Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Negosiasi Pinggir Jalan
"Itu dia, Bang! Itu preman cewek yang nahan gue!"
Teriakan cempreng Elora menggema saat pintu lift khusus VIP terbuka. Gadis itu langsung berlari bersembunyi di balik punggung tegap pria yang baru saja melangkah keluar.
Elvano Diwantara berdiri di sana. Aura dinginnya langsung mengubah suhu udara di basement yang pengap menjadi sedingin kutub utara.
Dia mengenakan setelan jas abu-abu tua yang potongannya pas di badan, rambutnya tertata rapi tanpa satu helai pun yang berani keluar jalur, dan wajahnya datar tanpa ekspresi.
Benar-benar definisi "Pangeran Es" di dunia nyata, kalau saja pangeran itu tidak sedang memegang kalkulator saku di tangan kirinya.
Aluna mendengus kasar. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, sama sekali tidak terintimidasi.
"Preman?" Aluna tertawa sinis, menatap Elora yang mengintip takut-takut dari balik ketiak abangnya. "Mbak, tolong ya. Badan saya kecil begini dibilang preman? Yang tadi teriak-teriak minta ganti rugi miliaran siapa? Situ apa saya?"
Elvano tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menyapu penampilan Aluna dari atas ke bawah. Kemeja putih polos yang agak kusut, rok bahan hitam selutut, dan sepatu pantofel yang alasnya sudah tipis.
"Ini preman yang kamu maksud, El?" tanya Elvano datar, tanpa menoleh ke adiknya. "Dia lebih mirip pelamar kerja yang nyasar daripada begal."
"Dia galak banget, Bang! Dia nyandera gue! Dia nggak bolehin gue pergi sebelum bayar gocap!" adu Elora mendramatisir.
Elvano menghela napas lelah. Dia berjalan melewati Aluna, mengabaikan gadis itu sepenuhnya, dan langsung menuju ke bokong mobil merah yang menjadi sumber masalah.
Dia membungkuk sedikit, matanya menyipit memeriksa goresan putih memanjang di bemper belakang.
Elora ikutan jongkok di sampingnya, memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Lihat tuh, Bang. Parah banget kan? Lecetnya dalem. Ini pasti butuh cat ulang satu bodi. Berapa duit coba? Puluhan juta pasti!"
Elvano menyentuh goresan itu dengan jari telunjuknya. Dia menggosoknya sedikit.
"Ini bukan lecet dalam, Elora," komentar Elvano santai. Dia berdiri sambil membersihkan debu di jarinya. "Ini cuma residu cat gagang motor yang nempel. Dipoles pakai kompon lima puluh ribu juga hilang."
"Hah? Tapi kan..."
"Jangan lebay," potong Elvano tegas. "Kamu mundur nggak lihat spion, kan? Jujur."
Elora kicep. Dia memain-mainkan ujung rambutnya. "Ya... abisnya gue lagi emosi gara-gara Abang!"
"Salah sendiri," Elvano memvonis tanpa ampun. "Biaya poles mobil ini potong dari uang jajan kamu bulan depan."
"Abang!" pekik Elora tidak terima.
"Urusan mobil selesai," kata Elvano final, lalu berbalik badan hendak kembali ke lift. Dia merasa urusannya di sini sudah beres. Waktunya adalah uang, dan dia sudah membuang tiga menit yang berharga di parkiran bau knalpot ini.
"Eits! Tunggu dulu, Mas!"
Suara Aluna menghentikan langkah Elvano. Gadis itu merentangkan tangan, menghadang jalan sang CEO.
Elvano menunduk, menatap gadis yang tingginya hanya sebatas dagunya itu.
"Ada apa lagi?" tanya Elvano dingin. "Urusan dengan adik saya sudah selesai. Mobilnya biar saya yang urus. Kamu boleh pergi."
"Enak aja pergi!" Aluna berkacak pinggang, matanya melotot galak. "Urusan mobil situ emang kelar. Tapi urusan motor saya belum! Adik Mas yang terhormat ini nabrak motor saya sampai spionnya patah dan bodinya pecah! Mana ganti ruginya?"
Elvano menaikkan alis sebelah. Dia baru sadar ada motor matic butut yang terparkir miring di dekat pilar.
