Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06. Makan Siang
Axel berjalan cepat menuju kasir setelah Kania menemukan buku yang di carinya, dia hendak bayar buku yang di beli tapi Axel melarangnya.
"Ngga usah, biar om aja yang bayar," kata Axel.
Kania menoleh menatap Axel, dia tersenyum senang dan memasukkan lagu uangnya dalam tas. kasur itu menatap Kania dan Axel bergantian dengan wajah heran dan tatapan aneh.
Namun Kania tidak peduli, dia tahu mungkin Axel itu sugar Dady Kania. Namun begitu, tetap saja dua berharap benar. Ups.
Pikiran Kania kacau setelah mengingat kalau Axel itu sudah punya istri dan anak, apa jadinya jika memang dia pelakor?
"Ngga ngga. Ngga mau jadi pelakor," ucap Kania sepanjang jalan dia keluar dari toko buku.
Axel menoleh padanya, menggeleng kepala tapi terus melangkah menuju eskalator dan menuruninya. Di ikuti Kania di belakang, namun dia turun satu tangga agar sejajar dengan Axel.
"Kamu pulang sendiri atau ada teman lain?" tanya Axel.
"Pulang sendiri om, kalau om mau nganter juga boleh. Heheh," jawab Kania dengan tidak tahu malunya.
Axel tersenyum kecil, terdengar ponselnya berbunyi. Tangannya merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, menjawab sambungan telepon.
"Halo mbak, kenapa?"
"Kamu di mana? Kita lagi makan siang di restoran Italia. Datang kesini makan siang bareng."
Axel menoleh pada Kania, gadis itu diam melihat sekeliling mall.
"Boleh, aku nanti kesana."
"Oke, di tunggu."
"Tapi aku bawa teman, ngga apa-apa kan?"
"Teman? Oh, oke. By."
"By."
Klik!
Axel memasukkan lagi ponselnya, tangan satunya menjinjing kantong kresek berisi buku. Dia menoleh pada Kania.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Axel.
"Belum om," jawab Kania, dia berharap Axel mengajaknya makan siang.
"Oke, ayo kita makan siang," ucap Axel.
Mata Kania melebar, sejenak kaget tapi kemudian tersenyum lebar dan langsung berteriak.
"Mau!"
Axel tersenyum melihat reaksi Kania yang senang dengan ajakannya itu.
_
Sampai di restoran Italia, Axel langsung ke meja di mana kakak dan juga keponakannya itu berada. Kania merasa heran tapi juga senang dia di ajak makan siang dengan Axel. Apa lagi makan di restoran Italia dan berdua.
Eh, berdua?
Mereka sampai di meja di pojok, sengaja ibunya Bella memesan meja yang tak terlalu banyak di lalui pengunjung. Axel melambaikan tangannya menyapa semuanya.
"Hai, aku terlambat datang ya?" tanya Axel.
Semua menatap Axel dan gadis di belakangnya, semua juga tampak terkejut melihat siapa teman yang di bawa Axel itu.
"Kania?!"
Teriak Bella dan membelalakan mata, mama Bella juga terkejut lalu tersenyum kecil.
"Hai Bella," sapa Kania tak tahu malu dan sengaja membuat Bella terkejut dan kesal.
"Kenapa bisa datang dengan Kania?" tanya mamanya Bella.
"Tadi ketemu di toko buku, anakmu kan minta aku mampir ke toko buku. Dan kebetulan ketemu Kania, jadi sekalian saja kubawa juga kesini. Ngga apa-apa kan?" ucap Axel, tapi Bella cemberut menatap Kania kesal.
"Iya Tante, maaf juga. Tadinya ngajak Bella ke toko buku sama-sama, eh batal. Jadi pergi sendirian deh, kebetulan ketemu om Axel. Suka deh," ucap Kania, tapi tatapannya pada Bella dengan sinis.
Bella mencibir, mamanya menggeleng kepala saja.
"Ya sudah, ayo duduk Kania. Tante minta maaf karena membatalkan janji kalian, ya sekarang bisa makan sama-sama."
"Iya Tante, aku senang deh."
Lagi-lagi Kania melirik pada Bella, Axel melihat keponakannya itu pun ikut tersenyum. Mereka memesan apa yang di inginkan, tentu saja Kania memesan sesuai yang dia suka. Dan keluarga Bella tidak merasa keberatan karena Kania itu sahabat dari anaknya.
Kania sangat senang bisa makan bersama dengan keluarga Bella, meski dia juga sering di ajak makan bareng keluarga sahabatnya itu. Namun kali ini dengan Axel, laki-laki beristri dan satu anak yang dia sukai sejak melihatnya pertama kali.
"Oh ya, Axel. Bagaimana dengan istrimu? Apakah dia menyetujui rencanamu itu?" tanya mamanya Bella, Kania menajamkan pendengarannya.
Bella yang tahu sahabatnya itu kepo tentang pamannya, tentu saja dia memotong pembicaraan mamanya.
"Mama apaan sih, kok tanya-tanya itu. Ini di luar, masa bicara masalah om Axel," kata Bella melirik Kania.
"Eh, kenapa? Mama cuma ingin tahu kok, kelanjutannya Bagaimana."
"Iya tahu, tapi itu kan masalah pribadi om Axel. Di sini ada orang lain," lagi Bella melirik Kania.
Kania yang di sindir sahabatnya itu pun tak kalah cerdik. Dia pun tersenyum kecil.
"Ngga apa-apa kok Tante, bicara aja sama om Axel. Anggap aja aku keluarga sendiri atau angin lalu," ucap Kania membalas tatapan sinis Bella.
"Kalian ini, kenapa bicara begitu. Memang kalian kenapa sih? Kok kelihatannya ngga suka kalau Kania ikut gabung?"
"Ngga apa-apa ma, cuma kan ngga etis aja. Bicara masalah penting di depan orang lain." jawab Bella.
"Benar mbak, mungkin malam nanti aku ke rumah. Bisa membicarakan semuanya," kata Axel, Bella tersenyum puas mendengar jawaban Axel.
"Oh, ya sudah. itu terserah kamu saja, setelah ini kita mau kemana?"
"Nonton," jawab Bella.
"Om ngga ikut, ada urusan di kantor," ucap Axel, membuat Kania menoleh padanya.
"Ngga apa-apa om, ke kantor aja." Bella langsung menimpali.
Papa dan mamanya kembali menggeleng kepala saja, mereka kemudian melanjutkan makan siang itu. Kania tak bicara lagi karena memang itu urusan keluarga Bella.
"Ck, awas aja Lo Bella. Gue akan balas ucapanmu itu."
_
_
******