Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riuh di Tengah Tenang
Suasana Jakarta menyambut kami dengan polusi dan kebisingan yang sama, namun kali ini aku tidak lagi merasakannya sebagai beban. Ada semacam pelindung tak kasat mata di sekelilingku. Mungkin karena cincin yang melingkar di jariku, atau mungkin karena sosok pria yang duduk di sampingku di kursi belakang mobil, yang sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Siap menghadapi 'serigala-serigala' itu?" tanya Bimo pelan.
Aku melirik ke luar jendela. Kami sedang menuju gedung utama Wijaya Group untuk konferensi pers pertama setelah penangkapan Kakek Wijaya. Di luar gerbang, kerumunan wartawan sudah terlihat seperti semut yang mengerubungi gula. Kamera-kamera dengan lensa panjang sudah siap membidik.
"Selama kamu di sampingku, aku rasa aku bisa menghadapi apa saja," jawabku, mencoba terdengar lebih berani dari yang kurasakan.
Bimo tersenyum, lalu mencium punggung tanganku. "Ingat, kamu tidak perlu menjawab apa pun yang membuatmu tidak nyaman. Panji sudah menyiapkan tim humas untuk memotong pertanyaan yang terlalu pribadi. Tugasmu hari ini hanya satu: menunjukkan pada dunia bahwa Nara adalah pemilik suara yang sah atas keadilan yang baru saja kita tegakkan."
Mobil perlahan memasuki area gedung. Kilatan lampu flash mulai menghujam kaca mobil yang gelap. Aku menarik napas panjang, menyesuaikan posisi dudukku, dan merapikan setelan blazer berwarna krem yang dipilihkan Bimo. Ini adalah kostum pertempuranku hari ini.
Lampu sorot di dalam aula utama terasa sangat panas. Aku duduk di tengah, diapit oleh Bimo di sisi kanan dan Panji di sisi kiri. Di depan kami, puluhan mikrofon dari berbagai stasiun televisi bertumpuk rapi. Suasana yang tadinya riuh mendadak sunyi saat Panji membuka acara.
"Selamat siang rekan-rekan media. Hari ini, kami hadir untuk mengklarifikasi transisi kepemimpinan di Wijaya Group serta memperkenalkan yayasan baru yang akan menjadi pilar sosial perusahaan ke depannya," suara Panji terdengar sangat mantap.
Pertanyaan demi pertanyaan mulai berhamburan. Awalnya tentang saham, tentang kasus hukum Kakek, dan tentang masa depan perusahaan. Bimo menjawab semuanya dengan ketenangan seorang pemimpin yang sudah terlatih. Hingga akhirnya, seorang wartawan wanita dari media gaya hidup mengangkat tangan.
"Pertanyaan untuk Mbak Nara. Beredar kabar bahwa Anda sebenarnya adalah 'istri kontrak' yang sengaja direkrut oleh Pak Bimo untuk memuluskan rencana ini. Bagaimana tanggapan Anda mengenai tuduhan bahwa hubungan ini hanyalah strategi bisnis?"
Aula itu mendadak sunyi. Aku bisa merasakan otot lengan Bimo menegang di sampingku. Dia hendak mengambil mikrofon untuk menjawab, tapi aku menyentuh lengannya perlahan, memberi tanda bahwa aku yang akan bicara.
Aku menarik mikrofon ke arahku, menatap lensa kamera di depan dengan tenang.
"Strategi bisnis?" aku mengulang pertanyaan itu sambil tersenyum tipis. "Sebagai seorang penulis, aku tahu bahwa plot yang paling menarik adalah plot yang tidak terduga. Hubungan kami memang dimulai dengan cara yang... tidak konvensional, aku akui itu. Ada luka masa lalu yang harus disembuhkan dan ada kebenaran yang harus diungkap. Tapi jika ini hanya strategi bisnis, aku rasa kami tidak akan sampai sejauh ini, hingga melibatkan nyawa dan air mata."
Aku berhenti sejenak, melirik Bimo yang kini menatapku dengan bangga.
"Cinta tidak butuh kontrak untuk menjadi nyata, tapi terkadang, kontrak adalah cara takdir untuk mempertemukan dua orang yang seharusnya bersama. Hari ini, aku berdiri di sini bukan sebagai instrumen bisnis, tapi sebagai wanita yang mencintai pria di sampingku, dan sebagai putri yang menuntut keadilan bagi ayahnya. Jika kalian ingin menyebut itu strategi, maka itu adalah strategi hati yang paling jujur yang pernah aku alami."
Beberapa wartawan tampak tertegun. Jawaban itu terlalu manusiawi untuk sebuah konferensi pers korporat yang biasanya kaku. Bimo kemudian mengambil alih pembicaraan, menegaskan bahwa status hukum kami akan segera diresmikan secara negara dan yayasan akan menjadi fokus utama kami.
Setelah dua jam yang melelahkan, kami akhirnya berhasil keluar dari aula tersebut melalui pintu belakang. Kami langsung menuju ke ruangan CEO yang sekarang sudah kosong. Bimo duduk di kursi kebesarannya—kursi yang dulu milik kakeknya—tapi dia tampak sangat tidak kerasan di sana.
