NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan Neraka

Episode 19

Pagi itu, udara di Akademi Elang Hijau terasa sangat dingin, namun bagi Reno, suhu udara tersebut tidak sebanding dengan rasa dingin yang terpancar dari tatapan Instruktur Raka. Setelah kejadian di gudang senjata semalam, Reno tidak diizinkan untuk beristirahat. Raka memanggilnya ke area latihan tertutup di bagian paling terpencil dari gedung akademi, sebuah aula tanpa jendela yang hanya diterangi oleh obor-obor minyak yang apinya terus bergoyang tertiup angin gaib.

"Waktumu hanya tiga minggu sebelum ujian tengah semester dimulai," ucap Raka sambil berjalan mengitari Reno. Suara langkah sepatunya bergema, menciptakan suasana yang mencekam. "Kau memang sudah mencapai Tingkat Perak dengan cara yang... tidak lazim. Tapi di mata seorang penjinak ahli, kau hanyalah anak kecil yang memegang pedang raksasa. Kau punya tenaga, tapi kau tidak punya teknik."

Reno berdiri tegak di tengah aula. Di bahunya, Nidhogg kini terlihat lebih stabil. Sisik-sisik zirah hitamnya tidak lagi mengeluarkan uap panas, melainkan memancarkan aura dingin yang sangat pekat.

"Apa yang harus saya lakukan, Instruktur?" tanya Reno, suaranya tetap tenang meski tubuhnya sebenarnya masih terasa remuk akibat penyusupan semalam.

Raka tersenyum tipis sebuah senyum yang sama sekali tidak menenangkan. "Pertama, kau harus belajar cara membagi jiwamu. Selama ini, kau hanya memerintah binatang mu. Itu salah. Kau harus menjadi binatang mu, dan binatang mu harus menjadi dirimu. Kita sebut ini: Sinkronisasi Jiwa Tahap Kedua."

Raka melemparkan sebuah gelang logam yang sangat berat ke arah Reno. Reno menangkapnya, dan seketika tangannya hampir terjatuh ke lantai. Gelang itu terasa seperti beratnya seratus kilogram!

"Pakai itu di kedua tangan dan kakimu. Selama tiga minggu ke depan, kau tidak boleh melepasnya, bahkan saat tidur atau mandi. Gelang itu adalah Logam Gravitasi. Ia akan terus menarik energi mentalmu setiap detik. Jika kau berhenti melakukan teknik pernapasan Arus Bumi, kau akan jatuh pingsan karena kelelahan."

Reno mengatupkan rahangnya. Ia memasang gelang-gelang itu. Begitu keempat gelang terpasang, Reno merasa seperti ada gunung yang menindihnya. Tulang tulangnya berderak pelan. Napasnya menjadi pendek dan berat.

"Sekarang, serang aku," perintah Raka.

"Apa?" Reno terbelalak.

"Gunakan cacing mu, gunakan tinju mu, gunakan apa saja. Jika kau tidak bisa menyentuh jubahku dalam waktu satu jam, kau tidak akan mendapatkan makan siang."

Pertarungan itu dimulai dengan sangat sepihak. Reno mencoba bergerak, namun berat dari Logam Gravitasi membuat gerakannya sangat lamban. Setiap kali ia mencoba melompat, kakinya terasa seperti ditarik kembali ke dalam tanah oleh tangan raksasa.

"Nidhogg, serang!" teriak Reno.

Nidhogg melesat dengan sayap kecilnya. Kecepatannya di udara masih sangat tinggi. Namun, Raka hanya menggerakkan satu jarinya. Sebuah dinding transparan dari energi mental muncul dan mementalkan Nidhogg begitu saja.

"Terlalu lambat! Terlalu terlihat!" ejek Raka. "Kau menyerang hanya dengan nafsu, bukan dengan perhitungan!"

Selama berjam jam, Reno dipukuli, dilempar, dan dijatuhkan berkali kali ke lantai batu yang keras. Setiap kali ia terjatuh, Raka tidak membiarkannya diam. Raka akan melepaskan aura mentalnya yang sangat kuat, memaksa Reno untuk terus bangkit jika tidak ingin jiwanya hancur.

