Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 : PANGGUNG SANG RATU
Bagi Leonard, seminggu ini adalah minggu paling membingungkan dalam hidupnya. Elara seolah menjelma menjadi hantu yang cantik; ia jarang terlihat di meja makan, selalu sibuk di ruang olahraga, atau menghilang ke kamarnya dengan tumpukan buku dan tablet.
Namun, pagi ini berbeda. Hari ini adalah hari pesta amal perusahaan Quizel Group malam yang sangat dinantikan Rachel untuk mempermalukan Elara, dan malam yang direncanakan Elara untuk membalikkan keadaan.
Di dalam kamar pribadinya, Elara berdiri di depan cermin besar. Ia menatap pantulan dirinya dengan napas tertahan.
"Sistem, tampilkan statistik tubuhku," bisik Elara.
[Ting! Statistik Tuan Rumah:]
Berat Badan Awal: 110 Kg
Berat Badan Saat Ini: 90 Kg (Penurunan 20 kg Dalam 2 Minggu)
Status Kesehatan: Sangat Prima (Efek pembersihan racun sistem)
Kecantikan Wajah: 65/100 (Garis rahang mulai tegas, pipi tirus, mata terlihat lebih besar)
"Sembilan puluh kilo..." Elara menyentuh pinggangnya. Meski masih berisi, namun karena ia rutin melakukan olahraga pembentukan otot, tubuhnya tidak kendur. Sebaliknya, ia memiliki lekuk tubuh jam pasir yang sangat menonjol. Kulitnya yang dulu kusam kini bersinar seputih porselen berkat efek regenerasi sistem.
Ting!
[Pemberitahuan: Progres hubungan dengan Leonard naik secara pasif menjadi 35% karena target diam-diam memperhatikan perubahan fisik Anda setiap pagi di taman.]
[Bonus 100 Juta Rupiah telah masuk ke rekening Anda!]
Elara terkekeh. "Cuma melihat saja sudah dapat duit. Dasar pria visual."
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. "Nyonya? Ini Mira. Tuan Muda sudah menunggu di bawah. Beliau bilang jika Anda belum siap dalam sepuluh menit, beliau akan berangkat sendiri."
Elara tersenyum penuh rahasia. "Katakan pada Tuanmu, Mira. Berikan aku lima menit lagi. Aku sedang memasang 'senjataku'."
Di lantai bawah, Leonard berdiri di dekat tangga besar, berkali-kali melirik jam tangan Rolex-nya. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam custom made yang membuatnya terlihat sangat gagah dan berwibawa. Arkan berdiri di sampingnya, juga tampak rapi.
"Tuan, apakah kita benar-benar akan membiarkan Nyonya memilih pakaiannya sendiri?" bisik Arkan cemas. "Anda tahu terakhir kali di pesta kolega, Nyonya memakai gaun rumbai-rumbai warna neon yang membuat semua orang... eh, salah fokus."
Leonard mendengus, teringat memori memalukan itu. "Biarkan saja. Kalau dia mempermalukan dirinya lagi, aku akan langsung menceraikannya setelah kiamat maksudku, setelah urusan ini selesai."
Tepat saat itu, terdengar suara pintu terbuka di lantai atas. Langkah kaki yang mantap namun ringan terdengar menuruni anak tangga kayu.
Leonard dan Arkan serentak menoleh ke atas. Dan pada detik itu juga, waktu seolah berhenti.
Elara muncul. Ia tidak memakai gaun neon atau baju yang terlalu ketat. Ia mengenakan gaun beludru berwarna midnight blue yang menjuntai indah hingga ke lantai. Potongan gaun itu sangat cerdas; model off-shoulder yang memamerkan bahu putih mulusnya dan garis leher V-cut yang memberikan kesan jenjang. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya yang baru dengan sangat pas, memberikan siluet yang elegan dan mahal.
Rambut hitamnya yang biasanya berantakan kini disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang sudah jauh lebih tirus. Riasan wajahnya bold di bagian bibir dengan warna merah tua, kontras dengan kulitnya yang seputih susu.
