Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Jatuh Cinta
Zahra baru sadar ada yang salah dengan dirinya waktu dia senyum-senyum sendiri gara-gara notifikasi email.
Email biasa. Dari Rafandra. Isinya data yang dia janjikan kemarin dengan satu kalimat pendek di bawahnya:
Data sektor kuliner sudah aku sortir. Sisanya kamu yang analisis.
Bukan puisi. Bukan kata-kata manis. Hanya data dan satu kalimat instruksi dan Zahra senyum.
Dia menutup laptopnya sendiri, menatap tangannya, lalu ke langit-langit.
"Gue kenapa."
.
.
.
"Lo senyum baca email?" Suara Sinta di telepon naik satu oktaf. "EMAIL, Zah? Bukan chat, bukan voice note... EMAIL?"
"Bisa tolong turunin volumenya."
"TIDAK BISA. Ini darurat." Suara Sinta yang terdengar seperti sedang berdiri dari kasur. "Gue butuh detail. Emailnya isinya apa."
"Data skripsi."
Hening dua detik.
"Lo senyum baca email isi data skripsi dari suami lo."
"Iya."
"Zahra Aldiva Hendra."
"Apa."
"Lo jatuh cinta."
"Gue nggak—"
"LO JATUH CINTA."
"Sin—"
"DENGAN SUAMI LO SENDIRI—"
Zahra menjauhkan HP dari telinga sampai Sinta selesai.
Masalahnya bukan perasaan itu sendiri. Masalahnya adalah begitu Zahra sadar begitu dia berhenti denial dan mulai jujur sama dirinya sendiri l semuanya jadi terlalu jelas.
Cara dia sekarang selalu tahu bunyi langkah kaki Rafandra di tangga. Cara dia otomatis bikin kopi dua cangkir setiap pagi. Cara matanya reflek nyari Rafandra waktu masuk ke ruangan manapun di rumah ini.
Semua itu sudah ada dari lama. Zahra hanya terlalu sibuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan apa-apa.
Ternyata apa-apa.
Yang bikin lebih rumit, Rafandra berubah juga. Bukan drastis. Bukan tiba-tiba dia jadi ekspresif atau bawel. Tapi ada hal-hal kecil yang Zahra mulai kumpulkan tanpa sengaja.
Seperti kemarin Zahra lagi di ruang baca, frustrasi sama satu paragraf yang nggak mau keluar, dan tanpa sadar ngedumel keras: "Ini kenapa susah banget sih."
Lima menit kemudian Rafandra muncul di pintu. Menaruh segelas kopi di mejanya. Tidak berkata apa-apa. Langsung balik keluar.
Zahra menatap kopi itu lama.
"Dia denger gue ngedumel dari mana?"
Atau tiga hari lalu Zahra kedinginan karena lupa matiin AC sebelum tidur, bangun pagi dengan selimut tipis yang tidak cukup. Turun ke bawah dan menemukan selimut tebal yang biasanya ada di lemari tamu sudah tergeletak rapi di sofa ruang keluarga.
Tidak ada post-it. Tidak ada penjelasan.!Hanya selimut itu dan kemarin malam yang paling bikin Zahra tidak bisa tidur sampai jam dua Rafandra pulang telat, masuk ke ruang keluarga tempat Zahra yang sudah setengah ketiduran di sofa, dan bukannya membangunkannya atau pergi ke kamarnya sendiri.
Ia matiin lampu utama dan nyalain lampu temaram. Lalu duduk di kursi single di sudut dan buka laptopnya dengan suara sekecil mungkin.
Zahra tidak benar-benar tidur waktu itu, tapi pura-pura tidur, dan dari balik matanya yang setengah terpejam dia melihat Rafandra sesekali melirik ke arah sofa tempat Zahra rebahan, dengan ekspresi yang gelap dan tidak bisa dibaca.
Tapi tidak pergi. Tetap di sana. Sampai Zahra beneran ketiduran.
"Lo harus ngomong sama dia."
Zahra menatap Sinta yang sekarang sudah ada di depannya datang ke rumah tanpa diundang, seperti biasa, dengan dua kopi kekinian dan misi yang jelas.
"Ngomong apa?" kata Zahra.
"Nanya posisinya di mana." Sinta meletakkan kopi di meja ruang baca. "Lo nggak bisa terus kayak gini, Zah. Lo ngerasa sesuatu, dia nunjukin sesuatu tapi kalian kayak dua orang yang jalan paralel nggak pernah ketemu."
"Kita baru dua bulan nikah, Sin."
"Dan lo udah senyum baca emailnya yang isinya data."
Zahra tidak punya jawaban untuk itu.
"Masalahnya," kata Zahra akhirnya, "gue nggak tau dia ngerasa apa. Dia nunjukin hal-hal kecil tapi nggak pernah ngomong langsung dan gue takut kalau gue yang ngomong duluan ternyata gue salah baca situasi."
"Dan kalau lo nggak ngomong?"
"Gue terus kayak gini. Ngerasa sesuatu yang gue nggak tau mau diapain."
Sinta menatapnya. "Dua-duanya nggak enak."
"Iya."
"Tapi yang satu setidaknya ada jawabannya."
Zahra menutup matanya sebentar.
Ada jawabannya. Bisa iya. Bisa juga tidak dan tidak itu yang Zahra paling tidak siap dengar.
.
.
.
Malamnya, Zahra dan Rafandra di ruang keluarga. Zahra di sofa dengan bukunya, Rafandra di kursi single dengan laptopnya. Posisi yang sudah jadi rutinitas tanpa pernah ada yang memutuskan ini akan jadi rutinitas.
Sunyi yang nyaman. Jenis sunyi yang Zahra dua bulan lalu tidak bisa bayangkan akan terasa nyaman.
"Om," kata Zahra tanpa mendongak dari bukunya.
"Hm." Jawabnya selalu dingin.
"Kalau ada sesuatu yang Ommau bilang tapi nggak tau gimana cara bilangnya, Ombakal gimana?"
Hening sebentar. Jari Rafandra berhenti di keyboard.
"Tergantung seberapa penting sesuatu itu."
"Anggap aja penting."
Rafandra menutup laptopnya. Menoleh ke Zahra yang masih pura-pura baca buku.
"Aku akan mencari waktu yang tepat," katanya. "Dan cara yang tepat."
"Dan kalau nggak ketemu waktu yang tepat?"
"Selalu ada."
Zahra akhirnya mendongak. Menatap Rafandra yang menatap balik dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya terkontrol malam ini.
"Oke," kata Zahra pelan. "Gue pegang kata-kata Om."
Rafandra menatapnya satu detik lebih lama dari biasanya.
"Kamu sedang bicara soal apa?" tanyanya lebih pelan dari sebelumnya.
Zahra tersenyum kecil. Kembali ke bukunya.
"Skripsi," jawabnya.
Rafandra diam.
Tapi Zahra yakin dari sudut matanya bahwa sudut bibir pria itu bergerak.
Sangat tipis. Sangat singkat.Tapi bergerak. Dan malam itu Zahra tidur dengan satu kepastian yang tidak dia miliki kemarin, Perasaan ini tidak akan hilang dan mungkin hanya mungkin dia tak sendirian merasakannya.
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