"Oh. Jadi kamu minta ganti rugi?"
"Iya dong! Emang motor saya bisa bener sendiri pakai doa?" sembur Aluna. "Tadi adik Mas udah janji mau bayar gocap tapi malah drama dompet ketinggalan. Sekarang Mas yang datang, Mas yang bayar. Gocap. Lima puluh ribu. Pas. Nggak usah pakai kembalian."
Elora berbisik dari belakang Elvano. "Tuh kan, Bang. Matre banget dia. Dikit-dikit duit."
"Diam kamu," tegur Elvano pada Elora.
Elvano kembali menatap Aluna. "Lima puluh ribu?"
"Iya. Murah kan buat ukuran orang kaya kayak Mas? Spion motor saya patah, Mas. Itu butuh diganti biar saya nggak ditilang polisi. Belum lagi bodi sampingnya retak. Lima puluh ribu itu udah harga temen. Harga diskon!" jelas Aluna berapi-api. Dia menunjuk jam tangannya. "Buruan deh, Mas. Saya udah telat interview gara-gara drama keluarga Mas ini."
Elvano tidak langsung merogoh dompet. Sebaliknya, pria itu berjalan perlahan mendekati motor Aluna. Langkahnya tenang, penuh perhitungan, seperti seorang auditor yang hendak memeriksa bangkai kapal.
Aluna mengernyit. "Ngapain dilihatin? Motor butut doang, bukan lukisan Monalisa."
Elvano mengabaikan sindiran itu. Dia berjongkok di depan motor Aluna. Matanya yang jeli mulai melakukan pemindaian aset.
Dia menyentuh gagang spion yang patah itu. Besinya sudah berwarna cokelat kusam.
"Ini motor tahun berapa?" tanya Elvano tanpa menoleh.
"Dua ribu sembilan belas. Kenapa emang?" jawab Aluna ketus.
Elvano mengangguk-angguk kecil. Tangan kirinya yang memegang kalkulator mulai bergerak. Jempolnya menari lincah di atas tombol-tombol angka.
Tak. Tak. Tak.
Suara tombol kalkulator itu terdengar aneh di tengah ketegangan parkiran.
"Ngapain Mas ngitung?" Aluna mulai merasa ada yang tidak beres. Firasat buruknya menyala.
Elvano berdiri. Dia memutar tubuh menghadap Aluna, wajahnya datar namun sorot matanya penuh kemenangan logika.
"Lima puluh ribu itu harga spion baru yang orisinal di bengkel resmi, benar?" tanya Elvano.
"Iya. Makanya saya minta segitu."
"Tapi spion yang patah ini bukan barang baru," Elvano menunjuk bangkai spion di aspal. "Lihat besinya. Sudah karatan. Karet pelindungnya sudah getas. Kacanya pun sudah ada jamur di pinggirannya. Ini jelas spion KW kualitas rendah yang sudah dipakai minimal dua tahun."
Mulut Aluna terbuka sedikit. "Hah?"
"Dalam prinsip ekonomi, ada yang namanya penyusutan aset atau depresiasi," Elvano mulai menceramahi Aluna layaknya dosen ekonomi di pinggir jalan.
"Nilai barang menurun seiring waktu dan pemakaian. Kamu tidak bisa minta ganti rugi seharga barang baru untuk barang yang nilai bukunya sudah mendekati nol," lanjut Elvano santai sambil menunjukkan layar kalkulatornya ke wajah Aluna.
"Apa-apaan..." Aluna tergagap. Dia syok. Dia bertemu orang gila. Orang gila yang ganteng dan kaya, tapi tetap saja gila.
"Motor tahun 2019," Elvano membacakan hasil hitungannya. "Ada karat di gagang, baret pemakaian wajar di batok spion sebelum tabrakan. Nilai penyusutan aset sekitar tiga puluh persen dari harga beli."
Elvano menatap Aluna lurus-lurus. Tidak ada rasa bersalah, hanya ada hitungan matematika yang presisi.
"Jadi, berdasarkan valuasi kondisi barang saat kejadian..." Elvano menjeda kalimatnya, membuat Aluna menahan napas karena emosi.
"Saya cuma mau bayar tiga puluh lima ribu. Take it or leave it."
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