Siang hari, saat jam istirahat, Reno menyeret kakinya menuju kantin dengan susah payah. Setiap langkah yang ia ambil membutuhkan konsentrasi penuh agar ia tidak jatuh tersungkur. Seragam hijaunya kini penuh dengan noda debu dan beberapa bagian robek.

"Reno! Ya ampun, apa yang terjadi padamu?" Lani berlari mendekat, wajahnya dipenuhi rasa khawatir. Di belakangnya, Dito menyusul dengan wajah yang sama cemasnya.

"Aku... aku hanya mendapatkan porsi latihan ekstra dari Instruktur Raka," jawab Reno sambil duduk di kursi kayu dengan bunyi gedebuk yang berat.

Dito memperhatikan gelang di tangan Reno. "Gelang apa itu? Kelihatannya sangat berat."

"Ini... hanya alat bantu latihan," Reno mencoba tersenyum, meski peluh mengucur deras dari dahinya.

"Reno, kau berubah," ucap Lani tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit sedih. "Sejak ujian di hutan itu, kau jarang mengobrol dengan kami. Kau selalu menghilang saat malam, dan sekarang kau terlihat seperti orang yang sedang membawa beban seluruh dunia di bahumu. Apa kau sedang dalam masalah? Cerita lah pada kami."

Reno menatap mata tulus Lani. Di kehidupan lamanya, tidak ada wanita yang menatapnya dengan kekhawatiran yang murni seperti ini. Mereka biasanya hanya khawatir jika kartu kredit Arka tidak bisa digunakan. Namun, Reno sadar ia tidak bisa melibatkan mereka.

"Lani, aku baik-baik saja. Aku hanya tidak ingin menjadi beban bagi kalian saat ujian tengah semester nanti. Aku harus menjadi lebih kuat," jawab Reno dengan nada yang sengaja dibuat dingin.

Lani terdiam. Ia bisa merasakan jarak yang semakin lebar antara dirinya dan Reno. "Baiklah... kalau itu maumu. Tapi jangan sampai kau membunuh dirimu sendiri dengan latihan itu."

Setelah Lani dan Dito pergi, Reno menunduk menatap mangkuk buburnya. Ia merasa sedikit kesepian, namun ia tahu ini adalah harga yang harus dibayar untuk kekuatan. Di dunia ini, kelemahan adalah dosa terbesar.

"Reno, wanita itu benar. Kau terlalu memaksakan diri," bisik Nidhogg. "Tapi aku suka semangatmu. Energi mental yang kau alirkan ke gelang itu... sebagian tersaring ke dalam kontrak jiwa kita. Aku merasa sisikku menjadi semakin padat."

"Diam lah, Nidhogg. Makanlah sisa daging di mangkuk ini. Kita harus kembali ke aula latihan," balas Reno.

Minggu pertama latihan neraka itu dilewati Reno dengan penuh penderitaan. Namun, memasuki minggu kedua, sesuatu yang ajaib terjadi. Tubuh Reno mulai terbiasa dengan berat Logam Gravitasi. Langkah kakinya yang tadinya berat kini mulai terasa normal. Aliran energi Arus Bumi nya menjadi sangat lancar, mengalir tanpa hambatan di seluruh pembuluh darahnya.

Di bawah bimbingan kejam Raka, Reno mulai belajar teknik Vibrasi Tanah. Ini adalah teknik di mana Reno bisa menggetarkan energinya sendiri agar selaras dengan getaran bumi. Hasilnya, gerakannya menjadi sangat sulit dideteksi, seolah olah ia adalah bagian dari bayang-bayang itu sendiri.

"Bagus," ucap Raka saat melihat Reno berhasil menghindari serangannya untuk pertama kali tanpa harus melompat jauh. "Kau mulai mengerti cara menggunakan efisiensi. Sekarang, mari kita coba ujian yang sesungguhnya."

Raka mengeluarkan sebuah kotak kayu tua. Di dalamnya terdapat sebuah batu hitam yang berdenyut dengan cahaya ungu gelap.

