“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Keluarga dan Restu untuk Kinanti
Sudah lebih dari seminggu putra sulungnya tak berkunjung ke rumah besar keluarga Wijaya. Pak Wijaya nampak sering termenung, pikirannya masih tertinggal pada pengakuan spontan Aditya mengenai putri semata wayang Pak Wisnu tempo hari.
*Sebenarnya Adi ini serius atau tidak, ya? Jangan-jangan dia hanya ingin menghindar dari perjodohan ini,* batin Pak Wijaya ragu.
Teman Pak Wijaya yang berniat menjodohkan putrinya dengan Aditya juga sudah beberapa kali bertanya perihal kelanjutan pertemuan mereka. Pak Wijaya dibuat pusing tujuh keliling oleh sikap putranya yang sulit ditebak itu.
"Juragan?" Lamunan Pak Wijaya buyar karena sebuah panggilan sopan.
"Eh, iya, ada apa?" tanya Pak Wijaya sedikit tersentak.
Ternyata Pak Wisnu, salah satu pekerja kepercayaannya, datang menghampiri. Pak Wijaya yang sedang duduk di bangku rotan teras pabrik dengan secangkir kopi yang sudah mulai dingin, mengisyaratkan pekerjanya itu untuk mendekat.
"Ada apa, Juragan? Saya lihat dari tadi Bapak seperti sedang memikirkan beban yang sangat berat," tanya Pak Wisnu dengan nada rendah yang penuh hormat.
Pak Wijaya menghela napas panjang, mengembuskan beban yang menyesak di dada. "Duduk sini, Nu, temani saya mengobrol sebentar," ajak Pak Wijaya.
Mengingat tugas di gudang padi sebagian besar sudah selesai dan sekarang adalah waktu istirahat, Pak Wisnu pun menyetujui. Ia duduk di kursi kayu sebelah Pak Wijaya dengan posisi tubuh yang tetap menjaga sopan santun.
"Saya bingung dengan Adi, Nu."
Pak Wisnu tak langsung menyahut. Sebagai orang yang sudah lama bekerja di sana, ia tahu kapan harus bicara dan kapan harus menjadi pendengar yang baik.
"Banyak yang datang ke rumah bermaksud ingin meminang putra sulung saya itu untuk putri-putri mereka. Tapi dia selalu saja menolak," curhat Pak Wijaya.
"Menurutmu, apakah Adi itu sebenarnya sudah pantas membina rumah tangga, Wisnu?" tambah Pak Wijaya.
Wisnu menelan ludah pelan sebelum menjawab, "Menurut saya, kesiapan menikah itu bukan perkara mudah, Juragan. Tapi kalau melihat kemapanan dan sikap Juragan Adi, secara lahiriah beliau sudah sangat matang."
"Nah, itu dia! Coba kamu pikir-pikir. Umur saya semakin lama semakin tua, seperti saya ini. Saya ingin sekali menimang cucu dan melihat Adi menikah sebelum saya tiada, Nu. Sekarang umur Adi itu sudah mau masuk tiga puluh tahun, sudah sangat matang untuk menikah dan menjadi kepala keluarga," beber Pak Wijaya blak-blakan.
Ia tak menutup-nutupi kalau sebenarnya teramat sangat ingin melihat putra sulungnya menikah dan berumah tangga. Namanya umur, tak ada yang tahu, apalagi usianya yang sudah tua seperti ini. Raut wajah Pak Wijaya menyiratkan ketakutan yang dialami banyak orang tua di usianya ketakutan tidak sempat melihat kebahagiaan anak sulungnya di pelaminan.
"Saya heran, apa yang ada di pikiran anak itu sampai sekarang tidak mau menikah," bingung Pak Wijaya.
"A-apakah Juragan Adi punya calon sendiri, Juragan?" tanya Pak Wisnu pelan.
Pak Wijaya terdiam sejenak. Ia melirik Pak Wisnu yang menatapnya dengan tulus. Ada dorongan kuat untuk jujur, namun ia merasa ini belum saatnya. "Mungkin saja," jawabnya singkat.
"Kalau saran saya, jika pilihan Juragan Adi nanti memang baik dan pantas, coba Juragan Jaya obrolkan dari hati ke hati dulu. Siapa tahu memang cocok, Juragan. Saya lihat Juragan Adi itu baik, sopan, dan sangat santun. Saya doakan semoga Juragan Adi mendapatkan jodoh yang terbaik," doa tulus Pak Wisnu.
Pak Wijaya kembali terdiam. Jikalau Pak Wisnu tahu bahwa pilihan yang dimaksud Aditya adalah putri kesayangannya, apakah pria di depannya ini akan jatuh pingsan karena terkejut?
"Aamiin. Semoga saja, ya, Nu."
"Iya, Juragan."
"Ah, iya. Putri kamu itu, apakah masih sekolah?" tanya Pak Wijaya.
Wisnu tersenyum kecil. "Sudah lulus SMA, Juragan. Sekarang bekerja di toko bunga," jawabnya.
Kepala Pak Wijaya mengangguk paham. "Sudah besar, ya. Apa sudah ada calonnya, Nu?"
Mendengar itu, Wisnu terkekeh kecil. "Belum, Juragan. Putri saya masih sibuk dengan pekerjaannya. Saya tidak mempermasalahkan dia punya pacar atau tidak, senyamannya dia saja. Kalau ada yang cocok, ya sudah, biar dibawa ke rumah dan dikenalkan ke saya."
Pak Wijaya tak menampik bahwa pekerja yang satu ini memang begitu sederhana dan sangat menyayangi anak gadisnya. Sudah lama Pak Wijaya juga menyukai sikap Pak Wisnu ini.
"Ngomong-ngomong, putri kamu namanya siapa?"
"Kinanti, Juragan. Panggilannya Kinan."
Dari namanya, Pak Wijaya bisa menyimpulkan bahwa putri Wisnu pasti cantik dan lemah lembut. Pantas saja anak sulungnya langsung mengklaim seperti itu.
"Tahun ini umur berapa putri kamu?" Meskipun agak heran mengapa Pak Wijaya tumben sekali menanyakan umur putrinya.
"Dua puluh tahun, Juragan."
◇────◇────◇────◇────◇
💍 Deklarasi di Ruang Keluarga
Malam hari, di kediaman keluarga Wijaya, tengah diadakan sidang dadakan untuk putra sulungnya. Kedua pasangan paruh baya itu sudah siap untuk menginterogasi putra sulungnya yang sedang duduk santai di sofa ruang keluarga.
"Jadi, bagaimana, Adi?"
"Sudah seminggu ini kamu tidak ada kabar, tidak juga mengunjungi rumah Ayah dan Ibu. Sebenarnya, kamu ini serius atau tidak dengan ucapanmu waktu itu?" tanya Pak Wijaya, yang sudah lelah dengan putra sulungnya.
Putra sulungnya hanya duduk dengan sangat tenang. Punggungnya tegak, dan wajahnya datar tanpa ekspresi, ciri khasnya saat sedang membicarakan hal serius membuat orang tuanya menjadi bingung.
"Kenapa diam saja? Kamu lupa—"
"Adi tidak pernah lupa apa yang Adi katakan waktu itu, Ayah, Ibu."
Pak Wijaya dan Bu Sarasvati terdiam, menanti kelanjutan ucapan putra sulungnya itu.
"Mohon maaf kalau seminggu ini Adi tidak ada berkunjung ke sini atau belum mengabari Ayah dan Ibu tentang waktu itu. Adi repot dengan pekerjaan, Yah, Bu," jelas Aditya.
Pak Wijaya menghela napas pasrah.
"Dan sekarang kedatangan Adi ke sini mau menuntaskan pembicaraan minggu lalu yang sempat tertunda," tambah Aditya.
Wajah kedua orang tuanya tampak tegang menatap ke arahnya.
"Adi sudah siap melamar putri Pak Wisnu."
HENING
Pak Wijaya sampai menegakkan tubuhnya, sedangkan Bu Sarasvati membelalakkan kedua matanya.
"A-Adi, kamu serius, Nak?" tanya serentak kedua orang tuanya.
"Iya," Aditya mengangguk mantap. Mata elangnya menatap kedua orang tua dengan tegas. "Mohon restunya, Ayah, Ibu. Aditya ingin segera melamar putri Pak Wisnu secepatnya."
Bu Sarasvati tak bisa berkata apa-apa lagi, tak terkecuali Pak Wijaya. Pria paruh baya itu terdiam sambil menatap anaknya lekat.
"Kenapa? Ayah dan Ibu tidak setuju?"
Bu Sarasvati lekas menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu, Nak. Ibu cuma kaget. Kamu serius ingin membangun rumah tangga bersama Kinanti, anaknya Pak Wisnu?" tanya Bu Sarasvati lembut.
Ujung bibir Aditya tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis.
"Iya, Adi serius kali ini, Bu."
Kedua orang tuanya saling pandang. "Ayah dan Ibu tidak mengekang kamu mau sama siapapun, Nak. Hanya saja, umur kamu dan Kinanti terpaut cukup jauh. Apa kamu yakin siap membimbingnya yang terbilang masih sangat muda?"
"Mengapa tidak? Adi sudah siap meminangnya sebagai seorang istri. Jadi, Adi juga harus siap menerima dia apa adanya kelak. Pelan-pelan Kinanti akan Adi bimbing sebagaimana mestinya, menjadi seorang istri yang baik," tegas Aditya.
Ibunya tersenyum lembut melihat putra sulungnya ini tidak main-main dengan pilihannya kali ini.
"Ibu ikut apa keputusan Ayah, Nak, dan Ibu salut sama kamu."
Pak Wijaya yang melihat tatapan mata istrinya yang meminta persetujuan, pun akhirnya mengangguk kecil. Kedua paruh baya ini tak mempermasalahkan siapa yang akan menjadi menantunya nanti. Putra sulungnya ini mau menikah saja sudah membahagiakan bagi keduanya.
"Ayah setuju. Restu kami sudah bersamamu, Nak. Secepatnya akan Ayah bicarakan perihal ini dengan Pak Wisnu."
Aditya sangat lega mendengarnya, senyuman tampan tak berhenti tersungging di bibirnya. "Terima kasih, Ayah, Ibu."
Bu Sarasvati beranjak dari duduknya dan lekas memeluk tubuh kekar putranya ini. "Kasih sayang kami untukmu tiada batasnya, Nak. Asal kamu bahagia, kami pun turut senang," tulus Bu Sarasvati, sembari mengecup sayang kening Aditya.
Masih di rumah keluarga Wijaya, kamar bernuansa hitam dan abu milik Aditya tampak elegan dan berkelas sesuai dengan kepribadiannya. Angin malam berembus tenang mengenai wajahnya yang kini berdiri di jendela balkonnya.
"Tidak lama lagi kamu sah menjadi istriku, Kinanti," gumamnya.
Sebelum dia naik ke kamarnya, Aditya sempat mendengar ayahnya yang sedang sibuk menelepon calon mertuanya. Di umurnya yang memasuki tiga puluh tahun, dia akan segera menikah dengan anak salah satu pekerja ayahnya.
"Kinanti, entah apa yang kamu lakukan terhadapku, sehingga membuatku menjadi seperti ini," bisiknya penuh rasa memiliki.
Bersambung__