Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sistem global?
"Hm.."
Pandangannya menyapu puluhan rumah di kejauhan tak berhenti sampai dia sampai di salah satu rumah.
Di halaman rumah Rifana, bangkai tikus mutan terbaring tanpa nyawa. Darahnya masih mengalir keluar dari kepalanya yang hancur.
'Dia merasakannya' Tatapan Rifana sebelumnya sepertinya menarik perhatian yang tidak perlu.
Dunia Rifana runtuh kedalam keheningan, nafasnya menjadi berat saat tatapan itu diarahkan padanya.
Waktu sementara menjadi terasa sangat lama, hingga mahluk itu pergi.
Dum.. Dum..
Titan itu berbalik kembali melanjutkan perjalanannya, Rifana beruntung mahluk itu berjalan pergi meninggalkannya sendirian.
Siapa yang tau apa yang bisa dilakukan mahluk sebesar itu kepadanya, hanya sedikit saja tekanan darinya kematian sudah pasti untuk Rifana.
Tanah hancur, bangunan yang dibangun runtuh rata menjadi tanah saat mahluk itu melangkah, mahluk-mahluk kecil berlarian kacau di tanah mencoba menyelamatkan nyawa mereka.
Di sisi lain, titan itu nampak acuh terhadap serangga di tanah. Dia hanya melanjutkan langkahnya meskipun darah dan daging telah menempel di kakinya yang telanjang.
Rifana gemetar saat gempa kecil itu terus terjadi, pupilnya menyusut 'Mahluk itu udah pergi kan?' Nafasnya tercekat di tenggorokannya, ditambah reaksi tubuhnya yang abnormal membuat banyak pertanyaan muncul di kepalanya.
"Sialan, kalo monster segede itu aja ada di hari pertama gimana monster kedepannya? Lu ga bilang bakal ada dewa atau alien aneh yang turun nanti kan?" Rifana menggertakan giginya, tubuhnya masih tegang bahkan setelah mahluk itu pergi.
Ditengah ketakutannya, Rifana juga masih terkejut. Tubuhnya terasa sedikit berbeda sekarang, melihat gerakannya saja sudah jelas akan semuanya.
Tindakannya tadi sama seperti kemarin. Kekuatan fisiknya meningkat secara tiba-tiba, membuat dirinya semakin lincah dan bergerak dengan insting aneh yang spontan.
Apakah ini semacam kekuatan super? Rifana mau tak mau bertanya, namun tentunya tak ada yang akan memberi jawaban untuknya.
Dia perlu mencari tau hal itu sendiri.
Sesuatu berubah, Rifana berangsur-angsur menjadi tenang tanpa alasan. Ketakutannya berpindah menjadi dirinya sendiri, meskipun hatinya tenang pikirannya menentang itu.
Sejak dirinya terbangun, sesuatu terasa salah.
Emosinya begitu kacau hari ini, "Jangan jangan gua kena bipolar" Transisi emosinya sangat aneh bahkan untuknya, entah hanya perasaanya atau dia sepertinya menjadi sangat sensitif tentang emosinya saat ini.
Rifana benar-benar buntu , dia tak yakin bagaimana semua emosi itu berubah. Hanya saja rasanya dia memang bertindak senatural mungkin.
Semua perdebatan ini disimpan di dalam pikirannya, dan.
Setelah gempa kecil itu berhenti, dia keluar dari persembunyiannya, mengambil kembali pisau daging yang dijatuhkannya.
Rifana mengunci pintu di belakangnya dan segera masuk ke dalam, dia meletakan pisau itu di wastafel dan pergi ke kamar mandi.
Bajunya lagi-lagi dipenuhi oleh bau amis darah, mau tak mau Rifana harus membersihkan dirinya sekali lagi.
Beruntungnya bau darah sepertinya tak terkalu berpengaruh pada monster, atau mungkin karena bau itu menyebar di seluruh tempat monster akan mengira itu hanya bau biasa.
Lagipula ada lebih banyak mayat di luar sana, saat pertama kali mengintip melalui lantai atas Rifana bisa melihat beberapa orang tergeletak tanpa nyawa di jalanan.
Namun saat ia mengintip di kekacauan molotov, mayat-mayatnya telah hilang menyisakan jejak darah yang diseret.
'Mungkin monster membawa mereka ke sarangnya, entahlah' Rifana terlalu lelah untuk melakukan apapun, meskipun fisiknya telah pulih. Mentalnya benar benar terkuras hari ini.
Ditambah kondisi anehnya belakangan ini,
membuat Rifana merasa aneh dengan tubuhnya sendiri. Fakta kematiannya bahkan belum bisa sepenuhnya dicerna olehnya.
Karena saat ini dia masih bernafas dengan lega, dia masih merasakan tekstur air yang menyentuh kulitnya; rasa dingin dari udara juga masih menyelimutinya hingga saat ini.
Dia jelas jelas hidup, namun ingatan itu juga sangat jelas.
Adegan dirinya mati lemas kehabisan darah terulang di benak Rifana, "Perasaan itu" Dia dapat merasakannya meski samar, saat kematian datang kepadanya namun berbalik di detik terakhir.
'Ah beneran gila gua' Rifana bilas dengan cepat mengganti pakaiannya yang terciprat darah, dia harus cepat cepat mengecek inti monster itu.
Lolongan dan kerusuhan di luar masih terus terjadi, Rifana kembali ke kamarnya dan mengambil kelereng kecil yang diletakkan di meja.
"Nah sekarang gimana cara kerja benda ini?"Dia mengamati inti itu, melihatnya lebih dekat dari segala sisi 'Haruskah gua makan?'
Benda seperti ini tidak akan berguna jika dia tak tahu cara penggunaannya, yah itu jelas.
Apa yang Rifana pikirkan, dia duduk di kursi kamarnya mencoba berbagai hal, menggosoknya, memasukannya kedalam segelas air, dan bahkan menjilatnya.
"Phui.." Wajahnya suram, "Ngapain gua jilat, sial" Rifana menyesal, rasanya aneh dan itu berbau darah, apakah dia begitu putus asa hingga menjilatnya?
Berbagai metode Rifana coba untuk menggunakannya, itu membuang banyak waktu sampai dirinya kesal.
"Persetan!" Upaya berulang yang dilakukannya terus gagal, dia masih menolak untuk menelan benda itu dan tanpa sadar Rifana mengepal tangannya terlalu keras.
"Krack..."
Kelereng itu pecah.
Rifana tak mengharapkan reaksi apapun, dia pikir pada akhirnya dia harus menelan benda ini meskipun dalam bentuk serpihan.
Namun tak disangkanya, pecahan itu terurai menjadi partikel-partikel halus yang beterbangan memasuki tubuh Rifana.
Untuk kedua kalinya, perasaan hangat kembali mengalir melalui pembuluh darahnya.
Kekuatannya sedikit meningkat dan yang utama, sebagian dari partikel itu berputar menjadi pusaran kecil sebelum sesuatu muncul dari udara tipis.
Suara mekanis yang dingin bergema di benak Rifana, bersamaan dengan terciptanya layar putih tipis di hadapannya.
[Ding!]
[Inti pertama diaktifkan!]