Leonard terpaku. Ia bahkan lupa cara berkedip. Wanita yang turun itu... benarkah itu Elara? Wanita yang selalu ia ejek sebagai "beban" dalam hidupnya?
"Bagaimana? Apakah aku masih membuatmu ingin berangkat sendiri, Leonard?" suara Elara terdengar rendah dan penuh percaya diri saat ia tiba di anak tangga terakhir, tepat di depan Leonard.
Arkan sampai harus menutup mulutnya yang menganga. "Nyonya... Anda... Anda terlihat sangat... luar biasa."
Leonard berdeham, mencoba mengembalikan harga dirinya yang sempat runtuh melihat kecantikan istrinya. Ia memalingkan wajah, meski matanya sesekali masih melirik ke arah bahu terbuka Elara yang sangat menggoda.
"Lumayan. Setidaknya kamu tidak terlihat seperti badut sirkus malam ini," ujar Leonard ketus, namun suaranya sedikit serak.
Elara tertawa kecil. Ia melangkah mendekat, meraih lengan Leonard, dan menyandarkan tangannya di sana. "Hanya lumayan? Padahal detak jantungmu terdengar cukup kencang dari sini, Tuan Muda."
Wajah Leonard memerah sesaat. "Jangan percaya diri berlebihan. Ayo berangkat. para kolega sudah menunggu."
Di dalam mobil, suasana sangat hening namun penuh ketegangan. Leonard duduk di pojok, berusaha menjaga jarak, namun aroma parfum Elara aroma kayu cendana yang elegan bercampur dengan mawar segar memenuhi kabin mobil.
"Leonard," panggil Elara pelan.
"Apa?"
"Nanti di pesta, jangan lepaskan tanganku. Bukan karena aku takut, tapi karena aku ingin melihat wajah Rachel saat dia menyadari bahwa 'batu' yang dia hina tempo hari telah berubah menjadi permata yang tidak bisa dia sentuh."
Leonard menatap Elara tajam. "Kamu tahu dia akan menyerangmu, kan?"
"Aku mengharapkannya," sahut Elara dingin. "Sesuatu yang dihancurkan dengan elegan itu jauh lebih memuaskan, bukan?"
Leonard terdiam. Ia baru sadar bahwa yang berubah dari Elara bukan hanya fisiknya, tapi jiwanya. Elara yang sekarang memiliki ketajaman yang membuatnya tertarik sekaligus waspada.
Begitu mobil berhenti di depan gedung pertemuan mewah, kilatan kamera wartawan langsung menyambut mereka. Leonard turun lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangannya ke arah pintu mobil.
Elara menyambut tangan itu. Begitu ia keluar dari mobil, suara jepretan kamera makin menggila. Semua orang berbisik, "Siapa wanita di samping Leonard Quizel itu? Apakah itu istrinya? Kenapa dia berubah begitu drastis?"
Di dalam lobi, Rachel yang mengenakan gaun merah menyala sudah menunggu dengan segelas sampanye di tangan. Ia sudah menyiapkan pidato penghinaan yang paling tajam. Namun, saat melihat sosok Elara yang berjalan anggun di samping Leonard, gelas di tangannya hampir saja jatuh.
"Tidak mungkin..." desis Rachel. "Itu pasti bukan Elara. Bagaimana bisa dalam seminggu dia berubah jadi seperti itu?!"
Elara yang melihat Rachel dari kejauhan hanya memberikan senyum tipis senyum pemenang yang membuat Rachel menggigil ketakutan.
[Ting! Misi Sampingan: 'Kehancuran Rachel di Pesta Amal' Dimulai!]
[Hadiah: Peningkatan Level Ruang Penyimpanan secara Instan & 200 Juta Rupiah!]
"Mari kita mulai pestanya," batin Elara penuh semangat.
