"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Nilai
Malam di Jakarta selalu memiliki dua wajah. Wajah yang lelah, penuh dengan kepulan asap knalpot dan klakson yang tak sabar, serta wajah yang berkilauan, tersembunyi di balik dinding-dinding kaca restoran fine dining di kawasan Senopati. Malam ini, aku berada di sisi yang berkilauan itu.
Aku berdiri di depan cermin toilet restoran, merapikan gaun sutra berwarna hitam yang pas di tubuhku. Aku memoles gincu berwarna merah bata, memberikan kontras yang tegas pada wajahku yang biasanya terlihat pucat karena lembur. Aku menatap pantulanku sendiri. Selama tujuh tahun, aku hampir lupa bahwa aku memiliki bahu yang tegak dan tatapan yang tajam. Kaivan selalu membuatku merasa bahwa aku adalah "bagian darinya", sehingga aku lupa bagaimana rasanya menjadi individu yang utuh.
"Sudah siap, Arelia?"
Suara Bastian terdengar dari ambang pintu area lobi toilet. Ia berdiri di sana, mengenakan kemeja biru tua dengan lengan yang digulung sedikit, memamerkan jam tangan perak yang terlihat sangat mahal namun fungsional. Tidak ada dasi, tidak ada jas formal. Ia terlihat seperti pria yang memiliki dunia di telapak tangannya, namun cukup rendah hati untuk menikmatinya secara perlahan.
"Sudah," jawabku sambil melangkah keluar.
Kami duduk di meja pojok yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu Jakarta. Di sini, suara bising kota hanya tampak seperti film bisu yang diputar di balik kaca tebal. Pelayan menuangkan anggur putih ke gelas kami dengan gerakan yang sangat terlatih.
"Terima kasih untuk hari ini, Bastian. Rapat tadi pagi... itu adalah pertama kalinya aku merasa benar-benar memegang kendali," kataku, memecah keheningan yang nyaman di antara kami.
Bastian menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapku dengan binar mata yang sulit dibaca. "Kamu bukan hanya memegang kendali, Arelia. Kamu mendominasi ruangan itu. Komisaris saya, yang biasanya sangat pelit pujian, tadi sore menelepon saya hanya untuk bertanya siapa namamu."
Aku tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang merayap di dadaku—bukan karena anggur, tapi karena pengakuan. "Dulu, setiap kali aku memberikan analisis yang bagus, orang-orang akan bilang: 'Kaivan hebat ya, asistennya pintar'. Seolah-olah kepintaranku adalah properti milik Kaivan."
"Itu karena kamu membiarkannya," Bastian menyesap anggurnya, matanya tidak lepas dari wajahku. "Laki-laki seperti Kaivan adalah predator yang sangat halus. Dia tidak mencuri cahayamu dengan paksa. Dia hanya membuatmu percaya bahwa cahayamu hanya akan berguna jika dipantulkan melalui dia. Dia membuatmu merasa dibutuhkan, agar kamu tidak pernah menyadari bahwa sebenarnya dialah yang sangat membutuhkanmu."
Kata-kata Bastian terasa seperti pisau bedah yang mengiris tepat di bagian hatiku yang paling bernanah. Selama tujuh tahun, aku membungkus ketergantungan Kaivan dengan label "cinta". Aku menganggap diriku sebagai pahlawan yang menyelamatkan kariernya, padahal sebenarnya aku adalah martir yang menghancurkan diriku sendiri.
Tiba-tiba, ponselku yang tergeletak di meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama yang selama ini menjadi pusat duniaku.
Kaivan is calling...
Aku menatap layar itu. Jantungku berdegup kencang, refleks lama yang sulit dihilangkan. Aku tahu apa yang ingin dia katakan. Dia pasti baru saja selesai makan malam dengan Nadine dan sekarang merasa bersalah, atau dia ingin menanyakan file laporan yang tidak bisa dia temukan.
Bastian melirik ponselku, lalu kembali menatapku dengan tenang. Ia tidak menyuruhku mengangkatnya, tidak juga melarangnya. Ia hanya menungguku membuat pilihan.
Aku meraih ponsel itu, jariku menggantung di atas tombol merah. Di saat yang sama, sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.
Kaivan: "Rel, kamu di mana? Aku di apartemenmu tapi kamu nggak ada. Nadine tadi nggak sengaja tumpahin wine di jok mobilku, aku bingung bersihinnya gimana. Kamu tahu kan cairan pembersih yang biasa kamu pakai? Balas, Rel. Urgent."
Urgent.
