Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tubuhku Mulai Penuh
Tangan Endric terasa berat. Bukan sekadar pegal atau lelah, melainkan seperti ada sesuatu yang menempati ruang di dalamnya. Garis hitam yang tadi hanya sampai bahu kini terlihat lebih jelas, menyebar tipis seperti akar di bawah kulit. Endric menatapnya lama, mencoba memahami perubahan yang terjadi sambil menahan napas. Ada sensasi asing yang bergerak pelan, seolah hidup.
“Wadah apaan, cok. Jangan bilang gue jadi tempat numpang yang aneh-aneh begini.”
Gandhul berdiri di sampingnya, ikut memperhatikan dengan tatapan lebih serius dari biasanya.
“Kalau dia bilang wadah, berarti lo mulai dipakai. Ini bukan sekadar numpang lewat.”
Endric langsung menoleh, alisnya menegang.
“Dipakai siapa? Jelasin yang jelas, jangan setengah-setengah.”
Gandhul mengangkat bahu, tetapi matanya tetap mengawasi garis itu.
“Yang di dalam lo. Yang tadi jawab.”
Endric menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.
“Gue ndak setuju. Ini badan gue, bukan tempat sembarangan.”
“Masalahnya, mereka ndak nanya. Mereka masuk karena bisa,” jawab Gandhul datar.
Endric menghela napas panjang. Ia berjalan ke kursi, lalu duduk perlahan. Tubuhnya masih lemas setelah kejadian tadi, tetapi yang paling mengganggu adalah rasa asing di dalam dirinya sendiri. Ia mengangkat tangannya sedikit, menatap garis hitam itu dengan waspada, seolah menunggu sesuatu.
“Lo masih di situ?” tanyanya pelan, suaranya turun.
Beberapa detik hening.
Lalu garis itu bergerak.
“Kami di sini.”
Endric langsung memejamkan mata, rahangnya mengeras.
“Gue nyesel ngajak ngobrol. Ini malah makin nyata.”
Gandhul tertawa kecil di sampingnya.
“Udah telat. Lo yang mulai, sekarang tinggal jalanin.”
Endric membuka mata lagi, napasnya lebih berat.
“Lo tadi bilang gue bisa dengar mereka. Sekarang gue juga bisa diajak ngobrol balik. Ini udah level berapa menurut lo?”
“Level mulai ndak sehat. Dan biasanya habis ini makin aneh,” jawab Gandhul santai.
Endric mendecak, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Gue pengen balik ke level takut pocong doang. Itu masih masuk akal.”
“Ya itu udah lewat. Sekarang lo main di level lain,” sahut Gandhul.
Endric menatap langit-langit, mencoba menenangkan pikirannya. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Di tengah kekacauan ini, satu hal mulai jelas, ia tidak bisa terus pasif.
“Oke. Kita atur,” katanya pelan, lebih tegas.
Gandhul menoleh, tertarik.
“Atur apa? Lo mau negosiasi sama yang di dalam lo?”
Endric menegakkan badan, sorot matanya mengeras.
“Kalau gue harus jadi wadah, gue yang pegang kendali. Bukan mereka.”
Gandhul mengangkat alis.
“Ambisius. Biasanya yang ngomong begitu malah kebawa arus.”
Endric menunjuk dirinya sendiri, napasnya sedikit cepat.
“Ini badan gue. Bukan kosan gratis yang bisa dipakai seenaknya.”
Gandhul tersenyum tipis.
“Gue suka cara pikir lo. Nekat, tapi jelas.”
Endric menatap tangannya lagi, kali ini lebih fokus.
“Denger ya. Kita ngomong jelas dari awal.”
Garis itu langsung merespons, bergerak halus di bawah kulit.
“Kami dengar.”
Endric menarik napas dalam.
“Lo boleh di dalam sini, tapi lo ndak boleh ambil alih. Itu batasnya.”
Sunyi beberapa detik. Garis itu bergerak pelan, seolah mempertimbangkan.
“Kami butuh keluar.”
Endric langsung menggeleng, rahangnya mengeras.
“Ndak ada keluar. Lo keluar, gue yang habis.”
“Kami lama di bawah.”
Endric menggertakkan gigi, dadanya terasa sesak.
“Gue ngerti, tapi kalau lo keluar lewat gue, gue yang jadi korban. Gue ndak mau.”
Garis itu bergerak lebih pelan, seperti berpikir.
