Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.
"Ayo Rena jangan menangis terus seperti ini, bukankah suamimu itu sudah berjanji akan berubah menjadi lebih baik. Sudahlah, hapus air matamu itu, bukan kah kamu itu harusnya bahagia dan juga senang, karena setelah sepuluh tahun berlalu, akhirnya suamimu itu berubah juga," ucap Renata pada dirinya sendiri, lalu dengan sebuah lengkungan senyum, Renata pun terlihat menghapus air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
Harusnya Renata itu tidak menangis, hanya karena sebuah bentakan yang di lakukan oleh suaminya. Karena hari ini dia mendapatkan banyak hal hal manis yang nyaris tak pernah suaminya lakukan selama sepuluh tahun terakhir pernikahan mereka.
Renata pun kembali membuat dirinya untuk tetap selalu bersemangat menjalani hidupnya. Lalu dia pun buru buru berjalan ke arah ruang keluarga, dia takut kalau sampai suaminya itu marah, karena lama menunggu dirinya.
Saat sudah sampai di ruang keluarga, mata Renata membelalak sempurna, kala mendengar suaminya itu berbicara dengan seseorang lewat hape miliknya.
"Mas!" panggil Renata.
Renata menatap suaminya itu dengan penuh curiga, kala suaminya terlihat gugup dan buru buru mematikan panggilan telepon dari hape miliknya saat dia datang.
Renata pun berjalan dengan langkah kaki pelan ke arah suaminya yang sekarang ini terlihat berdiri mematung, dengan menggigit bibir bawahnya.
"Hmm, ada apa Dek?" tanya Ivan saat istrinya itu sekarang berdiri tepat di depannya.
"Mas dapat telepon dari siapa lewat hape ku? Kok Mas kelihatan gugup."
Renata terus memandang suaminya itu dengan tanda tanya besar. Apalagi melihat suaminya yang malah menggaruk kepala belakangnya.
"Mas .. Kok malah melamun sih!" hardik Renata dengan menatap tajam ke arah suaminya.
Seketika lamunan Ivan pun langsung buyar, kala mendengar sebuah bentakan dari istrinya.
"Loh Dek, sama Mas kok berbicara dengan nada meninggi sih!" ujar Ivan. Dia sekarang ini terlihat mengembalikan keadaan.
Seketika wajah Renata nampak bingung, dia sadar jika membentak suami atau berbicara pada suami dengan nada meninggi itu memang tidak boleh. Tapi bukankah dia berbicara dengan nada tinggi, karena suaminya itu melamun dan tidak mendengar apa yang dia ucapkan.
Ivan nampak tersenyum, kala melihat raut wajah istrinya itu berubah menjadi terlihat bersalah. Jadi Ivan bisa memikirkan alasan lain dengan kebohongan kebohongan yang lain.
"Mm maaf Mas, tadi aku berbicara dengan nada meninggi karena, Mas aku ajak bicara malah melamun --" Renata terlihat tidak melanjutkan ucapannya. Karena suaminya terlihat menyela ucapannya.
"Iya, terus kalau Mas gak denger pantas untuk kamu bentak bentak seperti tadi. Ingat Dek, surga seorang istri itu di telapak kaki suami. Kamu itu aneh, Mas baikin beberapa hari ini kok malah ngelunjak, dulu kamu saja gak berani bentak Mas atau bicara dengan nada meninggi sama Mas. Tapi kenapa sekarang kamu itu berubah jadi istri yang durhaka. Kalau begini kan Mas jadi malas di rumah," gerutu Ivan dengan tatapan mata tajam, saat melihat ke arah istrinya.
Deg
Jantung Renata seakan berhenti berdetak. Kala mendengar apa yang barusaja keluar dari mulut suaminya, dia sangatlah bingung dengan keadaan yang sekarang ini menghampiri dirinya. Karena sebenarnya dia itu merasa kalau dirinya memang tidak salah.
"Ta - tapi Mas --" kilah Renata, tapi lagi lagi dia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Kala Ivan dengan marah malah membanting hape miliknya.
Pyaar
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
dasar suami lucknut 😡😡