NovelToon NovelToon
Mantu Idaman

Mantu Idaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irh Djuanda

"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"

"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.

"Sah"

" Sah"

Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.

"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.

Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.

"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan Rani terhadap Xena

Rani berhenti sejenak saat melihat sebuah mobil hitam terparkir di halaman rumahnya. Ia menatap lama mobil itu, seketika senyumnya terlukis dari wajahnya. Sorot matanya berbinar. Ia sadar sesuatu.

"Kak Rasti...?" bisiknya pelan, nyaris tidak percaya.

Tanpa berpikir panjang, Rani langsung berlari kecil menuju rumah. Sandalnya hampir terlepas, tapi ia tak peduli. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rindu dan bahagia yang tiba-tiba datang begitu saja.

"Kak!" teriaknya dari luar.

Semua yang ada di dalam rumah langsung menatap keluar. Rasti langsung bangkit dati duduk langsung berjalan ke arah pintu. Matanya mencari sumber suara itu. Dan saat melihat sosok yang berlari ke arahnya, matanya kembali memanas.

"Rani..."

Dalam hitungan detik, Rani sudah sampai di hadapannya. Tanpa ragu Rani langsung memeluknya erat.

"Kakak... Rani kangen sekali..." ucapnya dengan suara bergetar.

Rani mengendurkan pelukannya, ia merasakan sesuatu yang berbeda pada kakaknya.

"Kenapa kakak terlihat sangat pucat... dan tubuh kakak juga kelihatan lebih kurus? Apa mereka...tidak memperlakukan mu dengan baik?" ucap Rani sambil menatap mereka saru persatu.

Xena tersentak, Mira dan Budi hanya diam. Siti mencoba maju namun langkahnya terhenti saat Rasti mulai membuka.

Rasti menggeleng pelan, senyum tipis ikut menghiasai wajahnya yang tampak tirus, "Kakak baik-baik saja. Kau lihat mereka... mereka sangat menyayangiku."

Rani mengernyit, masih menatap mereka penuh perhitungan. Namun setelah menatap ke arah Xena. Tatapannya berhenti dahinya tak lagi berkerut. Ia membaca gerak gerik kakak iparnya itu.

Langkahnya pelan mendekati Xena, "Hmm...aku pikir-pikir... sepertinya kakak ipar tengah gelisah?"

Raut wajah Xena berubah seketika, namun dengan cepat Rasti menarik adiknya itu. Ya, Rani sosok orang yang suka mau tau sesuatu dan lagi penuh dengan segala perhitungan.

"Rani... Rani... kau ini ada-ada saja. Memangnya kau tau apa soal suami kakak."

Rani tetap menatap Xena, "Tau... mungkin aku bisa menebak."

Semua terdiam.

"Menebak? Memang apa yang kau pikirkan?" lanjut Rasti.

Siti mulai membuka mulut, " Rani, jangan begitu. Mereka baru sampai. Kau jangan membuat canggung."

"Canggung?" ulang Rani pelan.

"Ya benar, Bu. Kakak ipar canggung. Bahkan terlihat ketakutan." sambungnya.

"Rani....," ucap Rasti pelan, nadanya tidak marah cuma sedikit menekan.

"Iya iya. Baiklah kakak ipar. Kalau... dugaanku benar. Kau harus membayarnya," ucap Rani sambil terus menatap Xena.

Xena mengangkat alisnya sedikit. Tatapannya tidak lagi menghindar seperti tadi. Justru ia menatap balik Rani dengan tenang.

"Membayar?" ulangnya pelan.

Rani mengangguk mantap, sorot matanya tajam penuh rasa ingin tau. Kedua tangannya disilangkan ke dada.

"Iya. Kalau firasatku benar...kakak ipar harus jujur di depan semua orang "

DEG

"Sudah Sudah. Rani masuk kamar dan ganti pakaianmu. Kau bau sekali," ucap Siti menyudahi pembicaraan itu.

"Eeeee...Tunggu Bu, Rani belum selesai."

Siti terus saja mendorong putrinya itu masuk ke dalam. Dalam hitungan detik Rani menghilang dari hadapan mereka. Ada rasa sedikit lega yang tersirat dalam diri Xena. Ia tak lagi merasa tertekan di sana. Xena menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya Rasti mendekatinya.

"Kau tau...adikku itu tidak akan pernah diam sebelum dia mengetahui segalanya," bisik Rasti pelan.