Untuk Kaivan, tumpahan wine di jok mobil adalah hal darurat yang layak mengganggu malamku. Ia tidak bertanya apakah aku sudah makan, ia tidak bertanya kenapa aku tidak ada di rumah. Ia hanya mencari "tempat pulang" yang biasanya selalu siap membereskan kekacauannya.
Aku meletakkan ponsel itu kembali dengan layar menghadap ke bawah. Aku tidak mematikan suaranya, tapi aku mengabaikannya.
"Tidak diangkat?" tanya Bastian lembut.
"Tidak. Cairan pembersih jok mobil bukan tanggung jawab analis senior," jawabku, suaraku terdengar lebih kuat dari yang kuduga.
Bastian tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus dan berwibawa. "Selamat datang kembali, Arelia. Selamat datang di dunia di mana kamu mulai mengenali nilaimu."
Malam itu berlanjut dengan pembicaraan yang sangat berbeda dari apa yang biasa kulalui dengan Kaivan. Bastian tidak bicara tentang dirinya sendiri. Ia bertanya tentang mimpi-mimpiku yang terkubur, tentang kenapa aku menyukai data riset, dan tentang apa yang ingin aku capai dalam lima tahun ke depan.
Bersama Bastian, aku merasa seperti manusia yang memiliki visi. Bersama Kaivan, aku hanya merasa seperti pendukung untuk visinya.
Saat kami selesai makan malam dan berjalan menuju parkiran, udara malam Jakarta terasa segar. Bastian mengantarku sampai ke pintu lobi apartemenku dengan mobil sedannya yang mewah.
"Terima kasih untuk malam ini, Bastian. Benar-benar... terima kasih," kataku sebelum turun.
Bastian menahan lenganku sebentar. Sentuhannya hangat, tidak menuntut, namun sangat protektif. "Arelia, besok pagi Kaivan akan datang kepadamu dengan seribu alasan dan permintaan maaf. Dia akan mencoba menarikmu kembali ke zona nyaman yang dia ciptakan. Ingatlah malam ini. Ingatlah bagaimana rasanya dihargai bukan karena apa yang bisa kamu kerjakan untuk orang lain, tapi karena siapa kamu sebenarnya."
Aku mengangguk. "Aku akan ingat."
Aku melangkah masuk ke lobi. Dan benar saja, di sofa ruang tunggu, Kaivan duduk dengan wajah yang sangat gelap. Ia langsung berdiri begitu melihatku masuk. Pakaiannya berantakan, dan aroma alkohol tercium samar dari tubuhnya.
"Dari mana kamu, Rel? Kenapa nggak angkat teleponku?" tuntutnya. Ia berjalan mendekat, mencoba meraih tanganku, namun aku mundur satu langkah. Jarak yang kubuat membuat Kaivan tertegun.
"Aku makan malam dengan klien, Kaivan. Dan ponselku sedang dalam mode hening," jawabku datar.
"Makan malam dengan klien atau dengan Bastian Adhitama?" ia mendesis, matanya penuh dengan rasa cemburu yang egois. "Kamu tahu kan dia itu siapa? Dia cuma mau manfaatin kepintaranmu buat jatuhin aku di depan Pak Dimas! Kamu jangan bodoh, Rel. Kamu itu polos, kamu nggak tahu taktik orang-orang seperti dia."
"Justru karena aku tidak bodoh, Kaivan, aku mulai sadar siapa yang sebenarnya memanfaatkanku selama tujuh tahun ini," aku menatapnya dengan pandangan yang sangat jernih. "Bastian tidak menjatuhkanmu. Kamu menjatuhkan dirimu sendiri dengan ketidakmampuanmu bekerja tanpa aku."
"Arelia! Jaga bicaramu! Aku ini sahabatmu!"
"Sahabat tidak membiarkan sahabatnya menjadi bayang-bayang selama tujuh tahun," balasku tenang. "Sekarang, pulanglah. Bersihkan sendiri jok mobilmu. Dan jangan pernah datang ke apartemenku tanpa janji temu lagi. Aku punya nilai yang jauh lebih tinggi daripada sekadar menjadi layanan daruratmu."
Aku berjalan melewati Kaivan menuju lift. Ia mencoba memanggil namaku, suaranya terdengar pecah antara amarah dan keputusasaan. Tapi aku tidak menoleh. Saat pintu lift tertutup, aku melihat pantulanku di dinding besi yang mengkilap.
Aku bukan lagi Arelia yang "nyaris".
Aku adalah Arelia yang sudah sampai pada tujuannya sendiri. Dan tujuanku malam ini adalah tidur dengan nyenyak, tanpa memikirkan beban orang lain.
Nyaris jadi kita? Tidak. Kali ini, ceritanya adalah tentang aku yang baru saja menemukan kembali harta karun yang paling berharga: harga diriku sendiri.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain