Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 1
Suara sirine polisi malam itu membelah kesunyian kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan, menembus derasnya hujan yang turun seolah ikut menangisi nasib keluarga Larasati.
Yvone Larasati, dua puluh lima tahun, berdiri mematung di ambang pintu rumahnya. Tangannya yang biasanya lincah menggoreskan pena untuk mendesain interior ruangan, kini gemetar hebat sambil mencengkeram kusen pintu. Napasnya tercekat. Di depannya, di halaman rumah yang basah, tiga mobil penyidik dari kejaksaan terparkir dengan lampu rotator yang menyala menyilaukan.
"Ayah!" jerit Yvone, suaranya parau, tenggelam oleh suara hujan dan deru mesin mobil.
Beberapa pria berjaket tebal menggiring seorang pria paruh baya yang tampak lelah namun tetap berusaha menegakkan kepalanya. Budi Larasati, mantan pejabat di kementerian yang selalu menjadi kebanggaan Yvone, kini mengenakan rompi tahanan berwarna merah muda. Kedua tangannya terborgol.
Mendengar jeritan putrinya, langkah Budi terhenti sejenak. Ia menoleh. Di bawah guyuran hujan, tatapan matanya menyiratkan kepedihan yang mendalam, tetapi juga sebuah peringatan.
"Yvone, tetap di sana!" seru Budi dengan suara tegas yang bergetar. "Jangan hubungi teman-teman Ayah di kementerian. Jangan percaya siapa pun, Nak! Jaga adikmu!"
"Tapi, Ayah...Ayah tidak mungkin melakukan ini! Ini pasti salah paham!" Yvone memberontak maju, namun seorang petugas wanita dengan cepat menahan bahunya.
"Maaf, Nyonya. Bapak Budi Larasati harus kami bawa malam ini untuk penyidikan lebih lanjut terkait kasus korupsi proyek infrastruktur nasional," ucap petugas itu dengan nada datar, seolah sudah terbiasa melihat kehancuran sebuah keluarga.
Yvone hanya bisa menatap nanar ketika pintu mobil van itu ditutup rapat, membawa pergi satu-satunya sosok pelindung dalam hidupnya. Hujan terus turun, menghapus jejak ban mobil di aspal, namun tidak bisa menghapus mimpi buruk yang baru saja dimulai.
Tiga hari berlalu, dan dunia Yvone yang tenang dan mandiri hancur berkeping-keping.
Ruang kerjanya yang biasanya rapi, dipenuhi sketsa desain interior dan sampel kain, kini berserakan dengan tumpukan dokumen hukum, salinan mutasi bank, dan surat-surat tagihan. Yvone belum tidur lebih dari lima jam dalam tiga hari terakhir. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat kontras dengan kulit putih pucatnya.
Pintu apartemennya terbuka. Pengacara keluarganya, Pak Darma seorang pria tua yang sudah mengabdi pada ayahnya selama belasan tahun masuk dengan wajah muram dan jas yang basah kuyup.
"Bagaimana, Pak Darma? Apakah permohonan penangguhan penahanannya dikabulkan?" Yvone langsung berdiri, menatap pria itu dengan secercah harapan.
Pak Darma melepaskan kacamatanya dan menghela napas panjang, sebuah gestur yang membuat perut Yvone melilit. "Maafkan saya, Vone. Mereka menolaknya mentah-mentah."
"Tapi kenapa?! Ayah punya riwayat jantung. Kita punya rekam medisnya!" Yvone menggebrak meja, air matanya kembali menggenang.
"Ini bukan soal prosedur hukum biasa, Vone. Ini politik." Pak Darma duduk di sofa, tampak sepuluh tahun lebih tua. "Bukti-bukti palsu itu diatur dengan sangat rapi. Ada aliran dana fiktif yang sengaja dialamatkan ke rekening perusahaan cangkang atas nama ayahmu. Dalangnya bukan orang sembarangan. Ada pejabat tingkat tinggi... menteri, mungkin lebih tinggi lagi, yang sengaja menjadikan ayahmu kambing hitam untuk menutupi lubang triliunan rupiah di proyek Bali."
Tubuh Yvone merosot ke kursi. "Lalu... apa yang harus kita lakukan? Aku tidak bisa membiarkan Ayah mati perlahan di dalam sel."
Pak Darma terdiam cukup lama. Ia menatap Yvone dengan ragu, seolah menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakan hal yang ada di kepalanya. "Ada satu cara. Tapi ini bukan jalan hukum... ini jalan kekuasaan."
Yvone mendongak, menatap tajam. "Aku akan melakukan apa saja. Apa pun."
"Hanya ada satu sosok bisnis di negara ini yang memiliki pengaruh cukup besar untuk menekan kejaksaan dari luar dan mengamankan ayahmu dari incaran para politisi korup itu," bisik Pak Darma, seolah takut dinding apartemen itu bisa mendengar. "Alexander Group."
Yvone mengernyit. "Perusahaan raksasa itu? Apa hubungannya mereka dengan kasus Ayah?"
"Alexander Group adalah kontraktor utama dari mega-proyek yang sedang disengketakan. CEO mereka, Dylan Alexander Hartono, memegang kartu As yang bisa membersihkan nama ayahmu, atau setidaknya memindahkannya ke tahanan rumah yang aman sampai kita menemukan bukti kebenaran." Pak Darma mengeluarkan secarik kartu nama berwarna hitam pekat dengan embos emas dari saku jasnya. "Saya menggunakan sisa kartu truf ayahmu untuk mengatur pertemuan dengan asisten pribadinya. Jadwalnya siang ini jam dua. Tapi Vone..."
Pak Darma menatap Yvone dengan pandangan memperingatkan. "...Dylan Hartono bukanlah seorang pahlawan. Dia pengusaha yang dingin, tanpa ampun, dan manipulatif. Dia tidak akan memberikan bantuan tanpa meminta bayaran yang setimpal."
Yvone mengambil kartu nama hitam itu. Kertasnya terasa tebal dan dingin di kulitnya. Nama Dylan Alexander Hartono tercetak elegan di sana.
"Aku tidak peduli seberapa dingin dia," desis Yvone, rahangnya mengeras. "Kalau dia bisa menyelamatkan Ayah, aku akan menghadapi iblis sekalipun."
Pukul 13.55 WIB. Menara Alexander, Sudirman, Jakarta.
Gedung pencakar langit berlapis kaca hitam itu menjulang angkuh, seolah menembus awan mendung Jakarta. Yvone berdiri di lobi utama yang berlapis marmer Italia, merasa sangat kecil di tengah lalu-lalang para eksekutif berjas mahal dan wanita berpenampilan sempurna.
Yvone mengenakan setelan blazer navy dan celana kain sederhana, pakaian paling rapi yang bisa ia temukan di lemarinya pagi ini. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia adalah wanita mandiri yang tidak mudah diintimidasi oleh kekayaan. Namun, ketika lift khusus eksklusif membawanya naik ke lantai 60 dengan kecepatan yang membuat telinganya berdenging, detak jantungnya tidak bisa berbohong.
Lift terbuka. Yvone disambut oleh asisten pria berkacamata yang segera membawanya melewati lorong sunyi menuju sepasang pintu kayu jati raksasa.
"Bapak Hartono hanya punya waktu sepuluh menit, Nona Larasati," ucap asisten itu sebelum membuka pintu.
Yvone melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, didominasi warna monokrom, abu-abu tua, dan hitam. Di ujung ruangan, terdapat dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian sebuah metafora nyata bahwa pria yang menempatinya sedang berada di puncak dunia, memandang rendah semua yang ada di bawahnya.
Di balik meja kerja marmer yang sangat besar, duduk seorang pria.
Ia sedang membaca sebuah dokumen, bahkan tidak repot-repot mengangkat wajahnya saat Yvone masuk. Rambutnya hitam legam, ditata rapi namun memiliki ketegasan yang tak terbantahkan. Rahangnya kaku, bahunya lebar di balik kemeja putih bersih yang lengannya digulung hingga siku.
Yvone berdiri di depan meja, mencoba mengatur napasnya. "Selamat siang, Tuan Hartono. Saya Yvone Larasati. Saya datang untuk—"
"Aku tahu siapa kau, dan untuk apa kau datang," potong pria itu dengan suara bariton yang dalam, dingin, dan menggetarkan.
Dylan Alexander Hartono meletakkan penanya. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap Yvone untuk pertama kalinya. Jantung Yvone seolah berhenti berdetak. Mata pria itu... tajam, kelam, dan sepenuhnya kosong dari empati. Itu adalah mata seorang predator yang mengukur mangsanya.
Dylan bersandar di kursi kulitnya, menangkupkan kedua tangannya di atas meja. "Ayahmu sedang menunggu waktu untuk dipindahkan ke fasilitas dengan keamanan maksimum, tempat di mana kecelakaan fatal 'tidak sengaja' sangat sering terjadi pada saksi kunci."
Yvone menelan ludah, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Pria ini tahu segalanya. "Pak Darma bilang... Anda memiliki pengaruh untuk menghentikan itu."
"Aku memiliki lebih dari sekadar pengaruh, Nona Larasati. Aku bisa menghapus nama ayahmu dari daftar target mereka dalam semalam." Dylan berkata dengan nada datar, tanpa sedikit pun arogansi yang dibuat-buat, murni hanya menyatakan fakta.
Yvone menatap lurus ke mata pria itu, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya. "Berapa? Berapa uang yang Anda inginkan? Saya tahu Ayah saya tidak bersalah. Jika saya harus menjual apartemen saya, menggadaikan..."
Dylan tersenyum tipis, sebuah senyum sinis yang tidak mencapai matanya. Ia mengambil sebuah map tebal berwarna hitam dari laci mejanya dan melemparkannya ke atas meja, tepat di depan Yvone.
"Uangmu tidak ada artinya bagiku," ucap Dylan dingin. "Aku tidak butuh uangmu, Nona Larasati."
Yvone menatap map itu dengan ragu. "Lalu... apa yang Anda inginkan?"
Mata kelam Dylan menatap tepat ke dalam jiwa Yvone, suaranya turun menjadi satu oktaf lebih rendah, tegas dan tak terbantahkan.
"Aku butuh seorang istri."
Udara di ruangan itu seakan tersedot habis. Yvone terpaku, matanya membelalak tak percaya.
Dylan mengetukkan jarinya ke atas map tersebut. "Baca kontraknya. Satu tahun pernikahan di atas kertas. Kau berperan sebagai istri yang sempurna, patuh, dan tunduk padaku di depan publik maupun elit politik. Sebagai gantinya, ayahmu tidak akan pernah menyentuh dinginnya sel penjara lagi."
Dylan berdiri perlahan dari kursinya, sosoknya yang tinggi menjulang dan mendominasi ruangan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap wajah pucat Yvone.
"Ini bukan lamaran, Yvone Larasati. Ini transaksi," ucap Dylan tajam. "Tanda tangani, dan ayahmu hidup. Tolak, dan kau bisa mulai mencari gaun hitam untuk pemakamannya minggu depan."