Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pagi di rumah Pratama terasa berbeda. Bukan lagi hanya duka yang memenuhi setiap sudutnya, tetapi juga kesibukan yang tiba-tiba datang tanpa aba-aba. Telepon berdering sejak subuh, langkah kaki terdengar hilir mudik, dan percakapan yang sebelumnya dihindari kini justru menjadi pusat perhatian.
Kabar itu telah sampai, dimana Arsyi akhirnya bersedia.
Di ruang kerja, Tuan Hendra berdiri di dekat jendela sambil menggenggam ponsel. Wajahnya serius, namun ada kelegaan yang tak bisa ia sembunyikan. Di belakangnya, Nyonya Ratih duduk dengan Melodi dalam gendongan, mengayun pelan bayi itu yang masih terlelap.
“Jadi sudah pasti?” tanya Nyonya Ratih pelan.
Tuan Hendra mengangguk. “Harsa sendiri yang bilang, Arsyi setuju.”
Nyonya Ratih mengembuskan napas panjang. “Akhirnya…” gumamnya. Tangannya mengusap kepala Melodi dengan lembut. “Setidaknya anak ini tidak akan kehilangan sosok ibu terlalu lama.”
Tuan Hendra menoleh. “Kita tidak bisa menunda lagi. Kita harus ke Bandung hari ini juga.”
“Secepat itu?”
“Semakin cepat, semakin baik,” jawab Tuan Hendra tegas. “Sebelum Arsyi berubah pikiran.”
Kalimat itu membuat Nyonya Ratih terdiam sejenak. Ia tahu, keputusan ini bukan sesuatu yang lahir dari ketenangan. Semua berjalan terlalu cepat, terlalu dipaksakan.
Namun tetap saja ini dianggap jalan terbaik.
“Maharnya?” tanya Nyonya Ratih kemudian.
Tuan Hendra menarik napas. “Seratus gram emas London.”
Nyonya Ratih langsung menatapnya. “Seratus?”
“Iya.”
“Apa Harsa sanggup?”
Tuan Hendra tersenyum tipis. “Kalau demi anaknya, dia pasti sanggup.”
Hening sejenak.
Nyonya Ratih kembali menatap Melodi. “Anak sekecil ini … sudah membawa perubahan sebesar ini,” bisiknya lirih.
Di kamar, Harsa berdiri di depan lemari, merapikan beberapa berkas penting dan pakaian ke dalam tas. Gerakannya cepat, namun wajahnya tetap datar.
Seolah semua ini hanyalah kewajiban yang harus diselesaikan.
Pintu kamar diketuk pelan.
“Harsa,” suara Nyonya Ratih terdengar dari luar.
“Masuk, Bu.”
Pintu terbuka. Nyonya Ratih masuk sambil menggendong Melodi. Ia menatap anaknya sejenak sebelum berkata, “Kita berangkat ke Bandung hari ini.”
Harsa mengangguk tanpa menoleh. “Iya, Bu.”
“Kamu sudah siap?”
Harsa berhenti sejenak, lalu menjawab singkat, “Harus siap.”
Kalimat itu terdengar datar. Namun, cukup untuk membuat Nyonya Ratih memahami bahwa anaknya tidak benar-benar siap.
Ia melangkah mendekat, berdiri di samping Harsa. “Nak … Ibu tahu ini tidak mudah,” ucapnya pelan.
Harsa terdiam, tangannya berhenti sejenak di atas tas.
“Tapi ini demi Melodi,” lanjut Nyonya Ratih. “Dan … mungkin juga demi kamu.”
Harsa tersenyum tipis.
“Untuk sekarang, semuanya memang demi dia,” jawabnya pelan sambil menoleh ke arah Melodi.
Bayi itu masih tertidur tenang. Tak tahu bahwa hidupnya sedang menjadi alasan bagi keputusan besar orang-orang di sekitarnya.
Beberapa jam kemudian.
Mobil telah siap di depan rumah. Barang-barang sudah dimasukkan. Sopir berdiri menunggu, sementara Tuan Hendra memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
“Penghulu sudah saya hubungi,” ucapnya pada Harsa. “Semua biaya akan kamu tanggung sendiri.”
Harsa mengangguk. “Iya, Pa.”
“Ini bukan pernikahan biasa,” lanjut Tuan Hendra. “Kita harus pastikan semuanya berjalan lancar.”
Harsa tidak menjawab.
Ia hanya membuka pintu mobil, lalu menoleh ke arah ibunya.
“Melodi ikut?” tanyanya.
Nyonya Ratih mengangguk. “Tentu, dia harus ada.”
Buah hati itu akan menjadi saksi sekaligus alasan dari semua yang terjadi. Harsa menatap Melodi sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, “Baik.”
Di dalam mobil, suasana kembali hening.
Tuan Hendra sibuk dengan ponselnya, memastikan semua persiapan berjalan sesuai rencana. Nyonya Ratih memeluk Melodi dengan hati-hati, sesekali mengusap punggung kecil itu.
Sementara Harsa, duduk diam di kursinya. Tatapannya lurus ke depan, pikirannya jauh ke mana-mana.
Ia mengembuskan napas panjang.
“Semoga ini tidak terjadi kesalahan,” gumamnya hampir tak terdengar.
