NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Bunglon Di Sekitarku

Aku menatap Zhiyi, dan seketika ekspresinya tampak sedikit membeku. Sudut bibirnya berkedut, lalu dengan cepat ia meletakkan mangkuk obat di atas nakas. Senyumnya lembut, hampir terlalu ramah, dan entah mengapa, kudukku merinding saat melihatnya.

“Coba aku lihat!” katanya dengan nada ringan, seolah ingin menenangkan suasana.

Aku menunjuk ke bagian yang terasa sakit. “Di sini.”

Jarinya menyentuh kulitku dengan hati-hati, menekan perlahan seolah sedang memeriksa dengan saksama. “Di sini? Hmm… tidak ada apa-apa, kok,” ujarnya, suaranya tenang.

Aku mendesis, berusaha menahan rasa sakit. “Tepat di situ! Sakit sekali!”

Ia mengangguk sambil membolak-balikkan tangannya memeriksa bagian lain. “Kelihatannya baik-baik saja, tuh. Ada bagian lain yang terasa tidak nyaman?”

Sadar ia berusaha mengalihkan perhatianku, aku duduk tegak, tangan masih mengusap bagian yang sakit, lalu menatapnya langsung. “Aneh… rasanya kepala dan tubuhku seperti ditusuk-tusuk jarum. Belakangan ini, rasanya selalu seperti ini!”

“Tidak ada yang aneh, kok… Mungkin cuma nyeri saraf saja. Kadang aku juga merasakan kedutan atau nyeri mendadak di beberapa bagian tubuh,” sahutnya, mencoba menenangkan dengan pengalaman pribadinya.

Dalam hati aku memaki. Omong kosong! Ujung jariku jelas bisa merasakan benjolan kecil seperti butiran, bahkan tadi sempat tersentuh sedikit bekas darah. Tapi dia tetap bersikeras bilang tidak ada apa-apa. Jelas, dia tahu aku tidak bisa melihat posisi itu, jadi berani menipu di depanku.

Aku yakin ini bukan sekadar tusukan jarum biasa. Selama ini aku sering terbangun karena rasa sakit tajam seperti ini, hanya saja sebelumnya aku tidak pernah sesadar sekarang.

Setelah beberapa saat terdiam, aku hanya menggumam pelan, “Oh…”

Mungkin karena merasa bersalah atau tidak nyaman, Zhiyi tiba-tiba berkata dengan nada sedikit cemas, “Nyonya, minumlah obatnya dulu. Aku mau turun melihat Sonika. Tidak tenang rasanya membiarkannya bermain sendirian di bawah.”

Begitu dia selesai bicara dan berbalik pergi, aku menghela napas pelan, hampir tak terdengar. Lega memenuhi dadaku. Inilah saat yang telah kunantikan; jika tidak, Zhiyi Pingkan pasti akan terus mengawasiku, memastikan semua obat itu benar-benar kuminum sebelum dia beranjak.

Sejak tadi malam hingga sekarang, aku sudah melewatkan dua dosis obatnya. Anehnya, aku bisa merasakan kesadaranku menjadi jauh lebih jernih. Rasa kantuk yang biasanya membelenggu dan membingungkan perlahan sirna, lemas di tubuhku mulai mengendur, dan detak jantungku pun kembali stabil, normal seperti seharusnya.

Sepertinya aku tidak boleh lagi menyentuh obat ini. Gejala buruk yang kualami selama ini semua rasa pusing, lemas, dan mual sepertinya berasal dari cairan yang ia berikan. Aku harus segera menemukan cara untuk membawa obat itu ke laboratorium. Aku perlu tahu apa sebenarnya yang terkandung di dalamnya. Dan yang tak kalah penting, aku harus mencari tahu apakah Dean Junxian sadar apa yang sedang terjadi padaku.

Tapi sekarang, masalah terbesar: bagaimana cara membuang semangkuk obat itu tanpa ketahuan?

