NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

buatlah cerita ini menggunakan bahsa yang santai dan lebih seperti manusia atau penulis sungguhan,

Kalau ada yang bilang rumah orang kaya itu hangat dan penuh kekeluargaan, fix mereka belum pernah menginjakkan kaki di kediaman utama keluarga Bimo. Mobil hitam mewah yang kami tumpangi berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis, menyambut kami masuk ke halaman yang luasnya mungkin setara dengan tiga lapangan bola. Di ujung jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rimbun yang dipangkas rapi, berdiri sebuah bangunan bergaya klasik modern yang lebih mirip museum seni daripada tempat tinggal manusia.

"Turun," perintah Bimo singkat tanpa menoleh ke arahku. Suaranya masih sedingin tadi, seolah-olah dia baru saja mengajakku turun di halte bus, bukan di depan calon rumah mertua bohonganku.

Aku menarik napas panjang, mencoba merapikan kemeja flanelku yang sedikit kusut. "Bimo, serius? Kamu nggak mau kasih aku waktu buat ganti baju dulu? Aku merasa kayak butiran debu di depan rumah sebesar ini."

Bimo akhirnya menoleh, matanya menatapku dari atas sampai bawah dengan ekspresi yang susah ditebak. "Sudah kubilang, itu bagian dari skenarionya. Kakek harus percaya kalau aku benar-benar jatuh cinta padamu tanpa melihat status. Kalau kamu datang pakai gaun mahal, dia malah bakal curiga itu settingan."

Aku mendengus pelan. "Ya, tapi nggak gini juga kali. Setidaknya kasih aku kesempatan pakai parfum sedikit."

Bimo nggak membalas. Dia turun dari mobil, dan aku terpaksa mengekor di belakangnya. Begitu pintu depan yang terbuat dari kayu jati ukiran terbuka, aku langsung disambut oleh barisan pelayan yang membungkuk hormat. Rasanya aneh banget. Aku biasanya cuma menulis adegan kayak gini di depan laptop sambil makan mi instan, tapi sekarang aku benar-benar jadi pemeran utamanya.

"Ikuti aku, dan jangan bicara kalau tidak ditanya," bisik Bimo tepat sebelum kami masuk ke ruang makan utama.

Ruangan itu sangat luas dengan meja makan panjang yang bisa menampung dua puluh orang. Di ujung meja, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang disisir rapi ke belakang. Meskipun usianya sudah lanjut, tatapan matanya masih sangat tajam—tipe mata yang bisa melihat kebohongan hanya dengan sekali lirik. Itu pasti Kakek Bimo.

"Jadi, ini perempuan yang membuatmu mengabaikan semua janji temu dengan putri kolega Kakek?" Suara Kakek Bimo terdengar berat dan penuh wibawa, menggema di ruangan yang sunyi itu.

Bimo menarik kursi untukku—sebuah gerakan yang sangat manis kalau saja aku nggak tahu kalau itu cuma akting—lalu dia duduk di sampingku. "Namanya Nara, Kek. Kami sudah bertemu beberapa waktu lalu, dan aku merasa dia orang yang tepat."

Aku memasang senyum paling manis yang aku punya, jenis senyum yang biasanya aku deskripsikan di novel sebagai 'senyum yang bisa meluluhkan hati pria paling keras'. "Halo, Kek. Saya Nara. Mohon maaf kalau kedatangan saya terlalu mendadak."

Kakek Bimo terdiam lama, menatapku dari ujung rambut sampai kemeja flanelku yang tadi aku keluhkan. Suasana jadi tegang banget. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di telapak tanganku. Di bawah meja, aku diam-diam meraba ponsel di saku celanaku. Otak penulisku mulai bekerja secara otomatis: 'Suasana ruang makan mendadak mencekam, seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis oleh kehadiran sang penguasa tua.' Oke, itu kalimat yang bagus buat bab selanjutnya.

"Kamu tahu siapa Bimo?" tanya Kakek akhirnya.

"Saya tahu dia pria yang sangat sibuk, Kek," jawabku diplomatis. "Tapi di mata saya, dia cuma Bimo. Pria yang... eh, punya sisi hangat yang nggak semua orang tahu."

Aku melirik Bimo dari sudut mata. Dia kelihatan hampir tersedak dengar kata 'hangat' keluar dari mulutku. Tapi dia cukup profesional buat tetap memasang muka lempeng.

Makan siang pun dimulai. Pelayan mulai menyajikan hidangan yang namanya saja aku nggak bisa sebutkan. Selama makan, aku nggak cuma fokus pada rasa makanannya yang jujur saja enak banget, tapi juga pada interaksi antara Bimo dan kakeknya. Mereka nggak banyak bicara. Setiap kata yang keluar terasa seperti transaksi bisnis. Bimo sangat sopan, tapi ada jarak yang sangat lebar di antara mereka.

'Catat: Bimo punya hubungan yang rumit sama keluarganya. Ada luka lama atau mungkin tekanan yang terlalu besar yang bikin dia jadi sedingin ini,' gumamku dalam hati.

Tiba-tiba, seorang pelayan mendekat dan berbisik sesuatu pada Kakek. Kakek Bimo mengangguk, lalu menatap kami berdua. "Besok malam akan ada pesta syukuran perusahaan. Bimo, bawa Nara. Aku ingin memperkenalkan calon istrimu secara resmi kepada rekan-rekan kita."