"Kamu hebat tadi, Nara," puji Panji sambil menyandarkan diri di pintu. "Aku sempat takut kamu bakal meledak saat ditanya soal istri kontrak."
"Aku sudah menulis ratusan adegan seperti itu di drafku, Panji. Aku hanya perlu mempraktikkannya di dunia nyata," balasku sambil melepas sepatu hak tinggiku yang mulai menyiksa.
Bimo bangkit dari kursinya, berjalan mendekatiku dan memijat bahuku perlahan. "Kamu tahu? Aku benar-benar ingin keluar dari ruangan ini. Rasanya masih ada sisa-sisa aroma Kakek di sini."
"Lalu kenapa kita masih di sini? Ayo pergi," ajakku.
"Ke mana?" tanya Bimo.
"Ke tempat di mana kita bisa menjadi Nara dan Bimo yang biasa. Bukan CEO, bukan Direktur Yayasan. Aku lapar, dan aku mau makan sate di pinggir jalan yang dulu sering kukunjungi."
Bimo tertawa, suara tawa yang lepas dan tulus. "Sate pinggir jalan? Kamu tahu kan kalau aku sekarang adalah target utama paparazzi?"
"Pakai topi, pakai kacamata, dan pakai jaket kusam yang kamu pakai di dermaga waktu itu. Kita akan menyamar," kataku penuh semangat.
Dan di sinilah kami, dua jam kemudian. Duduk di atas bangku plastik panjang di bawah tenda sate yang berasap. Bimo benar-benar memakai topi bisbol dan jaket bomber yang membuatnya terlihat seperti mahasiswa tingkat akhir yang sedang galau. Tidak ada yang menyadari bahwa pria yang sedang sibuk mengipasi sate karena asapnya terlalu tebal ini adalah orang yang tadi siang muncul di semua berita utama televisi.
"Gimana rasanya?" tanyaku sambil menyuapkan sate ke mulut.
Bimo mengunyah perlahan, matanya berbinar. "Jauh lebih enak daripada steak wagyu yang biasa aku makan di pertemuan bisnis. Kenapa aku baru tahu ada tempat seenak ini?"
"Karena kamu terlalu sibuk jadi 'pangeran es' di menaramu, Bim."
Kami mengobrol tentang banyak hal. Bukan soal saham, bukan soal Ratih di Swiss, bukan soal Ayah. Kami bicara soal masa kecilku di panti, soal hobinya yang ternyata suka merakit Lego tapi malu mengakuinya, dan soal rencana kami untuk tidak mengadakan pesta pernikahan yang mewah.
"Aku cuma mau kita, Ayah, dan teman-teman panti. Sederhana saja," kataku.
"Setuju. Uang pestanya bisa kita masukkan ke kas yayasan untuk renovasi gedung panti asuhanmu," tambah Bimo.
Saat kami sedang asyik makan, seorang anak kecil penjual tisu mendekati meja kami. Wajahnya dekil, tapi matanya sangat cerah. Aku segera merogoh dompet, tapi Bimo sudah lebih dulu mengeluarkan selembar uang seratus ribu.
"Tisu satu saja, Dik. Kembaliannya ambil buat kamu jajan ya," kata Bimo lembut.
Anak itu matanya membelalak kaget melihat uang tersebut. "Beneran, Kak? Makasih banyak, Kak! Semoga Kakak dan Mbak langgeng terus!" teriak anak itu sambil berlari kegirangan.
Aku menatap Bimo, dan di matanya, aku melihat sesuatu yang baru. Sebuah empati yang tulus yang selama ini tertutup oleh lapisan es kecurigaan. Ternyata, melepaskan gelar 'Wijaya' secara mental adalah hal terbaik yang pernah dia lakukan.
"Nara," panggilnya tiba-tiba.
"Iya?"
"Setelah semua urusan yayasan stabil, aku mau kita pergi sebentar. Berdua saja. Ke tempat yang nggak ada internetnya, nggak ada ponsel, cuma ada laut dan buku-buku kamu."
"Kedengarannya seperti surga bagiku," jawabku.
Malam itu, di bawah tenda sate yang sederhana, aku menyadari bahwa bahagia itu tidak butuh plot yang rumit. Bahagia adalah ketika kamu bisa menertawakan hal-hal kecil bersama orang yang sudah melihat sisi terburukmu namun tetap memilih untuk tinggal.
Kami berjalan kembali ke mobil yang diparkir agak jauh. Jakarta masih riuh, lampu-lampunya masih berkelap-kelip dengan sombong. Tapi bagi kami, riuh itu hanyalah latar belakang. Cerita utama kami baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada lagi kata 'bersambung' yang membuat sesak. Hanya ada lembaran-lembaran putih yang siap kami isi dengan tinta kebahagiaan yang kami ramu sendiri.
"Siap pulang?" tanya Bimo sambil membukakan pintu mobil.
"Pulang," jawabku mantap. "Ke mana pun itu, asal ada kamu."