Di Bandung, seseorang juga sedang menunggu.
Sejak pagi di Bandung tidak membawa ketenangan.
Sejak matahari belum sepenuhnya naik, suara Bu Hana sudah memenuhi seluruh rumah. Nada bicaranya tinggi, tajam, dan penuh amarah yang seolah tak pernah benar-benar padam sejak seminggu terakhir.
Di ruang tengah, Arsyi berdiri diam.
Tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya, menahan diri agar tidak terpancing. Namun, setiap kata yang keluar dari mulut ibunya terasa seperti luka baru yang terus ditorehkan tanpa jeda.
“Kamu itu pikir pakai apa sih, Arsyi?” suara Bu Hana meninggi. “Baru seminggu kakakmu meninggal, sekarang kamu malah mau menikah dengan suaminya?!”
Arsyi menunduk, napasnya tertahan.
“Aku tidak pernah minta semua ini terjadi, Bu,” jawabnya pelan.
“Tapi kamu menyetujuinya!” potong Bu Hana cepat. “Itu sama saja kamu mengambil tempat kakakmu!”
Kalimat itu membuat Arsyi terdiam dan dadanya terasa sesak.
“Aku tidak mengambil tempat siapa pun,” ucapnya lirih, suaranya mulai bergetar. “Aku cuma … menjalankan sesuatu yang sudah terjadi.”
Bu Hana tertawa sinis. “Jangan cari pembenaran! Ibu tidak akan pernah setuju.”
Hening sejenak.
Arsyi mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sudah berkaca-kaca, namun ia menahan agar air mata itu tidak jatuh.
“Aku juga berat, Bu,” katanya jujur. “Aku tidak pernah membayangkan akan berada di posisi ini.”
Suaranya pelan. Namun, penuh kejujuran yang tak bisa ia sembunyikan.
“Tapi Melodi…” ia berhenti sejenak, menarik napas. “Dia butuh seseorang.”
“Dan itu harus kamu?” sahut Bu Hana tajam.
Arsyi terdiam, dia tahu, apa pun jawabannya tidak akan cukup.
“Aku cuma tidak mau berlarut dalam kesedihan,” lanjutnya akhirnya. “Aku tidak mau terus jadi orang yang hancur.”
Bu Hana menatapnya tajam.
Seolah kalimat itu justru membuatnya semakin marah.
“Jadi kamu pikir menikah dengan Harsa itu solusi?” tanyanya sinis. “Atau ini cuma pelarian karena kamu gagal dengan laki-laki itu?”
Arsyi mengepalkan tangannya, dia mencoba tetap tenang tetapi kali ini ia tidak bisa sepenuhnya diam.
“Hubunganku dengan Bima memang sudah selesai,” ucapnya pelan. “Dan itu tidak ada hubungannya dengan keputusan ini.”
Bu Hana langsung menggeleng. “Tidak ada hubungannya? Kamu yakin?”
Suaranya berubah lebih tajam.
“Kalau kamu tidak gagal menjaga hubunganmu, mungkin kamu tidak akan ada di posisi ini sekarang!”
Kalimat itu menghantam keras Arsyi membeku dan matanya melebar sedikit. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Bu…” suaranya nyaris tak terdengar.
Bu Hana belum berhenti.
“Iya! Kamu tidak becus!” ucapnya tanpa ragu. “Semua ini terjadi karena kamu tidak bisa menjaga laki-lakimu sendiri. Makanya dia berpaling!”
Dunia Arsyi seolah runtuh untuk kedua kalinya, tangannya gemetar.
“Jadi … semua salah aku?” tanyanya pelan, suara itu sangat lirih.
“Kalau kamu bisa jadi perempuan yang cukup, dia tidak akan pergi,” jawab Bu Hana dingin.
Air mata akhirnya jatuh dan tak bisa ditahan lagi. Namun, Arsyi tidak menangis keras. Ia hanya berdiri di sana dan menerima setiap kata, seolah memang pantas untuk disalahkan.
Beberapa detik berlalu.
Arsyi mengusap air matanya perlahan, lalu menarik napas panjang.
“Baik, Bu,” ucapnya pelan, dia mengangkat wajahnya. Tatapannya berbeda sekarang.
“Kalau Ibu pikir semua ini salahku … aku terima.”
Bu Hana terdiam sesaat, mungkin tidak menyangka jawaban itu.
“Tapi keputusan ini tetap akan aku jalani,” lanjut Arsyi. “Bukan karena aku gagal … tapi karena aku memilih.”
Suaranya tidak lagi bergetar, justru terdengar lebih kuat.
“Aku memilih untuk tidak terus jatuh,” katanya. “Aku memilih untuk bangkit … dengan cara yang mungkin Ibu tidak setujui.”
Hening kembali menyelimuti ruangan.
Bu Hana menatapnya, kali ini tanpa langsung membalas.
Arsyi menunduk sedikit.
“Aku tidak minta Ibu mengerti,” ucapnya pelan. “Tapi setidaknya … jangan hancurkan aku lebih dari ini.” Tanpa menunggu jawaban, Arsyi berbalik. Melangkah pergi dari ruangan itu. Meninggalkan ibunya dan semua kata-kata yang masih menggema di dalam kepalanya.
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