NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Sabotase dan Mata yang Mengawasi

​Suara detak jam dinding di lantai dua puluh lima Gedung Dirgantara terdengar seperti dentuman metronom yang menyiksa bagi Kanaya Larasati. Pukul lima sore telah lama lewat, namun ruangan desain itu masih dipenuhi oleh cahaya lampu LED putih yang dingin dan dengung konstan dari mesin fotokopi di sudut ruangan. Sebagian besar staf sudah pulang, menyisakan keheningan yang hanya sesekali dipecah oleh suara ketikan papan ketik yang ragu-ragu.

​Naya menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang terasa semakin keras setiap jamnya. Matanya yang pedih menatap layar monitor yang menampilkan barisan koordinat pencahayaan untuk lobi Grand Azure. Kepalanya berdenyut, sebuah ritme nyeri yang seirama dengan stres yang menumpuk di pundaknya.

​'Jangan menyerah sekarang, Naya. Tinggal sedikit lagi. Selesaikan bagian sayap timur ini, lalu kau bisa pulang dan menenggelamkan ingatan tentang Arjuna ke dalam bantal,' batin Naya, memijat pangkal hidungnya yang terasa linu.

​Namun, saat ia mencoba menyimpan fail pengerjaannya, sebuah kotak peringatan berwarna merah muncul di layar: “Error: Resource File Not Found. Data Corrupted.”

​Jantung Naya seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh. Ia mencoba memuat ulang fail tersebut, namun hasilnya tetap sama. Seluruh kalkulasi intensitas cahaya yang ia kerjakan sejak pagi tadi—data yang sangat krusial untuk presentasi lusa—hilang tak berbekas.

​'Tidak mungkin. Aku sudah melakukan auto-save setiap sepuluh menit,' tangan Naya gemetar saat ia menyapu kursor ke folder cadangan. Kosong. Folder itu seolah-olah telah dibersihkan secara manual.

​Rasa dingin yang bukan berasal dari AC mulai merayap di tengkuknya. Ini bukan sekadar kegagalan sistem. Naya tahu persis arsitektur jaringan kantor ini; fail tidak akan hilang kecuali ada seseorang dengan akses administratif yang sengaja menghapusnya.

​Naya menoleh ke arah meja Siska yang berada tiga meter di belakangnya. Meja itu sudah rapi, tas bermerek milik seniornya itu sudah tidak ada di sana sejak pukul empat tadi. Namun, Naya ingat melihat Siska mondar-mandir di dekat server desain saat ia pergi ke toilet satu jam yang lalu.

​'Siska. Dia benar-benar melakukannya,' Naya mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. 'Dia ingin aku terlihat tidak kompeten di depan Juna. Dia ingin membuktikan bahwa aku adalah liabilitas yang harus dibuang.'

​Amarah yang murni mulai menggantikan rasa lelahnya. Naya tidak menangis. Ia sudah berjanji bahwa air matanya adalah mata uang yang terlalu mahal untuk diberikan kepada orang-orang di gedung ini. Dengan mata yang berkilat penuh determinasi, ia membuka kembali fail mentah dan mulai membangun segalanya dari nol. Ia akan lembur. Ia akan terjaga sepanjang malam jika perlu, hanya untuk membuktikan bahwa sabotase murahan tidak akan bisa meruntuhkan kariernya.

​Lima lantai di atasnya, di dalam ruang CEO yang temaram, Arjuna Dirgantara sama sekali belum beranjak dari meja mahoninya. Cahaya dari layar monitor raksasa di depannya mencetak bayangan tajam di wajahnya yang kaku. Juna tidak sedang memeriksa laporan keuangan, juga tidak sedang meninjau kontrak vendor.

​Matanya terpaku pada monitor di sudut meja—sebuah layar yang menampilkan umpan langsung dari kamera CCTV lantai dua puluh lima.

​Fokus kamera itu telah ia atur secara spesifik untuk mengunci satu titik: kubikel Kanaya Larasati.

​Melalui layar resolusi tinggi itu, Juna melihat Naya. Ia melihat bagaimana gadis itu sempat mematung menatap layar, bagaimana tangannya gemetar, dan bagaimana Naya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Juna bisa merasakan keputusasaan Naya melalui layar itu, sebuah sensasi yang membuat dadanya sendiri terasa sesak.