Xena terhenyak, kata-kata itu seperti menyindirnya. Namun kembali Rasti mengingatkannya.

"Tapi tenang saja, jika kau jujur...itu akan lebih baik," sambung Rasti lagi.

Xena menatap Rasti, tatapan itu seolah menyimpan beberapa kata-kata yang tak bisa terucap. Rasti mengedipkan matanya pelan lalu tersenyum singkat seolah meminta Xena tetap tenang.

Xena tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke halaman rumah. Angin desa berhembus pelan, membawa aroma tanah dan daun-daun kering. Suasana yang asing baginya tapi justru terasa menenangkan.

***

Di dalam rumah, Siti sibuk menyiapkan minum. Mira ikut membantu, sementara Budi duduk di kursi kayu ruang tengah, memperhatikan sekeliling dengan tenang.

"Masuk dulu, jangan berdiri di luar," panggil Siti dari dalam.

Rasti menarik pelan lengan Xena, "Ayo.."

Xena menurut, Ia melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu. Lantainya masih dari semen halus, dindingnya dihiasi beberapa foto lama. Salah satunya menarik perhatian Xena.Seorang pria tersenyum hangat dalam bingkai kayu sederhana.

"Itu...ayahku," ucap Rasti pelan, menyadari arah pandangan Xena.

Xena menatap foto itu lama. Ada rasa asing tapi juga hormat yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.

"Aku belum sempat bertemu beliau," katanya lirih.

"Tapi ayahku pasti sudah tau," potong Rasti cepat.

Xena langsung menolah pelan.

"Tentu saja. Adi sudah tau Xena sejak lahir," sahut Budi dari dalam.

Xena tidak menjawab. Begitu juga dengan Rasti.

"Kalian sudah kami jodohkan sejak lahir," sambungnya.

Xena terdiam. Matanya perlahan beralih dari foto pria itu ke arah Budi. Dahi Xena sedikit berkerut, seolah mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

"Sejak lahir? Kenapa, Pa?," ulangnya pelan.

Suasana di ruang itu seketika berubah hening. Bahkan Mira yang tadi sedang membantu Siti menuangkan teh ikut berhenti sejenak. Budi mengangguk santai, seolah itu bukan hal besar.

"Iya. Adi adalah sahabat lama Pap. Kami sudah berjanji... kalau nanti anak kami berbeda jenis kelamin, akan kami saru kan."

Xena menarik nafas pelan. Tangannya yang tadi santai di samping tubuhnya perlahan mengepal.

"Dan... kau tau?" tanya Xena pada Rasti.

Rasti menunduk sejenak. Jemarinya saling bertaut, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan, "Aku tau...saat aku sudah memasuki sekolah menengah."

Xena tertawa kecil. Bukan karena lucu. Lebih seperti seseorang yang baru saja memahami sesuatu yang selama ini tersembunyi.

"Pantas..." gumamnya lirih.

"Pantas apa?" sahut Mira menimpali.

"Pria itu. Kau menyukainya tapi kau terpaksa tidak meresponnya. Apa aku benar?" ucap Xena.

Mira mengernyit, begitu juga dengan Rasti. Mereka mencoba mengingat dan memahami maksud ucapan Xena itu.

"Pria?" ucap Mira dan Rasti bersamaan.

"Iya. Pria yang kita temui di rumah sakit. Pria yang mengaku sangat dekat dengan mu itu," ucap Xena, nada suaranya sedikit menekan namun tidak marah.

"Ya ampun Xena...bisa-bisanya kau mengingat pria itu lagi," ucap Mira.

Berbeda dengan Rasti, ia tersenyum tipis menanggapi ucapan suaminya itu.

"Kau masih cemburu?" tanya Rasti pelan.

"Cemburu? Aku? Ha... mana mungkin aku cemburu dengan laki-laki seperti itu," katanya sambil kedua tangannya dilipat di dadanya.

"Kau yakin?"

Xena terdiam sesaat. Tatapannya beralih dari Rasti ke arah lain, seolah mencari sesuatu untuk dijadikan alasan. Namun tidak ada. Hanya keheningan yang membuat jawabannya terasa semakin jelas.

"Aku tidak cemburu," katanya, kali ini lebih pelan.

Rasti mengangkat alis tipis. Senyum kecil terlukis di sulit bibirnya.

"Kalau tidak cemburu...kenapa kau masih mengingatnya sampai sekarang?" tanyanya tenang.

DEG

1
amatiran
awal yang bagus 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!