“Kami bisa bantu.”
Endric langsung fokus, tubuhnya sedikit condong ke depan.
“Bantu gimana? Jangan muter.”
“Lihat lebih.”
Endric mengernyit.
“Lihat apa maksudnya? Jelasin.”
Tiba-tiba penglihatannya berubah. Bukan gelap atau pingsan, melainkan seperti ada lapisan lain yang terbuka di atas kenyataan. Ruangan yang tadi terlihat normal kini tampak lebih gelap dan lebih tua. Warna memudar, sudut-sudutnya seperti dipenuhi sesuatu.
Di sana ada bayangan.
Berdiri diam.
Menatap.
“Anjir...” napas Endric tertahan, bahunya menegang.
Gandhul menoleh cepat.
“Kenapa? Lo lihat apa?”
“Lo ndak lihat?” tanya Endric cepat, menunjuk sudut ruangan.
“Lihat apa? Gue cuma lihat tembok biasa,” jawab Gandhul.
Endric menelan ludah. Ia menatap lagi, dan bayangan itu masih ada. Lebih dari satu, diam tanpa bergerak, tetapi jelas hadir.
“Ini yang lo maksud?” tanyanya pelan, suaranya turun.
“Lihat lebih.”
Endric langsung paham. Dadanya terasa dingin.
“Gue sekarang bisa lihat yang ndak kelihatan,” gumamnya.
Gandhul mengangguk pelan.
“Upgrade lagi. Lo makin masuk ke sistemnya.”
Endric menghela napas panjang.
“Gue ndak pernah minta beginian.”
Ia kembali duduk, tetapi kini tubuhnya lebih tegang. Ia sadar, ia tidak lagi sendirian di ruangan itu. Ia bisa merasakan kehadiran lain, sesuatu yang diam tetapi memperhatikan.
“Mereka siapa?” tanya Endric.
“Yang tinggal,” bisik suara itu.
Endric langsung merasa tidak nyaman. Bahunya menegang.
“Ini rumah kosong, kan? Harusnya tidak ada siapa-siapa.”
“Harusnya iya,” jawab Gandhul santai, meski matanya mulai waspada.
Endric menatap bayangan di sudut.
“Harusnya.”
Bayangan itu tidak bergerak, tetapi Endric merasa seperti diawasi. Tatapan itu berat, lebih intens dari manusia biasa.
“Mereka lihat gue,” katanya pelan, tenggorokannya kering.
“Ya jelas. Lo baru. Pasti diperhatiin,” jawab Gandhul.
Endric menelan ludah.
“Gue ndak suka jadi tontonan begini.”
“Biasakan. Kalau lo tetap di sini, itu bakal sering,” sahut Gandhul.
Endric mengusap wajahnya, mencoba tetap fokus.
“Oke. Fokus ke masalah utama. Jangan kebawa suasana.”
Ia menatap tangannya lagi.
“Lo bilang bisa bantu gue ndak dipilih. Itu masih berlaku?”
Garis itu bergerak.
“Bisa.”
Endric mengangguk.
“Tanpa ngorbanin orang lain?”
Sunyi beberapa detik. Tidak ada jawaban langsung.
“Susah.”
Endric langsung mendesah panjang, bahunya turun.
“Ya ampun. Selalu ada harga.”
“Di sini hampir semua solusi itu ngorbanin sesuatu,” sela Gandhul.
Endric menatapnya, matanya menyipit.
“Gue ndak mau jadi kayak mereka.”
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Endric dengan ekspresi lebih serius dari biasanya.
“Kalau lo tetap pegang itu, lo bakal lebih susah. Tapi ya itu pilihan lo,” katanya pelan.
Endric menghela napas panjang.
“Gue tahu. Tapi gue tetap pegang.”
Ia berdiri dan berjalan pelan di dalam rumah. Dengan penglihatan barunya, setiap sudut terasa berbeda. Lebih penuh, lebih hidup, dan jauh lebih menyeramkan.
“Ini semua dulu orang?” tanyanya, matanya menyapu bayangan.
“Iya,” jawab suara itu.
Endric berhenti dan menatap salah satu bayangan.
“Lo juga dulu kayak gitu?”
“Iya.”
Endric terdiam beberapa detik, rahangnya mengeras.
“Gue ndak mau berakhir kayak kalian.”
Sunyi.
