Aini tidak mau dekat, tapi karena Elang tidak pernah membiarkan siapa pun terlalu dekat.

Motor melaju perlahan menyusuri jalanan kompleks yang mulai ramai. Angin pagi menerpa wajah Aini, membuat rambutnya yang terselip di balik helm sedikit berantakan. Ia memeluk tas map-nya erat, matanya menatap punggung kakaknya yang tegak.

Sudah lama ia ingin bertanya. Sejak Elang keluar dari geng itu. Sejak kakaknya pulang dengan wajah babak belur tanpa pernah menjelaskan apa-apa. Sejak ia melihat Elang makan sendirian di kantin, dijauhi semua orang, tapi tetap memilih untuk tidak kembali ke jalan lamanya.

"Kak," Aini memulai, suaranya teredam oleh deru angin.

Elang tidak menjawab. Tapi kepalanya sedikit menoleh, tanda ia mendengar.

"Kakak... kenapa keluar dari geng?"

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Motor terus melaju, melewati pertigaan, melewati warung-warung yang mulai buka. Elang tidak segera menjawab, dan Aini mulai berpikir ia tidak akan menjawab sama sekali.

"Gue capek," akhirnya Elang bersuara. Suaranya datar, hampir tertelan angin.

"Capek?"

"Capek jadi orang yang ditakuti. Capek gak punya temen yang beneran temen." Ia berhenti sejenak. "Capek liat lo takut sama gue."

Aini terdiam. Ia ingat dulu, sebelum Elang masuk geng, kakaknya adalah sosok yang hangat. Yang mengajarinya naik sepeda. Yang membelanya saat ada yang mengganggu di sekolah. Yang tertawa lepas tanpa beban. Lalu entah kapan, semua itu hilang. Digantikan oleh sosok dingin yang jarang pulang, yang tatapannya kosong, yang membuat Aini sendiri takut untuk menyapa.

"Ai gak pernah takut sama kakak," Aini berkata pelan.

Elang tidak menjawab. Tapi bahunya sedikit turun—seperti melepaskan beban yang selama ini ia bawa sendiri.

Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Angin pagi berembus lebih kencang. Di kejauhan, gerbang SMAN Cempaka 1 mulai terlihat.

Lalu tiba-tiba—

CIIIT!

Suara rem mendadak memekakkan telinga. Elang membanting setang ke kiri, motor oleng, nyaris terjatuh. Aini menjerit kecil, tangannya mencengkeram erat jaket kakaknya.

Di depan mereka, sebuah motor matic hitam berhenti melintang, menghalangi jalan. Dua motor lain muncul dari belakang, mengapit mereka dari kiri dan kanan.

Elang mematikan mesin motornya. Tangannya masih memegang stang, tapi tubuhnya menegang. Ia mengenali motor-motor itu. Ia mengenali sosok yang turun dari motor hitam di depannya.

Marcel.

"Yo, Elang. Lo kira gue lupa?" Marcel berjalan mendekat, langkahnya santai, senyum sinis terukir di bibirnya. Di belakangnya, dua anggota Geng Bhayangkara turun dari motor—Riko dan Bara, dua anak buah Marcel yang paling setia.

Aini memegang erat lengan kakaknya. Jantungnya berdebar kencang. Ia mengenal Marcel—semua orang di sekolah mengenal Marcel. Tapi melihatnya dari dekat seperti ini, dengan tatapan dingin yang menusuk, membuat bulu kuduknya berdiri.

"Gue kasih waktu seminggu," Marcel melanjutkan, berhenti tepat di samping motor Elang. Ia mencondongkan tubuhnya, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Elang. "Dan sekarang udah hari Kamis. Lo belum juga minta maaf. Lo belum juga balik."

Elang diam. Matanya menatap lurus ke depan, tidak menghindar, tapi juga tidak menantang.

"Gue cuma mau ngingetin," Marcel berbisik, cukup keras untuk didengar Aini. "Hidup lo bakal lebih susah dari sekarang. Lo pikir temen-temen baru lo bisa lindungin lo? Si Culun? Si Bisu? Si Bima yang sok jagoan?" Ia terkekeh. "Mereka gak ada apa-apanya."