"Ini adalah Batu Uji Jiwa. Aku akan melepaskan binatang kontrakku, Gagak Kematian, untuk masuk ke dalam pikiranmu melalui batu ini. Kau harus mempertahankan kesadaranmu sementara Nidhogg bertarung dengan gagak ku di dalam dunia mental. Jika kau gagal, kau akan menjadi gila."

Reno menarik napas panjang. "Lakukan."

Begitu latihan dimulai, Reno merasa jiwanya ditarik ke dalam sebuah ruang hampa yang gelap. Di sana, ia melihat Nidhogg dalam bentuk aslinya meski masih kecil sedang berhadapan dengan seekor gagak raksasa dengan mata yang mengeluarkan api biru.

Pertempuran mental itu jauh lebih melelahkan daripada pertarungan fisik. Setiap luka yang diterima Nidhogg di dunia mental, dirasakan sebagai rasa sakit yang menusuk di otak Reno.

"ARGGHHHHH!" Reno berteriak, telinganya mulai mengeluarkan sedikit darah.

"TETAP FOKUS, RENO! JANGAN BIARKAN DIA MENGHANCURKAN PERTAHANAN KITA!" Nidhogg meraung, ia menerjang gagak itu dengan gigi giginya yang kini dialiri energi kehancuran.

Selama tiga malam berturut-turut, Reno tidak tidur. Ia terus bertarung di dunia mental melawan Raka. Di saat yang sama, ia harus tetap memakai Logam Gravitasi yang terus menyedot energinya.

Namun, di tengah siksaan itu, Reno menemukan sebuah rahasia. Ia menyadari bahwa fragmen jiwa naga di dalam Nidhogg mulai menyatu dengan energi mentalnya sendiri. Ia bukan lagi sekadar memberi perintah pada Nidhogg, ia bisa melihat apa yang Nidhogg lihat dan ia bisa merasakan apa yang Nidhogg rasakan secara real time.

Ini adalah Penyatuan Sempurna Tahap Awal.

Pada akhir minggu ketiga, Reno berdiri di hadapan Raka. Ia tidak lagi terlihat lemas. Meski pakaiannya compang camping, matanya berkilat dengan kepercayaan diri yang mengerikan. Ia melepas gelang Logam Gravitasi itu atas perintah Raka.

BRAKK!

Saat gelang itu jatuh ke lantai, lantai batu aula itu retak. Reno merasa tubuhnya seringan bulu. Ia seolah olah bisa terbang hanya dengan sedikit loncatan.

"Kau sudah siap," ucap Raka sambil menatap Reno dengan tatapan yang sulit diartikan. "Besok adalah ujian tengah semester. Ingat janji kita. Menang lah, ambil Cermin Jiwa, dan jangan biarkan siapa pun tahu bahwa aku yang melatih mu."

Reno mengangguk. "Saya tidak akan mengecewakan Anda, Instruktur. Tapi setelah ini, saya ingin Anda memberikan informasi lebih lanjut tentang Gerhana Hitam. Saya tahu mereka mengincar saya, dan saya tidak suka menjadi orang buta di tengah perburuan."

Raka terkekeh. "Kau sudah belajar cara bernegosiasi, ya? Baiklah. Menang lah dulu, baru kita bicara."

Reno keluar dari aula latihan rahasia itu. Saat ia berjalan di koridor akademi, ia berpapasan dengan Bagas. Bagas terlihat jauh lebih kuat dari sebelumnya, auranya dipenuhi dengan energi obat obatan yang dipaksakan. Di samping Bagas, berdiri seorang pemuda senior yang menatap Reno dengan tatapan dingin.

"Nikmati hari terakhirmu sebagai murid, Reno," bisik Bagas saat mereka berpapasan. "Besok, kau tidak akan hanya kalah. Kau akan menghilang."

Reno tidak menjawab. Ia terus berjalan dengan tenang. Di bahunya, Nidhogg sudah dalam posisi siap tempur.

Arka... Reno... siapa pun namaku, aku sudah siap, batin Reno.

Malam itu, Reno tidur dengan sangat nyenyak. Bukan karena ia menyerah, tapi karena ia tahu bahwa badai yang akan datang besok adalah tempat di mana ia akan benar-benar bersinar sebagai sang Penjinak Cacing yang akan mengguncang dunia.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!