_________🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Lantai dansa ballroom itu berkilauan di bawah lampu kristal, namun semua mata justru tertuju pada pasangan yang baru saja masuk. Leonard bisa merasakan bagaimana genggaman tangan Elara di lengannya terasa begitu mantap. Biasanya, Elara akan menunduk malu atau justru bertingkah berlebihan untuk menutupi rasa minder, tapi malam ini, wanita itu berjalan dengan dagu terangkat dan punggung tegak sempurna.
Rachel, yang merasa posisinya terancam, segera melangkah maju. Ia memaksakan senyum paling manis yang ia miliki, meski matanya berkilat penuh kebencian.
"Leo! Akhirnya kalian datang," sapa Rachel dengan suara yang sengaja dikeraskan agar menarik perhatian tamu-tamu sosialita di sekitar mereka. Ia melirik Elara dengan tatapan menilai. "Dan... Elara? Wow, aku hampir tidak mengenalimu. Operasi plastik di mana dalam seminggu ini? Atau ini hanya efek korset yang sangat ketat?"
Beberapa wanita di sekitar mereka mulai berbisik sambil menutup mulut. Hinaan Rachel sangat frontal.
Leonard hendak membuka suara untuk mengusir Rachel, namun Elara lebih cepat. Ia justru melepaskan kaitan tangannya dari lengan Leonard dan melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Rachel.
"Korset?" Elara tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat berkelas. "Nona Rachel, sepertinya Anda terlalu banyak menghabiskan waktu di klinik kecantikan sampai lupa bahwa ada hal yang disebut disiplin diri dan gaya hidup sehat. Tapi saya mengerti, bagi orang yang terbiasa mengambil jalan pintas dalam hidup termasuk dalam urusan mencari pasangan konsep kerja keras pasti terasa asing."
Wajah Rachel memucat. Kalimat "mencari jalan pintas" adalah sindiran telak bagi Rachel yang dulu meninggalkan Leonard demi pria yang lebih kaya, lalu kembali saat Leonard sukses.
"Kamu—! Jangan lancang ya!" desis Rachel. Ia segera mengubah taktik. "Leo, aku tidak menyangka istrimu sekarang jadi sepintar ini bicaranya. Tapi di acara amal seperti ini, yang dibutuhkan bukan mulut besar, melainkan kontribusi nyata. Bukankah begitu?"
Rachel kemudian berbalik ke arah panggung kecil di tengah ruangan di mana terdapat sebuah piano grand Steinway yang megah. "Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya! Karena malam ini adalah malam penggalangan dana, bagaimana kalau kita meminta Nyonya Muda Quizel untuk menunjukkan bakatnya? Saya dengar, Elara sangat... 'lihai' dalam memikat hati orang. Mari kita lihat apakah dia bisa memainkan satu lagu untuk menambah donasi malam ini?"
Suasana mendadak hening. Semua orang tahu bahwa Elara yang dulu tidak punya bakat selain menghabiskan uang. Arkan yang berdiri agak jauh mulai berkeringat dingin. "Tuan, ini jebakan. Kita harus menarik Nyonya sekarang," bisik Arkan pada Leonard.
Leonard menatap Elara dengan cemas. "Elara, jangan dengarkan dia. Kita bisa pergi ke meja VIP sekarang."
Namun, Elara justru memberikan senyuman menenangkan pada Leonard. Tangannya mengusap lengan tuksedo Leonard sesaat. "Tenang saja, Leonard. Aku tidak akan membiarkan uang seratus juta dari... maksudku, aku tidak akan membiarkan kehormatan keluarga Quizel jatuh."
Elara melangkah menuju panggung dengan anggun. Setiap langkahnya diikuti oleh sorot lampu follow-spot. Ia duduk di kursi piano, mengatur gaun beludrunya agar jatuh dengan indah, lalu menatap kerumunan.
"Karena Nona Rachel sangat ingin mendengar sebuah lagu, saya akan membawakan sesuatu yang sesuai dengan suasana hatinya saat ini," ujar Elara tenang.