Namun kali ini, bayangan itu bergerak sedikit. Satu langkah maju.
“Woi...” Endric refleks mundur sedikit, tubuhnya menegang.
Gandhul menoleh.
“Kenapa lagi? Lo lihat apa sekarang?”
“Dia gerak. Yang di sudut itu, dia maju,” jawab Endric cepat.
“Siapa? Gue ndak lihat apa-apa,” kata Gandhul.
Endric menunjuk, tangannya gemetar.
“Ya ini. Di situ. Deket pintu.”
Gandhul tetap tidak melihat apa pun.
“Rek, gue ndak bisa bantu kalau cuma lo yang lihat.”
Endric menelan ludah.
“Bagus. Berarti gue harus handle sendiri.”
Bayangan itu kini lebih dekat. Bentuknya samar seperti manusia, tetapi tidak utuh. Wajahnya kosong, matanya gelap.
“Dia lapar,” bisik suara di tangan Endric.
Endric langsung menegang.
“Lapar apa? Jangan bilang aneh-aneh.”
“Hidup.”
Endric mundur lagi, napasnya memburu.
“Ndak. Ndak usah. Jangan dekat.”
Bayangan itu bergerak lagi, lebih cepat. Jarak mereka semakin dekat.
“Woi, Ndhul!” teriak Endric, suaranya naik.
“Kenapa?!” jawab Gandhul sigap.
“Ini mau nyamperin gue!”
“Siapa?!” Gandhul mulai tegang.
“Ya ini!” Endric menunjuk, hampir panik.
Bayangan itu kini hanya beberapa langkah darinya. Tangan hitamnya terangkat, mengarah langsung ke Endric.
“Gue ndak suka ini. Ini terlalu dekat,” gumam Endric, tubuhnya kaku.
“Lawan!” teriak Gandhul.
“Gimana?! Gue pegang apa?!” Endric panik.
“Lo bisa lihat dia, berarti lo bisa ganggu. Jangan diam!”
Endric langsung refleks. Ia mengambil kursi di sampingnya, lalu melemparnya ke arah bayangan itu. Kursi itu menembus, tetapi bayangan itu goyah.
“Eh...” Endric tertegun sejenak.
Ia langsung mengambil benda lain.
“Berarti bisa. Gue bisa dorong dia.”
Ia melempar lagi, kali ini lebih kuat. Bayangan itu mundur sedikit, seperti terdorong.
“Anjir, bisa!” napasnya cepat.
“Gas terus! Jangan kasih dekat!” seru Gandhul.
Endric mengambil apa saja di sekitarnya. Meja kecil, botol, benda apa pun. Setiap lemparan menembus, tetapi bayangan itu terus terdorong mundur hingga akhirnya menghilang ke sudut.
Endric terengah, bahunya naik turun.
“Gue barusan lempar hantu. Dan itu berhasil,” katanya, masih tidak percaya.
Gandhul mengangguk.
“Dan lo selamat. Itu yang penting.”
Endric tertawa kecil, napasnya belum stabil.
“Gue mulai ngerti sistemnya. Ini bukan cuma takut-takutan.”
Ia menatap tangannya lagi.
“Lo kasih gue ini, ya? Ini bagian dari bantuan lo?”
“Kami bantu.”
Endric mengangguk pelan.
“Ya... lumayan.”
Namun ia berhenti. Pandangannya jatuh lagi ke tangannya. Garis hitam itu kini tidak berhenti di bahu, melainkan sudah naik ke leher. Tipis, tetapi jelas.
“Ndhul,” katanya pelan, suaranya berubah.
“Iya.”
Endric menelan ludah.
“Ini udah naik. Bukan di tangan doang lagi.”
Gandhul melihat, dan kali ini ekspresinya berubah. Tidak lagi santai.
“Rek...” suaranya lebih pelan.
Endric menatapnya.
“Apa?”
Gandhul menarik napas sebelum menjawab.
“Kalau itu sampai kepala, lo bukan lagi yang pegang kendali.”
Endric langsung diam. Dadanya terasa kosong.
“Terus?” tanyanya pelan.
Gandhul terdiam beberapa detik, lalu menatapnya dalam.
“Lo ndak lagi jadi wadah.”
Endric menegang, jantungnya seakan jatuh.
“Terus gue jadi apa?”
Gandhul menjawab pelan, tanpa mengalihkan pandangan.
“Yang baru.”