Aini merasakan tangan kakaknya mengepal di atas stang.

"Dan lo, Ai." Marcel tiba-tiba menoleh ke arah Aini, senyumnya melebar. "Lo adiknya Elang kan? Ketua OSIS yang sok sibuk itu? Lo juga hati-hati. Siapa tau nanti... lo kena getahnya juga."

Darah Aini berdesir. Ia ingin menjawab, ingin membalas, tapi lidahnya terasa kelu. Tangannya yang memegang map gemetar.

"Cukup, Marcel."

Suara Elang terdengar rendah, hampir seperti geraman. Ia akhirnya menyahut perkataan Marcel, dan menatap Marcel tepat di matanya.

Marcel tertawa. "Wah, akhirnya bersuara juga. Gue kira lo udah bisu kayak temen lo si Faris."

"Cukup," ulang Elang. Suaranya tidak keras, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Riko dan Bara saling melirik. "Gue udah bilang dari awal kalo gue keluar. Gue gak bakal balik. Lo bisa ngancem gue sampe kapanpun, tapi gue gak peduli."

Marcel berhenti tersenyum. Wajahnya mengeras. "Lo yakin?"

"Gue yakin."

Beberapa detik mereka saling tatap. Udara di sekitar terasa berat. Aini masih mencengkeram jaket kakaknya, napasnya tertahan.

Lalu Marcel mundur. Ia mengangkat kedua tangannya, pura-pura pasrah. "Oke. Oke. Lo pilih jalan lo." Ia berbalik, melangkah ke motornya. Tapi sebelum naik, ia menoleh sekali lagi.

"Gue kasih lo waktu sampe hari Selasa. Itu terakhir." Senyumnya kembali, kali ini lebih dingin. "Abis itu... lo tau sendiri akibatnya."

Mesin motor meraung. Marcel dan kedua anak buahnya melaju pergi, meninggalkan debu dan keheningan.

Aini baru sadar ia menahan napas selama ini. Ia mengembuskan napas panjang, tubuhnya gemetar. "Kak... Kakak gapapa?"

Elang tidak menjawab. Ia menyalakan mesin motor, memasukkan persneling, dan mulai melaju lagi. Tapi Aini bisa melihat—tangan kakaknya gemetar di atas stang.

Mereka tiba di sekolah lima menit kemudian. Elang memarkir motor di tempat biasa, di pojok parkiran yang paling sepi. Ia mematikan mesin, tapi tidak segera turun.

"Kak..." Aini turun dari motor, melepas helmnya. Wajahnya masih pucat. "Kakak jangan turutin mereka. Jangan balik ke geng itu."

Elang diam.

"Kakak udah berubah. Kakak udah punya temen sekarang. Bima, Azril, Faris—mereka baik. Mereka mau temenan sama kakak." Suara Aini bergetar. "Kakak gak usah balik ke sana. Kita... kita bisa cari jalan lain."

"Ai."

Aini berhenti.

Elang menoleh, menatap adiknya. Matanya lelah, tapi ada sesuatu yang lain di sana—sesuatu yang hangat, yang sudah lama tidak Aini lihat.

"Lo gak usah khawatir." Suaranya pelan. "Gue gak bakal balik."

"Tapi tadi Marcel—"

"Gue udah bilang. Gue gak peduli." Elang turun dari motor, berdiri di hadapan adiknya. Tingginya jauh di atas Aini, tapi posturnya tidak lagi terlihat mengancam. "Gue capek, Ai. Capek jadi mereka. Sekarang gue cuma mau... jadi gue."

Aini menatap kakaknya. Matanya mulai berkaca-kaca. Sudah bertahun-tahun ia tidak mendengar kakaknya berbicara seperti ini—jujur, tanpa topeng.

"Eh, kamu yakin, Ai?" Elang tiba-tiba bertanya.

Aini mengernyit. "Yakin apa?"

"Yakin... gue bisa berubah."

Aini terdiam. Lalu, perlahan, ia mengangguk. "Aku yakin. Dari dulu aku yakin."

Elang tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya terangkat—senyum kecil yang sudah lama tidak muncul.

Mereka berjalan berdampingan memasuki gerbang sekolah. Di depan mereka, Bima sudah melambaikan tangan dengan antusias. Di sampingnya, Azril berdiri dengan buku catatan di tangan, dan Faris mengikuti di belakang dengan notebook-nya.

Aini melirik kakaknya. Elang masih diam, tapi langkahnya tidak lagi berat.

Mungkin, pikir Aini, kakakku benar-benar bisa berubah.

...~•~•~•~...

Bel istirahat berbunyi. Koridor sekolah mulai ramai oleh siswa yang berhamburan keluar kelas. Sebagian menuju kantin, sebagian ke perpustakaan, sebagian lagi hanya duduk-duduk di taman depan.

Azril berjalan sendirian menyusuri lorong menuju ruang OSIS. Langkahnya ragu-ragu. Semalam ia tidak bisa tidur nyenyak—bukan karena asmanya yang kembali kambuh, tapi karena memikirkan undangan Aini. Besok kamu ada waktu? Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Ia tidak terbiasa dipanggil secara personal oleh siapa pun, apalagi oleh Ketua OSIS. Apalagi oleh Aini.

Di depan pintu ruang OSIS yang bertuliskan "ORGANISASI SISWA INTRA SEKOLAH", Azril berhenti. Ia merapikan kacamatanya, menarik napas, lalu mengetuk pelan.

Tok. Tok. Tok.

"Masuk."

Suara Aini terdengar dari dalam. Azril membuka pintu perlahan.

Ruang OSIS cukup luas, dengan meja panjang di tengah, papan pengumuman penuh jadwal dan foto kegiatan, serta lemari kaca berisi piala-piala kejuaraan. Di ujung ruangan, Aini duduk sendirian di belakang meja kerjanya, dikelilingi tumpukan map dan kertas.

"Zril." Aini mendongak, tersenyum kecil. "Masuk, jangan diem di pintu."

Azril melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia duduk di kursi di depan meja Aini, punggungnya tegak, kedua tangan di atas pangkuan. Gugup.

"Sendirian aja, Ai?" tanyanya basa-basi.

"Anak OSIS yang lain lagi pada ke kantin." Aini meraih satu map dari tumpukan di sampingnya, membukanya, lalu mengeluarkan selembar kertas. "Aku manggil kamu ke sini karena ada sesuatu."

Azril menunggu.

Aini menyodorkan kertas itu. Sebuah brosur berwarna biru dan putih, dengan logo Kabupaten di sudut atasnya.

"Lomba Pidato Bahasa Inggris Tingkat Kabupaten," Aini menjelaskan. "Diadakan dua minggu lagi, di Gedung Pemuda."

Azril membaca brosur itu. Tangannya sedikit gemetar. "Terus... hubungannya sama gue?"

"Kamu yang bakal ikut."

Azril mendongak cepat. "Apa? Gue?"

Aini mengangguk. "Aku tadinya udah cari kandidat lain. Ada beberapa anak kelas X dan XI yang lumayan jago Bahasa Inggris. Tapi kemarin Bu Dina nemuin aku. Katanya..." Aini berhenti sejenak, menatap Azril. "Katanya kamu yang paling cocok."

Azril terdiam. Bu Dina. Guru Bahasa Inggris yang memujinya di depan kelas. Guru yang sama yang tidak memaksa Faris saat ia tidak bisa membaca.

"Bu Dina bilang pelafalan kamu bagus. Intonasi kamu tepat. Dan yang paling penting..." Aini tersenyum. "Katanya kamu punya sesuatu yang gak dimiliki murid lain."

"Apa?"

"Mata yang serius." Aini menirukan nada Bu Dina, lalu tertawa kecil. "Itu kata Bu Dina. Aku juga gak ngerti maksudnya."

Azril menunduk. Matanya menatap brosur di tangannya. Lomba Pidato Bahasa Inggris. Tingkat Kabupaten. Dia? Azril Erlangga? Anak yang di sekolah lama bahkan tidak pernah dianggap ada?

"Gue... gue gak yakin bisa, Ai."

"Kenapa?"