Bimo tampak sedikit tegang, tapi dia mengangguk patuh. "Baik, Kek."

Setelah makan siang yang melelahkan mental itu selesai, Bimo mengajakku keluar ke area taman samping yang lebih privasi. Begitu kami benar-benar sendirian, dia langsung melepaskan topeng 'cucu penurutnya'.

"Bagus. Kamu lumayan pintar berakting," ucapnya sambil melonggarkan dasinya.

"Ya, kan aku penulis. Aku tahu gimana caranya bikin dialog yang pas buat situasi darurat," balasku sambil mengeluarkan ponsel. Aku nggak tahan buat nggak mengetik poin-poin penting tadi sebelum lupa.

Bimo mendekat, matanya memicing ke arah ponselku. "Apa yang kamu ketik?"

"Cuma catatan pribadi," jawabku cepat sambil mematikan layar. "Kamu bilang sendiri tadi, aku bebas nulis apa pun selama nggak pakai nama asli kamu."

Bimo diam sejenak, menatapku dengan pandangan menyelidik yang bikin jantungku berdebar aneh. "Nara, jangan terlalu asyik dengan duniamu sendiri. Pesta besok malam akan jauh lebih sulit dari ini. Semua mata akan tertuju padamu. Kalau kamu gagal, bukan cuma namaku yang rusak, tapi aku pastikan kamu nggak akan pernah bisa menulis satu kata pun lagi di platform mana pun."

Dia bicara begitu tenang, tapi ancamannya terasa nyata banget. Aku menelan ludah. "Aku tahu. Aku bakal siap."

Bimo kemudian pergi begitu saja, meninggalkanku di tengah taman yang indah tapi terasa sepi itu. Aku duduk di salah satu kursi taman, membuka kembali ponselku, dan mulai mengetik dengan liar. Semua perasaan takut, tegang, sampai rasa penasaran tentang masa lalu Bimo aku tumpahkan di sana.

Tanpa aku sadari, seorang asisten pribadi Bimo—yang sejak tadi berdiri nggak jauh dari sana—memperhatikanku dengan tatapan curiga. Dia melihat betapa seriusnya aku mengetik, dan dia tahu kalau aku bukan sekadar 'gadis sederhana' yang jatuh cinta pada bosnya.

Malam itu, di kamar tamu yang luasnya lebih besar dari seluruh apartemenku, aku hampir menyelesaikan bab kedua novelku. Judulnya: 'Tarian di Atas Benang Tipis'.

Baru saja aku mau menekan tombol publikasi, terdengar ketukan di pintu. Aku buru-buru menyembunyikan ponsel di bawah bantal. Saat aku membuka pintu, Bimo berdiri di sana dengan kemeja yang sudah dilepas kancing atasnya, memegang sebuah kotak besar.

"Ini buat besok malam," katanya sambil menyodorkan kotak itu. "Pakai ini. Aku nggak mau kamu mempermalukanku lagi dengan baju kotak-kotak itu."

Aku mengambil kotak itu, tapi sebelum dia pergi, aku memberanikan diri bertanya. "Bimo, kenapa kamu pilih aku? Maksudku, pasti banyak perempuan cantik dari kalanganmu yang mau jadi istri kontrakmu tanpa banyak tanya."

Bimo terdiam di ambang pintu. Dia nggak berbalik, tapi suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya. "Karena kamu orang asing. Dan orang asing lebih mudah untuk dibuang kalau semuanya sudah selesai."

Kalimat itu telak banget menghujam perasaanku. Aku menutup pintu dengan lemas. Di satu sisi, aku punya materi cerita yang luar biasa sedih buat bab-bab depan. Tapi di sisi lain, aku baru sadar kalau aku baru saja menandatangani kontrak untuk menjadi orang yang 'mudah dibuang'.

Aku kembali ke tempat tidur, mengambil ponsel, dan melihat notifikasi yang masuk. '900 pembaca baru! Ceritanya makin seru kak! Siapa sih CEO aslinya?'

Aku tersenyum kecut. Kalau mereka tahu CEO aslinya baru saja bilang aku sampah yang siap dibuang, apa mereka masih bakal bilang ceritanya seru?

Aku menarik napas panjang dan mulai mengetik kalimat penutup bab 2: 'Aku memasuki dunia ini sebagai penulis yang mencari cerita, tapi aku tidak pernah menduga bahwa akulah yang akan menjadi bagian paling menyedihkan dari cerita itu sendiri.'

Tepat saat aku hendak tidur, aku menyadari satu hal: tasku tertinggal di ruang makan tadi. Dan di dalam tas itu, ada buku catatan fisikku yang penuh dengan coretan tentang kepribadian asli Bimo. Kalau sampai ada yang menemukannya... tamatlah riwayatku.

Aku buru-buru keluar kamar dengan jantung berdebar, menuju ruang makan yang sudah gelap. Tapi di sana, aku melihat seseorang sedang memegang buku catatanku sambil menyalakan lampu senter ponselnya.

Itu adalah asisten pribadi Bimo.

Dia menoleh ke arahku dengan senyum tipis yang mengerikan. "Ternyata, Nona Nara punya hobi yang sangat menarik ya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!