​'Seseorang telah menyentuh failnya,' batin Juna, matanya menyipit penuh kilatan berbahaya. 'Aku melihat log aktivitas server lima menit yang lalu. Siska menggunakan akun administratif untuk menghapus direktori kerja Naya. Beraninya wanita itu bermain kotor di bawah pengawasanku.'

​Juna meraih gagang telepon interkomnya, bermaksud memanggil keamanan untuk menarik Siska besok pagi. Namun, tangannya berhenti di tengah jalan.

​Ia kembali menatap layar CCTV. Naya tidak menyerah. Gadis itu tidak mengemasi barangnya sambil menangis. Sebaliknya, Naya justru terlihat semakin beringas. Juna melihat cara Naya mengetik, cara gadis itu membuka katalog material dengan gerakan cepat, dan bagaimana Naya menggulung lengan kemejanya—sebuah gestur pertahanan yang sangat ia kenali.

​'Dia pejuang,' bisik Juna di dalam hatinya yang sunyi. Sebuah rasa bangga yang tidak seharusnya ada, mekar begitu saja di antara retakan dinding esnya. 'Dia tidak butuh pahlawan untuk menyelamatkannya. Dia hanya butuh waktu. Dan aku... aku akan memberikan waktu itu padanya.'

​Juna menyandarkan punggungnya ke kursi kulitnya. Ia mematikan lampu ruangannya, membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan, hanya ditemani oleh pendaran layar CCTV yang menampilkan siluet Naya. Ia mengawasi setiap pergerakan gadis itu. Setiap kali Naya menguap, Juna merasa tenggorokannya kering. Setiap kali Naya memijat bahunya, Juna secara tidak sadar ikut menggerakkan bahunya sendiri.

​Ini adalah bentuk obsesi yang menakutkan, dan Juna sangat menyadarinya. Ia sudah seperti predator yang mengamati mangsanya, namun mangsa ini adalah satu-satunya hal yang membuat hatinya berdetak dengan ritme yang manusiawi.

​'Kau gila, Arjuna,' rutuknya pada diri sendiri, meskipun ia sama sekali tidak berniat mematikan monitor itu. 'Kau mengurungnya di sini, kau menghinanya, dan sekarang kau mengawasinya seperti penguntit. Kau benar-benar telah menjadi monster yang paling kau takuti.'

​Pukul sebelas malam.

​Gedung Dirgantara kini telah sepenuhnya sunyi. Hanya ada Naya di lantai dua puluh lima, dan Juna di lantai tiga puluh. Dunia di luar sana sedang diguyur hujan gerimis, menciptakan lapisan kabut yang menghalangi pandangan ke arah lampu-lampu kota.

​Naya berhenti sejenak, matanya terasa seolah-olah ada butiran pasir di dalamnya. Ia meraih botol air mineralnya, namun botol itu sudah kosong sejak dua jam yang lalu. Rasa haus mulai menyerang tenggorokannya yang kering akibat terlalu banyak menghirup udara AC yang dingin.

​"Aku butuh air," gumam Naya pada ruangan yang kosong.

​Ia berdiri, kakinya terasa sedikit lemas saat ia berjalan menuju pantry di ujung lorong. Ruangan pantry itu gelap, hanya diterangi oleh lampu indikator dispenser air. Naya mengambil gelas kertas, namun tepat saat ia hendak menekan tombol dispenser, lampu pantry menyala secara otomatis.

​Naya tersentak, hampir menjatuhkan gelasnya. Ia berbalik dan jantungnya nyaris meloncat keluar dari dadanya.

​Arjuna Dirgantara berdiri di ambang pintu pantry.

​Ia tidak mengenakan jasnya. Kemeja putihnya sedikit terbuka di bagian kerah, dan lengan bajunya digulung hingga ke siku—sebuah penampilan yang sangat jarang Naya lihat di kantor, mengingatkannya pada momen-momen intim yang terlarang di Bali.

​"Bekerja lembur bukan berarti Anda harus membiarkan diri Anda mati karena dehidrasi, Kanaya," ucap Juna datar. Suaranya yang rendah menggema di dalam pantry yang sunyi, memberikan sensasi getaran yang aneh di ulu hati Naya.

​Naya mencoba mengatur napasnya. "Pak Arjuna. Saya... saya tidak tahu Anda masih di sini."

​Juna melangkah masuk ke dalam pantry. Ruangan yang sempit itu seketika terasa semakin sesak karena kehadirannya yang dominan. Ia mengambil sebuah botol air mineral dingin dari dalam kulkas mini khusus eksekutif, lalu menyodorkannya pada Naya.

​"Minum ini. Air dari dispenser itu belum diganti filternya sejak sore tadi," bohong Juna, hanya agar Naya mau menerima air premium miliknya.

​Naya ragu-ragu sejenak, namun rasa haus yang menyiksa membuatnya menyerah. Ia menerima botol itu, dan sekali lagi, jari mereka bersentuhan. Hanya sedetik, namun sensasi panasnya terasa seperti sengatan listrik statis yang menjalar hingga ke bahu Naya.

​Naya segera meminum air itu dengan rakus, tidak memedulikan tatapan Juna yang intens. Setelah botol itu kosong setengahnya, ia menurunkan tangannya dan menatap Juna dengan tatapan menantang.

​"Anda sendiri? Kenapa masih di sini, Pak? Bukankah efisiensi adalah segalanya bagi Anda? Mengawasi staf yang gagal menyimpan fail pekerjaannya bukan bagian dari deskripsi pekerjaan CEO, bukan?" sindir Naya, suaranya mengandung racun yang ia kumpulkan sepanjang malam.

​Mata Juna berkilat tajam. "Saya tidak mengawasi staf yang gagal. Saya sedang memastikan bahwa mahakarya saya tidak rusak karena kecerobohan... atau sabotase pihak ketiga."

​Naya tertegun. 'Dia tahu? Dia tahu soal fail yang hilang itu?'

​"Jika Anda tahu ada sabotase, kenapa Anda membiarkannya? Kenapa Anda tidak menghukum orang yang melakukannya?" tuntut Naya, langkahnya maju satu tahap ke arah Juna.

​Juna tidak mundur. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat Naya bisa mencium aroma vetiver dan sedikit aroma kopi yang sudah basi dari napas pria itu.

​"Karena saya ingin melihat seberapa kuat Anda, Kanaya," bisik Juna, suaranya merendah menjadi bariton yang berbahaya. "Jika Anda hancur hanya karena satu fail yang dihapus, berarti Anda tidak layak berada di samping saya di puncak menara ini. Tapi jika Anda bisa membangunnya kembali... itu membuktikan bahwa Anda adalah variabel yang memang tidak bisa saya kendalikan."

​"Saya bukan subjek eksperimen Anda, Pak Arjuna!" balas Naya dengan suara yang sedikit meninggi. "Saya manusia. Saya punya batas lelah. Dan Anda... Anda terus-menerus mendorong saya ke jurang hanya untuk melihat apakah saya akan jatuh atau terbang. Itu kejam."

​Juna terdiam selama beberapa detik. Tatapannya turun ke bibir Naya yang sedikit pucat, lalu kembali ke matanya. "Dunia ini jauh lebih kejam daripada saya, Kanaya. Saya hanya sedang mempersiapkan Anda untuk menghadapi predator yang sebenarnya. Termasuk ayah saya."

​Juna mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh pipi Naya, namun ia segera menariknya kembali sebelum jemarinya sempat bersentuhan dengan kulit gadis itu. Ia mengepalkan tangannya di samping tubuh.

​"Kembali ke meja Anda. Selesaikan laporannya. Saya sudah memerintahkan IT untuk memulihkan sebagian data di server pusat sepuluh menit yang lalu. Harusnya pekerjaan Anda sekarang lebih ringan," ucap Juna kembali ke mode dinginnya.

​Juna berbalik dan berjalan keluar dari pantry, meninggalkan Naya yang berdiri mematung dengan botol air mineral di tangannya.

​'Dia membantuku? Dia memerintahkan IT untuk memulihkan data?' batin Naya, kebingungan mulai mengacak-acak amarahnya. 'Dia mendorongku ke jurang, lalu dia sendiri yang memasang jaring pengaman. Kenapa kau begitu membingungkan, Arjuna?'

​Naya kembali ke mejanya dan mendapati folder cadangannya telah terisi kembali dengan fail-fail yang hilang, meskipun ada beberapa bagian yang masih harus ia perbaiki secara manual. Ia bekerja dua kali lebih cepat sekarang, didorong oleh perpaduan antara rasa terima kasih yang tidak ingin ia akui dan kebencian yang masih membara.

​Pukul dua dini hari.

​Naya akhirnya menekan tombol submit. Fail pencahayaan koridor VIP yang sempurna telah terkirim ke alamat email Juna. Ia merapikan mejanya, mematikan monitor, dan meraih ranselnya. Ruangan itu kini benar-benar gelap.

​Saat ia berjalan menuju lift, ia melihat lampu di lantai tiga puluh masih menyala samar.

​Naya berdiri di dalam lift yang meluncur turun. Ia melihat pantulannya di dinding logam lift. Wajahnya kuyu, namun ada kepuasan yang nyata di matanya. Ia telah menang melawan Siska, dan ia telah bertahan melawan tekanan Juna.

​Namun, di dalam hatinya, Naya menyadari satu hal yang paling menakutkan: ia merasa aman lembur sendirian di gedung raksasa ini hanya karena ia tahu ada sepasang mata di lantai tiga puluh yang sedang menjaganya. Ia mulai bergantung pada kedinginan Juna sebagai pelindungnya, dan itu adalah kesalahan paling fatal yang bisa dilakukan oleh seorang Kanaya Larasati.

​Di lantai tiga puluh, Arjuna Dirgantara mematikan layar monitor CCTV saat ia melihat Naya keluar dari lobi gedung menuju taksi yang sudah ia pesan secara anonim sebelumnya.

​Juna menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan matanya yang terasa sangat panas. Ia meraih selembar kertas di mejanya—sebuah memo rahasia dari Chairman tentang jadwal pertunangan resminya dengan Aline bulan depan.

​'Aku menjagamu hari ini, Kanaya,' batin Juna, meremas memo itu hingga menjadi bola kertas kecil. 'Tapi siapa yang akan menjagaku saat aku harus memilih antara imperium ini atau variabel liar sepertimu?'

​Di tengah kesunyian malam Jakarta, sang penguasa Dirgantara itu menyadari bahwa ia baru saja memenangkan satu malam lagi untuk tetap berada di dekat Naya, namun ia sedang kalah dalam perang jangka panjang melawan takdir yang sudah ditulis oleh ayahnya.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak pelan menyusuri koridor sebuah sekolah berasrama elit di pegunungan Swiss yang bersalju. Suasana sunyi, hanya terdengar suara gesekan pensil di atas kertas.

​Dua belas tahun yang lalu.

​Arjuna remaja, berusia enam belas tahun, duduk sendirian di perpustakaan sekolah yang luas saat libur musim dingin. Ia tidak pulang ke Jakarta; ayahnya memintanya tetap di sana untuk mempelajari manajemen risiko.

​Tiba-tiba, seorang teman sekolahnya masuk dan meletakkan sebuah koran bisnis internasional di mejanya. "Juna, ini bukan foto ibumu?"

​Juna melihat foto itu. Ibunya sedang duduk sendirian di sebuah taman rumah sakit, tampak sangat kurus dan rapuh. Judul beritanya membahas tentang "Kesendirian Sang Istri Konglomerat".

​Juna meremas koran itu. Ia ingin menelepon ibunya, ia ingin pulang. Namun, ia melihat ayahnya berdiri di balik pintu perpustakaan—sang ayah yang secara mendadak datang untuk melakukan 'inspeksi performa' pada putranya.

​"Jangan pernah terganggu oleh berita sampah itu, Arjuna," suara dingin ayahnya menggema. "Ibumu adalah contoh nyata dari kegagalan dalam menjaga kontrol emosional. Jika kau ingin menjadi pemimpin, kau harus belajar untuk mengawasi semuanya dari kejauhan tanpa perlu terlibat secara perasaan. Menjadi pengamat adalah posisi paling aman di dunia ini."

​Juna remaja menatap ayahnya dengan mata yang penuh luka, namun ia perlahan menundukkan kepalanya kembali ke buku pelajarannya. "Baik, Ayah. Saya akan menjadi pengamat yang baik."

​Kamera melakukan close-up pada mata Juna remaja yang mulai mendingin, tatapan yang sama yang ia gunakan malam ini saat mengawasi Naya melalui CCTV—sebuah pelajaran tentang 'mengawasi dari kejauhan' yang ia pelajari dari ayahnya, namun kini ia gunakan untuk alasan yang jauh berbeda: untuk mencintai seseorang yang tidak berani ia sentuh.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!