"Gue..." Ia ingin bilang: Gue sakit. Gue punya asma. Nanti kalo tiba-tiba kambuh di atas panggung gimana? Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. "Gue gak terbiasa tampil di depan umum."

Aini menatap Azril lama. Lalu ia bersandar ke kursinya. "Zril, aku tau kamu pendiem. Aku tau kamu lebih suka diem di pojok kelas daripada di depan. Tapi..." Ia menunjuk brosur itu. "Ini kesempatan. Bukan cuma buat kamu, tapi buat sekolah. Dan Bu Dina percaya sama kamu. Aku juga."

Azril mendongak. "Lo percaya sama gue?"

Aini mengangguk. "Tentu, kenapa tidak?" Ia tersenyum manis mencoba meyakinkan Azril.

Azril mengernyit. "Eh… lo yakin Ai?"

Aini tersenyum kecil. "Zril, apa sih yang kamu raguin? Lagipula ini kan kesempatan kamu buat tampil." Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Gimana, Zril? Mau ikut?"

Azril menatap brosur itu lagi. Pikirannya berkecamuk. Lomba pidato berarti ia harus tampil di depan banyak orang. Berarti ia harus latihan keras. Berarti ia mungkin harus mengatur napasnya dengan hati-hati agar asmanya tidak kambuh.

Tapi di saat yang sama...

Ia ingat Bima yang menulis I want to be football player. Ia ingat Faris yang menulis I like drawing. Ia ingat Elang yang menulis I want to change.

Apa yang ingin ia tulis?

I want to...

"Ai," Azril bersuara pelan.

"Iya?"

"Gue... boleh minta waktu buat mikir?"

Aini menatapnya, lalu mengangguk. "Boleh. Tapi jangan terlalu lama. Pendaftaran ditutup Senin depan."

Azril mengangguk. Ia melipat brosur itu, memasukkannya ke saku celana. "Makasih, Ai. Buat... percaya sama gue."

Aini tersenyum. "Sama-sama, Zril."

Azril berdiri, berjalan menuju pintu. Tapi sebelum keluar, ia berhenti.

"Ai."

"Iya?"

"Tadi pagi... lo sama Elang kenapa? Mukanya pucet banget pas dateng."

Aini terdiam. Senyumnya memudar. "Gapapa, Zril. Cuma... ada urusan."

Azril menatap Aini. Ia tahu Aini berbohong. Tapi ia tidak memaksa. "Kalo lo butuh cerita... gue ada."

Aini tersenyum lagi, kali ini lebih lembut. "Makasih, Zril."

Azril keluar dari ruang OSIS, menutup pintu pelan di belakangnya. Di koridor yang mulai sepi, ia merogoh sakunya. Brosur lomba pidato masih terlipat rapi. Ia menatapnya lama.

I want to...

Ia belum tahu apa yang ingin ia tulis. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin ia ingin menulis sesuatu.

...~•~•~•~...

Di dalam ruang OSIS, Aini masih duduk di belakang mejanya. Ia menatap pintu yang baru saja ditutup Azril, lalu menghela napas panjang.

Pertanyaan Azril tadi terngiang di kepalanya. Tadi pagi lo sama Elang kenapa?

Ia ingat wajah Marcel yang dingin. Ia ingat ancaman yang diucapkan dengan senyum. Siapa tau nanti... lo kena getahnya juga.

Aini menggenggam pulpen di atas meja. Tangannya masih sedikit gemetar.

Tapi ia juga ingat kata-kata kakaknya. Gue gak bakal balik. Dan ia ingat pertanyaan yang kakaknya tanyakan pada dirinya.

Eh, kamu yakin, Ai?

Ia belum tahu jawabannya. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak ingin kakaknya kembali ke jalan yang salah. Dan ia tidak ingin orang-orang yang mulai menerima kakaknya—Bima, Azril, Faris—kehilangan kepercayaan itu.

Aini membuka map di hadapannya, berusaha mengalihkan pikiran. Tapi di balik semua dokumen OSIS yang menumpuk, satu pikiran terus mengganggunya.

Apa yang akan terjadi Selasa nanti?

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!