Jari-jarinya mulai menari di atas tuts piano. Awalnya pelan, lalu berubah menjadi nada-nada yang sangat rumit dan penuh emosi. Ia memainkan Winter Wind karya Chopin dengan teknik yang sempurna. Kecepatan jarinya, dinamikanya, dan penghayatannya membuat seluruh ruangan terhipnotis. Bahkan Leonard berdiri mematung; ia tidak pernah tahu bahwa istrinya bisa bermain piano sehebat pemain konser profesional.
Rachel yang berdiri di pinggir panggung mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Tidak mungkin... dia seharusnya tidak bisa bermain piano! Dia hanya wanita bodoh!"
Begitu nada terakhir berakhir, keheningan menyelimuti ruangan sejenak sebelum akhirnya meledak dalam tepuk tangan yang riuh. Beberapa kolega bisnis Leonard bahkan berdiri memberikan standing ovation.
Ting!
[Misi Sampingan Selesai: Rachel dipermalukan dengan telak!]
[Hadiah: 200 Juta Rupiah telah dikirim!]
[Bonus: Ruang penyimpanan Anda kini Level 10. Kapasitas meningkat 1.000 kali lipat!]
[Progres Hubungan dengan Leonard: 45%.]
Elara turun dari panggung dan langsung disambut oleh Leonard yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kekaguman, rasa tidak percaya, dan sesuatu yang lebih hangat dari biasanya di sana.
"Sejak kapan?" tanya Leonard pendek saat Elara sudah kembali di sampingnya.
"Sejak aku memutuskan untuk tidak menjadi bayang-bayangmu lagi, Leonard," jawab Elara sambil mengedipkan mata.
Namun, kegembiraan Elara sedikit terganggu saat sistem memberikan notifikasi baru berwarna merah terang di sudut matanya.
[Pemberitahuan Darurat: Plot Twist Terdeteksi! Rachel tidak menyerah. Dia telah menyiapkan rencana kedua yang lebih berbahaya: Memberi obat pada minuman Leonard malam ini untuk menjebaknya di kamar hotel!]
Elara langsung menoleh ke arah bar. Di sana, ia melihat Rachel sedang memberikan isyarat pada salah satu pelayan yang membawa nampan berisi gelas sampanye menuju ke arah mereka.
"Sistem, apa aku bisa menggunakan ruang penyimpanan untuk menukar gelas itu?" batin Elara cepat.
[Bisa, Tuan Rumah. Dengan Level 10, Anda bisa melakukan 'Space Swap' dalam jarak 5 meter secara instan.]
"Bagus. Mari kita berikan Rachel rasa obatnya sendiri," seringai Elara muncul kembali.
Ia memegang lengan Leonard lebih erat. "Leonard, jangan minum apa pun yang diberikan orang lain malam ini kecuali aku yang mengambilkannya, mengerti?"
Leonard mengernyitkan dahi. "Kenapa?"
"Anggap saja ini firasat seorang istri yang baru saja turun berat badan duapuluh kilo. Instingku jadi jauh lebih tajam," bisik Elara tepat di telinga Leonard, membuat bulu kuduk pria itu merinding secara aneh.
Bersambung.....🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Cuma satu yang dipertanyakan. Apakah Elara memikirkan solusi? Atau hanya mengikuti misi dari sistem dan bertahan hidup?
Harusnya Elara memikirkan solusi untuk mengembalikan keadaan. Misalnya dengan mencari sebab dulu, baru menemukan solusi (walau masih belum pasti) dan menjadikan solusi itu tujuan cerita. Kita jadi tahu akan dibawa ke mana cerita ini pada akhirnya. Kedamaian hakiki walau ga bisa mengembalikan dunia secara utuh. atau mereka bisa mereset semuanya? Tapi kalau reset, Elara waktu rebirth pun ga ada niatan menghentikan terjadinya chaos. hanya sibuk menyiapkan 'payung'.
dan ke mana manusia-manusia pengkhianat itu? Kenapa Elara tidak pernah mencari mereka untuk balas dendam?