Aku menengadah, menatap arah kamera pengawas yang tadi kuketahui posisinya. Instingku berteriak agar aku tetap waspada. Satu kesalahan kecil, dan semua rencanaku bisa gagal.

Masih belum habis rasa penasaranku. Mengapa Zhiyi Pingkan memperlakukanku seperti ini? Berapa banyak rahasia dan konspirasi yang sengaja disembunyikan dariku? Pasti ada alasan di balik semua ini.

Aku harus menemukan cara yang lebih aman untuk membuang obat ini. Menuangkannya begitu saja ke karpet jelas bukan ide yang baik; cepat atau lambat pasti ketahuan.

Tiba-tiba, Cona bergerak, menggeliat keluar dari balik selimut, lalu merayap masuk ke pelukanku. Ide muncul seketika di benakku. Aku memeluknya dan mengelusnya beberapa kali, sambil diam-diam mengambil mangkuk obat itu. Begitu mendekatkan mangkuk, Cona bereaksi spontan: hidungnya mengerut, ia melompat menjauh, jelas jijik dengan baunya. Sepertinya dia benar-benar membenci aroma obat itu.

Aku segera meletakkan kembali mangkuk itu, lalu dengan lihai mengibaskan pakaianku, menciptakan ilusi seolah-olah cairan itu tumpah ke bajuku.

Setelah itu, aku bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka. Sambil mengeringkan wajah dengan handuk, aku berjalan ke nakas di samping tempat tidur. Dengan posisi tubuh membelakangi kamera pengawas, aku menuangkan obat itu perlahan ke dalam lipatan handuk, lalu berpura-pura melakukan gerakan seolah sedang meminum obat, memastikan tidak ada yang mencurigai.

Sambil memegang mangkuk kosong dan handuk yang telah menyerap cairan obat itu, aku bersikap seolah-olah semuanya normal. Aku berjalan kembali ke kamar mandi dengan langkah tenang, menahan napas agar wajahku tak memperlihatkan kegelisahan. Setelah mencuci handuk dengan cepat, aku kembali mengambil mangkuk itu dan melangkah keluar kamar, menuruni tangga dengan ekspresi datar seolah tidak terjadi apa-apa.

Padahal di balik ketenangan yang kuperlihatkan, jantungku berdegup kencang seperti genderang perang. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa di rumahku sendiri, aku harus terjebak dalam permainan sandiwara yang penuh kepalsuan dan pengawasan diam-diam.

Di dekat tangga, sayup-sayup terdengar suara Dean Junxian. Aku tersentak, hidungku perih menahan tangis yang hampir lepas, dan tanpa sadar aku mempercepat langkah. Ini adalah reaksi naluriah, karena aku begitu bergantung padanya. Bagaimanapun, dia adalah orang terdekatku di rumah ini. Selama sepuluh tahun, dia selalu menjagaku dengan penuh kasih sayang, memanjakanku, dan melindungiku. Siapa pun yang mengenal kami pasti tahu bahwa dia menganggapku permata yang berharga, yang harus disayangi sepenuh hati.

Namun kini, di tengah rasa tidak berdaya dan ketakutanku bisa dikhianati kapan saja, aku sangat ingin tahu apakah dia menyadari semua ini? Apakah dia tahu keadaan sebenarnya saat aku terbaring tanpa kekuatan di tempat tidur?

Bisikan rendah para pria di lantai bawah, berpadu dengan tawa riang Sonika, seketika meruntuhkan pertahananku. Aku yang selama ini mencoba menahan emosi, hampir saja meledak dalam tangis.

Dengan langkah terburu-buru, aku menuruni tangga. Namun, ketika aku mendongak, pemandangan di hadapanku tiba-tiba menghentikanku seketika. Hatinya terhenti, tubuhku membeku. Tanpa sempat bersiap, apa yang kulihat membuatku terpaku di tempat, terkejut sampai hampir tidak bisa bernapas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!